
Ruang komando pasukan Curik Ketimbang sangat senyap. Mereka semua sedang dalam keadaan tertekan.
Jendral Putu merupakan pemimpin pasukan musuh, dia terkenal karena prestasinya yang sangat gemilang ketika memimpin pasukan.
Gung Koster meminta Gung Jendra. "Jendra, panggil Kakek Aldi. Kita membutuhkan kebijaksanaannya untuk melawan Putu dan prajuritnya."
"Baik, Ayahanda," ucap Gung Jendra dengan sopan.
Dia menuju ketempat Aldi istirahat, Gung Jendra melihat Aldi sedang menggunakan teknik misterius yang tidak pernah dilihatnya.
"Maaf, Kek. Perang akan segera dimulai, ayahanda ingin anda ke ruang komando." Gung Jendra berkata sangat sopan.
Dia sangat mengagumi kebijaksanaan Aldi. Kemampuan menyusun strategi sudah tidak bisa diragukan.
"Tenanglah, lebih baik kau ikuti gerakan ini. Jika dilakukan secara teratur setiap hari, maka kesehatan tubuhmu akan lebih terjaga." Aldi menggerakkan tubuhnya menggunakan teknik Tai Chi.
Teknik itu tidak dapat digunakan dalam pertarungan antar kekuatan. Tetapi untuk beladiri, hal tentang kebugaran tubuh sangat penting.
Pertarungan di dunia ini mengedepankan kekuatan dan kecepatan, sedangkan teknik Tai Chi mengedepankan pernapasan dan kelembutan.
Namun, setiap teknik ditangan Aldi dapat digunakan untuk bertarung. Sebagai contoh Baguazhang, itu adalah teknik gerakan kecepatan dan kelembutan.
Namun, dengan sedikit modifikasi, dapat digunakan untuk bertarung. Bahkan menjadi teknik andalan untuk Aldi.
Dia juga berencana untuk mengajarkan teknik itu setelah para pemegang segel penyerahan di tingkat 10 atau lebih.
Karena Gung Jendra sangat menghormati Aldi, makanya dia juga ikut gerakan teknik Tai Chi.
Dalam Ruangan komando pasukan Curik Ketimbang, seorang pembawa pesan datang.
"Pemimpin, pasukan Halilintar telah musnah, tidak ada satu orang yang selamat dalam kejadian itu."
Semua orang dalam ruangan terkejut 120 ribu orang dilenyapkan dalam semalam, hal itu sangat sulit untuk dipercaya.
Gung Koster tidak percaya begitu saja, dia dan para jendral menuju kamp pasukan Halilintar.
"Gila, ini pembantaian sepihak. Aku tidak melihat satu orang musuh yang tewas." Gung Koster mengucapkan itu penuh kebingungan.
"Pemimpin, dewa membantu kita. Jika bukan para dewa siapa lagi, tidak mungkin manusia bisa melakukan hal seperti ini." seorang Jendral mengatakan pendapatnya.
Berita tentang kekalahan pasukan Halilintar menyebar ke seluruh wilayah Dewata, tidak terkecuali Militer Selatan yang siap melancarkan serangan.
"Apa yang terjadi," ucap pemimpin pasukan Militer Selatan.
"Pasukan Halilintar kalah telak dalam penyergapan Curik Ketimbang. Menurut informasi, Curik Ketimbang menyerang dari kegelapan. Mereka memanfaatkan gelap malam untuk menyerap pasukan musuh."
"Gila, tidak mungkin menghancurkan 120 ribu orang dalam satu malam." Pemimpin pasukan Militer Selatan masih tidak mempercayainya.
Pemimpin Militer Selatan bernama Andika. Dia merupakan orang yang sangat cerdas dikeluarkannya.
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Jika tebakanku benar, mereka dibantu oleh masyarakat Semi Rahasia seperti Halilintar." Pria berambut putih berbicara dari depan pintu.
Pria itu merupakan satu orang yang dapat melawan satu kompi pasukan bersenjata. Dia bernama Made.
Made merupakan pembudidaya beladiri keliling, dia tidak mempunyai kekuatan yang mendukungnya. Dia mendapat teknik beladiri dari sebuah gua yang kebetulan dia temukan.
Setelah teknik itu dikembangkan kekuatannya meningkat sangat cepat. Sampai sekarang dia berada pada Setengah Raja tahap 7.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Andika.
"Lebih baik memegang mereka menjadi sekutu. Kita sudah mendapatkan 40 persen wilayah Dewata. Aku menyarankan untuk menyatakan perdamaian."
Mereka berdiskusi untuk menentukan langkah selanjutnya pasukan Militer Selatan.
Pasukan militer selatan telah diganti dengan nama Organisasi Denpasar. Mereka mengundang perwakilan Halilintar dan Curik Ketimbang.
Gung Koster yang menerima surat undangan dari pasukan Denpasar sedikit terkejut.
"Mungkinkan mereka ingin menjebak kita?" ucap Gung Koster pelan. Sudah sewajarnya sebagai pemimpin dia curiga kepada musuh.
Kekuatan mereka jauh dibawah Halilintar dan Denpasar, sangat mungkin mereka berdua menjebak pasukan Curik Ketimbang.
"Tenanglah, mereka sedang mengusulkan perdamaian." Aldi datang dari belakang kursi kerja Gung Koster.
Karena terlalu fokus Gung Koster tidak memperhatikan sekitar. Jadi dia tidak memikirkan hal sepele seperti itu.
Sebenarnya Aldi sedang mencoba teknik Langkah Hantu yang telah dimodifikasi. Kecepatannya sangat luar biasa, dalam sekejap Aldi berpindah ratusan meter.
Sayangnya, jika konsumsi energinya terlalu boros. Hal itu menjadi kekurangan Langkah Hantu modifikasi.
"Apa kau yakin?"
"Salah satu orang terpercaya akan menemanimu, namanya Kim William. Seharusnya kau sudah tau, dia merupakan pria yang selalu ada di samping Gusti Rahmat."
Semua orang sudah tidak memanggil Gusti Rahmat dengan nama putra mahkota. Hal itu karena berita tentang kematian sang raja telah tersebar.
Kebenaran itu merupakan awal dari kehancuran kerajaan Dewata yang telah ribuan tahun berdiri.
Dia tau seberapa kiat Kim William. Namun, Gung Koster terkejut dengan Aldi yang dapat merekrut Kim William.
Gung Koster dan 8 orang lainnya menuju istana Denpasar. Mereka menggunakan kereta emas, sama seperti yang dikendarai saat menuju Istana Dewata.
Perjalanan berjalan sangat lancar, para bandit sedang bersembunyi karena ketiga organisasi besar masih berperang.
Sampai didepan pintu ruang pertemuan ada rombongan menggunakan kereta terbuat dari berlian. Mereka adalah rombongan dari pasukan Halilintar.
Seorang pria paruh baya menghampiri Gung Koster dengan tatapan tajam. "Koster, sudah lama kita tidak bertemu."
"Komang, aku tidak menyangka baru beberapa hari lalu kita musuh, sekarang kau menyapa dengan sangat sopan." Koster juga menatapnya tajam. Merela berdua adalah teman masa kecil.
Gung Koster tidak menyangka bahwa temannya akan menjadi pemimpin pasukan musuh.
Komang mewarisi posisi pasukan musuh saat dia berumur 40 tahun. Kekuatan dan kecakapan menyusun strategi merupakan hal yang diperhitungkan pemimpin sebelumnya.
Pertemuan dari ketiga organisasi besar mendapat sorotan dari berbagai pihak.
Tiga orang duduk di meja berbentuk bundar. Mereka adalah Gung Koster, Andika, dan Komang.
"Tujuanku mengundang kalian adalah untuk perdamaian, aku menyarankan untuk membentuk kerajaan baru."
Andika menyerahkan selembar kertas bertuliskan peraturan kerajaan. Ada 4 peraturan yang harus ditaati setiap pasukan di wilayah Dewata.
Pertama wilayah Dewata akan dibagi menjadi 3 daerah, setiap daerah mempunyai pemimpin.
Kedua setiap daerah harus mematuhi pasukan Denpasar.
Ketiga setiap penduduk harus mempunyai identitas daerah, agar pendataan lebih baik.
Keempat tidak diperbolehkan ada perang antar daerah selama 50 tahun.
Setelah membaca sebentar Komang adalah orang pertama yang mengungkapkan pendapat.
"Aku kita setuju dengan poin ke dua, yang menyebutkan kita harus patuh kepada pasukan Denpasar."
Mereka mendiskusikan tentang masalah perjanjian kedamaian. Akhirnya poin pertama dan kedua dirubah.
Wilayah Dewata akan dibagi menjadi 3 kerajaan yang berdiri sendiri. Kemudian setiap kerajaan tidak di haruskan untuk menaati kerajaan lainnya.
Perjanjian ditandatangani oleh ketika pihak, mereka sepakat untuk berdamai.
Pasukan yang paling tidak diuntungkan adalah Curik Ketimbang, wilayah kerajaan mereka sangat kecil dibanding dengan kedua lainnya.
Namin, Gung Koster tidak memberi tanggapan apapun tentang wilayah kerajaan.
Kekuatan mereka jauh dibawah, jadi sudah sewajarnya wilayah mereka lebih kecil.
Upacara penobatan Raja Koster akan dilakukan di istana kediaman Pasukan Curik Ketimbang.
"Selamat Koster, sekarang kau sudah menjadi Raja yang terhormat," ucap Aldi di pesta penobatan Gung Koster.
Nama kerajaan yang dipimpin Gung Koster adalah Kerajaan Curik.
Keluarga Ayu Astuti pindah dari kerajaan Halilintar ke Kerajaan Curik. Mereka ingin mengembangkan diri di wilayah yang lebih kecil.
Pertemanan Ayu Astuti dan Gung Jendra berubah menjadi pertunangan yang disahkan langsung ketika pesta Raja Koster diselenggarakan.
"Ayu Astuti, aku mempunyai kenalan yang mempunyai teknologi yang lebih maju." Aldi menghampiri Ayu Astuti dan Gung Jendra.
"Kakek Aldi, tolong perkenalkan kami. Keluargaku sangat mencintai teknologi." Ayu Astuti menjawab dengan penuh antusias.
Aldi berbincang dengannya beberapa saat, dia dapat memastikan sifat Ayu Astuti tidak terlalu buruk.
Ambisinya akan menuntunnya menuju kesuksesan yang sebenarnya, seperti Alex.
Aldi telah selesai menyusun pesawat yang memungkinkan terbang selama 14 hari tanpa berhenti.
Kecepatannya stabil di angka 1,6 mach, energi penggeraknya menggunakan bahan bakar yang dibuat khusus dari ekstrak Bunga Vine Jade.
Seperti halnya minuman konsentrasi, namun pembuatan bahan bakar khusus ini tidak dapat dibuat secara masal.
Aldi menggunakan simbol khusus untuk memproses energi udara dan ekstrak Bunga Jade untuk mendapatkan energi penggerak mesin.
"Aku akan membawa beberapa orang di kerajaan Curik untuk menemaniku ke wilayah Timur."
Setelah Aldi mengatakan itu. Setiap orang yang mendengar terkejut.
Wilayah Timur adalah mitos yang pernah dibicarakan leluhur mereka. Peradaban mereka sedikit lebih maju dibandingkan wilayah Dewata saat itu.
Aldi tidak ingin membahas itu lebih lanjut, mereka melanjutkan pesta penobatan Raja Koster dan pertunangan Gung Jendra dan Ayu Astuti.
Gung Koster berada di atas ranjang kamar tidurnya. Dia bergumam, "Jadi dia dari wilayah Timur. Penasaranku akhirnya terobati."