7 Soul Reinforcement

7 Soul Reinforcement
Raja Dewata



Mereka berangkat menuju istana Dewata menggunakan kereta kuda yang sangat megah.


Kereta itu dilapisi emas dan roda terbuat dari karet pilihan. Kuda yang menariknya terlihat sangat kuat dan sehat.


Didalam kereta ada Aldi, Gung Koster, Gong Jendra. Karena Gung Jendra sangat menghormati ayahnya, suasana didalam kereta sangat hening.


Aldi hanya duduk dan menutup matanya untuk mendeteksi sekitarnya. Jika menemukan bahan herbal atau hewan yang bermanfaat, dia akan mengambilnya.


Suasana hening dipecahkan oleh Gung Koster yang bertanya, "Lansia Aldi, apa engkau yang membuat keributan di pelelangan tempo hari?"


"Aku tidak tau bagaimana barang milikku menjadi begitu terkenal. Jangan berbicara terlalu sopan kepadaku, aku tidak terbiasa mendengarnya."


Gung Koster menggunakan bahasa yang sangat sopan didepan Aldi, hal itu membuat Aldi merasa ada kosa kata yang membuatnya mengerti.


Bahasa di wilayah Dewata sedikit berbeda dengan bahasa tiga wilayah pada umumnya.


"Aku sudah menduganya, siapa lagi kalau bukan anda yang mempunyai kekuatan untuk meramu pil dan minuman sebagus itu."


"Sebenarnya bukan aku yang meramu pil dan minuman, dia adalah Shen Zero. Ketika itu Shen Zero mendatangiku untuk mencari barang, kebetulan aku punya. Setelah itu dia memberikan beberapa barang berharga, seperti pil dan minuman yang aku jual."


Aldi tidak berbohong dalam perkataannya, dia hanya menambahkan sedikit bumbu agar perkataannya lebih masuk akal dan dapat dipercaya.


Perjalanan menuju Istana Dewata membutuhkan waktu 14 hari perjalanan menggunakan kereta kuda.


Mereka berbincang-bincang tentang banyak hal. Aldi juga menanyakan dimana dapat menemukan herbal atau telur burung Curik.


Herbal berharga banyak ditemukan di pegunungan, di wilayah Dewata sangat banyak gunung. Jadi menemukan herbal sangat mudah, bahkan para perdagangan pasar menjual.


Aldi sudah melihat pedagang pasar yang menjual beberapa herbal berharga, dia membeli yang masih punya peluang untuk hidup.


Dia berencana menjadikan Dunia Buatan sebagai penyimpan herbal terbesar, ditambah dengan energi murni yang terkandung akan menjadi Dunia yang sangat ideal.


Ditengah perjalanan ada sekelompok orang yang menghadang kereta Militer Barat.


"Siapa kalian?" tanya pengawal yang ada didepan.


Tanpa menjawab, sekelompok orang itu langsung menyerang pengawal. Sehingga menyebabkan kematian instan pengawal Militer Barat.


Reka pengawal lainnya menghadang, sedangkan satu orang memberitahu kabar kepada pemimpin.


"Pemimpin, ada bandit yang menyerang kita. Mereka sangat kuat, pengawal tidak akan mampu menahan lebih lama."


"Bandit ... berani sekali mereka menyerang kita!" geram Gung Koster.


Dia mengeluarkan pedang panjang dari sarung pedangnya. Suara gesekan pedang dan sarung pedang terdengar sangat nyaring.


Sarung pedang terbuat dari besi dan pedang itu hanya terbuat dari besi biasa. Aldi yang melihat hanya menggelengkan kepala.


Ketika mereka melewatkan peringkat Mortal, senjata besi dapat dipatahkan menggunakan satu tangan.


Para Bandit berjumlah 150 orang, sedangkan rombongan Gung Koster hanya 30 orang. Dalam segi jumlah para Bandit sangat diuntungkan.


Namun, dalam segi kualitas bertarung pihak Gung Koster lebih unggul.


Gung Jendra juga melompat untuk mengikuti pertarungan, Aldi hanya keluar kereta tanpa melangkah lebih lanjut.


Situasi semakin memburuk, prajurit Militer Barang tinggal 15 orang, sedangkan para bandit masih memiliki ratusan orang.


Aldi yang melihat, segera mengeluarkan sebuah jarum tipis dari kalung penyimpan. Jarum itu terdapat racun yang sangat mematikan.


"Gung Koster, hari ini akan menjadi akhir hidup —"


Sebelum orang itu menyelesaikan perkataannya, sebuah jarum tipis tertancap di tenggorokannya.


Jarum tipis itu adalah milik Aldi yang baru dia keluarkan. Tidak ada yang tau kapan Aldi melemparnya, yang terlihat hanya 10 orang didepan mereka tewas seketika.


Tidak samapi disitu hanya dalam beberapa detik, ratusan orang yang mengepung Militer Barat terjatuh.


"Apa yang terjadi?" tanya pemimpin bandit yang belum turun tangan pada kontroversi kali ini.


"Bos, situasi semakin buruk. Sebaiknya kita kabur, semua rekan kita sudah jatuh."


Dalam sekejap mata, hanya mereka berdua yang masih berdiri sehat, semua rekannya telah jatuh terkena jarum racun.


Aldi yang melihat mereka berdua, segera melempar jarum dengan tingkat racun yang lebih rendah.


Jarum itu mengenai leher bagian belakang pemimpin bandit dan orang terpercayanya. Mereka berdua terjatuh dengan badan yang lemas.


Racun yang ada di jarum mereka tidak mematikan, fungsi utama racun itu adalah melumpuhkan musuh agar tidak kabur.


"Bima, aku tidak menyangka kau adalah orang yang berada dibalik semua kejadian ini. Aku pikir dahulu kita adalah saudara yang selalu mendukung." Perkataan Gung Koster mengandung kesedihan.


Bima adalah anak teman ayah Gung Koster. Mereka tumbuh besar bersama, sehingga ada ikatan persaudaraan diantara mereka.


Namun, setelah Gung Koster memegang kekuasaan, perang terjadi di wilayah kekuasaan ayah Bima. Saat itu Gung Koster juga mendapat tekanan dari pasukan lain, sehingga tidak dapat membantu wilayah Bima.


Perang itu telah menewaskan banyak keluarga Bima, sedangkan yang hidup dipenjara oleh pasukan musuh.


Bima adalah satu orang yang berhasil lolos dari penjara pihak musuh.


"Semua ini tidak akan terjadi, jika kau membantuku waktu itu. Bunuh aku agar semua penderitaan ini berakhir!" kata Bima dengan tatapan penuh amarah.


Gung Koster tidak bisa disalahkan dalam keadaannya saat itu, hanya saja Bima terlalu bergantung dengan Militer Barat, akhirnya mereka tidak pernah mengembangkan dirinya menjadi lebih baik.


Pasukan yang memberantas keluarga Bima adalah Bunga Mawar yang tempo hari telah dikalahkan Militer Barat.


Hal itu juga karena bantuan istana Dewata dan juga strategi cerdik Aldi. Jika tidak, maka kemungkinan besar mereka akan kalah.


Mata Gung Koster berkaca-kaca, dia menahan air mata agar tidak terlihat lemah didepan pengawal dan anaknya.


Pengawal dan Gung Jendra tidak melihat mata, jadi mereka tidak melihat mata Gung Koster ya g berkaca-kaca.


Aldi adalah orang yang memperhatikan detail kecil disekitar, sudah sewajarnya dia tau apa yang sedang dialami Gung Koster tanpa mendengar cerita dari orang lain.


Gung Koster mengangkat pedangnya. "Selamat tinggal, Kawan. Aku berharap di kehidupan selanjutnya kau akan tetap menjadi saudaraku."


Gung Koster mengayunkan pedangnya kearah leher, akhirnya Bima terbunuh dengan senyum di bibirnya.


Aldi dapat mengerti apa maksud Bima dengan tersenyum di akhir hayatnya. Bima berharap tidak meninggal di tangan musuh, tetapi di tangan saudaranya.


15 pengawal besama Gung Koster, Gung Jendra, dan Aldi melanjutkan perjalanan ke istana Dewata.


Dalam perjalanan Gong Koster menanyakan kejadian aneh hari ini kepada Aldi yang ada dibelakang.


Namun, Aldi tidak memberitahukan kebenaran, dia hanya mengatakan tidak melihat siapapun.


Gung Koster menduga bahwa orang yang membantunya merupakan orang istana Dewata.


Sampai di depan gerbang istana Dewata. "Mungkinkah gapura ini terbuat dari emas?" tanya Aldi kebingungan.


"Benar, gapura itu terbuat dari emas yang dihadiahkan oleh seorang wanita dari wilayah luar."


Gapura emas itu diberikan oleh wanita misterius karena telah menikahkan anaknya dengan seorang pangeran di wilayah Dewata ribuan tahun yang lalu.


Mereka menuju ruang pesta akan digelar. Didepan pintu mereka disambut oleh para penjaga.


"Tuan Koster, Raja secara pribadi mengundang anda untuk menemuinya di ruang kerjanya. Juga dia memberikan pesan untuk membawa Lansia Aldi."


Aldi masih menggunakan wajah tuanya agar tidak terlalu mencolok di kalangan para bangsawan.


Gung Koster dan Aldi menuju ruang kerja Raja Dewata didampingi oleh penjaga istana.


"Silahkan, Tuan." Penjaga itu berdiri di samping pintu ruang Raja.


"Yang Mulia Raja, ada yang bisa kami bantu?" kata Gung Koster dengan sangat sopan.


Raja Dewata merupakan pria berumur 45 tahun dengan paras yang menawan. Tinggi badan sekitar 185 ditambah dengan pakaian yang sangat mewah berwarna merah ditambah corak warna emas.


Raja tersenyum dan berkata, "Tuan Koster, aku telah melihat prestasimu di konflik melawan Bunga Mawar."


"Terima kasih, Yang Mulia Raja." Sekali lagi Gung Koster membungkukkan badannya.


Raja mengalihkan pandangan kepada Aldi. "Aku yakin kamu adalah Lansia Aldi, sudah banyak rumor yang beredar tentangmu."


"Yang Mulia terlalu memuji," kata Aldi lirih penuh kesopanan.


Raja menunjukkan niatnya mengundang mereka berdua, dia ingin membeli banyak pil kebugaran .


Namun, Aldi tidak dapat mengeluarkan terlalu banyak. Dia hanya dapat mengeluarkan 100 botol setiap bulan. Setiap botol mempunyai 10 pil.


Tanpa menawar Raja membeli semua pil setiap bulan.


Aldi yang memperhatikan sekitar melihat ada keanehan didalam ruangan. "Mungkinkan ini jebakan?" kata Aldi dalam pikiran.


Ternyata setelah ditelusuri ada sebuah formasi transmisi suara keluar, artinya setiap pembicaraan di dalam ruang raja akan di rekam.


Istana Dewata mempunyai seorang pengkhianat yang sangat dipercaya Raja. Dilihat dari letak formasinya, tempat itu sangat tersembunyi di bawah meja kerja Sang Raja.