7 Soul Reinforcement

7 Soul Reinforcement
Pemimpin Burung Merak



Calista kebingungan melihat tubuhnya menjadi kaku, dia mengedarkan energinya untuk memeriksa keadaannya.


Namun semua aliran darah sudah mulai terhambar, darahnya mengental. Aliran energinya mulai tidak stabil.


"Sial," kata Calista dengan wajah serius. Dia tidak menyadari bahwa peluru senjata senapan di lapisi racun yang tidak terlihat.


Zelda mendekat dan memotong kepala mereka semua. Namun semua jiwa keluar mereka keluar dari tubuh.


"Zelda, aku akan membalas kekalahan ini. Seven Soul aku berjanji akan menghancurkan pasukan tercela seperti itu!" teriak Jiwa Calista.


Badan Calista memancarkan sinar terang. Kulit tubuhnya mengembang semakin besar.


Zelda memerintahkan semua pasukannya untuk mundur sejauh mungkin.


Sebuah ledakan yang dapat menghancurkan satu gunung terjadi. 9 ribu pasukan Seven Soul telah terluka, tetapi tidak ada korban jiwa.


Orang yang paling parah adalah Zelda, dia kehilangan kedua tangannya untuk menekan ledakan.


Seorang pria muda menobang tubuh Zelda yang hambir jatuh karena kehabisan energinya. Dia adalah Shen Yi yang telah memperhatikan mereka.


"Kerja bagus!" kata Shen Yi dengan mengacungkan jempolnya.


Zelda tersenyum, kemudian dia langsung pingsan karena semua energinya habis. Shen Yi memberikan pil penyelamat, agar penyembuhan lebih cepat.


Anggota Shadow Blade lainnya juga membantu semua orang yang terluka akibat ledakan bunuh diri Calista.


Jiwa Calista dan sumua pengawalnya terbang menuju markas besar Burung Merak. Mereka ingin segera melaporkan Seven Soul kepada Raja.


Namun dalam perjalanan mereka menemukan seorang laki-laki yang duduk di kursi sambil membawa secangkir teh.


Dia adalah Aldi yang sedang menunggu pelarian jiwa Calista dan para pengawalnya. Bahkan Jiwa pengintai juga ikut.


Dia menatap jiwa yang sedang beterbangan. Untuk orang normal melihat jiwa yang terbang seharusnya tidak dapat dilakukan.


"Bukankah tidak sopan lewat tanpa menyapa, Calista?" kata Aldi dengan senyum tipis.


Semua jiwa menabrak sebuah dinding tidak terlihat. Hal itu sama seperti simbol pengurung jiwa milik Zelda sebelumnya.


Namun kali ini jauh lebih kompleks. Calista kebingungan melihat seorang manusia bisa melihat jiwa yang seharusnya tidak terlihat.


"Siapa kau?" tanya Calista sedikit bingung.


"Sungguh pertanyaan konyol. Aku adalah salah satu anggota Seven Soul yang ingin kamu hancurkan."


Aldi melampirkan tangan, dia mengeluarkan tangan hayalan untuk menangkap jiwa 5 pengawal dan 10 pengintai.


Teriakan mereka sangat keras, tetapi tidak ada yang mendengar teriakan sebuah jiwa tanpa kemampuan khusus.


"Sial, aku harus kabur." Calista panik melihat seluruh jiwa rekannya menghilang. Dia bukan orang bodoh, sebuah jiwa tidak dapat melukai manusia, begitu pula sebaliknya.


Namun pria di depannya dapat menghancurkan jiwa dengan kemampuan khususnya. Dia tidak mengetahui bahwa jiwa rekannya telah di makan untuk dijadikan energi tambahan.


Calista terbang mengitari semua batas simbol pengurung jiwa. Namun dia tidak dapat menemukan jalan kelar.


Karena dia sudah kehilangan pilihan, Calista mencoba peruntungan dengan berbicara dengan lawannya.


Namun sebelum mengeluarkan suara, tangan hayalan sudah menangkapnya.


"Tunggu —"


Sebelum menyelesaikan perkataannya, Calista berteriak karena kesakitan. Semua energi jiwanya di serap Aldi dengan cepat.


"Tidak ada kata ampun untuk orang yang telah menyakiti rekanku," ucap Aldi pelan sambil melihat menyeruput teh di tangannya. Bulan tampak sangat besar menyinari Aldi yang sedang meminum teh.


Seorang pria tua dengan jenggot panjang menghampiri Aldi dengan langkah yang mantap. "Sepertinya aku sudah terlambat," katanya santai.


"Kamu hanya terlambat beberapa menit," jawab Aldi dengan senyum tipis.


Pria tua itu menghela napas, dia tidak menyangka Calista akan mati semudah itu. Bahkan tidak bisa bertahan 30 menit setelah dia mengirim pesan.


"Perkenalkan aku Arwan Singgih, pemimpin Burung Merak." Kakek tua itu segera duduk di depan Aldi.


Aldi sudah mengetahui bahwa Calista telah mengirim pesan. Makanya dia menyiapkan satu kursi tambahan.


Namun siapa mengira bahwa orang yang datang adalah pemimpin tertinggi Burung Merak.


Mereka berdepat tentang tatanan wilayah hingga matahari mulai terbis dari barat. Mereka berdebat tentang manusia yang menjadi kuat tanpa di kontrol oleh tuhan.


Menurut Arwan Singgih manusia itu harus dikontrol agar tidak menimbulkan kerusakan yang sangat besar untuk Dunia.


Sedangkan Aldi berpendapat bahwa membatasi manusia merupakan sesuatu yang tabu, walaupun dia juga menggunakan teknik yang dapat membatasi pergerakan manusia.


"Apa kau tau sang Dewa akan turun untuk menghukum kita?" tanya Arwan Singgih dengan wajah serius.


"Aku tahu, tapi sebagai manusia aku dan rekanku tidak akan terima jika mati tanpa arti yang jelas."


Arwan Singgih memejamkan matanya, sebuah gambaran Dewa menghancurkan seluruh umat manusia di wilayah Sulawesi.


Aldi. Sedikit terkejut melihat pembantaian malaikat bersayap putih membunuh sebagian besar manusia tanpa ampun.


Ternyata yang di sebut dewa bukan seperti yang dibayangkan. Kekuatan mereka hanya di tingkat Pengakuan dan Pemahaman.


Kala itu Arwan Singgih bersembunyi di sebuah gua yang memiliki sebuah aliran air. Karena takut dia tidak pernah keluar dari gua, tidak tau berapa lama Arwan Singgih bersembunyi.


Hingga akhirnya dia keluar melihat para manusia memiliki kekuatan yang sangat lemah, bahkan tidak ada yang mencapai pembudidaya tingkat Biru.


Hal itu membuat Arwan Singgih mendirikan organisasi Burung Merak. Dia mencari talenta hebat untuk mengontrol semua manusia di wilayah Sulawesi.


Banyak masyarakat Rahasia ingin menjalin kerjasama dengan Burung Merak, tetapi selalu di tolak.


Walaupun Burung Merak tidak memiliki hubungan baik dengan masyarakat Rahasia lainnya, mereka masih menjadi organisasi terkuat yang masuk jajaran sepuluh besar.


Aldi menebak bahwa Arwan Singgih merupakan orang dari 150 ribu tahun yang lalu. Manusia biasa tidak akan bisa bertahan selama itu.


Namun sekarang dia menemukan jawaban, Arwan Singgih telah menemukan sebuah gua yang dapat mempertahankan tubuhnya.


Hingga akhirnya dia keluar 300 tahun yang lalu, ketika organisasi Burung Merak pertama di dirikan oleh seorang pria muda yang tampan.


Arwan Singgih dengan giat menjelajah setiap wilayah untuk mencari anak berbakat, akhirnya anak pertama yang di temukan adalah Calista.


Pertumbuhan Calista selalu di pantau Arwan Singgih untuk mengontrool sifatnya agar tidak menjadi manusia yang serakah.


Namun siapa sangka setelah semua kekuasaan di berikan kepada Calista, pembunuhan mulai bertambah besar.


Setiap manusia yang menolak akan langsung di eksekusi tanpa ada peringatan sedikitpun. Sebenarnya Arwan Singgih memerintahkan Calista membawa Rambut Hijau untuk di sembuhkan.


Namun Calista menekan simbol pada Rambut Hijau, hingga akhirnya simbol dalam tubuh aktif membakar seluruh tubuh dan jiwanya.


Kepribadian Calista sedikit melenceng dengan keinginan Arwan Singgih. Namun dia adalah anak pertama yang sudah di anggap sebagai cucunya.


Setiap kesalahan kecil sudah sewajarnya untuk di maklumi. Dengan cara Calista, Burung Merak menjadi organisasi yang sangat besar. Bahkan mencapai seluruh wilayah Sulawesi.


Karena kematian Calista, semua orang yang mendapatkan segel darinya akan bebas. Arwan Singgih memperingatkan Aldi untuk membereskan masalah ini.


"Tenanglah, semua orang Burung Merak yang terbebas dari segel Calista sudah di singkirkan." Aldi meminum tehnya dengan santai.


Arwan Singgih meminum teh untuk menghormati pendapat Aldi. Setelah berdebat dengannya, Arwan Singgih mulai terbuka pikirannya.


Dia merasa bahwa menjalani hidup seperti yang di takdirkan oleh sang penguasa merupakan salah satu kenikmatan dunia.


Jika kita mendapatkan hukuman dewa, artinya perilaku kita sudah keterlaluan.


Aldi juga memberitahu bahwa perang besar melawan Dewa dan Iblis akan segera terjadi. Arwan Singgih tidak mempercayainya, tapi setelah kehancuran tidak ada sejarah yang menulis kerajaan masa kecilnya.


Saat kecil dia merupakan seorang pangeran penguasa wilayah Sulawesi. Namun karena orang yang paling penakut, ketika malaikat datang dia pergi untuk bersembunyi.


Arwan Singgih hanya menggunakan segel kepada 9 orang yang di percaya, 8 diantaranya sudah mati di tangan Seven Soul.


Hanya tinggal satu orang. Arwan Singgih berharap tidak mempersulit perkembangannya.


Seorang pria muda turun dari langit, dia adalah orang yang dimaksud Arwan Singgih.


"Perkenalkan ini adalah cucu ke 3, Kevin Singgih."


"Shen Zero, anggota Seven Soul."


Namun, Kevin Singgih tidak percayai bahwa kakeknya menghormati orang lemah seperti Aldi.


"Kakek, semua anggota Burung Merak sudah dikalahkan oleh pasukan musuh, jika tidak bergerak sekarang Burung Merak akan hancur."


Arwan Singgih sedikit terkejut, dia tidak pernah menyangka bahwa Seven Soul dapat bergerak sangat cepat.


Dalam beberapa jam mereka dapat menghancurkan organisasi Burung Merak sampai kedalam akarnya. Sekarang hanya tinggal dia dan Kevin Singgih yang tersisa.


"Lupakan, Burung Merak sudah tidak dapat di selamatkan."


Seorang wanita cantik bertinggi 150 centimeter turun di sebelah Aldi. Disusul oleh Seekor kucing berwana oranye duduk di meja depan Aldi.


100 pasukan Shadow Blade keluar dari debu yang tidak terlihat. Shie berjalan dengan santai tanpa membunyikan suara.


Awran Singgih dan Kevin Singgih sangat terkejut, mereka tidak menyadari keberadaan orang disekitar kecuali Aldi.