
Aldi dan Shie mengunjungi bank BBA cabang kota Pare untuk menabung sebagian besar uangnya kemudian mereka melanjutkan ke Stasiun. Mereka memilih menggunakan kereta api karena mereka ingin menikmati perjalannya. Dia ingat dari provinsi Madya ke Desa Kebonsari membutuhkan waktu 1 tahun perjalanan kaki. Namun sekarang hanya membutuhkan 7 hari naik kereta api bahkan hanya 1 hari menaiki pesawat terbang.
-Stasiun Bandar-
“Akhirnya kita sampai” kata Shie sambil meregangkan badannya.
“Baiklah, sepertinya aku punya rencana?” kata Aldi dengan melihat Shie dengan tatapan licik.
“Aku ingin kamu menjelajah wilayah ini sendiri sedangkan aku akan menjelajah wilayah sebelah,” kata Aldi dengan senyuman khasnya.
“Apa? Kenapa? Apa yang salah denganku?” kata Shie yang bingung bagaimana harus merespon perkataan itu.
“Aku ingin kau mengalami pengalaman hidup sendiri, kita akan bertemu di wilayah sebelah 4 bulan lagi, sekaligus pendaftaran sekolah,” kata Aldi.
Aldi memberikan 20 koin emas dan memperingatkannya agar sebisa mungkin hidup dengan itu selama 4 bulan. Tidak lupa Aldi menjelaskan sebisa mungkin jangan menggunakan uang pribadinya jika tidak terpaksa.
4 Bulan Berlalu
“Sepertinya kamu sangat baik Shie,” ejek Aldi melihat muka Shie yang tampak kusut.
Dengan ekspresi suram Shie berkata, “kota yang tidak manusiawi.”
Dalam perjalanan Shie dia menghabiskan 20 emasnya hanya dengan 1 bulan. Dia banyak memberikan uangnya ke pengemis dan membantu orang yang dia temui tanpa pandang bulu. Tindakannya itu memancing banyak niat jahat untuk menipunya. Bahkan sekarang dia menghabiskan uang sakunya 40 emas. Dengan uang 60 emas itu dapat membeli rumah super mewah beserta isinya di kota Bandar.
“Haha, jadikanlah itu pengalaman hidupmu,” kata Aldi dengan tawa terbahak-bahak
Aldi memberi 20 emas kepada Shie untuk uang sakunya jika ingin menjelajah lagi. Setelah 4 bulan dia mencari informasi yang ia butuhkan.
Kota Bandar mempunyai 2 Wilayah yaitu Bandar Lor dan Bandar Kidul. Bandar Lor mempunyai Bandara dan juga banyak sekolah sedangkan Bandar Kidul ada Stasiun dan banyak pedagang.
Aldi membeli rumah kecil di perbatasan wilayah Bandar Lor dan Kidul. Rumah itu tidak terlalu besar seukuran rumah mereka di desa bedanya itu tidak mempunyai halaman yang luas.
“Taruh barang mu, kemudian kita akan mendaftar ke sekolah," kata Aldi sambil membuka pintu rumah.
Setelah menghela nafas Shie berkata, “Biarkan aku istirahat sebentar.”
“Istirahatlah,” kata Aldi dengan penuh prihatin.
Setelah Shie beristirahat mereka menuju ke Sekolah Menengah 1 di kota Bandar.
-Sekolah Menengah 1 Bandar-
Mereka turun dari bus di depan pintu gerbang sekolah.
Penjaga gerbang sekolah mendekatinya dan bertanya, “Adik, ada yang bisa dibantu?”
Mendengar itu mata Aldi memandang tanda pengenal bernama Wahyu Wicaksono.
“Saya ingin mendaftar sekolah disini, Pak” kata Aldi dengan sopan tanpa sedikitpun kesombongan.
Tanpa menunggu jawaban penjaga gerbang sekolah Shie berkata “Saya juga, Pak.”
“Didepan ada pintu pertama adik bisa masuk dan bertanya kepada ibu guru di sana,” kata Wahyu Wicaksono.
~Toktok Aldi mengetuk pintu sekolah.
“Selamat pagi, Bu,” kata Aldi yang melihat seorang.
Seperti biasa mata Aldi tidak bisa lepas mencari melihat tanda pengenal orang itu bernama Eni Suparti.
“Iya, selamat pagi ada perlu apa, Dik?” kata Eni Suparti.
“Saya ingin mendaftar sekolah,” kata Aldi dan Shie bersama.
Eni memberikan formulir pendaftaran sebanyak 5 lembar yang harus mereka isi semua. Setelah mengisi formulir mereka diarahkan untuk membayar administrasi.
Akhirnya semua rangkaian pendaftaran mereka selesaikan.
“Apa daftar sekolah menengah sangat lama seperti ini?” kata Shie yang menggelengkan kepalanya.
“Aku juga baru tahu,” kata Aldi yang sedang melihat buku panduan Sekolah Menengah 1 Bandar.
Buku panduan itu berisi Visi, Misi dan peraturan sekolah. Peraturan sekolah sama dengan sekolah dasar Kebonsari bedanya dalam 5 tahun mereka harus lulus 3 ujian.
“Ayo, kita ke tempat yang menarik,” kata Aldi dan segera berjalan tanpa mendengar balasannya
Setelah mereka sampai di sebuah rumah makan yang ada paman nama besar di atasnya ‘Sun and Moon’.
“Apa kita akan makan? Baiklah jangan menunda,” kata Shie tidak sabar untuk makan.
Mendengar itu Aldi menggelengkan kepala sambil berkata, “Tidak, ada sesuatu yang istimewa disini.”
Ada seorang penjaga keamanan mendatangi mereka dan bertanya, “Ingin makan?”
“Tidak, aku ingin harimau,” kata Aldi sambil tersenyum.
Shie bingung melihat perkataan mereka. Harimau adalah kata kunci yang Aldi temukan setelah sering pergi ke rumah makan ‘Sun and Moon’. Dia menemukan itu karena setiap hari akan ada orang masuk dengan mengucapkan kode itu di waktu tertentu.
Mereka masuk ke lift didampingi penjaga memakai setelan berwana hitam putih. Tercengang Aldi ketika dia melihat angka lift bukan naik tapi minus.
“Silahkan, Tuan” penjaga itu mempersilahkan masuk.
Mengangguk dan berbicara ke Shie, “Ayo!”
Ternyata ada pertarungan bawah tanah disini. Aldi bingung kenapa mereka menaruhnya di bawah tanah padahal pertarungan seperti ini diperbolehkan. Setelah melihat beberapa orang Aldi sadar akan sesuatu.
“Hati-hati sepertinya orang disini bukan orang biasa” kata Aldi memperingatkan Shie yang sangat santai dengan muka polosnya.
Ketika mereka berjalan ingin duduk ada seorang paruh baya mendatanginya, “sepertinya ini hari pertamamu, Nak?” katanya sambil tersenyum.
“Seperti yang sudah anda ketahui, Paman,” jawab Aldi dengan senyum ramah.
“Aku Simon Hardiman. Hardiman sebagai marga ku,” kata Simon Hardiman sambil mengulurkan tangannya.
“Nui Aldi dan ini saudaraku Nui Shie.” Aldi menjawab dengan tenang sambil menjabat tangan Simon Hardiman.
Setelah mereka berbincang cukup lama akhirnya Aldi mendapatkan sedikit gambaran tentang pertarungan bawah tanah. Pertarungan disini berbeda seperti yang dipermukaan karena disini banyak orang yang memakai tenaga dalam. Peringkat tenaga dalam dibagi menjadi 7 tingkat yaitu Putih, Kuning, Jingga, Hijau, Biru, Coklat dan Hitam setiap peringkat mempunyai 4 ranah awal, menengah, atas dan akhir.
Peringkat biru yang diketahui Simon Hardiman hanya satu orang yaitu Pengawal Raja Kediri. Peringkat di atas biru jarang menampakkan dirinya ke publik.
Aldi menggunakan Teknik Mata Emas yang dapat mendeteksi keanehan di sekitar. Ternyata yang dimaksud peringkat adalah warna aura sedangkan simon berada di peringkat Jingga.
“Anak muda ingin bertarung denganku?” tiba-tiba seorang paruh baya menghampiri Shie dengan tatapan menantang.
“Paman, aku bukanlah petarung yang handal,” kata Shie.
Mendengar itu paman paruh baya itu berkata, “Aku tau kamu orang kuat, aku Mo Feng!”
Mo Feng adalah petarung veteran perang yang sering bertarung di sini. Badannya yang tinggi kokoh memancarkan aura mengisyaratkan untuk jangan mendekatinya.
“Mo Feng jarang sekali kau menantang seseorang,” kata Simon Hardiman.
“Aku melihat anak ini mempunyai aura yang sangat hebat,” kata Mo Feng dengan wajah serius.
Aldi dapat menyembunyikan Energinya dengan sempurna sedangkan Shie masih kurang dalam menyembunyikan diri. Mo Feng melompat ke ring yang kosong setelah pertarungan sebelumnya selesai.
“Mari bertarung, Anak Muda” teriakan Mo Feng di dalam ring menunjuk Shie duduk santai.
“Hanya gunakan fisikmu,” kata Aldi dengan pelan melihat Shie yang meletakkan topi dan jaketnya di bangku
“Kamu terlalu meremehkan Mo Feng, dia adalah petarung Kuning tahap awal yang sangat kuat,” kata Simon Hardiman.
Aldi tersenyum berkata, “Hmm, Shie walau masih muda dia sangat Kuat.”
Shie berdiri di ring pertarungan dengan tegap dengan otot padat mengenakan kaos hitam. Dia terlihat menawan dengan tinggi 175 cm dengan umurnya yang masih 10 tahun.
“Paman Mo Feng, tolong bimbingannya,” kata Shie dengan senyuman.
Ketika pertandingan akan dimulai ada seorang pelayan menghampiri setiap pengunjung untuk taruhan. Aldi mengeluarkan 50 Emas untuk kemenangan Shie.
Melihat Aldi mempertaruhkan 50 Emas membuat Simon Hardiman tercengang dan berkata, “Kamu yakin?”
Aldi tersenyum lebar berkata, “100% Shie akan menang.”
“Baiklah, aku akan ikut denganmu,” kata Simon Hardiman mengeluarkan 20 Emas.
~Dong suara gong tanda pertarungan dimulai
Shie melangkahkan kaki kanannya ke depan dan kepalan tangannya di bawah pipi.
Mo Feng menyerang duluan dengan melemparkan tangannya memukul area perut. Shie menghindar dengan sempurna tanpa menggerakkan kaki kirinya. tidak percaya dengan mudahnya Shie menghindar serangan bertubi-tubi Mo Feng melemparkan serangan yang lebih ganas tapi masih di tangkis.
“Sudah kuduga kamu bukan sembarang orang.” Mo Feng berkata dengan wajah serius.
Shie tidak membalas perkataanya dan hanya tersenyum.
“Aku akan serius hati-hati,” kata Mo Feng melepaskan auranya berwarna Kuning terang.
Mo Feng menyerang dengan bertubi-tubi tapi Shie masih belum bergerak dari posisi awalnya.
Dengan gerakan memutar, Shie memukul dengan sikunya proses itu sama seperti ketika dia menghadapi Aldi pertama kali.
“Bamm,” suara pukulan yang sangat keras membuat Mo Feng terguling tak sadarkan diri.
“Apa?” Simon Hardiman kaget melihat hasilnya.
“Sepertinya Shie menang paman,” kata Aldi dengan bangga melihat saudaranya mengalami pertarungan nyata.