
Aldi yang masuk kedalam celah dimensi ditekan oleh ruang hampa. Untungnya dia memiliki pesawat dimensi yang dapat di operasikan dengan menggunakan pikirannya.
Tian Feng yang membeku di es abadi tidak dapat berbuat apapun. Dia hanya terbawa arus tanpa mengetahui arahnya.
"Aku harus menemukan gerbang dimensi secepat mungkin. Tekanan disini jauh lebih kuat dari yang aku kira!"
Aldi bergerak tanpa arah untuk menemukan gerbang dimensi. Semakin lama dia terbang, maka tubuhnya akan semakin terbebani.
Odin yang mengendalikan pesawat mempunyai benda khusus untuk pesawat dimensi. Jika dia mati, maka benda tersebut juga akan menghilang.
Pesawat hanya bisa bertahan beberapa saat, jadi Aldi tidak punya kesempatan untuk memilih gerbang dimensi.
Setelah waktu yang tidak diketahui, Aldi masih mengambang di celah dimensi. "Mungkinkah, ini akhir dari hidupku?" pikir Aldi.
Pesawat dimensinya mulai hancur, tubuh Aldi menerima tekanan dari celah dimensi. Dia harus menemukan gerbang dimensi secepat mungkin, jika tidak tubuhnya akan hancur dalam celah dimensi.
Kesadaran Aldi mulai pudar, dia tersesat di celah dimensi. Hanya nasib yang akan menentukan kelangsungan hidupnya.
Setelah beberapa saat, Aldi terbangun di sebuah hutan dengan cahaya matahari yang sangat cerah, tetapi tidak terlalu panas.
"Dimana aku sekarang?" gumam Aldi.
Ketika mau berjalan, tubuhnya mati rasa. Dia tidak dapat menggerakkan kakinya. Setelah diperiksa tubuhnya telah terluka parah.
Sekarang tinggal menunggu waktu sebelum Tahta Raja memulihkan dirinya. Dengan berada di celah dimensi, kekuatan Tahta Raja semakin meningkat.
"Ada apa dengan energi jiwaku?" pikir Aldi kebingungan melihat kekuatannya hampir tidak tersisa.
Setelah meneliti tubuhnya, ternyata energi jiwanya gunakan secara otomatis untuk melindungi kehidupannya.
Sebagai gantinya semua energi jiwanya hampir habis. Sekarang dia harus memulai dari awal, tidak lupa Aldi mencoba menghubungi salah satu anggota Seven Soul.
"Ayah, aku masih hidup. Butuh waktu yang cukup lama untukku membuka gerbang Dunia Buatan. Tolong jaga Seven Soul," kata Aldi menggunakan pesan jiwa. Teknik ini hanya bisa dilakukan antara ayah dan anak serta saling terikat segel penyerahan.
Nur Andi yang mendapat pesan jiwa, langsung meneteskan air mata. Kemudian dia memberikan kabar gembira tersebut kepada semua anggota Seven Soul.
Sudah 1000 tahun Aldi tidak mengirimkan kabar apapun. Dunia Buatan berjalan dengan cepat, jadi kepergian Aldi terasa sangat lama.
Tidak ada anggota yang diizinkan keluar dari Dunia Buatan supaya mereka dapat mengikutinya di dimensi yang dia kunjungi.
"Akhirnya, Bos mengirim kabar," kata Mahesa merasa tenang setelah mendapatkan kabar dari Nur Andi.
"Ayah, cepat kembali!" teriak Rocky dengan wajahnya bersedih.
Semua anggota Seven Soul menantikan kembalinya Aldi. Tidak ada yang berhenti berlatih selama Aldi menghilang.
Karena mereka tidak ingin kejadian sebelumnya menimpanya. Ketika Tian Feng menyerang, anggota Seven Soul seperti tidak berguna.
Tidak ada serangan mereka yang dapat menumbangkan Tian Feng. Akhirnya dengan teknik khusus, Aldi membawa Tian Feng pergi ke celah dimensi.
Tidak ada satupun orang yang lemah di Seven Soul. Sekarang paling lemah diantara mereka adalah Immortal Hitam.
Beberapa sudah lebih kuat, tetapi belum mengetahui tingkatan di atas Immortal Hitam. Keterbatasan informasi membuat mereka semua menyebut dirinya, Immortal Atas.
Di sisi lain Aldi telah kehilangan semua kekuatannya. "Aku harus segera mengembalikan kekuatanku," katanya sambil duduk di tanah.
Dia menyerap energi sekitar, betapa terkejutnya Aldi ketika merasakan energi asal beredar luar di sekitarnya.
Dalam beberapa waktu singkat, Aldi telah berhasil menerobos peringkat 3 prinsip jiwa. Namun dia tidak bisa langsung meningkatkan kekuatannya karena energi asal disekitarnya sudah habis.
Aldi berjalan menuju arah matahari terbenam. Dia tidak mengetahui arah mana yang dituju, Aldi hanya bisa mengandalkan insting untuk bertahan.
Setelah cukup lama berjalan, Aldi tidak kunjung melihat adakan kehidupan manusia, dia hanya menemui monster yabg harus dihindari.
Akhirnya Aldi memutuskan untuk mengambil semua energi asal supaya kekuatannya semakin bertambah, sehingga dia lebih cepat dengan terbang.
1 bulan Aldi berjalan kaki, akhirnya dia menerobos peringkat 7 prinsip jiwa. Karena tubuh Tahta Raja sangat istimewa, jadi tidak perlu untuknya menunda terobosan.
"Seberapa luas sebenarnya Dunia ini?" gumam Aldi tidak melihat manusia satupun setelah berjalan satu bulan.
Aldi memutuskan untuk berlari dengan kecepatan penuh untuk segera menemukan manusia atau mahluk lainnya.
1 bulan berlari menuju arah matahari terbenam, Aldi akhirnya melihat manusia yang sedang bertani mencari kayu bakar.
Pria paruh baya itu melihat Aldi yang tanpa kusut, dan yang paling aneh adalah dia berhasil lolos dari hutan kematian.
"Nak, apa yang terjadi padamu?" kata pria yang memanggul kayu bakar.
"Aku tersesat, Paman." Aldi memegang perutnya seperti orang kelaparan. Sebenarnya dia dapat menahan lapar beberapa tahun.
Aldi mengerutkan kening ketika melihat seorang pencari kayu memiliki kekuatan setara tingkat Langit.
Setelah sampai di rumah pria pencari kayu, Aldi langsung memakan semua makanan yang ada di atas meja.
"Aku Hendrik, siapa namamu?" tanya Hendrik dengan senyum aneh.
Aldi cukup ceroboh kali ini, dia tidak melihat terlebih dahulu makanan di atas meja. Setelah makan cukup banyak, ternyata ada racun mematikan di dalam makanan.
Sebelum menjawab, Aldi mengeluarkan busa pada mulutnya. Racun yang digunakan Hendrik jauh lebih kuat daripada racun biasa.
Tubuh Tahta Raja belum bisa menghilangkan racun, jadi butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menghilangkan racun.
"Sial, aku kita menemui orang baik," kata Aldi dalam hati.
Kemudian Aldi tidak sadarkan diri, Hendrik membawanya ke ruangan bawah tanah. Ada puluhan manusia yang ada di dalam penjara.
Wajah mereka tampak suram karena siksaan Hendrik. Aldi di gantung ruangan khusus, Hendrik mengambil peralatannya.
Sembari menunggu Aldi siuman, Hendrik mengasah peralatan penyiksanya. Beberapa peralatan harus di panaskan supaya lebih mudah digunakan.
Setelah beberapa saat, Aldi sudah siuman, tetapi dia tidak langsung memperlihatkan diri bahwa sudah bangun.
Dia menggunakan teknik persepsi jiwa untuk melihat keadaan sekitar. Untungnya Hendrik tidak mengetahui tekniknya.
"Sudah satu hari, bocah ini masih belum sadar. Sebaiknya aku berikan sedikit sentuhan manis pada punggungnya," kata Hendrik mengarahkan sebuah benda pada ke punggung Aldi.
Setelah benda tersebut mengenai punggung Aldi, kulitnya pun terbakar. Namun Aldi tidak memberikan respon apapun.
Setelah Hendrik menggunakan berbagai cara untuk menyiksa Aldi, dia mulai bosan karena tidak ada teriakan yang membuatnya sangat senang.
Hari berlalu, Aldi masih disiksa untuk dibangunkan. Hendrik mulai bosan, sehingga memutuskan untuk memotong tangan kanan Aldi.
Sebelum pisau ya memotong tangan Aldi, sebuah ledakan berasal dari pintu masuk terdengar.
Seorang wanita dan pasukannya mendobrak pintu masuk, dia adalah kapten Nidia.
"Hendrik, sebaiknya jangan melawan. Semua bukti sudah ada!" kata Nidia sambil mengacungkan sebuah pistol.
Namun pistol tersebut terdapat serpihan energi asal, sehingga sangat cocok untuk membunuh para pembudidaya beladiri.
"Nidia, kamu gadis yang sangat naif!" kata Hendrik.
Semua pasukan, mengarahkan pistolnya kepada Nidia. Mereka adalah antek-antek Hendrik di pemerintahan. Itulah alasan kenapa Hendrik sangat susah untuk ditangkap.
Aldi mengirim telepati kepada Nadia untuk menghancurkan rantai belenggu. Karena rantai tersebut hanya bisa dihancurkan dari luar.
Dengan kekuatan Aldi yang sekarang, menghancurkan rantai belenggu membutuhkan energi terlalu banyak. Sehingga lebih baik meminta bantuan Nidia.
Nidia menembak rantai tangan sebelah kanan, hingga terputus.
Setelah rantai terputus, Aldi tersenyum lebar. Dia menghancurkan rantai yang mengikat tangan kirinya dan kedua kakinya dengan mudah.
Tubuh Aldi mengeluarkan asap berwarna putih. Luka di sekujur tubuhnya sembuh dengan sangat cepat.
"Hai, sudah waktunya aku membalaskan?" kata Aldi dengan senyum mengerikan.
Walaupun Aldi masih setara tingkat Bumi. Karena kekuatan prinsip jiwanya belum stabil, tetapi kekuatan tubuhnya setara seorang Kaisar.
Dengan kecepatan seorang pembudidaya tingkat Kaisar, Aldi menggenggam kepala Hendrik dengan tangan kanannya.
Senyum Aldi sangat mengerikan, bahkan pasukan pemerintahan yang ada bersama Nidia gemetar ketakutan.
"Bodoh, tembak bocah Gila ini!" teriak Hendrik melirik antek-anteknya di pemerintahan.
Dengan penuh ketakutan mereka menembak Aldi tanpa melihat. Peluru yang seharusnya dapat membunuh para pembudidaya beladiri tidak dapat menembus kulit Aldi.
"Kamu pikir, mainan seperti itu dapat melukaiku?" kata Aldi menatap tajam.
Dengan menggenggam tangannya Aldi menyingkirkan Hendrik dengan sangat mudah. Kemudian disusul para antek-anteknya.
Nidia tidak pernah menyangka ada manusia yang dapat menahan pistol khusus untuk membunuh para pembudidaya beladiri.
"Aku Aldi, siapa namamu?" tanya Aldi memandang Nidia yang ketakutan.
"Nidia, kapten polisi Negara Jakarta." Walaupun ketakutan, dia harus segera menenangkan diri karena seorang kapten.
Aldi berdiskusi dengan Nidia tentang keadaan Negara Jakarta.