
Sementara di ruangan Salma, istri dari Kevin itu meminta ijin untuk keluar, "maaf pak, saya ijin keluar dulu," dan dengan sedikit tergesa, Salma hendak keluar dari kelas nya.
"Salma, saya lihat kamu belum selesai mengerjakan semua soal-soal ujian kamu," seru pak guru yang mengawasi kelas Salma mendekat ke meja Salma untuk mengecek jawaban, dan menghentikan langkah gadis berhijab itu.
"Maaf pak, saya harus ke UKS.. seperti nya alergi saya kambuh, dan saya tidak bisa konsentrasi mengerjakan nya," balas Salma dengan gelisah, dan tangan nya sekuat tenaga dia tahan agar tidak menggaruk kulit nya yang terasa gatal dan panas itu.
Pak guru memperhatikan Salma dari dekat, "ya ampun Salma.. ini harus segera di obati," ucap pak guru tersebut, yang terkejut melihat kondisi kulit Salma yang banyak terdapat bintik-bintik kemerahan. "Jangan ke UKS, kamu harus langsung ke dokter kulit Salma," titah pak guru tersebut penuh perhatian.
"Saya yang akan mengantar dia ke dokter pak, kebetulan.. saya sudah selesai mengerjakan ujian," ucap Jonathan menghampiri Salma dan menawarkan diri nya, hendak mengantar kan Salma ke dokter.
Bersamaan dengan itu, Kevin masuk yang diikuti oleh kepala sekolah yang mengekor di belakang Kevin dengan nafas yang memburu karena berusaha mengejar remaja yang berbadan tinggi dan tegap tersebut. "Tidak, saya yang akan mengantar kan Salma.. maaf pak, jika saya masuk tanpa permisi, saya sudah minta ijin sama pak kepala sekolah untuk membawa Salma berobat ke rumah sakit." Ucap Kevin, sambil menoleh kearah kepala sekolah yang telah berdiri di samping nya.
Bapak kepala sekolah mengangguk-angguk, "cepatlah, bawa Salma berobat... biar kami yang akan menyelidiki dan menyelesaikan kasus ini," titah kepala sekolah, kepada Kevin.
Tanpa berkata apa-apa, Kevin segera menggandeng sang istri keluar dari ruang kelas tersebut untuk segera mendapatkan penanganan yang tepat.
"Menyelidiki kasus?" Gumam Jonathan, "sial, jangan-jangan mereka sudah tahu kalau ini ulah Monik dan gue?!" Jonathan mengedarkan pandangan nya, dan netra nya tertuju pada CCTV kecil yang letak nya agak tersembunyi.
Ya, sekolah tempat Kevin dan Salma itu dipasang CCTV di setiap ruang kelas nya.. dan juga di sepanjang koridor, serta di tempat-tempat biasa anak-anak suka nongkrong. Tujuan nya adalah untuk meminimalisir bullying yang sering terjadi di sekolah, baik antar siswa, guru dengan siswa ataupun sebalik nya siswa dengan guru.
"****,, gue lupa kalau di setiap kelas ada CCTV nya, dan koridor.. ?!" Secepat kilat, Jonathan berlari keluar dari kelas menuju ruang operator.
Sesampai nya di ruang operator, Jonathan langsung melihat kearah monitor yang tengah menampilkan gambar diri nya sedang mengintai keadaan sekitar kelas untuk melindungi tindakan Monik.
Jonathan terkejut, operator tersebut juga tak kalah terkejut. Dan segera menggeser mouse nya.. "Pak stop!" Seru Jonathan, tatkala netra nya menangkap operator tersebut hendak mengirimkan gambar tersebut ke nomor seseorang.
"Bapak tahu kan berhadapan dengan siapa?! Jika bapak ingin putri bapak selamat, lakukan perintah saya!" Seru Jonathan dengan angkuh.
Ya, semua orang di sekolah nya tahu, orang tua Jonathan adalah bos Sebuah perusahaan yang terkenal kejam. Dan sifat itu menurun pada putra nya, apapun keinginan Jonathan harus dia dapat. Jika tidak, maka tak seorang pun yang boleh memiliki nya... termasuk Salma.
Operator tersebut mengangguk dan nampak tegang, keringat mengucur deras dari kening nya yang lebar. Pria berusia tiga puluh lima tahunan itu merasa dilema.. di satu sisi dia tidak ingin berbuat curang, sedang kan di sisi yang lain keselamatan putri nya yang jadi taruhan nya.
"Bapak hapus rekaman di koridor kelas, buat seolah-olah CCTV di bagian sana eror.. saya enggak mau tahu gimana cara nya dan bagaimana nanti bapak memberikan keterangan. Yang jelas, jangan pernah sebut nama saya,, bapak mengerti kan?!" Ucap Jonathan dengan mengintimidasi.
Operator tersebut terdiam, tidak mengiyakan dan tidak pula menolak.
"Ini untuk bapak, uang tutup mulut!" Sarkas Jonathan, melempar lembaran merah ratusan ribu yang cukup banyak. Dan remaja sombong itu, segera berlalu dari ruangan khusus tersebut.
Operator tersebut menghembus kasar nafas nya, dan hanya bisa mengelus dada, "maafkan saya mas Kevin, mbak Salma," lirih nya seraya menghapus rekaman di koridor ruang kelas, dimana Salma dan Jonathan ujian.
Sedangkan Kevin yang sudah berada di dalam mobil bersama sang istri, meminta pak Imron untuk melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Remaja tampan suami dari Salma tersebut nampak tidak sabar, ingin lekas sampai di rumah sakit agar istri nya segera mendapatkan pertolongan.
"Baby,, apa ini sakit sekali?" Tanya Kevin, mencoba menyentuh wajah istri nya. Namun dia urungkan, karena takut menimbulkan iritasi di kulit sang istri.. karena belum tentu tangan nya steril.
"Gatal sekali dan panas Kevin,, ini ada yang perih juga, karena tadi aku menggaruk nya dengan kasar," balas Salma membuka mata nya, dan menunjukkan tangan putih nya yang banyak bintik kemerahan yang berisi air dan sebagian telah pecah.
"Dan leherku, seperti nya bengkak." Lanjut Salma seraya meraba leher nya yang tertutup hijab.
Kevin membuka sedikit hijab sang istri untuk melihat leher Salma, dan benar saja.. leher jenjang nan putih itu banyak sekali terdapat bintik merah, dan terlihat membengkak.
Kevin menghela nafas panjang, dan kemudian mengeluarkan ponsel nya. Kevin memutar kembali rekaman CCTV yang menampilkan Monik tengah menaburkan sesuatu di bangku Salma, "lihat lah baby," Kevin memperlihatkan rekaman tersebut pada istri nya.
"Apakah kamu alergi sesuatu?" Tanya Kevin mengernyitkan dahi nya.
Salma belum sempat menjawab, karena mobil yang dikendarai pak Imron telah berhenti tepat di depan lobi rumah sakit. Kevin dan Salma segera turun bersamaan, karena ingin lekas menemui dokter kulit yang telah direkomendasikan kepala sekolah tadi
Kevin membawa istri nya menuju poli khusus, yaitu Poli alergi imunologi.. dimana istri nya akan segera mendapatkan penanganan secara medis dengan tepat.
Kevin tak perlu mengantri seperti yang lain, karena kepala sekolah sudah menelpon pihak rumah sakit dan sudah mendaftarkan Salma sebagai pasien di poli tersebut.
Setelah satu pasien yang berada di dalam ruangan keluar, Salma langsung di panggil oleh suster. Dan dengan ditemani sang suami, pasangan muda itu kemudian masuk kedalam ruangan dokter.
Dokter wanita menyambut kedua nya dengan tersenyum hangat, "ada keluhan apa dik?" Tanya dokter tersebut dengan ramah, sambil mengamati wajah Salma.
Salma kemudian menjelaskan kejadian tadi pagi, "tadi waktu masuk kelas, bangku saya kayak ada bubuk putih-putih nya dok... saya pikir bedak, karena aroma nya harum bedak bayi," ucap Salma mengawali cerita nya.
"Kemudian saya bersihkan pakai tissue,, tapi setelah beberapa saat, tangan saya mulai gatal dan bintik-bintik merah mulai timbul," lanjut Salma.
"Apakah kamu alergi bedak bayi dik?" Tanya dokter tersebut mengernyit.
Salma menggeleng, "debu kapur tulis,,," lirih Salma, "ya dokter, saya yakin.. bedak itu pasti sudah di campur dengan bubuk kapur tulis. Saya ingat bagaimana reaksinya di kulit saya jika terkena debu kapur tulis, rasa nya seperti ini dokter." Ucap Salma yakin.
Dokter tersebut mengangguk-angguk.
"Dan Monik.. Monik tahu, kalau aku alergi dengan benda itu Kevin," ucap Salma mengingat-ingat, menoleh kearah sang suami.
"Monik tahu?! Itu artinya, dia sengaja ingin mencelakai mu baby.." bisik Kevin.
"Tapi kenapa... kenapa dia tega melakukan ini pada ku?" Tanya Salma, entah kepada siapa.
to be continue,,