
"Selamat datang para Tamu yang terhormat," kata seorang pria berpakaian rapi di atas panggung.
Dengan sopan dia memperkenalkan diri, "Nama saya Mo Awu."
"Baiklah, saya tahu anda semua sudah menunggu lama mari mulai dengan barang pertama," kata Mo Awu.
Sebuah pedang berwarna kuning memancarkan aura keemasan. Pedang itu bernama Aligator Sword yang konon pernah di pakai oleh pendekar peringkat Biru.
"Saya tau semua orang sudah tahu tentang pedang ini, harga akan dibuka dari 20 emas dengan kenaikan 1 emas," kata Mo Awu dengan penuh semangat.
"30 emas," teriak seorang pemuda tampan.
Pemuda itu bernama Li Wuxin dengan 3 pengawal dibelakangnya. Dia adalah putra ke dua dari Li Sogun yang menjabat sebagai jendral besar negara Kediri.
"40 emas!" teriak Sikong An menaikan harga tawarannya.
Sikong An adalah putra tunggal dari kepala keluarga Sikong, Sikong Jiao.
Tidak terasa harga pedang sudah 60 emas.
"Aldi, kamu tidak tertarik dengan pedang itu," tanya Simon Hardiman.
"Pedang itu cukup bagus, tapi aku tidak merasa bahwa pedang itu perlu dibeli," jawab Aldi dengan tenang.
Akhirnya Aligator Sword dimenangkan oleh Li Wuxin.
Sekian lama pelelangan Aldi tidak menawar satupun barang. Simon Hardiman mendapat beberapa jimat untuk membantu kesembuhan ayahnya.
"Tamu yang terhormat sekarang kita akan melelang batu misterius. Batu ini konon katanya memiliki energi untuk memperpanjang hidup," kata Mo Awu dengan semangat memperkenalkan barang.
Mata Aldi melebar melihat batu misterius yang ada di panggung pelelangan. Batu misterius itu merupakan bahan utama untuk pembuatan formasi Ruang Penyimpanan. Formasi ruang penyimpanan bisa menampung bahan yang tidak memiliki kehidupan seperti uang, baju, dan makanan.
Formasi ruang penyimpanan banyak dilengkapi dalam cincin makanya sering disebut cincin penyimpanan.
"Penawaran mulai dari 10 emas dengan kenaikan 50 perak," kata Mo Awu dengan nada semangat.
Ruang pelelangan sangat sunyi setelah beberapa detik tidak ada yang menawarnya.
"10 emas," kata Aldi tanpa ekspresi memecah keheningan ruang lelang.
"Baik 10 emas, apa ada yang ingin menawar lagi?" Mo Awu berkata dengan nada senang karena Batu itu tidak pernah terjual.
"15 emas," kata Sikong An menawar.
"20 emas," kata Aldi mengajukan penawaran.
"30 emas!" teriak Sikong An mulai tersenyum jahat.
"40 emas," kata Aldi mengajukan penawaran lagi dengan senyum menghadap Sikong An.
"100 emas!" kata Sikong An dengan senyum lebar berniat memprovokasi.
"150 emas," kata Aldi menawar dengan senyuman seperti sebelumnya tanpa melihat Sikong An.
Sikong An tertawa melihat penawaran itu kemudian dia menawar, "200 emas."
Ketika melihat Sikong An senyuman Aldi menghilang di gantikan dengan menggelengkan kepalanya.
Sikong An mulai panik karena dia tidak membawa uang lebih dari 100 emas. Dia berniat ingin menaikkan penawaran setinggi mungkin.
Li Wuxin tersenyum dan mengatakan, "Selamat tuan muda Sikong, batu yang sangat indah."
"Benar-benar kekayaan yang tiada tanding," kata Sie Angle sambil bertepuk tangan.
Sie Angle adalah cucu dari mantan kepala keluarga Sie.
200 emas bukan kekayaan yang berarti bagi seluruh keluarga tapi bagi Sikong An itu sangat banyak.
"Juru lelang dia sengaja menaikkan harga, aku tidak yakin anak itu mempunyai 150 emas," kata Sikong An dengan nada bergetar.
Aldi tersenyum sambil mengeluarkan kartu tabungan berwarna Hijau. Kartu tabungan dibagi menjadi 5 warna yaitu Putih, Abu-abu, Hijau, Biru, Hitam. Deposit minimal untuk mempunyai kartu putih adalah 10 emas, abu-abu 100 emas, hijau 1000 emas, biru 10.000 emas serta hitam hanya diterbitkan kepada orang tertentu.
"Apa? Siapa kamu?." Sikong An tercengang melihat kartu Hijau.
"Hanya anak desa yang kebetulan lewat." Dengan tersenyum Aldi menjawab.
Sikong An terkejut melihat kartu hijau.
"Baiklah, kamu mendapatkan batu itu" Sikong An dengan wajah malas berpura-pura memberikan batu.
"Bukankah ini tidak adil, aku sudah menunjukkan bawah bisa membeli dengan harga 150, tapi ... aku belum melihat dia mengeluarkan 200 emas?" Aldi memandang juru lelang dengan ekspresi marah.
"Baiklah, tuan muda Sikong tolong tunjukkan kemampuan anda membayar," Mo Awu berkata menghadap ruang VIP Sikong An.
Sikong An tidak membalas dia hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan juru lelang.
"Sepertinya tuan muda Sikong butuh bantuan?" Li Wuxin mencibir.
Suasana ruang lelang menjadi sunyi seberapa detik sampai juru lelang bertanya lagi, "Tuan Muda, tolong!"
"Aku sudah menyerah, tapi kenapa kamu masih menarikku!" Kata Sikong An dengan nada sangat marah.
"Tapi anda tadi menawar 200 emas, Tuan Muda." Mo Awu berkata lagi dengan ekspresi yang berubah sedikit cemas.
"Sepertinya Tuan Muda Sikong tidak berniat menawar batu dan hanya menaikkan harganya. Aku perlu mempertanyakan reputasi lelang ini," Aldi mencibir.
Wajah juru lelang sekarang berubah dari senyum yang lebar menjadi tidak enak dipandang. Kemudian ada seseorang paruh baya masuk ke panggung dari pintu belakang.
"Anak muda aku sudah melihat semua tolong tidak memperpanjangnya," kata Sony Hartawan.
Sony Hartawan adalah pengusaha sukses dari Kota Bandar kekayaannya menempati 10 besar. Dia adalah penanggung jawab lelang bawah tanah ini.
"Tentu jika itu adalah permintaan ketua, tapi aku hanya bisa membelinya 10 emas," kata Aldi dengan senyum lebar.
"Ini ..." Mo Awu bingung menanggapi pernyataan Aldi.
"Baiklah, teman kecil kamu mendapatkannya dengan 10 emas," kata Sony Hartawan.
Akhirnya Aldi yang mengambil batu misterius.
"Saudaraku semua tolong tunggu sebentar aku berencana menunda lelang barang terakhir 10 menit lagi," kata Sony Hartawan.
Dibelakang panggung pelelangan Sony Hartawan memegang pundak Mo Awu dan berkata, "Jangan memprovokasi anak muda itu, perlakukan dia dengan istimewa karena salah 1 barang puncak kita milikinya!"
"Jadi seperti itu," kata Mo Awu dengan menganggukkan kepalanya.
"Untuk 3 barang puncak berusahalah menjual dengan harga terbaik," kata Sony Hartawan.
Setelah menunggu 10 menit Mo Awu memasuki panggung pelelangan dengan membawa 3 barang yang masih di tutupi kain hitam.
"Tuan-tuan 3 barang ini adalah barang puncak lelang ini tolong agar kejadian seperti tadi tidak terulang kembali itu sangat mempengaruhi reputasi kita." Mo Awu berkata dengan semangat seperti awal lelang.
Barang pertama yang di tunjukkan adalah sebuah panci aneh memancarkan aura berwarna hitam. Barang itu adalah alat membuat pil untuk meningkatkan tingkat keberhasilan dan khasiat.
"Panci aneh ini barang yang sangat misterius tidak ada yang tau bagaimana penggunaannya tapi seperti yang Anda semua lihat itu memancarkan aura hitam," Mo Awu memberikan pengantar panci aneh.
Aura hitam adalah puncak teknik tenaga dalam, maka dari itu banyak yang mengira bahwa aura hitam itu adalah sesuatu yang bermanfaat untuk tenaga dalam. Hanya Aldi yang tahu persis bagaimana cara menggunakannya.
"Harga awal adalah 50 emas dengan kenaikan 5 emas," kata Mo Awu dengan semangat membara
"100 emas!" Sikong An menawar.
"200 emas!" Sie Angle langsung menawar setelah tawaran Sikong An.
Dengan wajah marah Sikong An tidak bisa berbuat apapun.
"300 emas!" Aldi menawar kembali dengan tenang.
"400 emas!" Sie Angle tidak mau kalah.
"Baiklah, jika nona Angle menginginkan barang tersebut aku tidak bisa bersaing," kata Aldi dengan senyum tipis.
Tiba-tiba Sie Angle yang sedingin es tersenyum tipis, "Terima kasih saudara."
Akhirnya panci aneh itu dimenangkan Sie Angle. Barang kedua yaitu 3 pil penguat tubuh terjual dengan 400 emas yang salah satunya di menangkan Li Wuxin. Barang ketiga adalah barang aneh seperti kotak tampung yang memancarkan aura hitam.
Aldi langsung menawar, "200 emas." Tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut dari Juru lelang.
"Baiklah, karena teman kecil menawar 200 emas apakah ada orang yang ingin meningkatkan penawaran?" tanya Mo Awu di panggung.
Ruang lelang sangat sunyi karena jika mereka ingin bersaing dengan anak muda yang memegang kartu hijau akan bernasib seperti Sikong An.
Barang puncak ketiga di menangkan Aldi. Pelelangan berakhir dengan sisa 190 emas di tangan Aldi.