
Aldi sedang memikirkan untung membawa burung itu ke Dunia Buatan, tetapi dia tidak mau mencuri burung itu.
"Paman Made, jika aku ingin burung Curik itu apa yang harus aku lakukan?" tanya Aldi memandang Made yang sedang berada di sebelahnya.
"Nak, sebaiknya kamu jangan membeli dalam bentuk burung, aku sarankan membeli dalam bentuk telur. Banyak pengunjung yang ingin membawa burung Curik malah menjadi tahanan di kerajaan Dewata." Made menjawab dengan ekspresi serius.
Telur burung di jual bebas, sedangkan untuk burung Curik dilarang untuk dijual atau ditangkap.
Hal itu karena menetaskan telur burung Curik sangat susah di wilayah Dewata. Aldi mengetahui kenapa burung itu susah untuk menetas di wilayah Dewata.
Ada sesuatu yang ane di atas langit wilayah Dewata, itu adalah penyebab sulitnya burung Curik untuk menetaskan telurnya.
Walaupun burung Curik mempunyai puluhan telur setiap tahun, tetapi yang berhasil menetas hanya 3 telur.
Karena itu banyak orang mencari telur burung Curik yang tidak menetas kemudian menjualnya.
Kebanyakan telur tidak dapat menetas lagi, tetapi jika beruntung bisa mendapatkan telur yang dapat menetas menjadi burung Curik.
Made juga mengusulkan untuk tidak menetaskan di wilayah Dewata, karena jika menetas di wilayah Dewata harus diserahkan ke Raja.
Aldi mengetahui maksud Made, karena kesetiaan kepada kerajaan dia tidak memberikan informasi yang valid kepada Aldi.
Jika membeli telur kemudian menyimpan sampai keluar wilayah Dewata, dipastikan telur akan membusuk dan tidak akan bisa menetas.
Aldi berencana untuk pergi ke pasar terdekat, dia ingin menjual pil kebugaran tubuh yang baru dibuat.
Menurut informasi yang diberikan paman Made, pil yang dapat meningkat kebugaran tubuh dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi.
Aldi dan shen Haise berpamitan kepada paman Made, mereka akan berangkat menuju pasar Bale Agung.
"Haise, sebaiknya kamu berubah wujud menjadi sesuatu yang susah untuk dilihat, aku ingin kau mencari informasi tentang telur burung Curik."
Shen Haise berubah menjadi asap hitam yang tersamarkan oleh udara disekitar.
Untuk sampai di pasar Bale Agung, membutuhkan waktu 6 jam berjalan kaki. Namun, Aldi hanya membutuhkan 2 jam menggunakan kemampuan terbangnya.
"Mengingatkanku kenangan saat pertama kali mengunjungi pasar tradisional Gurah yang sangat ramai."
Pasar yang telah memberikan kenangan tentang mengumpulkan uang pertama kalinya di dunia ini.
Aldi masuk gerbang pasar sendirian, Shen Haise pergi kearah berbeda untuk mencari informasi keberadaan telur burung Curik.
Setelah beberapa saat berkeliling, akhirnya Aldi menemukan sebuah rumah obat. Dia mencoba menjual 5 butir pil kebugaran.
"Paman, aku ingin menjual pil kebugaran," kata Aldi sambil memberikan pil kebugaran buatannya.
Penjual itu memeriksa pil dengan seksama, ada sedikit ekspresi jahat di raut wajahnya. Aldi menyadari hal tersebut.
"Nak, aku belu dengan harga 10 emas setiap pil." kata pemilik rumah obat.
Aldi mengetahui bahwa itu bukan harga sebenarnya dari pil kebugaran, dia mempunyai siasat untuk menjualnya dengan harga murah kepada toko lainnya.
"Bagaimana jika 25 emas per butir, Paman?" kata Aldi dengan ekspresi memohon.
Ekspresi pemilik toko obat masih sangat cerah, artinya harga 25 emas itu sangat murah.
Aldi mendapatkan uang 125 emas, uang itu dapat membeli makanan 2 minggu untuk paman Made.
Harga satu karung beras adalah 100 emas, dengan harga sayuran yang sangat murah karena banyaknya petani di daerah ini.
Aldi mencari toko obat lainnya, dia menjual dengan harga 30 emas setiap butir. Namun, ekspresi pemilik toko masih mengisyaratkan bahwa dia memiliki keuntungan besar.
Toko pertama Aldi menjual 5 butir pil dengan harga 25 emas, sedangkan yang kedua dia menjual 10 pil dengan harga 30 emas.
Dalam sekejap Aldi mengantongi 420 emas. "Sepertinya dengan uang ini, aku cukup kaya, hehe" gumam Aldi.
Dia menunggu beberapa saat, untuk melihat para pemilik toko obat menjual pil kebugaran.
Hanya dengan beberapa jam 15 pil kebugaran terjual bersih dengan harga 50 emas perbutir. Aldi mengingat siapa saja yang telah membeli pil tersebut.
Aldi akan menawarkan pil kebugaran ke semua orang yang telah membeli, dia mengingat ada seseorang yang membeli 7 butir pil.
Aldi mengikutinya sampai di luar gerbang pasar.
"Sebaliknya kau keluar!"seorang Pengawal meneriakkan kata dengan nada kasar.
Aldi tidak menyembunyikan keberadaan dengan benar, dia sengaja untuk membuat kesalahan agar pengawal itu dapat menyadarinya.
"Aku hanyalah pedagang, tolong jangan kasar. Aku mempunyai 50 butir pil kebugaran yang sangat kamu cari." Aldi berkata dengan suara serak, serta wajahnya sedikit diubah agar tampak seperti orang tua.
"Kakek, aku membeli pil itu untuk ayahku yang akan berperang di perbatasan, jadi aku hanya ingin pil berkualitas terbaik."
Aldi menunjukkan pil kebugaran yang lebih baik daripada yang telah di jual di rumah obat.
Ekspresi pengawal dan tuan muda terkejut, pil kebugaran dengan kualitas seperti itu sangat sulit ditemukan.
"Aku adalah orang yang menjual pil itu kepada pemilik toko. Namun, mereka menipuku dengan harga murah. Makanya aku memberikan pil yang cukup buruk."
"Berapa yang kamu inginkan, Kek?"
"Aku percaya Tuan Muda akan memberikan harga yang masuk akal."
Diskusi singkat mereka membuahkan hasil yang memuaskan bagi Aldi. Setiap butir telur dijual seharga 70 emas.
Kali ini uang Aldi telah mencapai 3920 emas, jumlah itu sangat banyak jika dibandingkan dengan masyarakat biasa.
Setiap panen, paman Made hanya menghasilkan 2000 emas. Untuk tanam sampai ke panen membutuhkan 4 bulan.
Sekarang Aldi mendapatkan lebih dari 3 ribu emas dalam satu hari. Inilah pentingnya pengetahuan dan ketrampilan dalam menciptakan peluang bisnis.
Ketika Aldi ingin meninggalkan mereka, Tuan Muda memanggilnya, "Kakek, jika kamu bisa membuat pil seperti itu, maka ikutlah denganku. Organisasi kami akan membayar tinggi setiap usahamu."
Aldi tersenyum, hal itu merupakan tujuan utamanya untuk menjual pil obat kepada orang kaya yang mempunyai banyak informasi tentang wilayah Dewata.
Mendengar tawaran itu, Aldi tidak dapat menolaknya.
Mereka menuju ke markas besar organisasi Batu Agung. Dalam perjalanan Aldi menanyakan beberapa informasi tentang wilayah Dewata.
Tuan muda itu bernama Gung Jendra, dia merupakan anak dari ketua militer bagian barat daerah Bali.
Organisasi militer di wilayah Dewata dibagi menjadi 4 yaitu Barat, Utara, Selatan, dan Timur.
Hanya keturunan bangsawan yang memiliki 2 suku kata untuk nama mereka.
Gung Jendra memiliki kekuatan tingkat Hitam Awal. Umurnya yang masih 23 tahun dengan pencapaian itu, dapat disimpulkan bahwa dia juga merupakan anak yang jenius.
Mereka melewati gerbang aneh yang terdapat patung dengan ukiran yang sangat mendetail. Aldi terkejut setelah menggunakan energinya untuk memeriksa tempat ini.
Energinya yang murni akan sangat dideteksi orang lain, makanya dia dengan percaya diri melakukan hal itu.
Tempat kediaman keluarga militer barat 37 kali lebih besar dari kediaman keluarga Li. Bahkan dengan berjalan kaku dari ujung sampai ujung membutuhkan waktu 9 jam perjalanan.
Sampai di depan pintu masuk kediaman keluarga Gung, Aldi merasakan sesuatu yang aneh. Ekspresi Gung Jendra berubah menjadi sangat sopan.
"Ayahanda, saya membawa orang yang mampu membuat pil kebugaran dengan kualitas yang sangat baik."
Gung Jendra mengatakan itu di depan pintu masuk ruang pemimpin organisasi, Gung Koster.
"Jendra, aku sudah memberimu kebebasan. Namun, kamu masih terlalu naif dengan percaya kepada orang yang tidak menyakinkan seperti itu."
Aldi tidak menunjukkan kekuatannya, jadi wajar jika Gung Koster menganggapnya orang yang lemah dan tidak dapat dipercaya.
Kekuatan Gung Koster merupakan tingkat Setengah Langit tahap 7. Karena perkataan kasarnya, dengan satu tamparan ringan Aldi dapat membunuhnya.
Namun, hal itu tidak bisa dilakukan. Aldi harus mencari orang yang dapat diandalkan di wilayah Dewata.
"Ayahanda, tolong lihat pil kebugaran yang telah aku beli Kakek Aldi."
Penyamaran Aldi sangat sempurna, dia memperkenalkan diri dengan nama aslinya.
Setelah melihat pil kebugaran dengan kualitas yang sangat memuaskan, Gung Koster mempersilahkan Aldi untuk menuju kamar khusus tamu terhormat.