My Boss My Sweet Husband

My Boss My Sweet Husband
BAB 221



Di perjalanan tak lupa Imel menelpon suaminya untuk mengabari kondisi vina dan supaya rumah sakit menyiapkan alat yang dibutuhkan oleh Vina.


"Sayang bangun"ucap aditya berkali-kali menepuk pipi istrinya.


"Vin bangun Vin"Imel menggenggam tangan vina sambil menggoyangkan lengan vina pelan.


"Imel sebenarnya ada apa ini?"tanya aditya beralih pada sahabat istrinya.


"Aku tidak bisa menjelaskannya, lebih baik nanti kamu tanya dokter rani ataupun rendy"jawab imel.


30 menit mereka sampai di rumah sakit, aditya menggendong vina kemudian merebahkannya di atas bangsal yang sudah disediakan oleh rumah sakit dengan rendy dan rani di sisi kanan dan kiri bangsal.


"Sayang bangunlah"aditya masih meminta istrinya untuk bangun meski sudah puluhan kali ia coba tapi nihil Vina tidak membuka matanya.


"dit tenang kami akan memberikan yang terbaik untuk vina"ucap rendy menepuk bahu aditya sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu ruangan yang tertulis R.Mawar.


"Tenang dit,Vina tidak apa apa mungkin dia hanya kelelahan dan kekurangan cairan saja"ucap naina mencoba membuat anaknya tenang.


"tadi vina tidak apa apa mah memang aku akui sejak pagi wajahnya terlihat pucat tapi aku tanya dia hanya menjawab mungkin kelelahan.Tapi kenapa sampai seperti ini mah"saut aditya.


Pintu ruangan mawar itu akhirnya terbuka setelah hampir 1 jam lamanya,rendy dan dokter rani keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Rend bagaimana dengan Vina?"tanya aditya penuh harap.


"Tuan aditya,bisa ikut saya sebentar"ucap dokter rani.


"ada apa dok?semua baik kan?"tanya Aditya.


"Dok jelaskan saja disini agar semua keluarga tahu tentang kondisi Vina"tutur rendy.


"ada apa sebenarnya ha? kenapa kalian bicara dengan kode seperti itu"tanya naina.


"tenanglah mah dokter akan menjelaskannya"ucap dila mengelus bahu ibu mertuanya.


"Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga brawijaya namun saya juga tidak punya pilihan lain"ujar dokter rani menarik nafas sebentar kemudian melanjutkan kembali perkataannya.


"Seperti ucapan saya tempo hari ketika istri anda melahirkan,kandungannya mengalami kerusakan dibagian rahim dan harus diangkat,anda setuju dalam hal itu tapi tidak dengan nona Vina. Dia menolak keras keputusan untuk mengangkat salah satu harta seorang wanita yang paling berharga,segala cara dia lakukan demi mempertahankan rahimnya yaitu dengan menggunakan alat kontrasepsi IUD dan mengkonsumsi obat obatan"lanjut dokter rani.


"maksudnya dengan Vina menolak keputusan mengangkat rahimnya adalah??"tanya dila menggantung mulai mengerti apa yang dokter jelaskan.


"dia meminta saya untuk mengganti surat operasi pengangkatan rahim dengan surat pemasangan alat kontrasepsi iud"jawab dokter rani.


"Dok, bagiamana bisa seorang yang memiliki rahim sudah hancur dan beracun bisa di pertahankan?"tanya Dina.


"Dengan mengkonsumsi obat khusus Karena itu saya katakan sejak awal jangan pernah lupa untuk meminum obatnya tapi sepertinya nona vina melupakan itu sampai membuatnya dalam kondisi seperti ini"jelas dokter rani.


"Lalu bagaimana sekarang dok?"tanya imel.


"istri saya akan baik-baik saja kan dok?dia bisa pulih kembali kan?"tanya aditya bertubi tubi.


"Tidak ada pilihan lain selain melakukan operasi pengangkatan rahim yang sesungguhnya,saat ini tidak ada yang bisa di lakukan selain operasi karena kelalaian obat itu kini racun dalam rahim nona vina semakin cepat menyebar dan akan berakibat fatal jika tidak diambil tindakan secepatnya"jawab dokter rani lirih sebenarnya dia juga sangat tidak enak harus menyampaikan berita itu kepada keluarga pemilik rumah sakit ini.


"Tapi dok bagaimana dengan perasaan menantu saya nanti?"tanya rudi mengingat apa perasaan vina nantinya.


"Keputusan ada ditangan kalian terutama anda sebagai suaminya,tuan aditya"saut dokter rani.


Aditya merosot dan duduk di bangku tunggu, tangannya ia satukan dengan dahinya berkali kali tangan itu memukul dahinya berusaha mencari jalan keluar selain operasi yang akan membuat istrinya sedih.


"Dit, demi vina secepatnya ambil keputusan"ujar rendy.


"aku bingung rend"saut aditya pelan dan terdengar begitu berat.


"Dit kami yakin kamu bisa ambil keputusan dengan baik"ucap rudi menepuk punggung aditya pelan.


"Dok apa saya bisa menemui istri saya?"tanya aditya.


"Silahkan pak"jawab dokter rani mempersilahkan.


Aditya masuk sendiri karena demi kenyamanan pasien, dilarang banyak orang untuk menemui vina.


"Sayang bangunlah"ucap aditya menggenggam tangan vina erat dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya.


"Sayang kenapa selalu kamu yang berada disini? kenapa bukan aku?sudah banyak sekali kamu berkorban demi kebahagiaan aku.Maafkan aku sayang jika belum bisa menjadi suami yang berguna buat kamu, tapi saat ini aku benar-benar tidak tahu jalan mana yang harus aku pilih"ucap aditya lagi.


Aditya beralih melihat monitor detak jantung vina, semakin lama semakin turun.


"maafkan aku sayang tapi tidak ada pilihan lain,aku akan terima jika nantinya kamu marah"gumam aditya mencium dahi vina lama kemudian keluar dengan sebuah keputusan yang ia ambil setelah melihat wajah cantik istrinya.


"Adit,Vina baik kan?"tanya naina.


"iya mah"jawab aditya.


"dok dimana saya harus tanda tangan?"tanya aditya pada dokter rani.


"Saya ingin yang terbaik untuk vina, untuk bagaimana dengan perasaanya nanti saya yakin dia bisa menerima semua ini karena vina wanita yang kuat dan dewasa"jawab aditya jelas.


"nak kami semua akan ikut apa keputusanmu, jika itu baik untuk kalian"ucap dina.


"terimakasih Bu"saut aditya.


Rendy memberikan papan datar yang ditimpa sebuah kertas bertuliskan surat persetujuan, persetujuan seorang keluarga untuk operasi vina yang langsung di tanda tangani oleh aditya.


"Terimaksih atas keputusan anda, saya permisi"ucap dokter rani mulai mempersiapkan segala yang di butuhkan.


"sudah jangan menangis sayang,aku akan melakukan yang terbaik untuk vina"ucap rendy menyeka air mata istrinya.


"berjanjilah"titah imel diangguki rendy.


Rendy pergi ke ruangan Vina dengan 2 orang perawat yang nantinya akan membantu membawa bangsal Vina menuju ruang operasi.


Masih memejamkan matanya Vina di bawa menuju ruang operasi, tangis dina dan naina kembali pecah melihat putri mereka yang kembali terbaring di atas bangsal.


"Semuanya doakan aku semoga bisa membantu operasi Vina"ucap rendy sebelum masuk ke dalam ruangan operasi.


"Rend kami menaruh harapan besar padamu"balas dina.


"baiklah, permisi"rendy menutup pintu ruang operasi.


15 menit kemudian lampu yang berada tepat di atas pintu menyala menandakan dokter sudah memulai operasi terhadap Vina.


Aditya dan yang lain tak henti mengucapkan doa yang terbaik untuk vina yang sedang berjuang di dalam ruangan yang sudah berkali kali ia masuki.


"Assalamualaikum"salam aldo yang baru bisa datang setelah mengurus pertemuan dengan klien penting.


"waalaikumsalam"


"dit, bagaimana dengan vina?"tanya Aldo.


"Kita doakan semoga Vina baik baik saja"jawab aditya tanpa menoleh pada Aldo.


Hampir 2 jam ruangan itu tertutup tapi lampu belum juga di matikan membuat rasa khawatir kian menyelimuti seluruh keluarga.


"kenapa lama sekali?"gumam aditya mondar mandir di depan ruang operasi.


"Sabar dit"saut rudi pada anaknya yang tak kenal sabar.


Akhirnya lampu operasi mati, perlahan pintu terbuka memberi celah aditya untuk melihat bagaimana kondisi istrinya di dalam sana.


"rend bagaimana?"tanya semua orang bersamaan.


"Alhamdulillah operasi berjalan lancar,saat ini vina masih dalam pengaruh obat bius untuk 3 jam ke depan kalian bisa menemuinya nanti"jawab rendy.


"Nona Vina akan saya pindahkan ke ruang rawat VVIP agar memperlancar pemulihannya"tutur dokter rani menepikan tubuhnya memberi jalan untuk bangsal Vina lewat.


Hari semakin sore,dila dan Imel serta naina dan rudi sudah kembali ke Mansion kini di rumah sakit hanya tinggal aditya,Aldo dan dina.


"Ibu kalo lelah di rumah aja kasihan ibu pasti tidak nyaman"ucap aditya pada ibu mertuanya.


"ibu gak lelah nak tapi ibu pamit ke masjid dulu ya mau shalat tarawih.Kamu di tinggal gak apa apakan?"tanya dina.


"iya Bu gak apa apa lagian ada Aldo juga"jawab aditya.


"ibu mau aku antar?"tanya aldo menawarkan.


"gak usah nak ibu naik taksi aja"jawab dina..


"jangan Bu mending Aldo antar aja ya"tolak aditya tidak mau terjadi sesuatu pada ibu dari istrinya.


"ayo bu aku antar"ajak aldo diangguki dina.


Setalah kepergian dina dan aldo, aditya menyibukkan diri dengan ponsel ditangannya melihat beberapa email yang masuk karena tidak mungkin aditya menyuruh aldo setelah seharian membuat aldo pusing sendiri dengan kerajaan aditya.


"Tuan aditya"panggil seorang perawat.


"ada apa sus?"tanya aditya.


"Ini resep obat yang harus di tebus di apotek"Jawab suster memberikan secarik kertas pada aditya.


"baiklah sus, Terimaksih"saut aditya mengambil kertas tersebut kemudian pergi.


jangan lupa like dan komen ya 🤗


BERSAMBUNG........