
Dan di rumah megah ini lah kini Rahman berada, duduk di ruang keluarga yang super luas dengan di temani oleh mommy Billa, Malik dan Malika, serta ketiga adik nya... menanti hadir nya daddy Rehan, yang masih berdiskusi dengan om Alex di ruang kerja nya.
"Tadi si abang bilang di telpon, kata nya mau ikut ke sini?" Tanya mommy Billa, seraya menatap Malika dan Rahman bergantian sesaat setelah mommy Billa duduk di sofa tepat di sebelah putri nya.
"Enggak jadi mom,, Vinsa rewel," balas Malika apa ada nya.
Mommy Billa kemudian nampak terlibat perbincangan dengan putri nya seputar Vinsa, cucu pertama yang selalu mommy Billa dan daddy Rehan rindukan. Sedangkan Rahman terlihat asyik mendengar kan, padahal pikiran nya teringat obrolan antara diri nya dengan Kevin.
Tadi nya, Kevin memang hendak ikut menemani Rahman... karena kakak pertama Malika itu mengkhawatirkan pergaulan Malika dan Rahman, yang semakin ke sini di rasa semakin memprihatinkan. Tetapi putri semata wayang nya merengek, dan minta di nina bobokkan sama sang ayah. Hingga Kevin akhir nya membiarkan Rahman, mengantar pulang sang adik seorang diri.
Malika yang dinilai Kevin terlalu agresif, serta Rahman yang menurut kacamata Kevin terlalu lena dengan sikap Malika yang impulsif.. menyebabkan putra sulung daddy Rehan itu merasa tak nyaman, jika Rahman dan Malika hanya pergi berduaan.
"Santai bro, gue janji.. enggak bakal macam-macam," janji Rahman sungguh-sungguh, tatkala Malika sedang pamit sama kakak ipar nya di kamar.
"Ck,,," Kevin berdecak, "tadi aja di peluk Icha lu diam, malah kayak menikmati gitu?!" Gerutu Kevin.
Rahman mengusap tengkuk nya, "kan dia yang meluk duluan,, masak iya, rejeki di tolak," balas Rahman seraya terkekeh pelan.
"Abang pangeran tampan, ini donut nya enak lho.. Maira suka deh," ucap Maira yang semenjak pementasan drama di ulang tahun Malika empat tahun lalu, memanggil Rahman dengan sebutan pangeran tampan. Maira mendudukkan diri nya tepat di samping Rahman, hingga membuat Rahman tersadar dari lamunan nya, "apalagi yang rasa blueberry, Maira tambah suka.. kapan-kapan kalau kencan sama kak Icha, beliin lagi yang buanyak ya?" Pinta Maira dengan mulut nya yang penuh.
"Siap little princess," balas Rahman, seraya mengusap puncak kepala gadis kecil yang kini duduk di bangku kelas satu sekolah dasar itu.
"Adik bisa bicara seperti itu, tahu darimana sayang? Adik tahu, itu arti nya apa?" Tanya mommy Billa menatap Maira dengan menyelidik.
Maira menggeleng, dan kemudian menunjuk abang nya yang pura-pura tak mendengar. "Tadi bang Mirza yang bilang mom, kata bang Mirza.. kak Icha pulang kencan di antar sama pacar bawa jajan banyak biar enggak di marahi sama mommy dan daddy," balas Maira jujur, seperti yang dia dengar dari abang nya.
"Bang Mirza,,, bisa tidak nak, kalau bicara sama adik nya yang baik-baik,," mommy Billa memperingatkan putra nya dengan lembut.
Mirza yang sedang menikmati pizza mengangguk, "iya mom, maaf,,, tadi Mirza cuma bercanda," lirih Mirza, dengan sangat menyesal.
"Bang Rahman, Maida juga mau di beliin martabak kayak gini lagi... tapi yang rasa coklat bertabur keju ya?" Pinta Maida, yang sedang asyik menikmati martabak manis bersama Malik.
Rahman mengangguk, mengiyakan permintaan calon adik ipar nya tersebut.
"Maida,, Maira,, enggak boleh ngerepotin bang Rahman nak. Kalau kalian mau, bisa minta sama bang Malik untuk membeli kan," larang sang mommy, seraya menatap kedua putri nya.
"Tidak mengapa mom, Rahman tidak merasa di repot kan kok," sanggah Rahman, yang memang senang membeli kan oleh-oleh untuk adik-adik dari sang kekasih.
"Ya pasti bang Rahman enggak repot lah mom, malah seneng karena bisa main ke sini terus.. iya enggak bang?" Goda Malik, yang tadi nya diam saja.
Rahman tersenyum tipis, "tahu aja lu," balas Rahman dengan berbisik.
"Eh, ada bang Rahman,," sapa om Alex, yang baru saja keluar dari ruang kerja daddy Rehan.
Rahman kemudian berdiri, dan menyalami om Alex. "Iya om, nganter Icha nih," balas Rahman dengan tersenyum sopan.
Melihat daddy Rehan juga sudah keluar dari ruang kerja nya, dan berjalan mendekat.. Rahman pun kemudian menyalami daddy nya Malika tersebut.
"Sudah lama bang?" Tanya daddy Rehan.
"Belum begitu lama dad," balas Rahman jujur.
"Ayo, duduk bang," ajak daddy Rehan, yang langsung duduk di samping sang istri seraya merangkul pundak mommy Billa.
Begitu lah daddy Rehan, dari pertama mengenal mommy Billa.. sikap nya selalu manis pada wanita lembut, yang sudah delapan belas tahun dinikahi nya itu.
Rahman pun kembali duduk di tempat nya semula, di susul om Alex yang duduk di samping Rahman.
"Oh ya bang Rahman, tadi bang Kevin bilang.. kata nya ada yang mau di bicara kan?" Daddy Rehan menatap Rahman, seraya mengernyit.
"Iya dad," balas Rahman, dan kemudian menegakkan badan nya.. dan mencoba mencari posisi ternyaman, dari duduk nya. "Ini mengenai hubungan Rahman dan dik Icha dad, mohon maaf sebelum nya jika Rahman lancang," lanjut Rahman dengan hati-hati.
"Bang Mirza, ajak adik-adik naik dulu bang," titah mommy Billa, yang tak ingin putra dan putri nya yang masih kecil ikut mendengar kan pembicaraan orang dewasa.
"Bocil,, ayo kita main di atas," ajak Mirza pada kedua adik kembar nya.
"Kami bukan bocil!" Jerit Maira yang tak suka di sebut bocah cilik, "kami udah gede abang,," lanjut nya merajuk.
"Iya benar bang Mirza, princess nya daddy sudah besar sekarang,, cantik-cantik lagi," daddy Rehan membesarkan hati kedua putri bungsu nya.
"Tuh, bang Mirza denger kan.. apa kata daddy?" Maira pun segera beranjak, yang diikuti oleh Maida.
Dan ketiga putra putri daddy Rehan dan mommy Billa itu pun kemudian segera menaiki anak tangga, menuju lantai atas.
"Memang nya, ada apa dengan kalian? Apa kalian berantem?" Daddy Rehan menatap Rahman dan Malika bergantian, "Icha ngambek lagi kah?" Lanjut daddy Rehan, menebak.
Malika cemberut, "dad,,," protes nya dengan manja.
Daddy Rehan tersenyum pada putri nya, dan Rahman pun tersenyum. Kalau itu, sudah biasa dad," balas Rahman apa ada nya, seraya melirik sang kekasih.
Malika semakin mengerucutkan bibir nya, sedangkan mommy Billa hanya geleng-geleng kepala.
"Sampai hafal ya bang, sama ngambek nya Icha.. pasti karena cemburu," goda om Alex menatap keponakan nya, seraya terkekeh.
"Om,, jangan ikut-ikutan ngeledek Icha,," protes Malika, seraya merajuk pada om nya itu.
"Hahaha,, bener banget om, dari dulu ngambek nya Icha tuh karena bang Rahman di kejar gadis-gadis," timpal Malik, yang ikut menggoda saudara kembar nya.
Malika melempar Malik dengan bantal sofa, "Tasya kan juga gitu, suka cemburu kan sama kamu karena kamu suka tebar pesona sama cewek-cewek," balas Malika.
"Siapa yang TP? Mereka aja yang GR!" Elak Malik, yang tidak suka di bilang tebar pesona.
"Sudah,, sudah,, kalian malah ribut sendiri," mommy Billa melerai kedua putra putri kembar nya.
"Jadi bang Rahman mau membicarakan hal apa nih?" Tanya mommy Billa seraya tersenyum.
"Jika daddy dan mommy merestui,,, Insyaallah dalam waktu dekat, Rahman bermaksud mengajak papa dan mama untuk bersilaturrahim sekaligus untuk membicarakan hal serius mengenai kelanjutan hubungan kami."
"Maaf dad, mom.. saat ini Rahman memang belum memiliki apa-apa dan tidak berani menjanjikan apa-apa pada dik Icha, tapi Rahman akan berusaha semampu Rahman untuk bisa membahagiakan dik Icha nanti nya." Rahman mengucapkan kata demi kata dengan runut dan jelas, serta penuh kesungguhan.
Daddy Rehan dan mommy Billa nampak mengangguk-angguk, sedangkan om Alex nampak tersenyum lebar.
"Hebat kamu bang, berani berterus terang di hadapan calon mertua.. good job," ucap om Alex mengapresiasi keberanian dan kesungguhan Rahman.
Bang Rahman apa sudah memikirkan nya matang-matang? Kalau mengenai keseriusan bang Rahman, daddy percaya... tapi permasalahan nya justru ada pada putri daddy yang kolokan itu," daddy Rehan menoleh kearah putri nya yang cemberut di katakan kolokan itu, dan daddy Rehan tersenyum pada Malika.
"Daddy, ah,," kembali Malika protes.
"Bang Rahman tentu sudah paham dengan sikap nya Icha, yang kadang masih kekanak-kanakan. Jadi, apa bang Rahman sudah siap menerima segala konsekuensi nya nanti?" Tanya daddy Rehan, memastikan. Meski dalam hati, daddy Rehan telah yakin dengan keputusan yang diambil oleh Rahman.
Rahman mengangguk, "Rahman dan dik Icha sudah membicarakan nya dad, dan Insyaallah kami akan belajar bersama.. untuk saling memahami," balas Rahman dengan yakin.
Malika mengangguk, membenarkan ucapan Rahman. "Benar dad, Icha akan belajar untuk bersikap lebih dewasa, dan lebih baik lagi."
"Itu, baru keponakan om," om Alex mengacungkan ibu jari nya pada Malika, yang membuat Malika tersenyum senang.
"Jika memang kalian berdua sudah memikirkan nya masak-masak, daddy dan mommy pasti merestui." Ucap daddy Rehan, seraya menatap mommy Billa. "Bukan kah begitu mom?"
Mommy Billa mengangguk, "kami tunggu bang Rahman dan keluarga, untuk melamar Icha,," imbuh mommy Billa, seraya tersenyum hangat pada calon menantu nya.
Dan Malik yang duduk tepat di hadapan Malika, melongo.. "ini beneran, bang Rahman mau lamar Icha? Memang nya, udah siap nikah kamu Cha? Masih ingusan gitu?!" Seloroh Malik, yang sontak membuat Malika kembali melempar Malik dengan bantal sofa.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,