My Boss My Sweet Husband

My Boss My Sweet Husband
BAB 227



Keesokan harinya Vina pergi ke rumah sakit bersama dina dengan diantar Aditya, aditya sudah menelpon pihak rumah sakit untuk tes dan jika memungkinkan langsung melakukan operasi demi kebaikan dina sendiri.


"Pokoknya ibu harus sembuh ya bu"ucap Vina menggenggam tangan ibunya erat.


"Kita hanya bisa berdoa nak"saut dina menunjukkan senyum lembutnya.


"Bu,aku sudah katakan pada rendy jika memungkinkan akan melakukan operasi hari ini. Ibu siap kan?"tanya aditya.


"Insyaallah nak ibu siap"jawab aditya.


"Kenapa tidak katakan sejak awal bahwa ibu sakit bu?"tanya Vina lirih.


"Karena ibu sayang sama anak anak ibu,ibu gak mau kamu memikirkan kondisi ibu yang memang wajar sudah tua ini"jawab dina.


"Oh iya bu,aku baca di internet penyakit Hepatitis itu didapat dari keturunan,ibu dulu pernah mendonorkan darah untuk aku ketika kejadian di dapur bukankah itu berarti aku ada kemungkinan menderita penyakit itu bu"ucap vina mengingat apa yang ia baca semalam.


"Jangan bicara begitu nak"ucap dina cepat. "memang benar yang kamu bilang tapi ada juga yang tidak mengikuti gen keturunan contohnya seperti ibu yang sejak dulu suka sekali makan makanan asin dan gurih karena itu ibu dapat penyakit ini"sambung dina.


"Yang dikatakan ibu benar sayang jadi kamu berhenti berpikir negatif ya"Tutur aditya.


"Bukan begitu mas hanya saja jika aku memeriksa sekarang setidaknya kita bisa tahu kondisi ku"jelas Vina.


"ya udah sayang nanti kita cek semoga hasilnya negatif ya"ucap aditya lembut.


Sesampainya di rumah sakit,rendy sudah menunggu dengan seorang dokter muda tampan di sampingnya bahkan selama ini Aditya tidak pernah melihat dokter itu.


"Dit??"panggil rendy mendekati aditya.


"Rend sudah kau siapkan semuanya?"tanya aditya.


"Sudah,kau tenang saja. Oh iya perkenalkan dia dokter zian spesialis penyakit dalam yang akan melakukan pemeriksaan dan juga perawatan untuk ibu dina"ucap rendy memperkenalkan.


"Zian" menjabat tangan Aditya yang dibalas dengan nama oleh aditya.


"Oh iya perkenalkan dia ibu dina,dia yang akan menjadi pasienmu dan ini vina istri aditya"rendy beralih memperkenalkan vina dan dina.


"Saya Zian Bu,semoga saya bisa merawat anda dengan baik dan insyaallah sampai sembuh"ucap Zian sopan.


"Iya nak amin,semoga ibu gak merepotkan kamu ya" balas dina.


"Dok saya menaruh harapan besar pada anda, harapan kesembuhan ibu saya"ucap vina.


"Saya akan berusaha untuk sekuat tenaga nona"ujar zian.


"Ya sudah lebih baik kita langsung saja lakukan pemeriksaan"tutur rendy.


"Baiklah rend, kami akan pergi ke ruangan dokter rani nanti kami kembali lagi"ucap Aditya.


"iya dit,kalo gitu kita duluan ya"ucap rendy berjalan lebih dulu menuju ruangan pemeriksaan.


"Ibu periksa dulu ya nak"ucap dina diangguki vina.


Dina sudah pergi ke ruang pemeriksaan bersama 2 dokter, sementara aditya masih mematung di tempatnya sambil memandangi vina.


"Apa?"tanya Vina melirik suaminya yang sejak tadi melihat padanya.


"Kamu cantik"jawab aditya menunjukan deretan gigi putih miliknya.


"Gak usah gombal, yuk ah nanti terlambat"ajak Vina menggandeng tangan aditya.


"Jangan buru-buru sayang lagipula ruangan dokter rani bukan kereta yang bisa berangkat kapan saja dan kita bisa tertinggal"ucap aditya pada Vina yang berjalan seperti orang di kejar kenyataan pahit. Eaaaaa......


"Ya kan biar cepet selesai sayang aku juga harus cek darah buat cari tahu aku ada penyakit seperti ibu atau tidak"saut vina.


"hmmm"dehem aditya seraya mensejajarkan langkah vina.


Sesampainya di depan ruangan dokter rani, tidak seperti biasanya sekarang depan ruangan itu terlihat ramai, banyak para wanita hamil yang menunggu giliran untuk diperiksa dan banyak juga suami yang setia menemani istri mereka.


"Sayang kok rame, tumben banget biasanya engga"tanya aditya mendudukkan bokongnya di samping Vina.


"Iya mas kan di Indonesia banyak yang lagi hamil jadi banyak juga yang periksa kandungan"jawab vina.


"Ckck,bukan itu maksudku sayang.Maksudnya biasanya sepi gitu gak seramai ini"jelas aditya.


"Kamu lelah?"tanya aditya mengusap dahi vina.


"engga mas, harusnya aku yang tanya kamu lelah gak setelah meeting dari kantor langsung antar aku kesini"jawab Vina diakhiri pertanyaan.


"engga kok sayang lagian kerjaan di kantor juga tinggal sedikit jadi aku punya waktu untuk istirahat"jawab aditya.


"Jangan bekerja terlalu keras lagipula uang yang kamu cari selama ini sudah cukup untuk 7 keturunan"ucap vina berbisik membuat aditya terkekeh.


"Perut kamu masih sakit?"tanya aditya memegang perut vina yang rata.


"engga mas, obat yang diberikan dokter membuat rasa sakitnya tersamarkan"jawab vina menunjukan senyum lembutnya.


"Mulai sekarang berjanjilah untuk tidak menyembunyikan apapun dariku sayang"ucap aditya serius menggenggam tangan vina.


"Aku janj"jawab vina mencium tangan aditya yang sedang menggenggam tangan nya.


1 jam kemudian pasien sudah mulai pergi namun juga masih ada beberapa sedangkan Vina mendapat giliran menjelang makan siang.


"mas??"panggil Vina pada aditya yang sedang bersandar di bahunya.


"Kenapa sayang?"balas aditya mendongak Melihat istrinya.


"Sudah 1 jam,kita ke ibu dulu yuk lagian disini masih ada beberapa pasien"ajak vina.


"Ya udah ayo"Aditya bangun dan menggandeng tangan vina.


Aditya dan Vina berjalan beriringan menuju ruang pemeriksaan dina,Vina yang tampil cantik dengan balutan gamis berwarna peach dipadukan dengan pashmina yang senada membuatnya terlihat begitu ayu. sedangkan aditya menggunakan setelan kantor,jas hitam yang di gulung sampai sebatas siku dan 2 kancing kemeja bagian atas yang dibuka menambah kesah cool dari aditya belum lagi pantopel puluhan juta yang ia gunakan membuat kesan tersendiri bagi wanita yang melihatnya.


"Astaga,apa surga hari ini bocor sampai aku bisa melihat malaikat disini?"tanya seorang suster baru sambil memegangi kedua pipinya.


"hus,jaga omongan kamu dia tuan aditya pemilik rumah sakit ini dan itu disebelahnya adalah nona vina istri tuan Aditya.kamu jangan macam-macam nanti di makan istrinya baru tahu rasa"saut seorang suster akut yang sudah bekerja di rumah sakit brawijaya.


Tanpa keduanya tahu, Aditya dan Vina mendengar dialog antara petugas kesehatan itu namun bukannya marah Vina malah terkikik geli.


"Kok ketawa? seharunya kamu cemburu dong suami kamu di kagumi perempuan lain"tanya aditya protes melihat Vina yang malah tertawa.


"Buat apa? lagipula aku tidak memasang plang bertuliskan larangan memandang atau menyebut suamiku tampan. Tapi jika sampai berani main-main bisa bisa aku makan kalian hidup hidup"ancam Vina dengan sorot mata menusuk.


"Engga dong kan aku udah punya istri dan buntut di rumah"balas aditya merengkuh pinggang Vina.


"Buntut?sejak kapan kamu punya buntut?"tanya Vina tidak paham.


"Sejak menikah denganmu sayang, buntut aku tuh Al,varo sama alisha sayang"jawab aditya.


"ohh,hahhaha ada ada saja kamu ini"tawa vina menutup mulutnya.


Sesampainya di ruang pemeriksaan dina, bersamaan dengan itu rendy keluar dengan membawa sampel darah yang diyakini milik dina.


"Mau kemana kau?"tanya aditya membuat rendy kaget.


"eh Dajjal"ceplos rendy yang terkejut.


"Siapa Yang kau sebut Dajjal?!"tanya aditya terdengar mengerem.


"ehh sorry keceplosan,ini mau bawa ke laboratorium"jawab rendy.


"terus ibu mana rend?"tanya vina.


"di dalam sedang di periksa oleh Zian"jawab rendy.


"oh iya rend bisa kamu ambil darah aku juga dan di tes di lab soalnya aku takut ada keturunan Hepatitis seperti ibu"ujar vina.


Rendy menatap aditya meminta izin, aditya mengangguk mengerti jika yang dilakukan Vina ada benarnya.


"ya sudah ayo keruangan ku"ajak rendy.


Oke segini dulu nanti malam aku ngetik biar besok pagi bisa up😉


BERSAMBUNG.......