7 Soul Reinforcement

7 Soul Reinforcement
Wajah Asli



Pertarungan Bawah Tanah telah selesai Shie keluar sebagai pemenang dengan perbandingan taruhan 2 banding 8.


Ketika pelayan menemui Aldi berkata “sepertinya aku kaya mendadak pama Simon” memalingkan wajah ke arah Simon Hardiman setelah menerima koin emasnya.


“Haha, tebakan mu benar, Nak” kata Simon Hardiman sambil tertawa.


“Sebenarnya itu bukan tebakan acak paman. Shie telah berlatih sangat keras aku yakin dia pasti menang,” kata Aldi dengan senyum bangga.


Banyak penonton mewaspadai Shie karena mereka tidak tahu identitasnya.


Seorang pemuda berumur 25 tahun dengan pakaian kuning berkata, “Siapa dia, Kek?”


“Dia petarung baru,” kakek disebelahnya menjawab.


Indra pendengaran Aldi sudah melampaui kebanyakan manusia dia mendengar beberapa pembicaraan orang disekitar.


“Paman Simon, bolehkah aku bertanya siapa pemuda berbaju kuning yang duduk di ruang VIP 6?” Aldi bertanya dengan membatasi suaranya agar tidak terdengar kecuali Simon Hardiman.


“Pria itu Agung Hartono, Hartono sebagai marga keluarganya. Dia adalah tuan muda pertama dari keluarga Hartono yang menguasai tambang nikel. Pria disebelahnya disebut Aldiano Hartono dia adalah kakek dari Agung dia petarung yang kuat,” kata Simon Hardiman dengan pelan.


Aldi mendengar penjelasan itu langsung mengaktifkan Teknik Mata Emas. Dia mendapatkan bahwa kekuatan Aldiano Hartono berada di jingga tahap akhir. Menurut analisisnya kekuatan Shie yang berada di peringkat 3 setara dengan petarung jingga tahap awal.


Setelah melihat sekeliling Aldi mendapatkan informasi yang mencengangkan ada lebih dari 10 orang berada pada tingkat jingga. Hal itu membuatnya sedikit khawatir dengan Shie yang menarik banyak perhatian.


“Hehe, aku menang,” kata Shie dengan bangga memamerkan giginya yang putih.


Setelah Shie duduk ditempat awalnya memakai jaketnya dan topinya yang khas.


“Aku mengundang kalian berdua ke tempatku,” ajak Simon Hardiman.


“Tentu, aku sangat terhormat paman, tapi maafkan kita tidak bisa hari ini maupun besok mungkin kita bisa hanya lusa,” kata Aldi.


Simon Hardiman mengeluarkan sebuah kartu nama ia berkata, “Baiklah, hubungi aku jika kalian sudah siap.”


“Terimakasih, Paman. Sepertinya kita harus pergi dari sini,” kata Aldi dengan sopan.


Ketika mereka sampai di rumah Aldi langsung berkata dengan hati-hati, “Shie sepertinya kamu sudah siap meningkatkan peringkat mu?”


“Iya, sekarang memang sudah siap tapi aku merasa tidak bisa menaikkan peringkat dalam waktu sehari,” kata Shie dengan serius.


Aldi mengambil obat dari sakunya dan berkata “Ambil ini serta mencoba lah untuk menaikkan peringkatmu. Aku merasa kita akan kesusahan di kota ini.”


“Apa yang terjadi?"kata Shie dengan wajah bingung.


“Ketika melakukan pertarungan bawah tanah ada banyak orang yang lebih kuat darimu, aku tidak tau apa niat mereka,” jelas Aldi dengan serius.


Setelah mengambil pil itu Shie langsung berusaha meningkatkan peringkatnya di gunung dekat kota Bandar. Tugas Aldi sekarang adalah mencari informasi sebanyak mungkin untuk mempersiapkan langkah selanjutnya.


Sekolah akan dibuka 1 minggu lagi jadi dia bisa fokus dalam mencari informasi tentang keluarga besar disini.


Malam itu bulan tidak terlihat karena tertutupi awan membuat sekitar menjadi gelap.


Aldi didepan rumah tiba-tiba bertanya, “Siapa kalian?” sambil menghadap pohon cukup jauh dari rumahnya.


Melihat banyaknya tetangga yang ada di rumah Aldi langsung berlari ke hutan belakang rumahnya. Mendengar suara langkah kaki dia bisa memastikan ada 4 orang sedang mengawasinya.


“Bukankah kalian sudah saatnya keluar?” kata Aldi dengan santai.


“Anak yang pemberani, dimana temanmu?” kata seseorang berpakaian hitam.


“Bukankah kalian harus memperkenalkan diri sebelum bertanya,” kata Aldi dengan serius.


Melihat ketenangan Aldi membuat mereka berempat kagum.


“Aku, no. 21 dari Rose Flower”


Rose Flower adalah aliansi pembunuh bayaran terkenal di kota Bandar. Menurut penjelasan Simon Hardiman posisi mereka ditentukan dengan urutan nomor. Artinya dia adalah pembunuh terkuat nomor 21.


“Apa yang diinginkan Rose Flower?” kata Aldi.


Sambil mengambil pedang kecilnya no. 21 berkata “Tentu, untuk membunuhmu dan temanmu.”


Setelah menyelesaikan kata-katanya no. 21 menyerang dengan pedang kecilnya.


Langkah Bayangan


Teknik Langkah Bayangan memungkinkan dia berpindah dengan cepat di radius 10 meter.


Melihat Aldi menghindar no. 22,23 dan 24 mulai mengikuti pertarungan.


Kombinasi Tebasan Pedang


Tebasan mereka dapat dihindari Aldi dengan memanfaatkan langkah bayangan.


“Saudara kita tidak bisa menyerang terus seperti ini” no. 24 berkata dengan cemas karena kekuatannya sudah mulai terkuras.


“Baiklah, kita serang dengan kekuatan penuh bersama,” no. 21 membalas itu.


Aura padat berbentuk pedang menuju Aldi. Tanpa berkata apapun Aldi mengeluarkan 4 tangan transparan dari belakang tubuh untuk menghalau.


“Pesttt” aura mereka meredup tanpa.


Mereka berempat memuntahkan seteguk darah. Perasaan takut tampak dari mata mereka.


“Ampuni kami, Tuan ...” kata no.21 sambil berlutut meminta ampun.


Ketika yang lain ingin melakukan hal yang sama Aldi langsung menangkap mereka berempat dengan Tangan Jiwa. Mata para pembunuh itu mengisyaratkan kesakitan tapi mereka tidak bisa berteriak sedikitpun. Teknik Tangan Jiwa berfungsi untuk melahap jiwa dan raga seseorang itu adalah teknik yang sangat keji.


Para pembunuh itu sudah tidak ada lagi raga dan jiwanya meninggalkan pakaian dan senjatanya.


-Markas Rose Flower-


“Anak sombong bernama Shie itu pasti akan mati,” kata Lu Feng.


Lu Feng adalah pemimpin aliansi Rose Flower.


“Benar sekali, Ketua,” kata No.3.


“Kita mendapat setoran cukup banyak dari si tua Hartono,” kata No. 2.


“Aku mempunyai perasaan tidak enak,” kata No.1.


Mereka semua yang hadir di ruangan tertawa.


“Jadi ini markas kebanggaan Rose Flower,” tiba-tiba Aldi datang.


Aldi mengenakan topeng berwana hitam polos tanpa corak setelan hitam membuatnya tampak sangat mendominasi.


Dia melemparkan 4 senjata dari pembunuh yang dia kirim.


“Shie?” kata Lu Feng dengan bingung.


“Bunuh dia!” perintah no.3.


Tapi kenyataan sangat berbeda dari yang mereka bayangkan.


Ini bukan lagi pertarungan tapi pembantaian sepihak tanpa perlawanan.


Menyisakan 10 orang di depan dengan total 50 orang mati di tempat. Aldi memainkan pisau yang ia dapat entah dari siapa yang dia bunuh. Hal itu membuat 10 orang yang masih hidup sangat terintimidasi.


“Baiklah, kita lihat disini masih ada 10 orang, mau bermain?” kata Aldi dengan tenang seakan-akan tidak terjadi apapun.


“Sial dia sangat kuat, Ketua!” no 7 sedikit gemetar dalam nada bicaranya.


“En” Aldi memancarkan Energinya yang berwarna ungu gelap menambah ketakutan mereka.


“Teman, ini hanya kesalahpahaman,” kata Lu Feng dengan nada rendah.


Lu Feng adalah orang yang pintar jadi dia bisa memilih mana yang baik dan buruk untuk kelangsungan hidupnya.


“Haha, apa ini mental seorang pembunuh bayaran?” kata Aldi sambil tertawa puas.


“Kita bukan orang yang bodoh yang membuang kehidupan tuan,” kata Lu Feng.


“Sejujurnya aku tidak ingin melakukan ini tapi kalian memaksaku,” kata Aldi dengan nada bersalah.


Tidak ingin meninggalkan masalah di masa depan, Aldi tanpa ampun membunuh mereka semua. Peringkat 4 puncak menurutnya dia bisa bertarung dengan peringkat hijau akhir. Setelah menyerap semua mayat meninggalkan barang-barang mereka Energi Aldi sudah sangat padat. Akhirnya dia memutuskan untuk meningkatkan peringkatnya.


Hari itu sudah menunjukkan jam 3 pagi didalam markas Rose Flower Aldi bersila. Tiba-tiba awan mulai datang menutupi langit yang cerah. Hal itu sama seperti ketika dia ingin meningkatkan kekuatannya ke peringkat 4. Hal yang berbeda adalah Hujan disertai angin dan petir yang lebih menyeramkan.


Tepat ketika dia akan meningkatkan kekuatannya sebuah petir menyambar ke arahnya. Petir itu senjata bermata dia salah satu sisi menguatkan tubuh disisi lain jika gagal akan membunuh orang yang tersambar.


Aldi dengan fokus menerapkan Prinsip Jiwa agar tetap tersadar. Dia mengambil pil penyembuhan dan menyembuhkan lukanya secara bertahap.


2 jam sudah berlalu.


“Akhirnya aku sudah Peringkat 5,” Aldi bergumam sendiri dengan mengepalkan tangannya.


Dia juga membersihkan markas ini agar jejaknya tidak diketahui.