
Khalid bersama seorang pria paruh baya mendatangi Aldi sang sedang duduk santai di bangku penonton.
"Aldi, kedua temanmu berhasil masuk final," kata Khalid.
"Mereka hanya beruntung." Aldi tidak ingin menyombongkan diri, dia mengenal pria paruh baya yang bersama Khalid.
Pria itu merupakan Raja Kerajaan Kanz, Anwar Ilwar. Dia adalah pemimpin yang terkenal dengan keadilan bagi seluruh rakyatnya.
Aldi mengetahui informasi ini dari para pengintai yang selalu memberikan berita kepadanya.
Khalid dan Anwar Ilwar duduk santai. Mereka saling berbincang dengan santai.
Suara gong terdengar, pertanda pertandingan akan dimulai.
"Shen San, sebaiknya engkau langsung serius," kata Nezha dengan sangat percaya diri. Dia langsung mengeluarkan Roda Api.
Shen San tersenyum, lawannya tidak mengetahui kemampuan khususnya. Dia mengeluarkan Pedang berwarna biru muda dengan permata ungu di ujung pegangannya.
Pedang itu adalah replika dari pedang peninggalan Adam. Ia dapat memotong para Iblis dengan mudah, tetapi belum pernah melawan iblis yang kuat.
Nezha akan menjadi latihan yang tepat untuk mengukur kemampuan tarung Shen San yang sebenarnya.
"Mohon bantuannya, Nezha!" kata Shen San tegas.
Nezha adalah orang yang pertama kali menyerang dengan roda api. Suhu ruangan meningkat hingga 40 derajat celsius.
Aldi tidak memasang pelindung untuk menurunkan suhu. Sehingga membuat penonton menjadi sangat kepanasan.
Berbeda dengan Shen San yang masih berdiri kokoh menerima setiap serangan dari Nezha. Dia sudah sering berlatih dengan Lava dengan suhu yang jauh lebih tinggi.
Setiap kali kedua senjata berbenturan, sebuah percikan api membuat arena pertandingan terbakar.
Penonton hanya melihat kobaran api dan kedua orang yang bertarung.
"Menarik, Shen San kamu sangat kuat. Aku tidak akan bermain lagi!" teriak Nezha.
Teknik penghancur lautan. Nezha mengeluarkan teknik andalan yang pernah membunuh Raja Naga Laut.
Semua arena hancur bahkan tidak ada lagi ubin perbatasan. Tembok yang mengelilingi mereka berdua gosong.
Jika Aldi tidak secara diam-diam membuat simbol tambahan, semua penonton akan terluka karena tekanan energi mereka berdua.
Shen San memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Dia terluka cukup parah karena serangan barusan.
"Sangat kuat. Aku tidak menyangka pembelokanku tidak berhasil," kata Shen San sambil tersenyum.
Nezha kaget melihat Shen San yang masih berdiri setelah menerima kekuatan penuh darinya, bahkan tubuhnya tidak terbakar oleh serangan itu.
Bahkan Raja Naga Laut tidak dapat melawan teknik yang baru saja di perlihatkan. Perbedaan besar terletak pada kekuatannya yang turun beberapa tingkat.
"Aku tidak menyangka engkau sekuat ini, Shen San." Nezha tidak bisa menahan untuk memuji, karena ketrampilan yang di miliki lawan tandingnya.
"Baiklah, mari mulai babak kedua!" kata Shen San sambil mengeluarkan energi jiwa yang sangat padat.
Bahkan energi itu dapat menekan Nezha dengan ketrampilan yang telah di kembangkan.
Seluruh api yang berkobar padam seketika, hanya menyisakan debu hitam di sekelilingnya.
Tubuh Shen San sedikit membesar, matanya berwarna merah. Ada sebuah sayap ungu gelap di belakang punggungnya.
"Teknik Terlarang : Pembalikan Jiwa." Shen San mengeluarkan seluruh kemampuannya. Pedang yang awalnya berwarna biru muda berubah menjadi ungu gelap sama seperti sayapnya.
Nezha langsung menggunakan teknik khususnya untuk mengukur kekuatan lawan tandingnya. Namun dia tidak menemukan jawaban yang memuaskan.
"Teknik Penyatuan Tubuh." Nezha tidak mau kalah, dia mengeluarkan teknik yang berhasil membunuh ayahnya.
Seluruh tubuhnya tertutup api yang sangat panas. Api itu berwana merah kebiruan.
Shen San tersenyum. Dia merupakan orang pertama yang menyerang.
Suara petir terdengar ketika kedua senjata saling berbenturan. Hingga membuat telinga penonton kesakitan.
Sebagian besar penonton menutup telinga supaya tidak terluka. Ada beberapa penonton yang mengeluarkan darah dari telinganya.
"Aldi, bukankah ini sedikit berlebihan?" tanya Khalid yang duduk disebelah.
"Aku juga merasa begitu, tapi mereka sedang mengeluarkan seluruh kemampuannya."
Ketrampilan kedua temannya sangat hebat. Khalid merasa sangat beruntung memiliki kenalan seperti Aldi.
Anwar Ilwar bertanya kepada Aldi, "Menurutmu siapa yang akan menang?"
"Mereka berdua tidak akan bisa mengalahkan satu sama lain. Bahkan jika diberikan 100 tahun. Aku juga tidak dapat menentukan siapa yang bisa menang."
Aldi berbohong kepada mereka berdua. Jelas bahwa Nezha merupakan orang yang paling diuntungkan.
Teknik yang digunakan Shen San tidak akan bertahan lama. Paling lama hanya bisa digunakan selama 30 menit.
"Jadi kamu memasang taruhan kepada siapa?" tanya Khalid dengan serius.
Aldi menggelengkan kepala, "Aku tidak bertaruh untuk pertandingan final. Mereka berdua adalah saudaraku, jadi sudah sewajarnya aku mendukung mereka."
Seorang pria berambut putih dengan muka yang suram melihat pertandingan kedua manusia yang menarik mintanya. Pria itu adalah Diablo, komandan iblis.
"Jadi, siapa mereka berdua?" tanya Diablo ketika melihat rekannya berdiri dibelakangnya.
"Menurut informasi, mereka berdua merupakan pasukan yang dinamakan Seven Soul."
Prajurit itu mengatakan secara lengkap informasi yang berhasil dikumpulkan. Seperti pemimpin Seven Soul adalah anak kecil bernama Mahesa.
Serta beberapa perang yang berhasil menggemparkan seluruh wilayah di Dunia Utama. Bahkan salah satu pelindung yang bernama Shen Zero memiliki hubungan baik dengan Ras Peri, Ras Raksasa, dan Ras Serigala.
Informasi tentang ras golem tidak dapat diketahui karena berada di dalam Dunia Alternatif dan Dunia Rush All.
Prajurit juga memberitahu bahwa Seven Soul memiliki anggota luar sebanyak 5 juta orang, serta anggota dalam sebanyak 7 juta orang.
Secara total mereka mengira bahwa pasukan Seven Soul hanya memiliki 12 juta orang. Prajurit tidak mendapatkan informasi tentang anggota inti, karena semua orang yang bergabung dengan anggota inti sangat sulit ditemukan.
"Seberapa kuat Seven Soul?" tanya Diablo dengan wajah serius. Pasukan iblis masih terlalu lemah untuk memprovokasi organisasi besar.
Dia juga sedang bertarung dengan pasukan Dewa yang berada di Negara Achin, laut menjadi medan perang antara Iblis dan dewa.
"Kekuatan mereka bertumpu kepada Shen Zero yang menggunakan ketrampilan misterius. Namun anggota lainnya tidak perlu di khawatirkan."
Diablo melihat Nezha dan Shen San yang masih bertarung. Kecerdasan melihat situasi sangat baik, "Jika mereka mempunyai bakat seperti itu, harusnya Seven Soul cukup kuat," pikirnya.
Waktu berlalu perlahan serangan demi serangan mereka lemparkan, keduanya sudah tidak memiliki tanaga berlebih.
"Sekarang aku akan mengeluarkan semuanya," ucap Nezha memegang erat Roda Apinya.
Suhu ruangan meningkat dari sebelumnya. Shen San hanya tersenyum, dia sudah kehabisan energi jiwa untuk melawan.
Teknik pembalikan jiwa hanya tersisa beberapa detik, tidak mungkin baginya menahan serangan dari Nezha.
Namun Shen San sangat keras kepala, dia mengubah tekniknya menjadi baguazhang yang sering di praktikkan Aldi.
Dia berusaha membelokkan semua energi yang dilemparkan Nezha.
Nezha mengeluarkan seluruh kekuatannya dalam pukulan itu, Shen San bersiap membelokkan energi. Seorang pria muda menghentikan pukulan Nezha, dia adalah Aldi yang menerobos masuk kedalam arena pertandingan.
Aldi memblokir serangan terkuat Nezha dengan tangan kanan, sedangkan pembelian energi dari Shen San dengan tangan kirinya.
Dia melirik Nezha yang masih terbakar dengan api. "Sudah cukup. Shen San sudah kalah," ucapnya sambil tersenyum.
Nezha melihat Shen San yang tidak sadarkan diri sambil berdiri. Dia tidak menyangka harus mengeluarkan semua untuk melawan anak berusia 20 tahunan.
Aldi menolong Shen San yang tidak sadarkan diri, Nezha memberikan penghormatan kepada lawan tandingnya.
Tepuk tangan penonton terdengar sangat keras. Bahkan orang yang terluka tidak merasakan sakitnya.
Khalid dan Anwa Ilwar terkejut melihat Aldi yang sudah sampai di arena pertandingan. Sebelumnya mereka yakin bahwa Aldi berada di sebelah.
Jarak antara bangku mereka dan arena pertandingan sekitar 300 meter. Namun Aldi dapat menghentikan serangan Nezha dengan tepat.
"Khalid, segera berikan apapun yang dia minta. Kita tidak bisa kehilangan rekan seperti mereka!" perintah Anwar Ilwar.
Aldi menatap arah Diablo, dia memberikan tatapan yang mengakatan, "Jangan sentuh saudaraku, atau seluruh pasukanmu hancur!"
Diablo tersenyum, dia merasa belum saatnya untuk menghadapi pasukan Seven Soul.
"Lupakan mereka, ayo pergi!" kata Diablo sambil membalik badannya kemudian menghilang.