
Dunia Rush All bergetar karena bom yang telah di pasang dalam gerbang Dunia. Namun pasukan Seven Soul masih keluar dari gerbang tanpa terluka.
"Apa yang terjadi?" tanya Sun Hyeon melihat Sun Ryeon.
Sebuah ledakan besar keluar dari sebelah pintu gerbang yang telah disamakan. Akhirnya mereka mengetahui kenapa pasukan Seven Soul berhasil selamat.
Gerbang yang dipakai oleh musuh bukan gerbang yang telah diberikan bom khusus.
"Tidak mungkin. Siapa yang telah berkhianat?" tanya Sun Hyeon dengan naga tinggi.
Dia melihat kearah pria berambut putih yang sebelumnya membuat gerbang menuju Dunia Utama.
Kemampuan formasinya sudah diakui oleh Rong Wei.
"Apa kau menuduhku?" tanya Pria tua itu.
Pria itu bukan anggota pasukan Rush All, dia di undang oleh Rong Yu untuk meningkatkan kualitas senjata pasukan Rush All.
"Aku bisa menjamin bahwa Qin Guan bukan pengkhianat," kata Rong Yu.
"Jika kalian merasa bahwa aku merupakan pengkhianat, maka aku akan pergi. Semoga beruntung."
Qin Guang berdiri dari tempat duduknya dan menuju kearah pintu keluar. Sebelum keluar dia memperingatkan.
"Jangan berharap selamat dari perang kali ini. Orang bermakna Shen Zero itu lebih mengerikan dari yang kalian kira!"
Qin Guan melanjutkan jalannya sambil melambaikan tangan. Dia sudah pernah bertemu dengan anak bernama Aldi.
Walaupun umurnya masih di awal 20 tahunan, dia mempunyai tekanan yang jauh lebih hebat dari Rong Wei.
Perhitungan umur Aldi tidak menentu, jika dihitung melalui waktu Dunia Utama dia masih sekitar 23 tahun.
Namun, jika di hitung umur sebenarnya, dia sudah berumur ratusan tahun.
Kali itu Aldi menawarkan sebuah pekerjaan kepada Qin Guan, tetapi berakhir di tolak. Qin Gung sekarang menyesal karena tidak menerima tawaran Aldi.
Dia bukan orang bodoh, saat Aldi menawarkan pekerjaan padanya. Pastinya Seven Soul tidak mempunyai seorang ahli formasi.
Namun sekarang mereka dapat membuat gerbang Dunia hanya dalam beberapa jam. Artinya Seven Soul sudah mempunyai ahli formasi yang lebih hebat darinya.
"Sayang sekali," pikirnya sambil terus berjalan menuju gerbang Dunia.
Namun di jalan, ada pria dengan baju biru muda bercorak emas. Pria itu adalah Aldi dengan cahaya bulan menerangi, membuatnya tampak sangat menawan.
"Kita bertemu lagi Qin Guan," kata Aldi pelan.
"Tuan, ada kebutuhan apa anda menemuiku?" tanya Qin Guan.
"Apa salahnya menyapa teman lama. Aku hanya ingin melihat orang yang telah kau pilih."
"Sesungguhnya aku salah memilih mereka," ucap Qin Guan sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya.
"Jadi kau sudah tau." Aldi tersenyum melihat Qin Gung mengeluarkan pedang andalannhya.
"Seperti perkataanmu sebelumnya. Jika aku mengganggu kerabatmu lagi, nyawa adalah taruhannya."
Aldi tersenyum lebih lebar. "Benar, tidak ada kesempatan kedua untuk orang yang memilih menjadi musuhku."
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Qin Guan
"Apa itu?" tanya Aldi.
"Aku mempunyai seorang anak asuh di wilayah Kalimantan. Dia merupakan anak yang baik."
Qin Gung menyerang menggunakan pedang. Ketrampilan pedang bukanlah keahlian miliknya, tetapi tekniknya tidak terlalu buruk.
Aldi hanya sedikit membuka matanya untuk menggunakan serangan ilusi.
"Apa?" Qin Guan melihat kepalanya terlepas dari tubuhnya.
Dia tidak menyangka kekuatan Aldi sangat mengerikan. Bahkan bisa menebasnya tanpa terasa.
Tidak berasa air matanya keluar, "Maafkan Aku Liangyu."
Liangyu merupakan anak angkat yang telah dia besaran. Anak perempuan itu ditemukan di sebuah pasar.
Setelah banyak ingatan bersama Qin Liangyu teringat. Dunia mulai retak, "Apa yang terjadi?" tanya Qin Guan kebingungan.
Dia juga mulai menyadari keanehan dalam dirinya. Kepalanya putus dari tubuh, tetapi kesadaran masih ada.
Sebuah suara terdengar di telinga Qin Guan. Kesadaran mulai kembali, tubuh dan kepalanya terhubung kembali.
"Orang yang mengerikan," ucapnya lirih. Dia merupakan pembudidaya tingkat Leluhur dan ahli formasi.
Namun bisa terkena trik ilusi dengan sangat mudah. Bahkan jika lawan ingin membunuhnya, hanya perlu menggerakkan satu jari.
Tidak menunggu lama Qin Guan segera keluar dari Dunia Rush All, dia tidak ingin terlibat dengan orang Gila seperti Aldi.
Bentrok antar Seven Soul dan Rush All pecah, tetapi pasukan Seven Soul seperti menebas sebuah rumput.
Setiap ayunan senjata mereka, memumbangkan pasukan Rush All. Bahkan tingkat Kaisar tidak dapat berbuat banyak.
Perang kali ini seperti pembantaian sepihak. Seven Soul jelas sangat mendominasi.
"Sial, apa yang terjadi?" tanya Sun Hyeon.
Dia melihat bahwa pasukan Rush All tumbang semakin banyak, tetapi tidak bisa membuat sedikitpun kerusakan pada musuh.
"Jadi ini yang di peringatan Qin Guan. Sudah seharusnya kita tidak mengganggu Seven Soul," ucap Rong Yu penuh penyesalan.
Seorang wanita dengan wambut dikuncir terbang menuju istana Rush All. "Sudah terlambat!" kayanya dengan nada tinggi.
Dia adalah Lee Yoen serta 100 orang tingkat Leluhur langsung menyerap istana Rush All.
"Nona Lee, bukankah masih ada jalur diskusi antara kita?" tanya Rong Yu dengan nada pelan.
"Setelah apa yang telah terjadi, sangat sulit untuk memaafkan kalian. Banyak korban tidak bersalah karena kecerobohan kalian."
Ketika bentrok terjadi, pasukan Rush All banyak menyerang orang tidak bersalah. Bahkan diantara mereka ada yang meninggal tanpa tau kesalahannya.
"Kecerobohan apa yang anda maksud?" tanya Rong Yu. Dia tidak mengetahui kebenaran dalam kasus melawan Seven Soul.
Dia hanya mendapat berita bahwa Seven Soul membantu pasukan Rush All. Rong Yu tidak mendapat berita secara utuh.
"Rush All telah membunuh orang tak bersalah, karena tidak dapat membunuh anggota Seven Soul. Mereka melampiaskan pada penduduk sipil yang tidak bersalah!"
"Apa?" Rong Yu langsung menatap tajam kepada Sun Hyeon. Namun dia tidak bisa berbuat banyak.
"Tidak hanya itu, mereka juga menghancurkan pasar. Padahal pasar merupakan tempat mata pencarian masyarakat kecil."
"Jadi sudah tidak ada ruang untuk diskusi?" tanya Rong Yu sekali lagi.
"Tidak!"
"Baiklah," ucap Rong Yu mengeluarkan pedang andalan.
Lee Yoen dan pasukan dibelakangnya menyusul menyerang orang yang berada di dalam istana.
Dalam sekejap pembantaian Rush All telah dilakukan, tidak ada satupun anggota Rush All yang lolos.
Bahkan tikus akan kesulitan menerobos strategi perang Lee Yoen.
Zhou Ming dengan suka rela ikut perang di bagian belakang pasukan. Dia kagum melihat kepemimpinan Lee Yoen dan pasukan lainnya.
"Aku pasti bisa melampauinya!" katanya bertekad.
Seseorang menepun pundaknya, dia merupakan salah satu pria generasi kedua yang bergabung dengan Seven Soul.
Dia tidak memiliki bakat apapun. Namun setelah bergabung dengan Seven Soul, dia berhasil seru ah menjadi seorang pahlawan di desanya.
"Tetap berusaha komandan Zhou. Aku mendengar kalian mendapat kemenangan hebat melawan Negara Achin."
"Terima kasih, Ketua Peng Huaying. Perkataan anda membakar semangat juang saya."
Peng Huaying tertawa kecil. Dia juga menepuk pundak Zhou Ming berkali-kali. "Teruslah berjuang, seperti halnya aku yang akan selalu ingin berwana di sisi Bos."
"Tentu!" ucap Zhou Ming tegas.
Berita tentang tumbang ya Rush All telah terjadi terdengar ke telinga para masyarakat Rahasia.
Banyak masyarakat Rahasia menempatkan seseorang untuk memantau keadaan Rush All, tetapi malah berakhir menjadi lawan Seven Soul.
Mereka tidak dapat kabur dalam perang karena intensitasnya sangat tinggi, bahkan kabur merupakan pilihan yang bodoh.
Sebelum mati mereka berusaha mengirim sebuah pesan agar masyarakat Rahasia tempatnya mengabdi mendapatkan berita.