
sambil menyetrika baju,vina melamun memikirkan tentang naina yang sedang membeli obatnya sampai dia tidak sadar jika bukan mengenai pakaian setrika itu justru mengenai jari telunjuk dan tengah sebelah kirinya.
"Awww"ringis vina mengibaskan tangannya.
"Vina??"panggil dina yang kebetulan datang untuk menyetrika baju juga.
"emm iya bu?"saut vina masih sedikit meringis.
"ya ampun ini kenapa tangan di setrika? aduh kalo gak di kasih salep bisa bahaya nih"ujar dina kemudian pergi mengambil salep luka bakar.
Sambil menunggu dina,Vina mencabut colokan setrika karena ia juga sudah selesai menyetrika baju yang akan ia gunakan.Tak lama dina datang dan menyuruh vina untuk duduk agar mudah mengobati lukanya.
"makanya kalo lagi apa apa tuh jangan ngelamun,jadi gini kan"ucap dina tangannya aktif mengolesi salep di jari anaknya.
"Heheheh iya bu"saut vina cengengesan.
Dina menaruh salep diatas meja kecil yang ada di ruangan itu, matanya beralih menatap baju couple berwana biru laut yang bagus itu.
"Nak ini baju untuk siapa?"tanya dina.
"itu baju aku bu, nanti aku sama mas adit mau pergi ke acara 7 bulan istri rekan kerja mas adit"jawab vina.
"oh gitu,terus Al ikut?"tanya vina.
"ikut bu, jadi baby aku titip ibu sama mamah ya sebentar gak bagus soalnya kalo diajak kan belum 40 hari"jawab vina.
"iya nak nanti cucu kembar biar sama ibu"ujar dina.
"ya udah bu,aku balik ke kamar dulu ya Al juga belum bangun dikamar mamah"ucap vina membawa baju yang sudah ia setrika.
"iya sayang"
Vina kembali ke kamarnya namun sebelum itu dia menyempatkan diri untuk ke kamar naina melihat Al dan ternyata bocah itu masih pulas di kasur king size nya.
Vina menutup pintu kamarnya kemudian berjalan menuju tangga yang terhubung ke kamarnya.
Ceklek
Vina membuka pintu pelan, melihat kedua anaknya masih tidur di tempatnya sedangkan aditya tidak tahu dimana.
"Mas Adit mana??"gumam vina matanya berkeliling mencari sosok pria yang dicintainya.
Vina masuk tanpa menutup pintu kamarnya, meletakan baju yang sudah ia setrika di atas sofa.Tiba tiba ada yang menggenggam tangannya dari belakang dan memeluknya erat.
"Cieee nyariin"bisik aditya.
"engga siapa yang nyariin"balas vina melepas pelukan suaminya dan berbalik.
"Terus tadi siapa dong yang ngomong 'mas Adit mana?' oh Jangan jangan itu kembaran kamu ya"ledek aditya.
"bisa aja sih pak CEO"desis vina mencubit hidung mancung aditya.
Ketika tangan vina ada di hidungnya, aditya melihat tangan istrinya yang di perban kecil di jari telunjuk dan tengah nya.
"Sayang ini kenapa? perasaan tadi gak ada?"tanya aditya memegang tangan vina dan melihatnya.
"gak sengaja tadi jari aku kena setrikaan mas"jawab vina.
"Kenapa gak hati hati sih sayang"desis aditya manja.
"aku gak apa apa suamiku,udah ya gantian sekarang anaknya yang manja sama aku jangan papah terus"ujar vina sambil terkekeh kemudian mendekati box bayi yang terdapat 2 malaikat kecil.
Varo dan alisha sudah membuka mata kecil mereka dan sedang mengemuti jari membuat vina terkekeh sendiri melihat tingkah lucu anaknya.
"mas lihatlah mereka lucu sekali"ujar vina kemudian Aditya menghampiri vina dan ikut melihat kedua anaknya.
"Mereka sangat lucu karena pupuk dari mamah dan papahnya pupuk terbaik sayang"ujar aditya mengelus lembutnya pipi alisha dan varo.
Sedangkan naina sedang pergi ke apotek yang biasa dia datangi untuk menebus obat rudi.
"Selamat pagi nyonya brawijaya"sapa seorang karyawan yang sudah mengenal naina.
"Pagi tika,Tika tolong berikan saya obat ini ya"tutur naina mendorong secarik kertas resep obat.
"Tunggu sebentar ya"saut apoteker bernama tika itu.
Naina mengerutkan keningnya karena tika sudah kembali biasanya dia harus menunggu setidaknya 15 menit untuk meracik obat tapi ini bahkan 5 menit saja belum.
"sudah? kenapa cepat sekali?"tanya naina.
"maaf nyonya tapi obat ini tidak ada disini maupun apotek manapun,karena obat ini di buat secara khusus"jawab Tika.
"Apa? tidak mungkin, menentu saya kalo beli disini kok"saut naina.
"maaf nyonya tapi obat ini hanya untuk penderita yang mengalami masalah dibagian rahimnya atau lebih jelasnya adalah obat pereda nyeri karena menolak hal demikian"jelas tika.
"Tapi menantu saya memang sudah diangkat rahimnya,lalu untuk apa obat ini"ucap naina lagi.
"Untuk lebih jelasnya lebih baik anda temui dokter konsultasi nona vina"ucap tika.
"ya sudah tika, makasih ya"naina pergi meninggalkan apotek menuju mobil dimana rudi sudah menunggu.
"loh mah,kok cepet?"tanya rudi.
"kita harus ke rumah sakit pah temui dokter rani"ucap naina cepat.
"kenapa?apa terjadi sesuatu?"tanya rudi.
"nanti mamah kasih tau tapi mamah harus memastikan nya dulu"jawab naina.
Rudi mengiyakan permintaan istrinya meski tidak mengerti, mobil rudi melaju dengan kecepatan sedang memecah keramaian kota di pagi hari.30 menit mereka sampai dengan langkah cepat naina menuju ruangan dokter rani.
Tok...tok...tok...
"Silahkan masuk"
Setelah mendengar 2 kata itu, naina masuk dan melihat dokter rani yang sedang duduk sambil membaca sebuah berkas.
"Selamat pagi dokter rani"sapa naina membuat dokter itu mendongak.
"Nyonya naina,tuan rudi?ada apa?apa semua baik baik saja?"tanya rani.
"Bisa kita bicara sebentar?"ucap Naina membuat rani bingung tapi mengangguk.
"Ada apa nyonya?"tanya dokter rani.
"Saya mau anda jawab dengan jujur,apa vina menyembunyikan sesuatu dari kami semua?"tanya naina mempertegas setiap katanya.
"ap....ap..apa maksud anda? saya tidak mengerti"saut dokter rani mulai gugup.
"tolong dok jangan seperti ini, katakan saja ya atau tidak"ujar naina.
"Tidak"jawab dokter rani.
"tidak?lalu kenapa obat ini tidak bisa saya dapatkan di apotek manapun dan mereka bilang ini obat yang dibuat khusus untuk penderita yang memiliki masalah dibagian rahim sedangkan Vina sudah tidak memiliki rahim bukan"jelas naina.
"ummmm itu nyonya tenanglah saya bisa jelaskan"dokter rani menyerah dan mulai menceritakan apa yang di lakukan vina.
"Nona Vina melakukan itu semua karena tidak ingin membuat keluarganya kecewa terutama suaminya karena dia sudah membaca bahwa seseorang yang tidak memiliki rahim akan sulit memberikan kepuasan kepada pasangan dan sebagian besar menjadi cek cok dalam rumah tangga"cerita dokter rani.
"Lalu kenapa Anda menuruti permintaannya padahal anda sendiri tahu jika semua itu berbahaya?"tanya naina.
"Saya juga seorang wanita dan seorang istri, saya tahu benar bagaimana perasaan kita ketika mendengar suami tidak puas dengan kita"jawab dokter rani.
Naina memikirkan perkataan dokter rani,ada benarnya yang dikatakan dokter itu.Rasanya sakit sekali jika tidak bisa memberikan yang terbaik untuk pasangan kita.
"Kalo begitu cepat berikan saya obat ini"tutur naina memberikan secarik kertas itu kepada dokter rani.
Dokter rani mengangguk kemudian mengambil obat yang biasa vina ambil dan memberikan nya kepada naina.
Rudi dan naina berjalan beriringan di koridor rumah sakit banyak yang menyapa pemilik rumah sakit itu tapi hanya rudi yang menjawabnya tidak dengan naina yang melamun membuat kecurigaan dalam diri rudi.
"mah?mamah kenapa sih ngelamun aja setelah bicara sama dokter?"tanya rudi.
"Mamah gak apa apa,yuk pah buruan Vina sama Aditya mau pergi takut si baby gak ada yang jagain"Jawab naina diakhiri ajakan.
Vina dan aditya sudah rapih dengan pakaian mereka bersiap untuk pergi ke acara 7 bulanan aulia atau lebih tepatnya Istri rekan bisnis aditya.
"Bu, beneran gak apa apa aku tinggal sekarang?"tanya vina karena naina belum juga pulang.
"iya gak apa apa lagian ibu yakin sebentar lagi bu naina pulang"jawab dina.
"iya vin sudah sana kan ada kami juga disini"saut dila.
"baiklah aku titip anakku ya, kami akan cepat pulang kok"ucap aditya. "oh iya do tolong handle sebentar ya aku akan secepatnya menyusul ke kantor"sambung aditya bicara kepada Aldo.
"iya dit, lagipula meeting jam 2 siang karena itu aku berangkat siang saja"jawab Aldo.
"ya udah sana pergi nanti acaranya keburu dimulai"tutur Imel.
"kalian hati hati ya"ucap rafly yang sedang menggendong rizky bersama tio yang sedang menggendong daniel karena istri mereka sedang pergi ke pasar.
"iya baiklah, assalamualaikum"pamit aditya dan vina.
"dadah...Al pelgi dulu ya"Al melambaikan tangan pada keluarga nya yang ada di ruang tamu.
"Dadah Al ganteng"saut rendy ikut melambaikan tangannya.
"Do nanti aku nebeng mobil mu ya soalnya aku sedang malas membawa mobil"ucap rendy.
"ya baiklah tapi awas kau minta jemput,ku retakan gigi mu"saut aldo.
tidak lama Vina pergi,naina dan rudi pulang dan masuk kedalam mansion.Sosok pertama yang naina cari adalah vina.
"Din,Vina mana?"tanya naina.
"udah pergi bu tadi sama aditya"jawab Dina.
"oh ya sudah baiklah,sini aku bantu momong alisha"naina membantu menggendong alisha sedangkan dina menggendong varo.
"Tante dari mana? itu apa?"tanya rendy.
"ini tebus obat"jawab naina.
"Obat siapa mah? bukannya obat papah belum lama masa udah abis?"tanya Aldo.
"obat vina"jelas naina membuat imel yang sedang duduk bermain dengan revan berdiri.
"Apa tan?obat Vina?"tanya imel tiba tiba.
"kamu kenapa sih mel bikin kaget aja nanya teriak gitu"desis dila.
"anak kau sampai jatuh tuh"ucap tio membantu revan berdiri.
"eee iya maaf,tadi Tante bilang obat Vina?"tanya Imel jelas.
"iya nak kenapa?"tanya naina balik.
"oh tidak"jawab Imel menggeleng.
Vina dan Aditya sudah sampai di rumah yang biasa disebut sebagai rumah besar dierja, mereka di sambut hangat oleh beberapa BG yang berjaga di luar rumah.
"Ayo sayang langsung masuk aja"ajak vina menggandeng tangan suaminya sedangkan aditya menuntun Al.
"Iya sayang ayo"saut aditya.
Mereka masuk ke dalam rumah dierja dan disambut langsung oleh sang pemilik dan istrinya.
"Nona Vina??"panggil aulia cepika cepiki dengan vina.
"apa kabar?"tanya vina dan terjadilah percakapan antar wanita begitupun dengan aditya.
"Saya sangat berterimakasih karena anda sudah mau datang kemari"ucap adrian.
"anda berlebihan tuan adrian"saut aditya.
"halo ganteng,masih inget Tante gak?"tanya aulia pada Al.
Al hanya menggeleng menunjukan mimik wajah yang lucu.
"Ayo silahkan masuk"tutur aulia mempersilahkan tamunya untuk masuk dan duduk.
Jangan lupa mampir ke novelku yang satunya lagi ya😊😊
BERSAMBUNG........