
Negara Jakarta merupakan salah satu wilayah kecil di Alam Semesta Andromeda. Ia juga merupakan negara dengan kekuatan nomor 210 terkuat di seluruh Alam semesta.
Perkembangan teknologi di Jakarta cukup bagus, beberapa pistol pembunuh para pembudidaya sudah ditemukan.
Namun peluru yang dilapisi energi asal masih terlalu lemah. Itulah alasan tubuh Aldi yang masih lemah dapat menahannya dengan mudah.
Aldi dan Nidia berbincang cukup lama hingga pasukan tambahan datang untuk membantu.
Diana menjelaskan kejadian sebenarnya. Karena dia adalah kapten, semua pasukan dan petinggi negara mempercayainya.
Sebagian orang yang bersentuhan dengan Hendrik segera menghilangkan barang bukti supaya tidak tertangkap polisi negara.
Aldi yang dimintai keterangan menjawab semua pertanyaan tanpa ada kebohongan. Jadi dia bebas pada hari itu juga.
"Aldi, kamu mau kemana?" tanya Nidia menawarkan untuk mengantar dengan mobil mewah berwana hitam.
Walaupun hanya seorang kapten polisi, Nidia mempunyai beberapa toko baju dan restoran. Makanya dia dapat dikategorikan sebagai orang kaya.
"Aku tidak mempunyai rumah, jadi mungkin aku akan berkunjung ke pasar." Aldi melambaikan tangan dengan senyum tipis.
"Masuklah, aku mempunyai penginapan yang mungkin dapat membantu," kata Nidia memberikan tawaran.
Aldi tidak mempunyai pilihan selain menerima. Jika dia menolak, ada kemungkinan Nidia akan menganggapnya sebagai orang yang tidak tahu terima kasih.
Mereka berjalan ke sebuah apartemen berantai 20. Ada sekitar 2000 kamar di dalam gedung apartemen.
Seorang pegawai menghampiri Nidia. "Nona, ada yang bisa saya bantu?" katanya dengan nada penuh hormat.
"Siapkan satu kamar untuk temanku," kata Nidia dengan wajah datar.
Sebelum pegawai apartemen pergi, dia melihat penampilan Aldi yang tidak beraturan. Bahkan rambut panjangnya sangat mengganggu pemandangan.
Bisa dibilang Aldi nampak seperti tuna wisma yang kebetulan dipungut Nidia.
Aldi yang melihat pandangan jijik mereka tidak tersinggung. Dia memang tampak seperti gelandangan yang baru di pungut.
Aldi dan Nidia berbincang sambil menuju kamar yang sudah dipersiapkan. Aldi mendapatkan banyak informasi tentang negara Jakarta.
Dalam negara, tidak banyak pembudidaya beladiri yang kuat. Mereka yang kuat akan selalu di singkirkan karena dapat mengancam kedaulatan negara.
Karena hal tersebut negara Jakarta sedikit tertinggal daripada negara tetangga.
Aldi masuk kedalam kamar, sedangkan Nidia kembali ke ruang kerjanya. Ketika pagi hari, dia menjabat sebagai kapten polisi, sedangkan sore hari dia akan menjadi pebisnis sukses di Negara Jakarta.
Kekayaan keluarganya jauh melebihi penghasilan negara Jakarta. Bisa dibilang mereka adalah salah satu penyokong terbaik Negara Jakarta.
Uang di Alam Semesta Andromeda menggunakan Rupiah. Mereka tidak menggunakan uang kertas maupun koin, melainkan menggunakan uang digital.
Bisa dibilang perkembangan teknologi digital Negara Jakarta sangat tinggi. Namun Negara Jakarta belum memiliki sarana militer yang baik.
Karena Nidia merupakan salah satu petinggi polisi, artinya dia memiliki kenalan di bidang militer. Aldi ingin mengunjunginya untuk membahas bisnis.
Namun kenalan Nidia menolak karena kasusnya tentang Hendrik sedang bergilir. Jadi Aldi dan Nidia tidak boleh mengunjungi perwira militer.
Semua barang yang berada di kalung penyimpanan telah hilang. Ketika Aldi tidak sadarkan diri, kalung penyimpanan hancur di celah dimensi.
Sekarang Aldi tidak mempunyai barang apapun yang bisa dijual. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke Desa untuk memulai bisnis kecil.
Agro bisnis masih menjadi pilihan utama untuk orang yang tidak memiliki modal sama sekali. Jadi tujuan Aldi ke desa adalah untuk memulai agro bisnis.
Seperti ketika Aldi masih berumur 3 tahun. Dia sudah merintis bisnis serupa dengan kemampuannya menciptakan simbol.
Negara Jakarta sudah memiliki teknologi yang dapat memaksimalkan gizi pada tanaman dengan teknik hidroponik.
Teknik tersebut berfokus pada kebutuhan nutrisi tanaman, sehingga sayuran atau tanaman memiliki gizi yang lebih tinggi.
Konsepnya sama dengan Aldi menggunakan simbol untuk mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan kualitas. Namun dilakukan dengan menggunakan ilmu pengetahuan.
Aldi sudah membersihkan baju dengan rambut yang sudah di rapikan. Dia memotong rambutnya menggunakan gunting yang disediakan penginapan.
Serta semua jenggot dan kumis telah dibersihkan dengan baik.
Dengan tetapkan tenang, Aldi keluar dari kamar penginapan. Dia menuju ruang Nidia dengan langkah yang sangat mantap.
Semua pelayan memandangnya tidak percaya, pria dengan tubuh setinggi 190 centimeter dengan wajah yang sangat mudah muncul di penginapan mereka.
Postur tubuh yang ideal serta rambut yang tidak terlalu pendek membuatnya tampak sangat menawan.
Pakaian super mahal yang dikenakan Aldi merupakan pemberian Nidia sebagai ucapan terima kasih.
Nidia yang mengenakan kacamata tidak percaya dengan kedua matanya. Pria tampan menyapanya dengan senyum lembut di bibirnya.
Bahkan kacamata hampir jatuh serta mulut Nidia tanpa sadar terbuka. "Oh ... iya," jawabnya gaguk karena gugup.
Untuk menghasilkan uang, pasar merupakan tempat yang sangat menguntungkan. Jadi Aldi memilih untuk pergi kepasa untuk mencari peluang bisnis.
Tanpa sepeserpun uang, Aldi menuju pasar terdekat yang sering disebut Rawa Bening. Untuk menuju ke pasar, dia berjalan berlari selama 5 jam.
Tubuh Tahta Raja butuh latihan setiap hari untuk menyembuhkan diri. Teknik yang digunakan Aldi sebelumnya sangat membebani tubuh Tahta Raja yang masih lemah.
Setelah sampai di pasar pada pukul 3 sore, Aldi berjalan mengelilingi pasar.
Sebuah perjudian batu di temukan, Aldi melihat pertandingan seorang anak muda dengan pria paruh baya.
Aldi tersenyum ketika melihat pria muda tersebut menggunakan alat bantu untuk mendapat instruksi dari pusat komando.
Sedangkan pria paruh baya hanya mengandalkan kemampuannya dalam memilih batu. Taruhan ditaruh pada meja, pria paruh baya mengeluarkan kartu yang berisi uang satu juta Rupiah.
Jumlah tersebut bukan angka yang kecil. Aldi hanya menggelengkan kepala karena kesalahan yang dilakukan pria tersebut.
Aldi yang menggelengkan kepala terlihat oleh seorang remaja dengan wajah yang tampan serta senyum yang manis.
Dia adalah Eko putra pria paruh baya yang sedang berjudi.
"Apa maksudmu menggelengkan kepala," tanya Eko dengan suara berat.
"Ayahmu akan kalah telak, jangan salah paham." Aldi tidak ingin terus ikut campur, jadi dia lebih memilih untuk melihat batu kecil yang mungkin sangat menguntungkan.
Ketika Aldi berjalan-jalan melihat batu, Eko berlari mendatanginya.
"Mengapa kamu bisa tahu, ayahku akan kalah?" tanya Eko dengan ekspresi serius.
"Lawan yang dia hadapi tidak hanya satu orang, jadi sudah wajar ayahmu akan kalah." Aldi melanjutkan jalannya setelah beberapa saat menghentikan langkahnya.
"Mungkinkah dia curang?" tanya Eko.
"Tidak juga, aku sarankan jika memilih batu sebaiknya menggunakan batu yang baru turun."
Eko bukan orang yang bodoh, jadi dia mengetahui apa maksud perkataan Aldi. Segera dia pergi menemui ayahnya yang kalah.
"Tunggu, kamu curang!" kata Eko sambil menunjuk pria muda yang mengalahkan ayahnya.
"Eko, kamu sudah melihatnya sendiri. Nilai batu ayahmu hanya 150 ribu rupiah, sedangkan punyaku 200 ribu rupiah."
"Tidak, kamu sudah melakukan pemindaian pada batu sebelumnya. Jadi kamu bisa memilih yang terbaik. Aku ingin pertandingan ulang!" kata Eko dengan ekspresi serius.
Akhirnya mereka sepakat untuk melakukan pertandingan ulang dengan jumlah taruhan yang berlipat ganda.
Eko membantu ayahnya bangun karena kehilangan uang 1 juta rupiah bukan jumlah kecil untuk mereka. Namun sekarang Eko menantang lagi dengan taruhan 2 juta rupiah.
"Bodoh, kamu tidak akan bisa menang melawan mereka!" kata Ayah Eko dengan ekspresi marah.
"Tenang Ayah, aku telah menemukan orang yang tepat untuk mewakili kita," kata Eko dengan ekspresi bangga.
Namun setelah beberapa saat saling memandang, Eko baru sadar bahwa Aldi belum diundang untuk mewakili keluarganya.
Eko berlari lagi mendatangi Aldi yang masih berjalan-jalan di wilayah pembelian batu kecil.
"Tuan, tunggu," teriak Eko dengan keras.
Mereka saling menawar harga untuk membantu keluarga Eko memenangkan taruhan judi batu. Untuk uang muka, Aldi ingin membeli sebuah batu dengan harga 5 rupiah.
Batu tersebut adalah batu alam yang dapat digunakan untuk menulis simbol. Jadi batu itu akan sangat berguna untuk pengembangan bisnisnya di desa.
Aldi dan Eko lapangan tempat perjudian. Ayahnya Eko yang bernama Saputra menatap Aldi sambil mengerutkan kening.
Saputra memiliki mata khusus yang dapat melihat kemampuan seseorang, dia juga dapat melihat isi dari sebuah batu tertentu.
Awalnya dia berpikir batu seharga 150 ribu rupiah sudah cukup untuk mengalahkan pria yang melawannya.
Namun ternyata lawannya melakukan tindakan curang yang tidak dia ketahui.
Setelah melihat Aldi cukup lama, Saputra tidak dapat melihat apapun dalam tubuhnya. Hanya terlihat jurang hitam tanpa ujung.
"Paman, aku Aldi. Biarkan aku membantu kesusahan yang menimpa kamu," kata Aldi sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan.