
Aldi tidak akan membeli senjata itu, tapi dia menyarankan, Simon Hardiman dan Andre Silva untuk membelinya.
Mereka berdua merupakan pembudidaya tenaga dalam tingkat Jingga Akhir, sehingga senjata itu akan bermanfaat untuk mereka.
Hampir semua pebisnis di dunia merupakan ahli beladiri, hal itu karena banyaknya ancaman dari pesaing bisnisnya.
Aldi, teringat Alex yang mulai merintis bisnisnya.
"1000 emas!" ucap seorang Anak Muda.
Semua orang mengalihkan pandangan mereka ke Anak itu.
Anak itu berumur sekitar 10 tahun, mempunyai tinggi 140 cm serta paras yang tampan.
Aldi juga merupakan anak berumur 12 tahun, tapi dia telah tumbuh sangat matang, bahkan pria 20 tahun dapat disandingkan sejajar dengannya.
"Tuan Muda, bukankah itu terlalu berlebihan?." seorang Lelaki Tua disebelah anak itu berbicara dengan ekspresi terkejut.
"Tidak, firasat ku mengatakan bahwa senjata itu sangat cocok denganku!" kata Anak itu dengan tegas.
Lelaki Tua disebelahnya hanya terdiam tidak berani berkata lagi.
Aldi melihat Andre Silva dan bertanya, "Siapa anak itu, Paman?"
"Dia adalah cucu Raja, Situ Morang ... dia merupakan anak yang paling misterius," jawab Andre Silva sambil mengerutkan alisnya.
Situ Morang merupakan cucu Raja Tulungagung. Dia sangat misterius karena sejak berumur 3 tahun, dia sudah menguasai semua mata pelajaran dan berlatih beladiri.
Sudah 5 tahun dia tidak menampakkan dirinya, terakhir kali ketika dia berulang tahun 5 tahun lalu.
Banyak orang berspekulasi bahwa dia sudah mati oleh skema musuh negaranya.
"Aku tidak menyangka bisa melihat Tuan Muda itu lagi," kata Andre Silva sedikit bingung.
"Kenapa begitu, Paman?" tanya Aldi.
Andre Silva mengelus dagunya yang tidak mempunyai jenggot, "5 tahun lalu, ada rumor bahwa dia diterima dalam Perguruan Rahasia."
Perguruan Rahasia merupakan sekelompok pembudidaya, mereka tinggal di suatu daerah yang tidak diketahui oleh banyak orang.
Bahkan setiap orang yang keluar dari Perguruan Rahasia, mereka anak sangat kuat.
Sayangnya tidak ada pendaftaran untuk Perguruan Rahasia, mereka akan memilih muridnya sendiri.
Persyaratan yang harus dipenuhi sangatlah tinggi, yang pasti anak itu harus mempunyai bakat yang mengerikan.
Mendengar penjelasan Andre Silva, Aldi langsung mengidentifikasi tubuh Situ Morang dengan Mata Langitnya.
Teknik itu merupakan perkembangan dari Mata Emasnya.
Aldi tercengang melihat bakat Situ Morang. "Tubuh Yang!"
Tubuh Yang merupakan tubuh yang istimewa, tubuh itu merupakan surga bagi para pembudidaya.
Ada 5 tingkat dalam Tubuh Yang, yaitu Awal, Mendalam, Tinggi, Puncak, dan Sempurna.
Sedangkan Situ Morang merupakan Tubuh Yang Awal, walaupun paling lemah tapi itu jelas tidak ternilai di dunia ini.
Akhirnya senjata itu dimenangkan oleh Situ Morang, tanpa ada perlawanan dari yang lainnya.
Pelelangan berjalan lancar tanpa hambatan. Aldi tidak menawar satupun barang setelah Pohon Dunia.
"Baiklah, Hadirin ... pelelangan hari ini selesai, besok akan diadakan lagi pukul 9 pagi," kata Zuan Shi dengan senyum lebar.
Di depan kapal, Aldi melihat pemandangan laut yang indah. Simon Hardianto dan Andre Silva menemui rekan-rekan bisnisnya.
"Lepaskan!" bentak seorang wanita.
Wanita itu tidak lain adalah pemandu lelang, Zuan Shi.
"Zuan Shi, kenapa kau selalu menolak ajakan ku!" kata seorang pria tampan dengan nada yang kasar.
"Hendra Paula, bukankan sudah jelas!" ucap Zuan Shi.
Banyak orang disekitar melihat kearah mereka.
Zuan Shi bejalan kearah Aldi yang tidak terlalu memperhatikan mereka. "Dia pacarku!" kata Zuan Shi sambil memegang tangan Aldi.
Aldi yang bingung akan situasi ini hanya terdiam.
"Siapa kau bocah!" tanya Hendra Paula dengan nada tinggi.
"Shen Zero," jawab Aldi dengan pelan.
"Terimakasih," kata Zuan Shi.
"Tidak masalah," ucap Aldi melirik Zuan Shi.
"Aku yakin Shen Zero bukan nama aslimu, perkenalkan aku Zuan Shi," ungkap Zuan Shi dengan senyum di bibirnya.
Melihat itu, Aldi berkata, "Tentu, aku Nui Aldi, bisa di panggil Aldi."
Mereka berbincang tentang banyak hal, bahkan masalah yang menimpa Zuan Shi dan Hendra Paula.
Mereka akan dijodohkan jika saling mencintai, tapi Zuan Shi selalu menolak Hendra Paula. Hal itu disebabkan karena Hendra Paula merupakan playboy tingkat dewa.
Setiap hari dia membawa perempuan lain, itu membuat Zuan Shi selalu menolaknya.
"Itu dia, Kakak!" Hendra Paula menunjuk Aldi dengan ekspresi permusuhan.
Hari sudah malam di bagian depan kalau sudah sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja.
"Bocah, sepertinya kau punya nyali," ucap Kakak Hendra Paula.
"Hari Paula, sebaiknya kau tidak mencari masalah di kapal disini," ujar Zuan Shi.
Hari Paula tertawa dan ia berkata, "Zuan Shi, oh Zuan Shi, bahkan jika Kepala Kapal disini ada dia tidak bisa menghentikan ku."
Hari Paula mengangkat tangannya, ia berniat memukul Aldi.
Aldi bukan orang sembarangan, dengan pukulan lemah Hari Paula, tidak akan pernah menggores kulitnya .
Pukulan Hari Paula di tanggap Aldi dengan menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya masih menggenggam gelas berisi teh.
Hari Paula tercengang melihat kejadian itu, ia yakin memukul dengan kekuatan penuh.
Aldi melempar cengkraman tangannya, sehingga Hari Paula sedikit terlempar kebelakang.
Hari Paula bukan orang bodoh, ia segera menyadari bahwa lawan yang dia hadapi bukan orang biasa.
"Bocah, sialan. Beruntung Kakakku tidak memukulmu dengan keras," ucap Hendra Paula.
Berbeda dengan Hendra Paula, Hari Paula mengerutkan alisnya. "Bocah, sebaiknya kau tidak mencari masalah disini!" Hari Paula menunjuk Aldi.
Kata yang ia lemparkan hampir sama seperti Zuan Shi di sebelumnya.
"Sejujurnya aku tidak melihat, apa yang telah kulakukan merupakan tindakan salah," ucap Aldi dengan pelan.
"Anak Muda, sepertinya kau memiliki kesombongan yang tinggi," ungkap seorang Lelaki Tua.
"Paman Hamzah, ini hanyalah kesalahan pahaman," kata Zuan Shi dengan cepat menarik Aldi yang berdiri didepannya.
Lelaki Tua itu adalah Hamzah Paula, ia merupakan petarung beladiri yang disegani disini.
"Nona Shi, ini merupakan urusan keluarga Paula dan Anak Muda itu," ungkap Hamzah Paula sambil menunjuk Aldi.
Dalam situasi ini, Aldi masih tersenyum. Hal itu membuat Hamzah Paula bingung, bahkan penonton yang melihat mereka bertengkar bingung.
Melihat Aldi yang masih tersenyum, Hamzah Paula berkata, "Anak Muda, sepertinya kau keberanian."
Hamzah Paula langsung menyerang dengan pukulan ringan.
Aldi tidak bergerak sedikitpun, ia hanya menangkap pukulan itu dengan ringan.
Kejadian ini sama persis seperti sebelumnya, ia melempar pukulan itu.
"Apa yang terjadi?" Orang itu adalah Kepala Kapal, Pablo Zenetta.
"Kepala Kapal, kita hanya sedikit bermain," ungkap Hamzah Paula.
Sebelum Pablo Zenetta menjawab, Simon Hardiman dan Andre Silva datang.
Mereka berdua datang bersama rekan bisnisnya. Rekan bisnis mereka berniat untuk berkenalan dengan Aldi.
Salah satu rekan bisnis itu berkata, "Shen Zero!"
Hamzah dengan ekspresi tenangnya tidak berubah sedikitpun, berbeda dengan Pablo Zenetta. Nama Shen Zero merupakan orang terkenal di kalangan pasukan khusus.
Kakak Pablo Zenetta memperingatkannya untuk tidak memprovokasi Shen Zero.
Ada misteri yang aneh setelah kompetisi berkahir. Mang De pasukan khusus dari Probolinggo menghilang tanpa jejak.
Setelah diselidiki tidak ada bukti dimana keberadaan mereka, bahkan mayatnya tidak ditemukan.
Ada satu hal yang penyelidik temukan, dia menyinggung banyak peserta kompetisi. Salah satu peserta kompetisi itu adalah Shen Zero dari Harimau Putih yang misterius.