
Pertandingan antara Harimau Putih dan Singa Langit diperbincangkan banyak orang, tapi pemenangnya masihlah Singa Langit yang mendominasi.
Seperti yang banyak orang duga, pasukan Sura akan mendapat tiket final. Sedangkan untuk Harimau Putih akan melewatkan pertandingan memperebutkan posisi ketiga, melihat kondisi pasukan yang memprihatinkan.
Pertandingan final akan dilakukan 7 hari setelah babak perempat final.
Semua pasukan Harimau Putih dirawat di rumah sakit, yang jaraknya dari arena pertarungan 30 menit menggunakan bus.
Aldi merawat semua rekan-rekannya dengan teknik formasi plus obatnya dia buat secara khusus.
"Aldi, bagaimana mereka?" kata Li Sogun dengan cemas, karena dia tau bahwa semua pasukannya memiliki luka yang serius.
"Tenanglah, Paman ... semua baik-baik saja," ucap Aldi dengan senyum ringan khasnya.
"Bisakah mereka pulih dalam seminggu?" tanya Li Sogun.
"Jika perkembangan mereka stabil seperti sekarang, aku pikir mereka akan bisa melihat pertandingan minggu depan, tapi masih dengan kondisi yang buruk."
Seminggu terlewat dengan sangat cepat, pertandingan final akan dilaksanakan hari ini.
Melihat semua rekan-rekannya Aldi berkata, "Ayo!"
Aldi berjalan keluar rumah sakit dengan percaya diri, dengan tinggi badannya yang mencapai 173 cm serta tubuh yang tidak terlalu besar tapi penuh dengan otot ketat, membuatnya tampak sangat berwibawa.
Mereka menggunakan bus yang disediakan panitia kompetisi jadi tidak terlalu sulit untuk sampai di tempat kompetisi dengan sangat mudah.
"Ku kira kau sudah lari, Sogun," kata Mang De yang menunggu di depan pintu masuk.
"Mang De, sebaiknya kau tidak mencari masalah!" jawab Li Sogun dengan tatapan tajam.
Melihat itu, Mang De malah tertawa keras, "Li Sogun, oh Li Sogun kau terlalu memandang tinggi dirimu."
Pasukan negaranya tidak menurunkan pasukan utama, oleh karena itu mereka hanya mendapatkan posisi 8 besar.
Mendengar apa yang dikatakan Mang De, semua pasukan Harimau Putih menatap tajam tanpa bergerak sedikitpun.
Mereka sadar diri sehingga tau apa yang dia maksud, semua kepercayaan diri mereka hancur ketika melawan Singa Langit tanpa sedikitpun perlawanan, kecuali Li Wulong.
Li Saha adalah orang yang paling menyesal karena terlalu sombong dan meremehkan semua lawannya.
Tanpa peringatan apapun, Mang De pergi ke arah seorang pria tua dengan alis panjang.
Aldi mengetahui bahwa orang itu mempunyai kekuatan yang mengerikan, dia berada pada tingkat Biru awal.
Dalam pertandingan final seperti biasa Singa Langit kalah dengan Sura.
pertandingan final benar-benar hambar jiga dibandingkan dengan pertarungan antara Harimau Putih dan Singa Langit.
Bahkan Maksim Gorky yang sombong benar-benar dikalahkan di babak satu lawan satu, yang mengalahkannya adalah jenius dari pasukan Sura, Izza Fatma.
Izza Fatma adalah gadis berumur 21 tahun yang mempunyai tingkat kekuatan Hijau awal, ditambah dengan pengalaman bertarungnya yang berlimpah, mengalahkan Maksim Gorky hanyalah sepotong kue baginya.
Dalam kompetisi ini, Aldi memenangkan lebih dari 15 ribu koin emas. Uang sebanyak itu, bisa dia gunakan untuk menutupi semua kebutuhan bisnisnya selama satu tahun penuh.
Setelah upacara pemberian medali, acara selanjutnya adalah pertandingan persahabatan antara instruktur yang ingin bertanding.
"Maksim Hogky, mohon untuk membandingkan catatan denganku?" kata seorang pria tua sebelah Mang De.
"Oh ternyata, Mang Huang. Tentu, aku setuju denganmu," jawab Maksim Hogky yang senyum merendahkan.
"Wow ... pertandingan antara Mang Huang sang pemangsa dan Maksim Hogky sang penghancur akan terjadi!" kata Su Loying dengan pantang, sebagai pemandu kompetisi.
Mang Huang dan Maksim Hogky mempunyai kekuatan yang sama di tingkat Biru Awal.
Maksim Hogky adalah orang yang berinisiatif menyerang terlebih dahulu, dengan pukulan bayangan andalannya.
Pertandingan ini berat sebelah karena Mang Huang tidak dapat membalas sedikitpun.
Semua penonton yakin bahwa Maksim Hogky jauh lebih unggul dari Mang Huang. Berbeda dengan Aldi, ia menggelengkan kepalanya karena tau Mang Huang tidak bertarung untuk kemenangan, tapi untuk mengamati teknik Maksim Hogky dengan mata khususnya.
Dengan mengamati teknik dari musuhnya dapat meningkatkan peluang kemenangan jika bertarung antara hidup dan mati.
Maksim Hogky bukan orang yang bodoh, dia mengetahui trik kecil lawannya.
Aura disekitar tubuh Maksim Hogky menipis, banyak penonton berspekulasi bahwa dia sudah menyerah.
Tanpa diduga Mang Huang tidak bergerak membuat penonton menjadi semakin bingung.
"Kau melebih-lebihkan dirimu!" kata Maksimal Hogky dengan senyuman menghina.
Mang Huang jatuh dengan badan lemas.
"Apa yang terjadi?" tanya Li Sogun memandang Aldi yang biasanya berpengetahuan luas.
"Racun, itu merupakan racun udara."
"Apa lawannya akan mati jika terkena itu?"
"Melihat reaksi racunnya, dia tidak bisa membunuh orang dengan itu, jika tebakanku benar tekniknya belum sempurna ... jika sudah sempurna aku tidak bisa memprediksinya ..." jawab Aldi dengan santai, racun itu hanyalah mainan anak-anak baginya.
"Woah ... pemenangnya adalah Maksimal Hogky ..." kata Su Loying dengan semangat karena telah melihat pertandingan antara veteran.
"Maksim Hogky, ingin membandingkan catatan denganku?" ada orang yang menantangnya tepat setelah kemenangan Maksim Hogky.
Orang itu adalah Izza Heru, dia merupakan instruktur pasukan Sura sekaligus tuan muda tertua keluarga Izza. Pria itu berumur sekitar 35 tahun dengan tubuh tinggi 185 cm serta mempunyai paras yang sangat mempesona.
Izza Heru merupakan jenius tanpa tanding di pasukan Sura. Dengan umurnya itu dia dapat mencapai kekuatan tingkat Biru Menengah, dengan sedikit langkah akan melangkah ke tahap akhir.
"Izza Heru, anak sepertimu terlalu menyombongkan diri, biarkan senior ini memberimu pelajar."
Pertandingan di mulai dengan serangan yang mengejutkan dari Izza Heru.
Maksim Hogky tidak bisa bersantai dia langsung menggunakan kekuatan terbaiknya.
Nasib berkata lain, pertarungan ini jelas di kuasai Izza Heru. Maksim Hogky tidak bisa membalas sekalipun pukulan lawannya.
Serangan telapak tangan membuat Maksim Hogky memuntahkan seteguk darah segar.
"Sepertinya hanya ini kemampuanmu," ucap Izza Heru dengan senyum mengejek.
Izza Heru belum mengeluarkan semua kekuatannya, jadi dia merasa sedikit kecewa dengan pertarungan ini.
Setelah Maksim Hogky keluar dari arena pertempuran, Izza Heru menunggu seseorang menantangnya.
Hampir 5 menit berlalu, tidak ada seseorang yang menantang Izza Heru, sehingga dia mengajukan tantangan lagi, "Instruktur Harimau Putih, apa pendapatmu untuk membandingkan catatan denganku?."
"Tuan Muda Izza, terlalu memasang tinggi rendahan ini," jawab Aldi dengan senyum khasnya.
"Aku tau kau bukan orang sembarangan, jadi jangan berakting di hadapanku," kata Izza Heru dengan senyum aneh.
Izza Heru mempunyai teknik khusus untuk mengidentifikasi kekuatan seseorang. Sedangkan untuk Aldi, dia jelas tidak melihat seberapa kuat atau bahkan seberapa lemah orang itu.
Teknik penyembunyian Aldi sudah bisa dianggap sempurna, bahkan dia merubah auranya supaya tidak dapat diingat oleh orang lain.
"Izza Heru, orang yang menarik ..." kata Shen Haise dari dalam dunia paralel yang ada di tubuh Aldi.
"Aku kira kau membatu di dunia rohku." kata Aldi dengan nada yang mengejeknya.
Shen Haise jarang berbicara dengan Aldi, jadi wajar bagi Aldi untuk menanyakan hal bodoh seperti itu.
"Sudah cukup bicara omong kosong? pikirkan bagaimana caramu menang melawannya."
Mendengar itu membuat Aldi tertawa, "Tenanglah Bahkan jika ada 100 darinya aku dapat membunuhnya dengan mudah."
Shen Haise tidak mengetahui seberapa kuat Aldi karena ruang ciptaannya terpisah dengan teknik Prinsip Jiwa yang dia kembangkan.
"Instruktur Harimau Putih, bolehkan aku mengetahui nama terhormat mu?" tanya Izza Heru dengan sopan.
"Shen Zero," jawab Aldi dengan senyum ramah.
"Shen Zero, aku ingin tau seberapa kuat dirimu?"
Aura Izza Heru dilepaskan ke tingkat tertingginya yang berwarna Biru.
"Wah ... Tuan Muda Izza ternyata pembudidaya tingkat Biru!" para penonton mendiskusikan banyak spekulasi.