
Usai sholat maghrib berjama'ah, keluarga super besar dan lengkap itu kembali berkumpul.. tapi kali ini, mereka memilih berkumpul di halaman belakang.
Para mama dan beberapa asisten rumah tangga, sibuk menyiapkan menu untuk makan malam. Sedangkan para papa, ngobrol hangat di halaman belakang.
Dan di halaman belakang itu pula, di sisi yang lain.. Kevin dan teman-teman nya juga berkumpul, termasuk Dika, Edo dan pasangan masing-masing.
Mereka berempat sebenar nya sudah pamit hendak pulang, namun Kevin dan Salma mencegah nya dan meminta mereka untuk makan malam dahulu.
Sedangkan Rahman, Dion, Bayu dan Devi, sudah pasti menginap.. apalagi Dion, sebab pemuda tampan abang sepupu Devi itu masih ingin ngobrol banyak dengan Fira, sang pujaan hati.
Sementara anak-anak bermain di taman yang cukup luas itu, ada yang main ayunan, ada pula yang kejar-kejaran.
Dan di sebuah gasebo, nampak Malika dengan wajah nya yang di tekuk. Pasal nya dia dipaksa oleh kembaran nya untuk menemani Malik dan Tasya kencan ala remaja tersebut. Karena kebetulan, Tasya dan kedua orang tua nya juga masih berada di sana. Dan rencana nya, keluarga kecil om Rahmat dan tante Saskia itu akan pulang usai makan malam bersama.
"Cha,, udah dong jangan cemberut gitu, jelek tahu,," bujuk Malik.
"Gimana kalau Tasya panggilkan bang Rahman kemari, kita double date gitu?" Usul Tasya, dengan memasang wajah imut nya.
"Nanti kalau mommy tahu gimana? Bisa habis kita?!" Tolak Malika, masih dengan wajah cemberut.
"Biar Mirza yang panggilkan bang Rahman ya kak, terus nanti Mirza gabung sama kalian di sini,,, jadi mommy kan enggak bakalan marah?" Usul Mirza yang tiba-tiba nongol.
"Eh, jangan... kakak enggak percaya sama kamu, kamu kan suka jahil. Jangan-jangan kamu merencanakan sesuatu lagi sama kakak,," tolak Malika yang sering dijahili oleh adik nya itu.
"Khusus malam ini, Mirza janji.. enggak akan jahilin kakak ku yang cantik jelita, asal..." Mirza menghentikan ucapan nya, dan memainkan alis nya menatap sang kakak.
"Apaan?! Jangan ngegantung gitu dik, kalau ngomong.." protes Malika, yang tidak sabar ingin segera mendengar ucapan Mirza selanjut nya.
"Kakak kasih Mirza uang jajan setiap hari selama satu bulan, gimana?" Mirza tersenyum seringai.
Malika dan Malik melotot kearah Mirza, "adik..!!" Seru mereka berdua bersamaan, "siapa yang mengajari kamu memeras orang lain?" Malik menatap tajam sang adik.
"Abang,, ini bukan pemerasan?! Tapi ini imbal balik,, anggap saja, simbiosis mutualisme. Ya, guru di sekolah adik sudah menjelaskan hal itu.. hubungan yang saling menguntungkan," bela Mirza yang merasa tidak melakukan pemerasan.
Rahman yang sedari tadi memang mencuri-curi pandang kearah Malika, dapat melihat perdebatan kecil itu. "Bro, gue ke sana bentar ya?" Pamit Rahman menatap Kevin, seraya menunjuk kearah adik-adik nya Kevin berada.
Kevin menoleh kearah yang ditunjuk Rahman, dan melihat ketiga adik nya sedang berdebat. Kevin kemudian mengangguk, "pasti kesalahpahaman.. gue yakin, lu bisa mengatasi nya." Ucap Kevin seraya tersenyum.
Rahman bergegas menuju gasebo, dimana Malika sedang duduk di sana. Dan melihat pangeran tampan nya mendekat, Malika langsung memasang wajah manis nya.
Malik yang dapat melihat perubahan wajah kembaran nya berbisik, "sok imut kamu Cha,, tadi aja, cemberut sampai bisa di kucir tuh bibir." Olok Malik seraya mencibir kembaran nya.
"Biarin,," balas Malika seraya menjulurkan lidah nya, dan sedetik kemudian segera memasang wajah manis nya kembali.
"Ada apa dik?" Tanya Rahman, pada ketiga adik Kevin tersebut.
Malika kemudian mengadukan semua perkataan Mirza kepada Rahman, "masak adik malah malak Icha bang, kan enggak benar itu,,," Malika mencari pembelaan, pada sang pangeran.
"Kan Mirza udah bilang kak, kalau itu bukan meras atau malak seperti yang bang Malik dan kak Malika tuduhkan.. tapi saling, dan itu kan bagus," Mirza membela diri.
Rahman kemudian memberi pengertian pada Mirza, tentang arti simbiosis mutualisme yang Mirza maksudkan. "Memang benar yang dik Mirza katakan, bahwa hubungan yang saling menguntungkan itu bagus.. tapi harus dilihat dulu menguntungkan nya dalam hal apa?" Rahman menatap Mirza.
"Jika dalam hal kebaikan, maka itu sangat dianjurkan. Namun jika itu dalam hal yang negatif, atau bahkan bisa merugikan orang lain.. maka itu tidak baik dilakukan," Rahman mencoba menjelaskan dengan cara sederhana, seperti pemikiran Mirza yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Dan kasus yang tadi kak Icha katakan, itu enggak pas kalau di sebut simbiosis mutualisme.." Rahman menatap Mirza, mencoba mencari tahu apakah bocah di hadapan nya ini ngerti kemana arah pembicaraan nya apa tidak.
Di saat Rahman memberikan pengertian pada Mirza, Malik justru memanfaatkan kesempatan itu untuk merayu Tasya,,, dan gadis centil yang beranjak remaja putri sahabat mommy Billa itu, meladeni nya dengan senang hati.
"Kenapa enggak bisa di sebut simbiosis mutualisme?" Tanya Mirza penasaran.
Tepat di saat yang sama, mommy Billa datang bersama tante Saskia membawa kan anak-anak potongan buah-buahan dan jus.
"Tasya,, enggak boleh godain bang Malik ah, malu tahu neng," ucap tante Saskia pada putri nya.
"Eh, tante.. Tasya enggak godain Malik kok tan, kita lagi diskusi aja tentang kegiatan OSIS yang akan dilaksanakan minggu depan," balas Malik, yang melindungi Tasya. Padahal sedari tadi, gadis imut putri om Rahmat itu terus nempel pada Malik. Dan begitu melihat mama nya dari kejauhan datang bersama mommy Billa, Tasya langsung beringsut dan sedikit menjauh dari Malik.
Mommy Billa tersenyum, "ngobrol boleh, tapi jaga jarak aman ya. Dan harus ramai-ramai seperti ini," nasehat mommy Billa, menatap Tasya dan Malika bergantian. Sebenar nya mommy Billa masih belum bisa melepas putri nya untuk menjalin kedekatan dengan seorang laki-laki, namun mengingat Rahman adalah teman baik Kevin dan dia juga adalah pemuda yang baik.. maka mommy Billa memberikan kesempatan pada Malika, untuk belajar bertanggung jawab.
"Bang Rahman, mommy titip adik-adik ya.. tolong bimbing mereka," pinta mommy Billa lembut, seraya menatap Rahman dengan tersenyum hangat.
"Siap mom, Insyaallah Rahman akan jaga mereka dengan baik," balas Rahman dengan sikap nya yang dewasa, dan itu membuat mommy Billa semakin terkesan.
"Putri mu beruntung ya Bill, dicintai sama pemuda baik seperti anak itu," bisik tante Saskia, yang juga kagum terhadap sikap Rahman yang santun.
"Memang nya menurut mu, Tasya enggak beruntung di sukai putra ku?" Tanya mommy Billa dengan berbisik pula, dengan tatapan menyelidik.
Tante Saskia tersenyum, dan kemudian melihat kearah Malik yang duduk dengan gaya nya yang tenang dan penuh percaya diri. "Dia adalah the next tuan muda Rehan, masih bocah tapi aura nya sebagai calon pemimpin sudah jelas terlihat. Siapa juga yang enggak suka punya calon menantu seperti Malik?" Batin tante Saskia.
"Di tanya bukan nya jawab, malah senyum senyum,,," mommy Billa menyenggol lengan tante Saskia, hingga menyadarkan mama nya Tasya itu dari lamunan.
"Eh, iya Bill,, putri ku juga sangat beruntung. Dan aku berharap, putra mu tidak mempermainkan putri ku," lirih tante Saskia.
"Mom..." panggilan Malika menghentikan obrolan bisik-bisik duo mama yang sama-sama cantik Dan baik itu.
"Iya kak, ada apa?" Mommy Billa menatap Malika, seraya mengerutkan kening.
"Apa mommy dan tante Kia akan tetap berdiri di situ, dan menjadi satpam kami?" Tanya Malika polos.
Mommy Billa dan tante Saskia terkekeh pelan, "tidak Cha,, kami masih harus menyiapkan makan malam. Kalian lanjut kan saja ngobrol nya dan jangan lupa buah nya di makan," balas tante Saskia mewakili mommy Billa.
"Bang Rahman, mommy tinggal dulu ya,,," pamit mommy Billa dengan tersenyum ramah. Dan kedua sahabat itu pun berlalu, meninggalkan gasebo tempat dimana putra putri mereka sedang ngobrol.
"Makasih mom, sudah mempercayakan putri mommy yang cantik ini pada Rahman," lirih Rahman yang hanya bisa di dengar oleh Malika, dan tatapan elang Rahman begitu dalam,,, menusuk ke jantung princess keluarga daddy Rehan tersebut.
Malika terpaku di tempat nya, jantung nya berdebar kencang. Malika membalas tatapan Rahman dan mengulas senyum manis nya, "makasih bang, udah mau menjaga Icha," bisik nya manja di telinga Rahman.
to be continue,,,