
Ketika Aldi melihat aura berwarna biru, dia hanya tersenyum tanpa ada ekspresi ketakutan. Tindakannya itu membuat penonton menjadi bingung.
Izza Heru dengan lirih berkata, "Gerbang Sura Pertama : Perubahan."
Setelah mengatakan itu, tubuh Izza Heru mulai menegang dan berubah warna menjadi biru muda. penampilannya sekarang menyerupai manusia setengah sura.
Sura merupakan mahluk legenda di negaranya, Surabaya. Mahluk itu merupakan jelmaan nenek moyang mereka.
Barang siapa yang mempunyai garis keturunan sura, niscaya dia akan menjadi orang yang tersohor.
Semua penonton yang hadir terkejut dengan kekuatan yang ditampilkan Izza Heru.
Perubahan setengah manusia hewan sudah lumrah di kalangan pembudidaya, tapi aura Izza Heru sekarang sangat mengejutkan.
Para pakar yang melihat itu juga terkejut. Banyak dari penonton yang mempunyai kekuatan diatas tingkat Biru.
Melihat kejadian ini Aldi tidak langsung menggunakan kekuatannya, sebaliknya dia memasang sikap seperti seorang petinju.
Aldi menyerang dengan pukulan yang mengandung En tersembunyi.
"Bodoh, anak itu mencari mati!" seorang penonton mengomentari tindakannya.
Izza Heru merasakan tekanan yang berbeda ketika pukulan itu dipancarkan. Dia tidak mau lengah sedikitpun dan membalas pukulan.
Suara benturan pukulan terdengar sangat keras, bahkan sampai ke luar arena pertandingan.
"Apa yang terjadi?" ucap Izza Fatma dengan bingung. Dia tau kekuatan Kakaknya tapi diimbangi oleh anak misterius aneh.
"Nona, Instruktur belum serius!" jawab seorang disebelahnya dengan tegas.
Aldi mulai menyempitkan matanya, dan berkata dengan lirih, "Teknik Langkah Bayangan."
Langkah Bayangan adalah teknik untuk melarikan diri, tapi di tangan Aldi teknik seperti itu bisa menjadi sesuatu yang mengerikan.
Kecepatan gerak Aldi meningkat 20% dari sebelumnua, bahkan pukulannya memancarkan ancaman yang lebih.
Melihat kecepatan Aldi yang meningkat, Izza Heru tidak bisa tinggal diam.
"Gerbang Sura Kedua : Sirip," ucap Izza Heru dengan lantang. Tubuhnya bertansformasi, tumbuh sebuah sirip kecil di sikunya.
Kekuatan Izza Heru yang sekarang hanya sanggup membuka 2 gerbangnya, jadi bisa di asumsikan bahwa dia sudah habis-habisan.
Aldi perubahan itu, ia hanya tersenyum dan mengeluarkan aura berwarna Biru.
Aura itu adalah buatan Aldi dengan memanfaatkan perubahan Energinya.
"Wohh ... Shen Zero itu juga pembudidaya tingkat Biru." Banyak penonton sedang histeris dengan pertarungan sengit itu.
Pukulan saling bertabrakan, darah Aldi maupun Izza Heru bercucuran.
Luka mereka tidak dapat di bilang ringan, tapi mereka masih melanjutkan pertarungan itu.
Banyak teknik pertarungan dilepaskan, tapi tidak ada satupun yang dapat merobohkan yang lainnya.
Pertarungan itu berlangsung 1 jam tanpa istirahat, yang hanya suara benturan pukulan.
"Sepertinya aku sudah tidak bisa melanjutkan, Tuan Muda Izza," kata Aldi yang terengah-engah.
"Baiklah, pertarungan ini bisa kita katakan seri."
Semua penonton mulai mendiakusikan, siapa sebenarnya Shen Zero itu?. Kekuatannya dapat menyamai jenius Izza Heru dari pasukan Sura.
"Sudah selesai berakting?" kata She Haise.
Mendengar itu Aldi tertawa, "Saat ini belum waktunya!"
Pertandingan sebelumnya adalah permainan Aldi, semua langkah sudah diprediksinya.
Semua pukulan Izza Heru tidak mengenai Aldi secara langsung, jadi sebenarnya dia tanpa luka. Untuk darah dan lukanya adalah rekayasa Energinya, sehingga tampak seperti darah dan luka yang sebenarnya.
Suasana di ruang VIP pasukan Sura sangat suram.
"Kakak, apa yang terjadi denganmu?" kata Izza Fatma melihat Kakaknya tumbang.
"Sial, siapa sebenarnya anak itu?" geram Izza Heru tampak marah.
Tubuh Izza Heru sedang mengalami serangan balik yang sangat menyakitkan, karena dia membuka gerbang kedua, penderitaannya sangat menyiksa.
Kompetisi sudah berakhir, semua pasukan sudah pulang menuju negaranya.
Aldi dan semua rekannya pulang melewati hutan. Mereka menggunakan bus untuk sarana transportasi ke bandara.
Suasana malam gelap tanpa penampakan bulan, membuat semua orang diam tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Sebagian rekannya bahkan ada yang tertidur.
Sopir tidak mau mengambil resiko dia memberhentikan busnya.
"Siapa kalian?" tanya Li Sogun.
"Tidak perlu kau tau ... yang perlu kau ketahui adalah dewa kematian menjemputmu hari ini"
Aldi yang berdiri dibelakang Li Sogun dengan senyum aneh berkata, "Paman, serahkan mereka padaku."
"Tapi —"
Pria paruh baya itu memotong pembicaraan mereka, "Sepertinya kau sudah mengerti bocah!"
"Tentu, orang yang kalian incar aku kan?"
"Haha, kamu pintar tapi sayang kematianmu adalah hari ini!"
"Biarkan mereka pergi!" kata Aldi dengan ekspresi datar.
Tanpa peringatan semua orang yang menghadang bus menyerang kesehala arah.
Pasukan yang menyerangnya berjumlah 30 orang, paling lemah diantaranya mereka tingkat Hijau Menengah.
Tanpa berpikir panjang Aldi melepaskan En yang sangat mengerikan, membuat 10 orang jatuh ke tanah dan sebagian besar tidak bisa mendekat.
Teknik Tangan Hayalan dilepaskan, "Sepertinya Dewa Kematiannya adalah Aku!"
Dalam Sekejap mata 21 orang mati tanpa tau apa penyebab kematiannya.
Aldi tersenyum dan terus membantai mereka.
"Setan ..." seorang pria dengan kekuatan tingkat Biru melarikan diri.
Ketika dia ingin melarikan diri, Aldi mengambil tusuk gigi di sakunya. Dia menyentilnya sampai menembua tengkorak orang yang ingin melarikan diri.
Tidak ingin meninggalkan jejak, semua mayat itu dimakan oleh She Haise. Sisa jiwanya juga dapat membantu budidayanya.
Sekarang dia sudah bisa menembua peringkat 6, tapi dia menahannya agar kekuatan tubuhnya maksimal.
Di sebuah cafe dekat bandara, seseorang sedang berpesta. Orang itu adalah Mang De dan rekan - rekannya.
"Harimau Putih pasti sudah lenyap sekarang," kata Mang De.
"Siapa suruh sok kuat di tempat ini," ucap Mang Huang dengan sinis.
Sebuah bus tiba di bandara, tanpa terduga itu adalah pasukan Harimau Putih.
"Apa yang terjadi?" geram Mang Huang.
"Hubungi Pembunuh Bayaran itu!" ujar Mang De dengan ekspresi marah ke salah satu bawahannya.
Pasukan Harimau Putih tiba di depan pasukan Mang De.
"Mang De? aku akan membalas ini!" geram Aldi memandang Mang De.
"Haha, kau terlalu menganggap meninggikan dirimu," jawab Mang De dengan santai.
"Ingat aku, Shen Zero!" kata Aldi dengan ekspresi marahnya.
Pasukan Harimau adalah rekannya, jadi secara langsung menjadi kerabatnya.
Ketika kerabatnya sedang diancam, wajar bagi Aldi untuk marah.
Bagi pasukan Harimau Putih, ini adalah pertama kalinya melihat Aldi cukup marah.
Ketika mereka melihat pembantaian Aldi, membuat bulu kuduk mereka merinding. Bukan hanya soal kekuatan bahkan kekejamannya adalah puncak gunung.
Setelah kejadian itu suasana didalam bus benar-benar hening tanpa suara, bahkan orang yang menghembuskan nafasnya hari sangat berhati-hati.
"Paman, pulanglah terlebih dahulu aku akan menghadiri sebuah lelang di Negara Trenggalek bersama paman Simon," kata Aldi dengan senyum khasnya.
"Apakah itu pelelangan Akbar yang akan dihadiri orang penting si Wilayah Timur?" tanya Li Sogun dengan heran
"Iya, paman Simon mendapat undangan dan dia mengajakku untuk bergabung dengannya," jawab Aldi dengan santai.
"Baiklah, sayangnya aku mempunyai beberapa masalah yang harus di selesaikan, aku harap kita akan bertemu di pelelangan."
"Aku akan menuju pelelangan hari ini juga, Paman"
Aldi mengucapkan perpisahan dan dia tidak langsung berangkat, tapi malah menuju pasukan Mang De.