
Rendy memeriksa keadaan dina,raut wajahnya berubah menjadi mengkerut kemudian beralih menatap vina dan aditya bergantian.
"Ada apa rend? semua baik kan?"tanya vina sesegukan.
"Ibu harus segera di larikan ke rumah sakit"jawab rendy.
"Apa??!!apa itu sangat parah?ibu akan baik-baik saja kan sayang?"Tanya imel yang juga ikut menangis.
"Tenang sayang ibu pasti akan baik baik saja"jawab rendy.
"Aku akan siapkan mobilnya"ucap aldo kemudian keluar mengambil mobil sedangkan aditya segara menggendong dina dan membawanya ke mobil.
"Mah aku titip anak anak takut bangun,maaf ya mah"ucap vina cepat sambil mencium tangan naina.
"Iya nak tidak apa apa kabari mamah jangan lupa ya"ucap naina dengan nada khawatir.
Mobil di kendarai aldo dengan kecepatan penuh,karena masih tengah malam jalanan sangat renggang memudahkannya untuk melajukan mobilnya dengan cepat.
"Bu bangunlah"ucap vina memegang kedua pipi vina sambil terus menangis.
"Sayang sudah jangan menangis, ibu akan baik-baik saja"ucap aditya mengelus kepala Vina yang hanya tertutup oleh pashmina yang belum sempat di beri jarum.
Selama perjalanan tangannya tak mau lepas dari genggaman dina,hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Rendy keluar dengan tergesa-gesa meminta brankar pada petugas kesehatan yang berjaga.
"Cepat tidurkan"ucap rendy kemudian mendorongnya menuju ruang UGD.
"Hiks...ibu aku mohon bertahanlah"ucap vina menyatukan kedua tangannya memohon.
"Sayang sudah jangan terus menangis"tutur aditya mengelus bahu vina membiarkan kepala Vina bersandar di dadanya.
"Iya vin yakinlah bahwa ibu akan baik-baik saja"sambung aldo.
Aditya membawa Vina duduk di ruang tunggu, tangannya ia jadikan sebagai tumpuan kepala, tangisannya belum berhenti.
"Kita sama sama doakan ibu ya sayang"ucap aditya diangguki vina tanpa melihat pada suaminya.
1 jam berlalu namun pintu ruangan dimana dina berada masih tertutup rapat mengundangkan kekhawatiran dalam diri vina meningkat.
"Kenapa lama sekali mas? ibu akan baik-baik saja kan ma?"tanya vina pada aditya,air matanya sudah mengeringkan meninggalkan bekas di mata dan wajahnya.
"Iya sayang semua akan baik-baik saja"Jawab aditya mengelap wajah Vina menggunakan telapak tangannya.
"Dit, ini makanlah mungkin kita tidak bisa kembali jadi akan sahur disini"ucap aldo menyodorkan 2 box paket nasi pada aditya.
"Do aku minta maaf ya jadi merepotkan"ucap vina mendongak melihat aldo.
"Tidak apa Vin,ibu kamu juga sudah seperti ibuku"jawab aldo seraya mengangguk berkali kali.
Tak lama pintu akhirnya terbuka,Vina langsung berdiri menghujani rendy dengan pertanyaan.
"Rend bagaimana keadaan ibu?"tanya vina penuh harap.
"Kondisinya kritis vin,dia butuh pendonor hati secepatnya"jawab rendy lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Hikss ibu????!!"teriak Vina kakinya tiba tiba terasa lemas tak mampu menopang tubuhnya beruntung aditya dengan sigap menangkapnya.
"Sayang tenanglah kita akan cari pendonor nya"ucap aditya memegang kedua bahu vina.
"Dimana mendapatkan pendonor secepat ini mas"saut vina lirih hampir tidak terdengar.
"Jangan menyerah kita pasti akan menemukannya"ujar aditya memberi semangat kepada istrinya.
"Iya Vin benar kata adit,kita tidak boleh menyerah"sambung aldo diangguki rendy tanda memiliki perkataan yang sama dengannya.
Dina sudah di pindahkan ke ruangan perawatan,Vina dengan setia menemani wanita yang menjaganya sejak kecil itu.
"Ibu bangunlah,aku disini"ucap vina menggenggam tangan dina sesekali mencium nya.
Saat ini aditya, aldo dan rendy sedang pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang dina,di perjalanan aditya tak henti memberi pertanyaan pada rendy.
"Dit aku tidak bisa melanggar janjiku pada ibu jadi aku mohon mengertilah"saut rendy.
"Apa ibu bisa bertahan jika kita tidak berhasil mendapatkan pendonornya?"tanya aldo.
"Aku tidak bisa memastikannya, dokter zian yang akan menangani ibu kita berdoa saja semoga ibu tidak apa apa"jawab rendy.
Aditya merogoh saku nya mengambil benda pipih dengan label apel itu kemudian menghubungi seseorang.
"Apa kalian sudah mendapatkannya?"Tanya aditya.
"maaf bos,saat ini kami belum bisa mendapatkannya"
Tut...
perasaan kecewa menyerangnya,anak buah dengan jumlah puluhan di setiap daerah tidak bisa mendapatkan apa yang saat ini sedang ia butuhkan.
Sesampainya di rumah, naina dan yang lain sedang menunggu di ruang tamu beruntung baby kembar tidak terbangun hanya Al dan saudara lainnya saja.
"Adit gimana keadaan dina?"tanya naina memegang pergelangan tangan aditya.
"Kondisinya kritis mah dan ibu harus di rawat"jawab aditya menunduk perlahan kepalanya jatuh diatas bahu naina.
"Sabar nak tenangkan dirimu jika kau seperti ini siapa yang akan menguatkan Vina"ujar naina mengelus punggung aditya.
"Saat ini ibu membutuhkan pendonor hati tan karena kondisinya semakin lama semakin lemah"ujar rendy menjelaskan.
"Apa?!"kejut naina,imel dan dila bersamaan.
"Kak tapi menemukan pendonor bukanlah hal yang mudah dan bagaimana kita akan mendapatkannya dalam waktu cepat"tanya risa terkejut.
"Itulah yang sedang kita pikirkan"balas aldo.
"Aku akan coba hubungi temanku di Amerika"ucap tio kemudian mengambil ponsel dan mengubungi temannya yang merupakan seorang dokter.
Nihil teman tio sedang tidak memilki organ bagian dalam itu di rumah sakitnya namun meski begitu semua tetap berusaha mencarinya begitupun dengan rafly namun hasilnya sama dengan tio.
Keesokan harinya,Vina terbangun semalaman dia tidur sambil menggenggam tangan dina erat. Suara knok pintu terbuka memperlihatkan aditya yang datang bersama Iqbal.
"Ibu?!! bangun bu"ucap iqbal memeluk dina dari samping.
"Iqbal sudah jangan menangis ibu sedang istirahat jangan menggangunya"tutur vina lembut.
"Kak bagaimana dengan ibu? ibu akan baik-baik saja kan?"tanya Iqbal beralih memeluk kakaknya.
"Kita doakan bersama sama ya"ucap Vina diangguki iqbal dengan nurut.
Dokter Zian masuk dengan rendy, tangannya mengambil stetoskop kemudian mengarahkan nya kepada dina untuk memulai pemeriksaan.
"Dok,ibu saya gak apa apa kan?"tanya vina.
"Ibu anda butuh hati secepatnya tapi untuk membuatnya bertahan hidup kita bisa melakukan pencangkokan dengan kutipan itu tidak bisa bertahan lama"jawab dokter zian sambil menjelaskan.
"berapa lama itu dok?"tanya aditya.
"Mungkin 6 bulan"jawab zian.
"Lakukan yang terbaik dok jika memang jangka waktunya 6 bulan setidaknya kita memiliki waktu yang cukup untuk mencari pendonor nya"ucap vina mengusap pipinya kasar.
"Silahkan diisi dan di tanda tangani agar kami bisa secepatnya mengambil tindakan"tutur Zian menyodorkan map merah dan bolpoin nya.
Setalah mengisi form persetujuan operasi,zian keluar menyiapkan peralatan operasinya dengan dibantu beberapa perawat.
"Vin doakan semoga semuanya lancar"ucap rendy sebelum keluar dari ruangan dina.
"Hiks ibu bertahanlah ibu pasti akan baik-baik saja,maaf sementara ini ibu pakai cangkokan dulu ya tapi aku janji aku akan mencarikan pendonornya segera"ucap vina menatap lekat wajah dina yang tertutup selang oksigen.
JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE NYA SAYY 🤗
BERSAMBUNG......