
Energi aneh yang berbentuk manusia yang mempunyai banyak segel di tubuhnya di keluarkan Nur Andi. "Aldi, alihkan perhatian ibumu. Aku akan mencoba menyelamatkannya dengan kekuatan yang aku punya!" katanya dengan nada percaya diri.
Aldi memperhatikan aliran energi yang ada di dalam tubuh ayahnya. Dia tidak mengetahui bahwa ayahnya akan mati setelah menggunakan tekniknya.
Walaupun menghisap energi kehidupan, seharusnya teknik seperti itu tidak akan membahayakan tubuh ayahnya.
"Baiklah, ayo kita mulai!" kata Aldi dengan penuh semangat.
Dengan pedang kematian, Aldi menyerang Alice yang sudah melepaskan segel Nara. Setidaknya dia harus membuat ibunya sekarat baru bisa menghilangkan kekuatan Nara.
Nur Andi dengan teknik Dewa Kematian menyerang dengan kedua pedangnya. Untuk mengaktifkan segelnya, Nur Andi mempunyai 3 batasan.
Pertama, dia harus mempunyai darah targetnya. Yang kedua matanya harus bisa melihat target serangnya. Sedangkan terkahir adalah pengorbanan kehidupannya.
Untuk mendapatkan darah Alice, Nur Andi harus menyerangnya dengan kedua pedangnya. Namun siapa sangka, kulit Alice sangat keras, bahkan pedangnya tidak dapat menggoresnya.
"Manusia hina, aku sudah memperingatkan. Jangan salahkan aku jika seluruh jiwa dan ragamu menghilang!" kata Nara.
Karena kesadaran Alice sudah redup, maka Nara bisa mengendalikan tubuhnya dengan sangat baik. Dengan jentikan jari, Nara mengeluarkan sebuah bola energi dari jari telunjuknya.
Hanya dengan sedikit usaha, dia melempar bola energi itu kearah Aldi dan Nur Andi.
"Jangan sampai terkena bola aneh itu!" kata Nur Andi.
Berbeda dengan Aldi yang sedang menganalisa teknik bertarung Nara. Setelah berhasil menganalisa, dia menjentikkan jarinya dan mengeluarkan bola energi yang sama.
Namun kekuatan yang dia keluarkan jelas bukan cahaya, melainkan kegelapan yang sangat pekat.
Kedua bola energi bertabrakan, membuat simbol penghalang yang dibuat Gaia hancur berkeping-keping.
Nur Andi yang melihat anaknya berhasil meniru kekuatan musuh hanya dalam hitungan detik membuatnya tidak percaya. Bahkan jika dia adalah Axel, tidak mungkin meniru tekniknya.
Untungnya Axel tidak melihat pertarungan karena sedang bertarung dengan Raja Neraka dan Adolf. Jadi Aldi bisa bertarung menggunakan semua kartu as yang dimiliki.
"Kamu bisa menggunakan teknik yang mirip denganku, Manusia. Baiklah mari kita lihat seberapa kuat dirimu!" kata Nara mengangkat sudut bibirnya.
Nara mengayunkan tangannya, orang biasa tidak akan bisa melihat serangannya. Namun Aldi berbeda, dia telah menguasai ruang dan waktu.
Serangan Nara berada dalam ruang, jadi tidak bisa di lihat oleh mata telanjang. Dengan mengandalkan pedang kegelapan, Aldi memotong serangan Nara yang mengarah padanya.
Setelah berhasil memotongnya, Aldi meniru teknik sebelumnya menggunakan ayunan pedang kegelapan. Bedanya tenaga yang dikeluarkan pedang kegelapan lebih kuat dari Nara.
Senyum Nara semakin lebar ketika tekniknya di tiru oleh musuhnya. Dengan ayunan tangan Nara berhasil menghentikan serangan Aldi menggunakan pedang kegelapan.
Dia menghilang dan muncul tepat di depan Aldi, tinjunya langsung menyantap Aldi dengan telak. Namun anehnya, Aldi sudah bersiap dengan posisi bertahan.
Pertarungan jarak dekat diperlihatkan Nara dan Aldi. Sayangnya Nara lebih kuat, sehingga pertarungan berakhir dangat cepat. Aldi terbang puluhan kilometer jauhnya karena terkena satu pukulan dari Nara.
Nur Andi yang masih membakar kehidupannya muncul di depan Nara dengan kecepatannya. Dia langsung memegang tangan Nara dan mengayunkan pedangnya untuk menyerang.
Dengan sedikit gerakan Nara berhasil menghindar. Dia merasakan ada yang aneh dari gerakan Nur Andi, jadi lebih baik menghindar.
Serangan Balasan membuat tubuh Jagat Raya hampir hancur karena Nara menggunakan sebagian besar kekuatannya. Dia sudah tidak bisa bermain-main dengan kedua orang yang tidak dikenal.
Aldi berhasil menstabilkan tubuhnya, dia menggunakan ruang dan waktu untuk muncul di sebelah Nara. Dengan pukulan yang kuat, Aldi memberikan serangan balasan.
Sebelum tinjunya mengenai Nara, Aldi menghentikan waktu disekitarnya untuk memberikan serangan yang lebih telah. Namun siapa sangka pukulannya tembus dari tubuh Nara.
"Kamu pikir mudah memanipulasi waktu di depan penguasanya?" kata Nara dengan nada penuh percaya diri. Dia adalah pengguna waktu yang sangat kuat, bahkan bisa menyebut dirinya penguasa waktu.
Aldi tersenyum manis mendengarnya. "Seperti yang diharapkan dari Sang Pencipta, kamu memang lawan yang sangat kuat. Namun tubuh itu adalah milik ibuku, jadi aku akan menolongnya!" katanya dengan nada penuh semangat.
"Oh, jadi wanita yang menjadi wadah ini adalah ibumu. Pantas saja kamu bersikeras bertarung denganku untuk mengambilnya kembali, tapi sayangnya Jiwa dalam tubuhnya telah hilang tidak mungkin menyelamatkannya," kata Nara sambil tertawa kecil.
Nur Andi dan Aldi tidak menyerah, mereka yakin bisa menyelamatkan Alice dari pengaruh Sang Pencipta yang sesungguhnya.
Aldi menggunakan kekuatan simbol untuk membuat penghalang di sekitar Nara. Dia menggunakan warisan Moris untuk mencoba mengalahkannya.
"Menarik, kamu juga berhasil menggunakan simbol yang mirip dengan orang yang aku kenal. Mari kita lihat semua kemampuanmu, sebelum mengakhirinya," kata Nara pelan.
Aldi yang mendengarnya langsung melepaskan beberapa simbol warisan Moris yang digunakan untuk menyerang lawannya.
Dia tidak menggunakan ruang karena ingin Nara fokus kepada dirinya daripada simbol yang di lempar.
Benar saja, Nara lebih fokus kepada Aldi dan melupakan simbol aneh yang dia pasang di atas untuk menyerang Nara.
Aldi mengayunkan pedangnya, Nara bersiap menangkis serangannya. Tiba-tiba tubuh Nara tidak bisa bergerak, Aldi dengan pedang kegelapan dengan mudah melukainya.
Terdapat darah Nara di pedang kegelapan, Nur Andi langsung menghampiri Aldi dan mengambil darah tersebut. Kemudian mengoleskannya ke telapak tangan sebelah kiri.
Sebelum mengaktifkan kekuatannya, Nur Andi memeluk Aldi yang menandakan perpisahan. Awalnya Aldi tidak mengetahuinya, setelah Nur Andi berlari ke depan Nara yang tidak bisa bergerak sementara waktu.
Sebuah bayangan Dewa Kematian yang dari tadi mengambil energi kehidupan Nur Andi mulai aktif. Energi kehidupannya dengan cepat terkuras, bahkan rambutnya berubah menjadi putih, sama seperti Dewa kematian.
"Aldi, hidup bukanlah pilihan. Namun tanggung jawab yang harus dilakukan. Jangan menganggap pilihanku adalah sesuatu yang salah," kata Nur Andi tanpa memandang Aldi yang ada di punggungnya.
"Teknik Dewa Kematian : Buka!" teriak Nur Andi dengan penuh semangat untuk menyelamatkan istrinya.
Dewa kematian yang awalnya berdiam diri di punggungnya mulai bergerak. Ia menggenggam Nara yang tidak bisa bergerak, kemudian membuka mulutnya dan mengambil energi kehidupan lawannya.
Nara yang kebingungan karena tidak bisa menggunakan satupun tekniknya berteriak, "Sialan, apa yang kamu lakukan!"
"Jangan seperti itu, Alice tidak pernah berkata kasar di depanku!" kata Nur Andi sambil tersenyum manis memandang tubuh Alice yang sudah menjadi bagian Sang Pencipta.
Nara menggunakan segala cara untuk lepas dari kekuatan Dewa Kematian, namun semua yang dia lakukan tidak membuahkan hasil.
"Aku tidak boleh mati sebelum mengehentikan Sang Peramal, tolong ampuni aku," katanya tanpa sadar meneteskan air mata. Dia sudah berjanji kepada seluruh rakyatnya untuk menghentikan Axel setelah berhasil dibangkitkan.
Nur Andi tersenyum manis. "Kamu memiliki kekuatan yang hebat, kenapa tidak memberikannya kepada bocah yang di sana. Kemudian memberikan tanggung jawab padanya?" tanyanya pelan karena energi kehidupannya mulai menipis.
"Baiklah, aku akan melakukannya. Segera lepaskan teknik aneh ini."
Sayangnya Nur Andi tidak tertipu oleh Nara, dia tetap melanjutkan tekniknya. Apapun yang dipilih kekuatan Nara akan terserap oleh Dewa kematian. Sebelum akhir hayatnya, Nur Andi bisa menyalurkan kekuatannya kepada Aldi.
Senyuman Nur Andi terlihat sangat manis dengan wajah keriput dan rambut yang hampir rontok semuanya. "Sebagai seorang suami, aku diwajibkan untuk menolong istriku. Anggap saja kamu melawan orang yang salah," katanya.
Jiwa Nara sepenuhnya di segel dan sebagian kekuatannya telah diambil Nur Andi. Alice tidak sadarkan diri karena telah mendapat segel secara paksa.
Nur Andi membantu membawa tubuhnya dan berjalan menuju Aldi yang tampak tegar berdiri di belakangnya.
"Nak, rawatlah ibumu." kata Nur Andi sambil memberikan tubuh Alice. Walaupun Jiwa Alice sangat lemah, Aldi masih bisa menyelamatkannya.
Tanpa sadar, Nur Andi memberikan sebuah segel pada dahi Aldi. Kekuatan sang Pencipta yang dia curi di kirim kepadanya. Bahkan sebagian ingatan telah berhasil diambil.
"Ini adalah hadiah perpisahan, semoga kamu hidup lebih baik," kata Nur Andi tersenyum manis. Tubuhnya tampak transparan dan menghilang ke udara.
Hari ini akan menjadi titik balik alam semesta, karena pasukan Sang Pencipta benar-benar telah dihapuskan. Sekarang hanya tinggal pasukan penghancur yang di pimpin oleh Sang Peramal.
Aldi segera menuju Dunia Buatan untuk menyembuhkan Alice yang susah payah diselamatkan ayahnya. Walaupun tampak sedih, Aldi harus tegar karena semua sudah menjadi jalannya.
Disisi lain, Raja Neraka sudar kelelahan menghadapi Axel. Lukanya terlihat di sekujur tubuhnya, bahkan satu matanya sudah terlepas dari tempatnya.
"Sepertinya yang diharapkan dari Sang Peramal, kamu sangat kuat. Namun semua telah direncanakan, aku akan menunjukkan kekuatan penuh milikku!" kata Raja Neraka dengan senyum aneh.
Adolf berdiri didepannya dan memberikan kekuatannya kepada Raja Neraka. Dengan pengorbanan, dia berharap Raja Neraka dapat melukai Axel lebih parah. Jika beruntung mungkin dia bisa membunuhnya.
Walaupun sangat sakit, Adolf masih tersenyum puas melihat Axel yang tidka pernah terluka mendapatkan beberapa luka di sekujur tubuhnya.
Adolf mulai terlihat transparan, dia telah kehilangan semua jiwa dan raganya. "Jangan mengecewakan aku, Raja Neraka," katanya pelan.
Untuk terakhir kalinya Adolf menyebutkan nama Raja Neraka. Sebelumnya dia selalu memanggil Raja atau Tuan.
"Teknik Prinsip Jiwa : Gerbang Kematian!" kata Raja Neraka menyebutkan nama keterampilan terlarang untuk seluruh anggota Seven Soul. Siapapun yang menggunakannya akan mati tanpa ada pengecualian.
Bahkan Aldi tidak bisa menyembuhkan orang yang sudah menguras seluruh energi kehidupannya.
"Jangan khawatir, aku akan segera menyusul, Adolf."
Axel yang melihat ancaman dari Raja Neraka tanpa sadar melangkah mundur. Dia ingin menjaga jarak dengannya, tetapi setelah melihat detail kekuatan musuhnya.
"Haha, kamu mengorbankan hidup hanya untuk melukaiku. Menarik, majulah!" katanya dengan nada percaya diri.