7 Soul Reinforcement

7 Soul Reinforcement
Teknik Jari Dewa



Pertemuan itu sampai malam sehingga Aldi langsung pulang ke rumah menggunakan kendaraan umum.


Pagi hari di rumah Aldi tiba-ada seorang mengetuk pintu.


~Toktoktok.


Aldi membuka pintu ternyata itu adalah Shie.


"Sepertinya kamu sudah berhasil," kata Aldi.


"Tentu, aku orang yang menepati janji." Shie berbicara dengan nada bangga.


"Istirahat lah kita nanti siang akan menemui paman Simon di rumahnya," Kata Aldi dengan menggelengkan kepalanya.


-Kediaman Keluarga Hardiman-


Ada seorang kakek berumur sekitar 75 tahunan yang sedang berbaring ditempat tidur. Dia adalah Samsul Hardiman mantan kepala keluarga.


"Ayah, bagaimana keadaan kakek? " tanya Amir Hardiman.


Amir Hardiman adalah anak dari Simon Hardiman yang sekarang menjadi kepala keluarga.


"Keadaannya cukup memprihatinkan, bahkan dokter tidak bisa merawatnya," kata Simon Hardiman dengan wajah khawatir.


~Toktoktok.


"Ada seseorang ingin bertemu anda kepala keluarga?" kata Aron.


Amir seorang pelayan yang sudah melayani keluarga Hardiman selama 40 tahun.


"Siapa?" tanya Simon Hardiman dengan sedikit wajah marah.


"Dia dipanggil Aldi dan Shie" kata Aron.


Wajah marah Simon Hardiman menghilang dengan sekejap, hal itu membuat Amir Hardiman bingung.


"Suruh mereka menunggu di ruang tamu belakang," kata Simon Hardiman dengan wajah sedikit hormat.


Ruang tamu belakang di peruntukkan hanya kepada tamu VIP.


"Ayah, siapa mereka? " kata Amir Hardiman dengan bingung.


"Mereka hanya anak kecil yang tidak boleh kamu singgung," kata Simon Hardiman dengan wajah serius.


Ketika Aldi dan Shie memasuki ruang tamu didampingi Aron.


"Woahh, ruangan yang mewah," kata Shie dengan takjub melihat dekorasi ruangan itu.


Tanpa menjawab itu Aldi melihat sekeliling banyak lukisan yang menurut nya itu sangat mahal. Guci yang sangat mahal terletak di sudut ruangan dia tahu harga guci itu dari majalah keuangan.


"Selamat datang di gubuk kecilku Aldi , Shie," kata Simon Hardiman


"Kamu bercanda paman aku merasa ini seperti istana kerajaan." Aldi membalas dengan sopan.


"Ini?" Shie bertanya sambil melihat kearah Amin Hardiman.


"Ini anakku Amir Hardiman." Simon berkata sambil memegang pundak Amir Hardiman.


Tiba-tiba ada seseorang masuk keruangan dan mengatakan, "Siapa anak kecil ini?"


"Aries, jaga ucapanmu!" Bentak Simon Hardiman.


Aries adalah petarung jenius yang sudah di ranah kuning atas di umurnya yang 21 tahun wajar jika dia sombong.


Melihat Aldi yang menutup matanya dan menggelengkan kepala Aries menjadi murka. Dengan menunjuk ke Aldi, "Mari bertarung denganku, kita lihat siapa sampah disini."


"Paman, ini?" Aldi bingung menjawab tantangan Aries.


"Sampah tidak tau diri," Aries mengejeknya lagi.


Tapi bukannya takut Aldi malah tersenyum.


"Baiklah, mari kita sedikit bertukar pukulan," Kata Aldi dengan senyum ringan.


"Aku tunggu di ruang bertarung" Kata Aries dengan nada sombong


Akhirnya mereka semua berkumpul di ruang bertarung yang di desain khusus untuk mereka pemakai tenaga dalam.


"Shie, menurutmu siapa yang akan menang?" Simon Hardiman bertanya.


"Aldi!" jawab Shie tanpa ragu sedikitpun.


"Kamu terlalu meremehkan Aries," kata Amir tanpa sedikit kesombongan.


"Kalian meremehkan Aldi, dia monster yang sesungguhnya!" kata Shie dengan wajah sedikit ketakutan.


"Aku sudah 1036 latih tanding bersamanya dan tidak pernah bisa mendaratkan 1 pukulan pun" Kata Shie.


Mendengar kata-kata itu membuat Simon dan Amir tercengang. Mereka tau Shie adalah petarung yang kuat bahkan menghadapi Mo Feng tanpa mengeluarkan keringat tapi dia tidak pernah menang melawan Aldi. Artinya ada satu kepastian kekuatan Aldi tidak terduga.


"Seberapa kuat dia?" Amir bertanya.


"Aku tidak tau," kata Shie sambil menggaruk kepalanya.


Pertarungan di mulai ketika Aries menyerang dengan telapak tangannya. Aries menyerang bertubi-tubi tapi dia hanya memukul angin.


Aldi adalah seorang ahli menghindar dan melarikan diri jadi serangan Aries seperti bermain dengan anak-anak.


"Apa yang terjadi, Ayah?" kata Amir Hardiman dengan bingung melihat pukulan Aries tidak mengenai targetnya.


"Singkatnya dia menghindari dengan tepat dan perhitungan yang matang," kata Simon Hardiman memegang dagunya.


"Setelah aku banyak berlatih bersama Aldi sebenarnya dia tidak menghindar sebaliknya dia tidak melawan," Kata Shie dengan ekspresi serius.


Shie menjelaskan bagaimana prosesnya. Serangan Aries sangatlah bagus tapi setiap pukulannya mengandung tekanan di depan kepalanya. Memanfaatkan hal itu Aldi dapat menghindar dengan sempurna.


Pukulan yang dianggap baik oleh Aldi ketika pukulan itu lebih cepat dari tekanan udara. Karena itu pukulannya tidak akan mendapat serangan balik dari tekanan udara yang terbawa.


"Kamu punya bakat sampah, sampai kapan kamu menghindar." Aries yang kelelahan masih bisa melemparkan kata-kata memprovokasi.


"Baiklah mari kita mulai, aku memprediksi sebelum kalah, kamu akan menari dengan aneh," kata Aldi dengan senyum jahatnya.


Aldi mulai menyerang dengan jari telunjuknya. Pukulannya benar-benar hening Simon Hardiman hanya sedikit melihat prosesnya.


Teknik Jari Dewa


2 titik, Aldi melangkah dengan kaki kananya didepan dengan jari telunjuknya di dada seperti memegang sebuah pedang. Dia menyerang 2 kali tanpa di ketahui jalur pukulannya.


4 titik, Aldi tidak selesai dengan itu sama seperti serangan berikutnya dengan waktu yang sama dia memukul 4 titik berbeda.


8 titik, Serangan ini sangat hening bahkan Simon tidak tau berapa kali Aldi memukul.


16 titik, kekuatan ini berbeda sari sebelumnya yg penuh aura ini benar-benar sunyi.


Setelah selesai dengan serangannya Aldi menutup matanya dan berdiri tegap.


Tanpa terduga Aries yang tidak bergerak dari tadi menari aneh seperti kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan.


Aries menangis karena tidak tau apa yang terjadi dengannya.


"Paman Simon tolong aku ..." dengan tangisan Aries meminta tolong.


Ketika Aldi membuka mata dia jatuh tanpa sedikitpun darah keluar darinya. Aries merasakan sakit yang luar biasa dan akhirnya tidak sadarkan diri.


Tercengang semua orang yang hadir menonton pertandingan yang awalnya penyerangan sepihak tiba-tiba terbalik.


"Apa itu tadi, Shie?" tanya Amir melihat teknik Aldi yang sangat mengesankan.


"Itu teknik memukul titik vital dengan cepat sehingga efek serangan akan tertunda," jelas Shie.


"Apa itu berbahaya? " kata Simon Hardiman.


"Jika itu hanya 16 titik Aries tidak akan mati mungkin hanya perlu dirawat satu bulan," kata Shie dengan tenang.


"Mungkinkah ada tingkatan lebih tinggi? " kata Amir yang tampak tertarik.


"Aku pernah merasakan 32 titik dan itu membuatku sangat kesakitan jika tidak dirawat Aldi, pasti aku bisa lumpuh seumur hidup," kata Shie dengan ekspresi serius.


"Apa?" Simon Hardiman kaget.


"Jangan terlalu kaget dia juga pernah menjelaskan jika 64 titik dapat langsung membunuhku dengan kekuatanku saat itu dan jika 128 tubuhku akan lembut," jelasnya dengan ekspresi tenang.


"Mungkinkah dia bisa menggunakan 128 titik?" tanya Amir Hardiman dengan serius.


"Aku pikir dia belum bisa, 64 titik sudah sangat menguras kekuatannya," kelas Shie dengan menggelengkan kepala.


"Teknik yang mengerikan," kata Simon Hardiman.


Setelah pelayan menolong Aries yang tidak sadarkan diri. Aldi datang untuk membantu Aries karena dia tida mau ada permusuhan yang lebih lanjut. Dia mengambil pil untuk membantu penyembuhannya.


"Sepertinya aku yang menang, Paman Simon," Aldi berkata dengan senyum di wajahnya.


"Aku tidak menyangka kamu sekuat ini, Aldi" Kata Simon Hardiman.


"Aku hanya beruntung bisa menang," Jelas Aldi seperti tidak terjadi apa-apa.


Hanya dengan melihat tekniknya Simon Hardiman tau bahwa dia bukan tandingan Aldi. Dia tau bahwa kekuatan Aldi diatasnya padahal dia masih berumur 9 tahun. Amir yang sudah berumur 17 tahun bahkan belum bisa mengalahkan Aries dengan mudah.