7 Soul Reinforcement

7 Soul Reinforcement
Hadiah Alice



"Kita lihat, siapa yang akan mati duluan. Aku dengan kekuatanku atau kamu dengan ramalan bodoh milikmu!" kata Raja Neraka.


Dia sudah bergabung dengan Seven Soul, artinya kehadirannya sudah tidak bisa diramal oleh Axel. Hal itu dikarenakan Aldi yang mewarisi kekuatan Zuma, Sang Mahluk yang seharusnya tidak ada.


Tawa Axel semakin menjadi, dia tidak pernah merasakan bertarung dengan kemampuan terbaiknya.


Hemas dan Adven tidak bisa ikut campur dalam pertarungan karena simbol pelindung yang menyelimuti medan perang.


Tidak ada yang mengira bahwa Raja Neraka berhasil membuat Axel, Sang Peramal terpojok.


"Hemas, apa menurutmu kita salah memilih orang?" tanya Adven yang mulai ragu dengan keputusan Sang Peramal. Bukan tanpa sebab, semua rencana Axel telah dihancurkan dan tidak ada satupun dunia yang hancur setelah Seven Soul mengumpulkan kekuatan.


Tujuan mereka sebenarnya adalah menghancurkan alam semesta, tetapi tidak ada dunia yang hancur sungguh tindakan yang aneh.


Adven meliriknya dan berkata, "Aku tidak peduli dengan alam semesta atau apapun itu. Yang aku mau hanyalah bertarung dengan orang kuat yang bisa membuatku puas!"


Jawaban Adven menyadarkan Hemas yang mulai ragu, dia lupa tujuan awalnya adalah bertarung untuk menjadi lebih kuat. Melawan orang kuat akan menjadi kesenangan tersendiri untuknya.


Lawan maupun kawan tidak maslaah, yang dia inginkan hanya bertarung dengan sekuat tenaga seperti yang dilakukan Axel sekarang.


Teknik Prinsip Jiwa Gerbang Kematian tidak mudah untuk dilawan, jadi Axel tidak boleh lengah sedikitpun atau dia harus memulai rencananya dari awal.


Jika Axel mati, jiwanya akan terlempar kesebuah tempat yang tidak diketahui. Dia harus membangun kekuatan lagi untuk mengguncang alam semesta.


Hanya dengan kekuatannya tidak mungkin untuk menghancurkan alam semesta dan membuat jiwanya mati sepenuhnya. Pasukan yang kuat adalah kunci yang harus dia pegang sebelum membuat kerusuhan di alam semesta.


Pertarungan Axel dan Raja Neraka dilanjutkan dengan hantaman tinju dari Raja Neraka. Walaupun kekuatannya melompat jauh, ada waktu yang harus dia kejar.


Jika waktunya habis, maka usahanya akan sia-sia. Mata berwarna hitam pekat dan pedang di tangan kirinya, Raja Neraka memukul Axel dengan tangan kanan yang tidak bergerak di depannya.


Karena ingin menguji kekuatan Raja Neraka, Axel tidak menghindar. Dia ingin merasakan pukulan orang yang bisa membuatnya terluka.


Teriakan Raja Neraka terdengar keras, dia mendorong bahunya untuk menerangkan Axel. Namun hasilnya tidak sesuai harapan, Axel masih berdiam tidak bergerak dengan senyum lebar di bibirnya.


"Haha, kamu terlalu membanggakan kekuatan kecilmu ini?" tanya Axel sambil tertawa.


Raja Neraka menggelengkan kepala. "Baiklah, sepertinya aku harus serius," katanya pelan.


Dengan kekuatannya ruang, Raja Neraka mengeluarkan Pedang yang telah dibuat khusus untuk melukai mahluk abadi. Walaupun pedangnya tampak biasa, bahan yang digunakan adalah yang terbaik.


Bahkan Aldi tidak mempunyai bahan tersebut. Dengan kerjasama antara Shen Er, Shen Qui, dan Rocky mereka menciptakan bahan yang lebih kuat dari sebelumnya.


Ditambah Bima dan Lava yang menyuplai bahan baku, mereka semua berkolaborasi menciptakannya.


Shen Si yang menguji bahan dengan teknik racunnya juga membuat bahan pembuatnya semakin gelap dan mematikan.


Pergerakan Raja Neraka semakin cepat, energi kehidupannya semakin terkuras. Dia tidak bisa bertahan lebih dari 5 menit, jadi harus mengeluarkan semua kekuatannya.


"Dark Blade!" teriak Raja Neraka mengeluarkan kemampuan terbaiknya yang pernah dia miliki sebagai Raja Neraka.


Jutaan sayatan pedang muncul sekitar tubuh Raja Neraka, dia langsung menerjang Axel yang sedikit kewalahan dengan serangan tangan kosongnya.


"Menarik, sangat menarik. Mari selesaikan Bocah!" kata Axel penuh semangat. Dia tidak pernah merasakan tubuhnya bertarung dengan kemampuan terbaiknya.


Axel yang tidka pernah menggunakan mengeluarkan sebuah pedang berwarna hijau tua yang sangat mengerikan. Ada sebuah batu berwarna merah darah di ujung pegangannya.


Pedang itu adalah salah satu pedang yang bisa membunuh Nara Sang Pencipta hanya dengan satu kali tebasan. Namanya adalah Pedang Kematian, siapapun yang terkena pedang tersebut akan langsung kehilangan jiwanya.


Pedang Cahaya mampu bersaing dengannya, tetapi sekarang pedang tersebut sudah dirubah menjadi pedang kegelapan yang dipegang Aldi. Pertarungan penentu antara pedang kematian dan pedang kegelapan akan di tentukan ketika Axel dan Aldi berhadapan. Siapapun yang kehilangan pedangnya akan menjadi korban dari perang.


Teriakan Raja Neraka terdengar nyaring penuh semangat, dia menghantam pedang kematian dengan kekuatan penuh guna untuk menerangkan Axel.


Sayangnya kekuatan musuhnya terlalu kuat, Raja Neraka yang sudah menggunakan semua kemampuannya hanya bisa menerangkan Axel tanpa melukainya dengan serius.


Raja Neraka tersenyum puas, dia berhasil memberikan serangan yang dapat membuat darah dari Axel bercucuran. "Misi telah selesai, sekarang giliran kalian untuk menepati janji. Aku pergi duluan," kata Raja Neraka memandang keatas dengan tubuh tegap.


Cahaya kegelapan menyelimuti tubuhnya, dan memakan semua jiwanya. Raja Neraka tidak akan pernah di reinkarnasi apapun yang terjadi. Dia tertawa di ujung kematiannya, "Axel aku tunggu kamu di kegelapan yang kekal!"


"Ku akui, kau adalah petarung yang hebat. Sayangnya waktumu sudah habis," kata Axel sambil mengusap darah di mulutnya.


Tanpa sadar Axel juga tertawa keras melihat kematian Raja Neraka. Hemas dan Adven ketakutan mendengar tawa Axel yang sangat mengerikan.


"Sudah lama aku tidak melihat, Tuan tertawa lepas. Sepertinya pasukan Seven Soul lebih kuat dari yang aku kira," kata Hemas sambil tersenyum aneh.


Adven melakukan hal yang sama. Dia berharap mendapatkan pertarungan yang hebat bersama dengan salah satu pasukan Seven Soul.


Disisi lain, Aldi sedang menyembuhkan ibunya yang sangat lemah. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkan serpihan jiwa yang tampak redup.


Usaha tidak mengkhianati hasil, Alice berhasil diselamatkan dalam keadaan lemah. Dia sadar betul apa yang telah di lakukan kepada suaminya, tanpa sadar menetaskan air mata.


Sebelumnya Alice telah membuat Nur Andi di hajar oleh Ling Tong, kemudian dia harus mendekam di penjara keluarganya sendiri. Sekarang Nur Andi harus menyelamatkannya karena kebangkitan kekuatan dari Nara.


"Sungguh ironi, mungkin ini memang takdirku," katanya sambil memejamkan mata. Sebelumnya dia telah meminta teknik untuk mentransfer kekuatan Nara.


Dengan senyum manis Alice menggunakan tekniknya, aura berwarna hijau muncul di tubuhnya.


"Aldi, aku mungkin akan menyusul ayahmu. Jangan menolak dan berkata apapun, biarkan aku menjadi ibu terbaik di akhir hayat," kata Alice yang belum kehilangan senyum manisnya.


Cahaya hijau mulai memadat dan mengalir di tangan Alice yang mencengkram tangan Aldi. "Teknik Penukar Jiwa, Kisho Tensei!" kata Alice dengan nada pelan.


Moras yang telah hidup sangat lama menggunakan teknik ini untuk menghidupkan pasukannya. Berbeda dengan Moras yang tidak akan bisa mati, jika menggunakan teknik tersebut. Alice harus menghilang dari alam semesta untuk menggunakan teknik terlarang itu.


Sesuai permintaan ibunya, Aldi hanya bisa diam tanpa mengeluarkan kata apapun. Dia hanya bisa memandang ibunya dengan senyum manis, sayangnya matanya tidak bisa berbohong tentang kesedihan yang dialami.


Baru saja Aldi kehilangan ayahnya, sekarang ibunya mengorbankan dirinya untuk mengirim kekuatan Nara dan Bintang Celah Dimensi untuknya. Jelas hal itu sangat melukai hati Aldi.


Namun melihat ekspresi ibunya yang bahagia, Aldi tidak bisa berbuat apapun. Tanpa sadar air matanya menetes di tangan Alice yang sedang menggenggamnya.


"Jangan menangis, semua sudah ditakdirkan. Aku harap jika jiwaku berhasil mendapat pengampunan dari alam semesta, kamu tetaplah menjadi anakku tersayang."


Tangan Alice mulai berubah menjadi transparan, diikuti dengan tubuhnya yang lemas. Aura hijau yang awalnya berwarna terang mulai memudar.


Semua energi kehidupannya sudah habis tak bersisa, hanya senyum manis yang masih mengenang di ingatan Aldi.


Tepat setelah Alice menghilang dari alam semesta, Aldi berteriak, "Tidak!!!"


Seluruh anggota Seven Soul mendengar teriakannya yang menggelegar. Bukan hanya mendengar, mereka semua ketakutan dengan aura membunuh yang telah dipancarkan Aldi. Tidak ada yang bisa berdiri dengan tegap kecuali Shen Haise dan Shie yang sudang mengetahui seberapa menakutkannya Aldi.


Bahkan Rocky yang menganggap Aldi sebagai ayahnya tidak percaya dengan pancaran aura membunuh yang sangat mengerikan. Dia tersungkur ketahuan, tidak pernah menyangka ayahnya mempunyai kekuatan menindas yang sangat mengerikan.


Seorang mahluk misterius yang membawa buku Asal Mula Alam Semesta mengangguk puas dengan kematian Sang Pencipta dan beberapa mahluk kecil lainnya.


Dia menganggap keberadaan Nur Andi dan Alice hanyalah debu yang menghiasi kehidupan alam semesta yang indah.


"Bocah kecil itu bertambah lebih kuat, sayangnya perasaannya sangat rapuh. Kita lihat bagaimana caranya melawan bocah peramal yang sangat Licik itu," katanya sambil memandang bola aneh. Bola tersebut bisa memancarkan gambar yang ingin dilihat.


Bahkan jika ada simbol pelindung, dengan muda bola tersebut bisa menampilkan gambarnya. Selama mereka berada di dalam alam semesta.


"Wah, sepertinya bocah kecil itu sudah merencanakan hal gila ini. Dia berencana mengambil kekuatan Nara untuk melawan Axel dan mengakhiri pertempuran antara manusia dan penguasa, Menarik."


Mahluk misterius itu melihat Aldi yang sedang memperbaiki kekuatan yang diterima dari ibunya dan membangkitkan kekuatan Kitty yang sesungguhnya.


Mahluk misterius tadi mengira bahwa Aldi sudah merencanakannya dan melawan Axel dengan kekuatan yang diberikan ibunya.


Sayangnya dugaannya salah, Aldi menangis saat berhasil membangkitkan kekuatan Kitty yang sesungguhnya. "Pengorbanan yang tidak perlu ibu, aku sebenarnya sedang mencari cara untuk mengeluarkan kekuatan Kitty tanpa membunuhmu. Mengapa kamu masih tidak percaya dengan kemampuan anakmu, Mengapa?" katanya pelan.


Walaupun pelan, mahluk misterius yang memantaunya mendengar. Bahkan dia bisa mendengar isi hatinya, dengan syarat melihat Aldi secara langsung.


"Menarik Bocah Kecil, kamu mencoba melepaskan segel yang aku berikan kepada mahluk kecil itu. Sayangnya dia sudah mati, bagaimana jika aku menghidupkannya lagi dan memutar waktu. Sepertinya akan menarik," katanya sambil tersenyum.


Dia menggunakan tekniknya untuk memutar waktu supaya Aldi bisa mengatakan perasaannya kepada Alice. Namun ada yang aneh, tekniknya tidak bekerja sebagaimana mestinya.


"Aneh, kenapa aku Sang Penguasa Segalanya tidak bisa memutar waktu?" katanya kebingungan.