
"Akhhhhhhh........"teriak Vina memegangi perutnya yang terbentur lantai.
"Kakakakkkk!!!"teriak iqbal sontak membuat seisi ruang tamu menoleh ke belakang.
"Vina??!!!!!"seru semua orang melihat vina sedang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
Aditya membalik tubuh istrinya meletakan kepala vina di pangkuannya.
"Sayang lihat aku,kamu gak apa apa kan?"tanya aditya dengan nada cepat dan khawatir.
"Pak alif siapkan mobil!!!!!"teriak rudi.
"Adit, darah dit"teriak naina menutup mulutnya Melihat darah yang mengalir dari kaki menantunya.
"Kakak hikss.... hiks...."tangis iqbal pecah melihat vina yang meringis kesakitan bahkan kini kesadarannya sudah hilang.
Tak menunggu lagi, aditya menggendong vina dan membawanya ke mobil, saking banyaknya darah vina menetes ke lantai yang di lalui aditya, sarung dan baju aditya sudah berubah menjadi kemerahan karena darah vina.
"Ya Allah aku mohon selamatkan Vina"ujar imel.
Bi Suti dan bi Ijah ikut menitihkan air mata ditambah lagi melihat tetesan darah yang tercetak di lantai bersih mansion.
"Semoga non Vina gak apa apa ya Allah"gumam bi suti menyatukan kedua tangannya.
3 mobil keluar dari garasi mansion mengikuti mobil aditya yang pertama kali meninggalkan pekarangan.
"Sayang bangunlah aku mohon"tangis aditya sambil membelai pipi Vina.
"Aku tidak suka melihatmu begini mas,kamu tidak terlihat tampan....jik...ka... menangis"ucap vina.
"Sayang kamu akan baik-baik saja kan?"tanya aditya penuh harapan.
"Ternyata ini alasan sejak pagi mereka menendang ku,mereka ingin memberi isyarat bahwa malam ini mereka akan keluar untuk melihat dunia mas"ujar vina mengalihkan pembicaraan.
"Kalian harus selamat bagaimanapun caranya sayang"tangis aditya semakin histeris melihat ke bawah darah keluar semakin banyak dari kaki istrinya.
Di mobil lain imel sedang sibuk menghubungi pihak rumah sakit dan dokter rani.
"Halo, tolong siapkan ruang operasi nona Vina akan segara kesana"ucap rendy pada pihak rumah sakit.
"Sayang, vina akan baik baik saja kan?dia tidak akan mengalami hal sepertiku kan?"tanya imel berkaca-kaca.
"Aku yakin Vina akan baik baik saja sayang"saut rendy.
Aldo membawa mobil yang ditumpangi naina dan rudi sedangkan dila dirumah menjaga anak anak terutama Al yang menangis melihat vina tadi.
Dina keluar dari kamarnya melihat kekacauan yang terjadi di dekat dapur, Piring dan gelas yang pecah dengan darah yang berceceran di lantai membuat dina merasa khawatir dan berharap semua pikiran nya tidak benar.
"Bi ada apa ini?"tangan dina pelan.
"non vina terjatuh dan mengalami pendarahan din"jawab bi suti yang memang dekat dengan dina sewaktu bekerja di mansion.
"Apa???!!!!!"kejut dina menutup mulutnya.
Perlahan tubuhnya mulai merosot dan duduk di lantai, memandangi noda merah yang meninggalkan kesan sakit dalam hati seorang ibu.
"Ibu???!!"panggil iqbal memeluk dina dan menumpahkan air matanya.
"Iqbal ada apa?apa yang terjadi pada kakak mu nak?"tanya dina memegang pipi iqbal.
"iqbal kamu ajak Al ke kamar revan sama Bagas ya, tutup pintunya dan kalo bisa bantu Al untuk tidur"ujar dila yang datang menuntun Al.
"iya kak"jawab iqbal kemudian pergi menuntun Al.
"nene,mama Hua.....Hua....."Al menepis tangan iqbal dan beralih memeluk dina.
"mamah gak apa apa nak,mamah cuma kau keluarin Ade bayi kan Al mau Ade bayi cepet keluar kan"ucap dina mengelus puncak kepala Al.
"Ade Al mau keluar teyus nanti bica main Cama Al?"tanya Al.
"bisa, Sekarang ikut aa ke kamar ya dan bobok besok Ade udah disini"ujar dina.
Setalah kepergian Al dan Iqbal,dila membantu dina berdiri dan mendudukkannya di kursi meja makan kemudian memberikan segelas air putih pada dina.
"ada apa ini nak?"tanya dina dengan pelupuk matanya yang menggenang.
"hiks.... hiks....Vina......,"dila menceritakan kejadian yang tidak disengaja namun berakibat fatal.
Para dokter dan suster sudah siap dengan brankar dan beberapa alat monitoring, semuanya mengambil posisi siaga melihat mobil aditya masuk ke area rumah sakit.
"Tolong cepat"ucap dokter rani pada aditya memberi instruksi bahwa aditya cepat membaringkan vina.
Brankar yang digunakan vina di dorong oleh 2 suster menuju ruang operasi, rendy keluar dengan tergesa-gesa meninggalkan yang lain begitu saja.
"Sudah di siapkan semuanya?"tanya rendy ngos-ngosan.
"Sudah dok"jawab seorang suster memberikan almamater dokter pada rendy.
Aditya tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari tangan vina, rasanya berat sekali untuk melepas vina masuk ke dalam ruang operasi untuk yang kesekian kalinya.
"Sayang aku mohon"pinta aditya menatap Vina yang memberikan senyumannya.
"maaf tuan anda harus menunggu disini selama kami melakukan pemeriksaan"ujar seorang suster mendorong kedua tangannya di hadapan aditya.
"Tapi sus saya mau lihat istri saya"ujar aditya.
"maaf tuan, permisi"tolak suster kemudian menutup pintu ruang operasi.
Aditya mendudukkan bokongnya pelan di kursi tunggu yang berada tepat di sebelah kiri ruang operasi.
"Adit mamah yakin vina bisa,dia wanita yang kuat nak"ujar naina menahan tangisnya dia tidak mau terlihat rapuh dihadapan putranya.
"Vina dan kedua anakmu akan selamat dit, percayalah"sambung rudi.
"kenapa selalu vina yang mengalami ini semua mah,pah?hiks....hiks...."tanya aditya frustasi mengacak-acak rambutnya.
"Dit sabarlah semua akan baik-baik saja"ucap aldo menepuk bahu kanan aditya.
"Ya Allah aku mohon selamatkan vina jangan biarkan dia pergi dari kami semua,dia wanita yang baik banyak yang masih membutuhkan nya disini ya Allah"doa imel sambil membaca beberapa ayat yang ia hafal.
"Tolong siapkan monitoring dan defibrillator sekarang"ucap rendy pada seorang suster yang membawa map berisi riwayat penyakit vina.
"Rend, istriku akan baik-baik saja kan?"tanya aditya memegang kerah baju rendy.
"dit kami akan melakukan usaha semaksimal mungkin, tenanglah tugasmu sekarang adalah mendoakan istrimu"jawab rendy.
30 menit,1 jam pintu ruang operasi belum juga terbuka hingga ketika 2 jam lampu yang berada tepat diatas pintu mati dan terbukalah pintu ruangan membuat semuanya bangun dan menghampiri dokter rani.
"Dokter bagaimana?"tanya aditya matanya sudah memerah bahkan suaranya sudah bindeng karena menangis.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan aditya,ada suatu hal yang harus saya sampaikan perihal nona Vina"ujar dokter rani.
"dok menantu saya tidak apa apa kan?"tanya rudi.
"Benturan keras yang dialami nona vina tepat mengenai kandungannya dan mau tidak mau malam ini juga kedua bayi anda harus dilahirkan jika tidak ingin membahayakan nyawa ibunya tapi sebelum itu nona Vina harus mendapatkan transfusi darah karena dirinya kehilangan banyak sekali darah"ujar dokter rani.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk Vina dok, apapun itu"ujar imel sumringah.
"Tapi ada 1 hal yang harus saya sampaikan kepada kalian"ujar dokter rani meminta papan berisi laporan dari suster di belakangnya.
"Karena benturan itu juga rahim nona vina hancur dan mengeluarkan racun,jadi kami harus mengangkat rahim nona vina untuk keselamatan ketiganya,semua keputusan ada ditangan anda tuan.Saya mohon secepatnya anda tanda tangani surat ini agar kami juga cepat menangani istri anda"jelas dokter rani.
JEDARRRRRR.....
"apa dok? pengangkatan rahim? tapi dok bagaimana perasaan istri saya nanti jika dia tahu dia sudah tidak bisa memiliki anak?!!!"kejut aditya.
"Semua keputusan ada ditangan anda, permisi"saut dokter rani.
"Sayang apa apaan ini? pengangkatan rahim?"tanya Imel pada suaminya yang baru keluar.
"dit kau bilang lakukan yang terbaik untuk vina, inilah yang terbaik untuk vina dan anak anakmu.Di dalam sana Vina masih belum sadarkan diri dia kehilangan banyak darah dan membutuhkan transfusi darah secepatnya agar kami juga bisa cepat melakukan operasi sesar"ucap rendy mendekati aditya.
"Apa golongan darah Vina?"tanya aditya.
"AB+ dan saat ini kami tidak memiliki stok darah tersebut"jawab aditya.
"kami semua disini juga tidak ada yang memiliki golongan darah itu,ya Allah bagaimana ini???"ucap naina frustasi mengetuk dahinya.
Imel meraih ponselnya dan mengubungi dina memberitahu jika vina membutuhkan golongan darah itu dan Alhamdulillah golongan darah vina dan dina sama.
Belom ya belum berair matanya kan??🤧🤧
BERSAMBUNG........