All About KEVIN

All About KEVIN
Biarkan Saja Mengalir Seperti Air



Malika dan Rahman segera menempatkan diri di balik panggung, bersama om Ilham dan tante Jihan yang akan memandu acara ulang tahun pada sore hari ini.


Sedangkan Kevin dan sang istri, serta yang lain nya.. duduk di bangku yang telah di sediakan khusus untuk keluarga yang berada di depan panggung sisi kiri, sedangkan Malik duduk di sisi kanan bersama tamu undangan yang terdiri dari teman-teman nya dan teman-teman Malika.


Setelah semua teman-teman nya Malik dan Malika menempatkan diri, begitu pula dengan keluarga besar Antonio.. om Ilham pun mulai membuka acara.


Acara demi acara berlangsung dengan meriah, om Ilham sangat pandai mengemas acara nya dan menyesuaikan dengan gaya serta kegemaran ABG saat ini, hingga semua nya merasa senang dan bergembira.


Acara selanjut nya adalah drama, yang akan di mainkan oleh Malika dan Rahman.


Tante Jihan yang bertugas mengawal pementasan tersebut segera mengambil alih mikrofon dari tangan sang suami. Dan selanjut nya, tante Jihan mulai membacakan prolog dengan iringan musik instrumental...


Nampak sang putri melangkah dengan anggun menuju panggung, dan putri melakukan adegan seperti kemarin saat sesi latihan. Hingga sang putri menjatuhkan diri nya dan tertidur di atas sofa yang empuk, dengan gaya yang elegan bak artis professional.


Kembali tante Jihan memandu,,,


Dan kini giliran pangeran yang masuk ke dalam panggung, dengan langkah tegap dan pasti... Pangeran menghampiri putri yang tertidur di sofa, pangeran berlutut dan mengusap puncak kepala sang putri serta mengucapkan sesuatu, "hai cantik, bangunlah... aku datang khusus untuk mu putri."


Sang putri pun terbangun, dan kemudian dia berdiri yang diikuti oleh pangeran. Untuk sesaat kedua nya saling pandang, hingga kemudian pangeran kembali berlutut di hadapan sang putri.


Sang putri tertegun, dan mengernyit kan kening nya.


Pangeran mengeluarkan setangkai mawar merah yang di selipkan di pinggang nya, dan berkata, "putri Malika Dalisha Alamsyah,,, aku, Rahman Alvaro Putra Adam, berniat melamar mu. Maukah kamu, menjadi permaisuri di masa depan ku? Maukah kamu, menjaga hati mu hanya untuk ku? Seperti hal nya aku, yang akan senantiasa menjaga hati ku hanya untuk mu? Hingga tiba saat nya nanti, kamu cukup dewasa untuk menikah dengan ku?" Rahman memberikan mawar merah tersebut kepada Malika.


Untuk sejenak, Malika terdiam.. apa yang barusan Rahman lakukan dan katakan, tidak ada dalam script. Juga tidak diucapkan Rahman saat sesi latihan kemarin.


Di bangku khusus keluarga, Bayu dan Dion berdecak kagum,, "Gila Rahman, berani benar melamar Icha di atas panggung... gue pikir, dia hanya akan nembak Icha?!" Ucap Dion, seraya melirik kearah daddy Rehan.


Daddy Rehan nampak tersenyum dan menatap mommy Billa yang juga tengah tersenyum.


Sedangkan keriuhan terjadi di bangku tamu undangan, teman-teman Malika berteriak, "terima aja Cha...!! Ayo,, terima..."


"Gue juga mau dong bang,,," seru yang lain.


"Ah,, meleleh hati adik bang," yang lain pun ikut menimpali.


Hingga kemudian Malika menerima bunga mawar pemberian Rahman, dengan hati yang bertanya-tanya.


Rahman berdiri,, kini kedua nya saling berhadapan, dan kemudian membungkuk hormat pada semua hadirin.


Tante Jihan maju ke panggung, dan membacakan epilog. "Dan benar saja,,, sang putri pun akhir nya terbangun dari tidur panjang nya dan terbebas dari kutukan karena ada seorang pangeran tampan yang dengan tulus mencintai sang putri, dan mereka pun akhirnya menikah dan hidup berbahagia." Tante Jihan mengakhiri cerita nya.


Dan disambut dengan tepuk tangan meriah oleh semua yang hadir.


Dan seperti dalam sesi latihan kemarin, kedua nya berjalan beriringan hendak menyalami teman-teman Malika. Namun karena Malika memakai hells dan gaun nya yang panjang menyapu lantai, hingga langkah nya terjerat gaun nya sendiri dan Malika hampir saja terjatuh jika tidak ada tangan kekar yang menangkap tubuh nya.


Kini posisi kedua nya sangat intim, dan wajah kedua nya begitu dekat.. kembali jantung Rahman berdetak sangat cepat, nafas nya memburu. Netra nya tak berkedip menatap pesona kecantikan wajah Malika, "Cha,," hanya itu kata singkat yang mampu diucapkan oleh Rahman.


Rahman hendak membantu Malika agar dapat berdiri dengan sempurna, namun Malika menolak nya.. "bang, biarkan seperti ini dulu. Ada yang mau Icha tanyakan sama abang," pinta nya seraya menatap Rahman dengan intens.


"Iya, apa itu dik?" Tanya Rahman yang masih menopang tubuh Malika, posisi nya seperti sedang memeluk.


"Apakah yang bang Rahman katakan tadi, benar ada nya? Apakah benar, abang menginginkan Icha untuk menjadi permaisuri abang di masa depan? Apakah benar, abang akan menjaga hati abang untuk Icha? Hingga saat nya tiba nanti?" Tanya Malika dengan hati berdebar, dia takut kalau tadi hanya salah dengar dan akhir nya kecewa.


Rahman mengangguk pasti, dan tersenyum tulus, "apa dik Icha, mau menerima abang?" Tanya Rahman memastikan.


"Icha mau bang," balas Malika dengan cepat.


"Ehmm,," suara dehaman om Ilham yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang kedua nya, membuat drama tambahan tersebut berakhir dengan sempurna.


Rahman membantu Malika untuk berdiri dengan tegak, dan Malika kemudian kembali berjalan dengan pelan menuju bangku dimana teman-teman nya duduk,,, yang diikuti oleh Rahman, yang mengekor di belakang nya.


Suara teman-teman kembar Malik dan Malika yang menyambut kedatangan Malika dan Rahman terdengar sangat riuh, Malika menyalami teman laki-laki nya dan memeluk teman-teman cewek nya dengan wajah yang bersinar bahagia... karena ada pangeran tampan yang selalu mengikuti, kemanapun kaki nya melangkah. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun kepada Malika, sekaligus menggoda Rahman yang terus saja mengekor di belakang gadis belia idaman hati nya.


Berbeda dengan Malik yang wajah nya terlihat murung, entah apa yang sedang dipikirkan putra kedua bos RPA Group yang ketampanan nya sebelas dua belas dengan sang daddy.


Hingga suara om Ilham dari atas panggung, mengalihkan semua perhatian tertuju kepada adik bungsu mommy Billa itu.


"Adik-adik semua, kini saat nya kak Ilham akan membagikan door prize untuk kalian semua.. silahkan yang mendapatkan lemparan bola pertama maju dan naik ke atas panggung untuk mengambil door prize dan setelah mengambil door prize, silahkan tunjuk satu teman yang kalian ingin kan yang akan naik ke panggung selanjut nya untuk mengambil door prize. Dan begitu seterusnya.. paham ya?" Seru om Ilham dari atas panggung, dan disambut dengan suka cita oleh semua teman-teman kembar Malik dan Malika.


Om Ilham yang ingin di panggil kakak oleh teman-teman Malik dan Malika itu pun mulai melemparkan bola kecil ke sembarang arah, seorang gadis belia berkaca mata yang terlihat manis berhasil menangkap bola kecil tersebut. "Aku dapat bola nya kak,," seru nya dengan riang, dan segera berlari kecil menuju panggung untuk mengambil door prize.


Setelah mendapatkan door prize, gadis manis itu kemudian memanggil salah satu teman akrab nya untuk naik ke panggung. Gadis manis itu kemudian turun kembali dan duduk di bangku nya seperti semula, seraya mendekap sebuah paper bag dari butik ternama.


Acara pembagian door prize masih berlangsung, Rahman kemudian memisahkan diri dari Malika dan duduk bersama Kevin dan teman-teman dekat nya.


Sedangkan Malika mendekati saudara kembar nya yang masih murung, "bang,, cemberut aja sedari tadi?" Malika langsung duduk di sebelah kembaran nya, dan menitipkan mawar merah yang sedari tadi di pegang nya ke pangkuan Malik.


"Tasya belum ada datang ya bang?" Tanya Malika mengedarkan pandangan ke bangku di sisi kiri, dan benar ada nya.. tante Saskia, om Rahmat dan putri nya belum terlihat hadir diantara saudara-saudara nya.


Hingga pembagian door prize usai, dan di lanjut kan dengan acara makan-makan.. bahkan ketika satu persatu teman-teman mereka berdua pamit untuk pulang, yang di tunggu Malik belum juga menampakkan batang hidung nya.


Kini yang masih berada di tempat pesta itu tinggal keluarga besar Antonio, beserta teman-teman dekat Kevin dan Salma.


"Hebat lu bro,, besar juga nyali lu, melamar nona muda di atas panggung," Bayu mengacungkan ibu jari nya ke hadapan Rahman, yang hanya di tanggapi dengan senyuman tipis oleh Rahman.


Dan Kevin hanya tersenyum mendengar perkataan teman nya itu.


Sedangkan di sudut yang lain, nampak om Alex mengolok daddy Rehan. "Kalah nyali lu sama tuh anak Rey,," cibir om Alex pada daddy Rehan, "benar-benar keren dia," puji nya pada Rahman.


"Lu, beneran menyetujui hubungan mereka berdua Rey?" Tanya om Devan menyelidik.


"Yah, biarkan saja mengalir seperti air,,, selagi Rahman bisa menjaga Icha, kenapa tidak? Waktu yang akan menjawab kesungguhan Rahman, apakah dia akan tetap menunggu dan bertahan hingga beberapa tahun ke depan.. ataukah menyerah dan kalah?" Balas daddy Rehan dengan santai.


"Assalamu'alaikum,,," ucap salam dari tamu yang baru saja datang, mengalihkan perhatian mereka semua.


Dan Malik, yang sedari tadi wajah nya di tekuk.. langsung berdiri dan tersenyum lebar begitu melihat tamu yang baru saja tiba di pesta ulang tahun nya.


to be continue,,,