
Aldi yang masih memulihkan kesadaran ya berkata, "Orang yang mengerikan."
Dia tidak mengetahui siapa pria tersebut, tetapi perasaan akrab entah kenapa timbul ketika berbicara dengannya.
Entah itu Zuma, Moras, atau Kitty yang mengenalnya. Aldi tidak memiliki sedikitpun ingatan tentang pria tersebut.
Anehnya Aldi tidak dapat melihat jenis kelamin orang tersebut, dia seperti diciptakan khusus untuk melihat alam semesta tanpa mencampuri urusan di dalamnya.
"Shie dan Shen Haise yang sudah mulai kelelahan tidak dapat menahan terlalu lama," kata Mahesa menghampiri Aldi yang termenung menatap gelapnya celah dimensi.
Aldi mengatakan, "Baiklah, buat mereka mundur. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Juga persiapkan senjata khusus untuk menyambut pasukan Axel, aku merasakan mereka sudah bergerak menuju Dunia Utama."
Kekuatan Aldi sudah tidak bisa diukur, mungkin saja dia sudah setara dengan Sang Pencipta. Namun untuk melawan Axel masih terlalu dini baginya. Monster tua seperti Axel tidak dapat dibunuh, bahkan ketika jiwanya dihancurkan dia akan hidup kembali dengan kekuatan penuh.
"Aneh, seharusnya tidak seperti itu. Mungkinkah ada orang yang bisa merubah peraturan alam semesta?" gumam Aldi sambil memegang dagunya.
Dia merasa ada yang aneh, seharusnya ketika Jiwa seseorang hancur, mereka tidak akan bisa bangkit lagi. Bahkan Sang Pencipta tidak mempunyai kehendak seperti itu.
Mahesa yang mendengar kegelisahan Aldi merasakan kebingungan juga. Sangat aneh jika orang yang sudah kehilangan jiwanya dapat dibangkitkan.
"Baiklah, kita lupakan Axel. Mari membalas kematian Leo!" kata Aldi tegas.
Seven Soul siap menghancurkan seluruh pasukan Sang Pencipta, karena Aldi sudah bisa mengimbanginya.
Hanya butuh beberapa menit untuk menyelesaikan persiapan. 600 miliar pasukan telah bersiap menyerang markas Sang Pencipta yang telah panik karena serangan Shie dan Shen Haise.
Dari semua pasukan yang Aldi persiapkan, hanya 700 juta yang dapat dipercaya sepenuhnya. Sedangkan lainnya adalah orang yang ingin membalas dendam dengan Sang Pencipta yang menghancurkan dunia miliknya.
Sebagian juga ada beberapa orang yang ingin menguji kekuatan yang mereka capai. Tidak ada yang sepenuhnya membela Leo yang sudah tiada.
Walaupun demikian, Aldi tidak mempermasalahkan apa tujuan mereka. Yang terpenting adalah orang tersebut bisa menahan sementara pasukan musuh.
"Moras, berapa presentasi kemenangan kita?" tanya Aldi dengan ekspresi serius.
Moras meliriknya dan berkata, "Apa maksudmu bertanya seperti itu, jelas Seven Soul akan kalah. Namun kamu selalu merubah masa depan dengan caramu."
"Tidak, aku hanya ingin mendengar kata baik darimu. Bahkan jika kita mempunyai sepersekian persen, aku akan tetap membalaskan dendam Leo," kata Aldi dengan senyum manis di bibirnya.
Shie dan Shen Haise sedang memulihkan keadaannya, sedangkan pasukan yang dipimpin Zelda sudah sampai di depan markas besar musuh.
Dengan tombaknya, Zelda terlihat sangat mengerikan. Mata runcing dan bibir berwarna hitam gelap, menambah kesan sangat mengerikan.
"Serang!" kata Zelda dengan nada penuh semangat. Pasukannya menyerang seperti segerombolan semut yang sedang mencari makanan.
Gaia yang melihatnya langsung menyambut dengan triliunan mahluk celah dimensi. Dia ingin menghambat kecepatan musuh, karena sedang menyiapkan senjata pembunuh masal.
Nuklir Super raksasa muncul di atas markas musuh, pelaku utamanya adalah Shen Qui yang tersenyum manis di barisan belakang Seven Soul.
Merasakan adanya ancaman, Gaia langsung muncul membatalkan rencana dan menghentikan serangan Shen Qui.
"Sombong, kalian terlalu percaya diri. Akan aku tunjukkan kekuatan yang sebenarnya!" teriak Gaia sambil menyusun simbol untuk menghentikan nuklir.
Setelah berhasil menyusun setengahnya, Aldi melempar pedang berwarna merah yang membuat Gaia harus menghindar.
Seketika semua usahanya langsung hancur, dia tampak marah. "Kau berhasil membuatku marah, Shen Zero. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu hidup!" katanya dengan raut wajah yang tidak sedap untuk dipandang.
"Pertama kali kita bertemu adalah di alam bawah sadar. Namun sekarang kamu telah membunuh temanku, jadi jangan menggampangkan masalah ini!" jawab Aldi dengan ekspresi serius.
Gaia menyusun sebuah simbol untuk membatasi mereka berdua. Duel antara keduanya tidak dapat di hentikan sebelum salah satu mati.
Aldi tersenyum manis melihat Gaia menyusun simbol untuk mengurungnya. Mungkin lawannya tidak mengetahui bahwa Aldi sudah berhasil meningkatkan kekuatannya hingga setara dengan Sang Pencipta.
"Mari kita selesaikan. Siapa yang akan menang akan menjadi penguasa yang sebenarnya!" kata Gaia.
Mendengar perkataannya, Aldi menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kamu salah, Axel sedang melihat pertarungan ini. Jika aku kalah, maka rencananya akan berantakan. Apa kamu pikir dia tidak akan menolongku?"
Memang benar Axel sedang melihat pertandingan dari jarak jauh. Aldi adalah entitas yang membuatnya bisa terbunuh, tapi tidak untuk sekarang. Kekuatannya masih terlalu lemah untuk menghancurkan seluruh alam semesta.
Gaia tidak peduli dengan perkataan lawannya, dia langsung menyerang dengan kekuatan tinjunya.
Aldi yang tidak dapat menerimanya secara langsung, dia menghindar dan mengaktifkan kekuatan Kitty. Matanya berubah menjadi merah dan mengeluarkan sayap warna merah darah.
Ketika ingin menyerang balik, tiba-tiba waktu disekitarnya berhenti. Gaia langsung menggunakan serangan terkuatnya untuk menghancurkan Aldi.
Namun kenyataan berbeda dengan harapannya. Aldi hanya terbang menghantam pelindung transparan yang di susun Gaia.
"Hebat, kamu bisa menerima tinjuku dengan kekuatan tubuhmu. Zuma bodoh itu telah berhasil mengembangkan tubuhnya sampai seperti ini," kata Gaia dengan senyum aneh.
Dia seperti mengetahui semua yang dimiliki Aldi. Hanya satu yang tidak bisa dia lihat, yaitu teknik Prinsip Jiwa yang sangat aneh.
Setelah menghantam dinding transparan, Aldi memuntahkan seteguk darah segar. Dia terluka parah hingga tubuhnya membutuhkan beberapa detik untuk sembuh.
"Seperti yang diharapkan dari Gaia, hanya dengan kekuatan tubuh kamu berhasil menghancurkan pertahanan terkuat tubuhku. Namun berikutnya aku tidak akan membiarkannya," kata Aldi menstabilkan tubuhnya.
Gaia yang mendengarnya langsung mengerahkan kekuatan terbaiknya untuk menyerang lagi. Seperti sebelumnya, Aldi berhasil menghindar.
Waktu berhenti untuk kedua kalinya, Gaia menghantam Aldi dengan sekuat tenaga. Berbeda dengan sebelumnya, Aldi juga menghentikan waktu tepat sebelum serangan Gaia menghantamnya.
Suara pecahan kaca terdengar, teknik Gaia berhasil dihentikan. Aldi tersenyum manis melihat teknik penghentian waktunya berhasil.
"Tidak aku sangka kamu berhasil meniru teknik milikku hanya dengan sekali lihat," kata Gaia sambil mengeluarkan sebilah pedang panjang berwarna kuning.
Pedang Cahaya itulah nama resmi yang tertulis di gagang pedangnya. Tidak ada yang tahu siapa penciptanya, yang pasti pedang tersebut sangat kuat.
"Kamu terlalu memujiku ... pedang yang sangat bagus, aku ingin melihat senjata siapa yang lebih unggul," kata Aldi dengan nada sedikit menantang.
Dia mengeluarkan pedang berwarna biru yang telah di perkuat menggunakan pengetahuan Nara dan Zuma.
Aldi adalah orang pertama yang bergerak, Gaia tidak seperti biasanya. Dia hanya diam ditempat tanpa bergerak sedikitpun.
Hal itu sangat mencurigakan, tetapi Aldi masih melanjutkan serangannya.
Gaia tersenyum melihat Aldi dengan bodohnya terus menyerang. Seperti biasa, dia menghentikan waktu disekitarnya. Kemudian menebas kearah Aldi yang berhenti.
Aldi mengikutinya, tapi Pedang Cahaya menembus waktu disekitarnya. Sehingga Aldi terkena serangan telak yang membuatnya menghantam dinding transparan.
Darah keluar dari mulutnya, kali ini tubuh tanpa tanding tidak bisa menyembuhkan lukanya. Aldi harus mengerjakan sedikit energi jiwa untuk membantu penyembuhan.
"Bodoh, apa kamu kira pedang Cahaya dapat kamu atasi dengan mudah!" teriak Gaia yang menuju Aldi dengan kecepatan tinggi.
Aldi berusaha menghentikan waktu untuk kedua kalinya, dia tahu bahwa tekniknya tidak bisa menahan Pedang Cahaya.
Dengan kecerdasannya, dia memodifikasi teknik penghentian waktu dalam waktu singkat.
"Ruang!" kata Aldi menyebutkan tekniknya.
Pedang Cahaya menembus tubuh Aldi dengan sangat mulus. Namun tidak dapat melukainya, kemudian Aldi langsung muncul di belakang Gaia dan mengayunkan pedangnya.
Dengan penghentian waktu dan kecepatan refleknya, Gaia menghantam pedang Aldi dengan kekuatan penuh.
Seketika pedang Aldi langsung hancur, bahkan serangan Gaia masih mengenai musuhnya dengan sangat mulus.
Sekali lagi Aldi dibuat tidak berdaya melawan Pedang Cahaya.
Melihat kejadian tersebut, Axel yang menonton ingin menolongnya. Namun dihentikan oleh Bandi yang menunjuk pasukan Seven Soul yang tampak sangat tenang ketika pemimpin mereka sedang sekarat.
"Orang itu pasti memiliki teknik aneh yang dapat mengalahkan Gaia. Bisa dilihat dari Pasukan Seven Soul yang terus menyerang tanpa khawatir pemimpinnya," kata Bandi memberikan masukan.
Axel melihat pasukan yang ditunjuk, dia tersenyum dan berkata, "Kamu benar. Orang aneh itu tidak akan kalah dengan mudah!"
Sesuai dugaan kedua orang tersebut, Aldi tersenyum menerima serangan Pedang Cahaya berkali-kali.
Menolak untuk lupa, Tubuh Tanpa Tanding dapat menyerap energi untuk menjadikan kekuatan tubuhnya. Karena serangan Pedang Cahaya, Aldi bisa meningkatkan kekuatan tubuhnya dan memberi makan Kitty yang bisa menyerap energi.
Dengan senyum menawan, Aldi mengeluarkan Zirah Prinsip Jiwa untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Pertarungan belum berakhir, mari kita mulai lagi," katanya pelan.
Gaia yang mendengar provokasi Aldi, langsung menggunakan teknik Zirah yang hampir sama. Berbeda dengan milik Aldi, Zirah yang dia pakai berwarna putih dengan aksen kuning emas yang sangat memukai.
Pancaran cahaya lemah yang keluar dari zirah membuatnya tampak seperti Sang Pencipta yang sesungguhnya.
"Sebenarnya aku menyimpan teknik ini untuk melawan Axel, tetapi karena kamu berhasil membuatku bertarung serius, anggap saja ini sebagai hadiah perpisahan," kata Gaia dengan senyum lebar di bibirnya.
Setelah tersenyum, sebuah topeng muncul dari udara menutupi seluruh wajahnya. Pancaran cahaya semakin terang.
Aldi merasakan ancaman dari Zirah tersebut. Tanpa menunggu lama, Aldi mengeluarkan teknik khusus yang membuat sayapnya berubah menjadi ungu gelap dan merah.
"Teknik Pembalikan Jiwa," teriak Aldi menyebutkan nama tekniknya.
Matanya berubah menjadi hitam gelap dan merah. Sama seperti sebelumnya, Aldi telah menggunakan kekuatan terbaiknya.
"Bandi, menurutmu bocah itu bisa menang apa tidak?" tanya Axel yang mulai gelisah. Dia tidak ingin kehilangan salah satu faktor yang dapat menghancurkan alam semesta.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, bocah itu sangat kuat. Masih banyak kemungkinan yang mendukung kemenangannya."
Tubuh fisik Bandi telah dikalahkan, tetapi jiwanya masih bergentayangan di sebelah Axel. Dia tidak bisa mati seperti gurunya.