
"tidak masalah kau istirahat lah aku masih ada kerajaan"Aditya keluar dari ruangan vina dan duduk dibangku depan kamar perawatan vina.
Aditya benar benar merasa frustasi dengan keadaan saat ini,dia ingin marah pada orang yang membuat semua ini terjadi tapi sayang orang itu sudah tiada akibat bunuh diri.
Keesokan harinya Vina sudah diperbolehkan untuk pulang,aditya membantu Vina untuk pulang,karena masih lemah Vina harus menggunakan kursi roda.
Vina berusaha untuk turun dari ranjang pasien tetapi sulit akhirnya aditya membantunya turun dari ranjang dengan menggendongnya.
"Biar aku bantu"aditya menggendong vina.
vina yang digendong sontak terkejut matanya menatap Aditya penuh kekaguman akan ketampanan aditya.
"ya Allah kenapa jantungku berdetak dengan cepat begini" Vina memegangi dadanya terasa jantungnya berdetak dengan cepat.
Aditya mendudukkan Vina di kursi roda, tatapan Mereka bertemu, cukup lama mereka saling menatap dan mengangumi.
"sayang aku ingin memeluk mu aku ingin mencium mu sayang" aditya menatap wajah Vina dengan intens.
"kenapa aku merasa Sangat nyaman berdekatan dengannya seperti ini" Vina masih betah menatap wajah aditya.
Aditya sadar dan langsung beralih ke belakang Vina, aditya mendorong kursi roda vina menuju parkiran dimana Aldo sudah menunggunya.
"pak saya bisa sendiri"ucap vina ketika Aditya ingin membantunya masuk ke dalam mobil.
Aditya melipat kursi roda vina dan meletakkannya di bagasi mobil.
Setelah semua selesai aldo melajukan mobilnya menuju Mansion, selama perjalanan Vina diam begitupun dengan aditya, aditya menatap vina rasa ingin memeluknya kembali menguasainya,dia takut akan hilang kendali dan mengatakan semuanya.
"Kita mau kemana pak?"tanya vina menatap aditya yang juga sedang menatapnya.
"ke rumahku"jawab Aditya mengalihkan pandangannya.
"Tapi pak bagaimana dengan keluarga saya?"tanya vina lagi.
"kau diam saja nanti kau akan tahu sendiri"jawab aditya tanpa melihat ke arah Vina.
"Aku tahu dit sebenarnya kau sangat ingin memeluk tubuh istrimu tapi kau harus bersabar ini adalah ujian cinta kalian"
Aldo turut sedih melihat pasutri yang biasa bermesraan kini Seperti orang asing.
Mereka sampai dimansion brawijaya, pintasan bayangan tentang mansion terlewat di pikirannya.
"kenapa aku tidak asing dengan rumah ini"gumam vina kepalanya kembali terasa sakit namun dia mencoba menutupi nya.
Aditya mendorong kursi roda vina,semakin ke dalam bayangan itu semakin jelas.
*Selamat nak
sayang??
anak mamah*????
ucapan ucapan itu terngiang-ngiang di telinga Vina bayangan hitam putih tidak jelas mengelilingi pikirannya.
Vina menatap setiap sudut rumah yang terlihat begitu megah dan sangat berkelas.
"Assalamualaikum"salam aditya dan aldo.
"Waalaikumsalam"
Semua orang sudah menunggu kepulangan Vina,ada Dina dan Iqbal juga disana.
"Kakak???"Iqbal berlari menghampiri Vina dan memeluknya.
"hei kau siapa?"tanya Vina mengangkat wajah iqbal.
"Vina aku adalah ibumu nak dan dia adalah adikmu"jelas dina.
"kalian keluargaku?ibu dan adikku?"tanya vina dan dina mengangguk.
Vina memeluk dina dengan sangat erat, menangis dalam pelukannya.
"kau adalah ibuku...hiks...hiks.. maafkan aku bu aku belum mengingatmu"ucap vina melepas pelukannya.
"sstttt tidak apa apa nak"Dina menghapus air mata Vina dengan jarinya.
"lalu untuk apa kita disini Bu?"tanya Vina lagi.
"ibu bekerja disini nak sebagai asisten rumah tangga dan kamu bekerja di kantor sebagai asisten pribadi tuan aditya"jawab Dina.
"kita tinggal disini juga Bu?"tanya Vina
"iya nak karena sekolah Iqbal,kita tinggal disini"jelas dina dan Vina mengangguk.
"baiklah kalian pergilah istirahat kasihan Vina pasti dia lelah"ucap naina.
Dina dan Vina serta Iqbal pergi ke kamar yang sudah disediakan aditya untuk nya.
"Bu kita tinggal dikamar ini?tapi kamar ini terlihat untuk seorang nyonya bukan pembantu seperti kita"ucap Vina ketika memasuki kamar yang biasa digunakan untuk kamar tamu.
"Keluarga ini sangat baik nak mereka memperlakukan Asisten disini dengan baik karena itu mereka memberi kita kamar ini"jelas dina.
"Kakak Pasti lelah kan?ayo aku akan memijat kaki kakak"ajak Iqbal.
Vina tersenyum lemah kemudian berbaring di ranjang dengan bantuan dina.
"Iqbal kamu sekarang kelas berapa?"tanya Vina
"Aku kelas 4 kak"jawab iqbal
"Vina ibu mau ke dapur dulu ya buatin kamu bubur"ucap dina dan Vina mengangguk.
Dina berjalan menuju dapur, dilihatnya semua orang sedang menunggunya.
"Bagaimana Bu apa Vina curiga?"tanya aditya
"tidak nak hanya saja tadi dia bertanya kenapa kalian memberikan kamar sebagus itu untuk seorang pembantu seperti kami"jawab dina
"Andai saja dia tahu bahwa dia bukan seorang pembantu melainkan nyonya rumah ini"ucap dila menunduk.
"sudah sayang seiring berjalan nya waktu aku yakin ingatannya akan kembali"aldo mengelus bahu istrinya.
Waktu berjalan dengan cepat 1 Minggu sudah Vina tidak keluar kamar karena kondisinya yang begitu lemah Dina melarangnya untuk keluar, tapi hari ini Vina sudah membaik dia memutuskan untuk memasak di dapur.
"Selamat pagi Bu"sapa Vina pada ibunya.
"eh sayang pagi,kenapa kamu kemari kondisimu masih lemah bukan?"tanya dina
"tidak Bu sudah 1 Minggu aku di kamar rasanya sangat tidak sopan seorang pembantu harus berleha leha terus"jawab vina.
Vina mulai memasak makanan yang biasanya dimasak nya dulu,entah apa yang mendorong nya tapi Vina ingin memasak ayam bumbu mentega.
waktunya sarapan pagi,semua orang mulai turun ke meja makan,Vina sudah menata masakannya di meja makan.
"Selamat pagi tuan dan nyonya"sapa Vina pada naina dan rudi.
"Pagi Vina,kau tidak perlu memanggil kami seperti itu kau panggil kami ibu dan bapak saja ya"pinta naina lembut.
"iy...iya pak,Bu"ucap Vina ragu ragu.
Aditya turun menggunakan pakaian siap pergi ke kantor,jas berwarna navy yang dipadukan kemeja biru laut sangat cocok di tubuh kekar aditya sampai Vina tidak mau mengalihkan pandangannya.
astaga Vina kau harus tahu diri kau hanya seorang pembantu jangan berbuat diluar batas
Vina menggeleng kepala berkali-kali.
Semua mulai duduk dan bersiap sarapan,naina meminta Vina untuk mengambilkan makan aditya.
"Vina bisakah kau bantu aditya untuk mengambil sarapannya?"tanya naina.
"eh iya Bu"jawab vina langusng mendekati aditya.
Vina mengambil nasi dan lauk pauk ke dalam piring yang ada di depan aditya.
"silahkan pak"ucap Vina sopan.
Aditya hanya menunjukan senyum getir nya, selama 1 Minggu ini dia berusaha untuk menjauh dari Vina dia takut akan hilang kendali dan mengatakan semuanya.
Ditengah tengah mereka menikmati sarapan,Bi Ijah datang membawa Al yang sedang menangis.
ha...ha...ha...
Vina melihat ke arah Al,dia mendekati Al dan meminta izin untuk menggendong nya.
"Bu boleh aku menggendongnya?"tanya vina pada bi Ijah
"iya non...eh maksudnya Vina"jawab bi Ijah memberikan Al pada Vina.
Ma..ma...ma....
Al langsung berhamburan ke dalam gendongan Vina, tangisnya berhenti diganti dengan tawa melihat wajah Vina.
"halo sayang,nama kamu siapa???"
"kamu udah makan belum,kakak suapin ya"
Vina mengambil bubur yang sudah dibuat oleh bi Ijah dan menyuapi Al dengan telaten.
Aditya tersenyum melihat Vina menggendong anaknya meski dia belum ingat tapi ikatan batin antara ibu dan anak itu pasti ada.
"em...ma...em...ma"
Al memanggil manggil Vina seperti biasa.
"apa sayang??? kamu lucu banget si....mamah kamu mana?"pertanyaan Vina sontak membuat semua orang beralih menatapnya.
"maaf Bu jika saya salah bicara"ucap Vina merasa bahwa dirinya telah salah bicara.
"mmm Vina dia itu adalah anak ku namanya Alvin biasa dipanggil Al"sambung dila.
"Alvin?Al?"Vina bertanya tanya seperti tidak asing dengan nama itu.
"*kamu lah ibunya sayang dia anakmu...kau yang melahirkannya sayang...ya Allah entah sampai kapan aku akan tahan dengan semua ini"
BERSAMBUNG*.........
VOTE VOTE VOTE YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT BUAT UP ππ LIKE JUGA AKU TUNGGU YA π
TERIMAKASIH, HAPPY READING β€οΈπΊ