
Adven melihat nuklir super raksasa di atas kepalanya. "Ini yang aku mau, keluarkan semua kekuatan kalian!"
Dia mengangkat kedua tangannya dan menahan ledakan Nuklir Super Raksasa. Jika belum mendapatkan kekuatan dari Axel, dia tidak akan bisa menahannya. Namun sekarang dia sangat yakin bisa menghentikan Nuklir Super Raksasa dengan kedua tangannya.
Teriakan Adven terdengar sangat nyaring melepaskan semua kekuatannya untuk menahan serangan Nuklir Super Raksasa.
Ledakan super besar tercipta, Adven berada di tengah ledakan. Namun siapa sangka Adven tersenyum puas menerima serangan yang bisa membuat tubuhnya terluka.
"Inilah yang aku inginkan. Ayo keluarkan semua kekuatanmu, aku akan menerima semuanya. Jika tidak aku akan membunuhmu!" kata Adven menunjuk Shen Qui.
Semua orang terkejut melihat Adven masih tidak terluka parah setelah menerima ledakan nuklir super raksasa. Shen Qui menerima tantangannya, dia melepaskan nuklir lainnya untuk menjawab tantangan.
Adven melepas segelnya dan merubah wujudnya menjadi monster yang mempunyai tinggi 15 meter. Dengan ayunan tangannya, dia berhasil menghadang nuklir dengan mudah.
"Ayolah, aku belum serius. Mari bermain lebih serius, aku akan menunjukkan apa yang disebut neraka sesungguhnya," katanya sambil tersenyum aneh.
Nuklir Super Raksasa tidak bisa melukai Adven dalam wujud monster. Semua pasukan Seven Soul harus memutar otak untuk mengalahkannya, sampai akhirnya Shen San muncul dan menggunakan tinjunya untuk membuat kejutan.
Tanpa diduga, Shen San bisa menggunakan kekuatan ruang dan berpindah dari satu tempat ketempat lainnya. Teknik itu diberikan Aldi untuk menunjang kekuatan tubuhnya yang tidak bisa berlari cepat.
"Teknik Pembalikan Jiwa," kata Shen San dengan ekspresi serius. Dia menggunakan keliatan terbaiknya tanpa teknik terlarang. Dua sayap berwarna hitam muncul di punggungnya.
"Baiklah, sepertinya ada satu ekor semut lainnya yang datang. Ayo lanjutkan!" kata Adven merasa senang dengan pertarungan.
Shen San tidak menjawab, dia hanya memasang wajah serius dan menghilang dari pandangan semua orang. Sekejap mata, dia sampai didepan muka Adven yang berwujud monster setinggi 15 meter.
"Pukulan Pertama : Pembuka," kata Shen San menyebutkan nama ketrampilannya. Aura di tangannya tumbuh beberapa kali lipat.
Pukulannya langsung menyantap Adven dengan tubuh besarnya. Karena tubuhnya yang besar, Adven tidak bisa menggunakan kecepatannya dengan baik. Sehingga dia hanya bisa menerima pukulan tersebut.
Monster setinggi 15 meter terbang ratusan meter jauhnya. Tidak sampai disitu, Shen San menghilang dan muncul lagi di depan muka Adven.
"Pukulan Kedua : Keindahan!"
Kedua tangan Shen San menghilang, dia memukul musuhnya dengan kecepatan super tinggi. Setidaknya ada 256 pukulan dalam satu detik.
Darah keluar dari setiap pukulan Shen San yang sangat mematikan. Bahkan tubuh monster Adven tidak bisa menahan kekuatannya. Bukan tanpa sebab, pergelangan tangan Shen San telah mendapatkan simbol khusus untuk membunuh para mahluk abadi.
Aldi adalah orang yang memberikan simbol tersebut, hanya Shen San yang pantas mendapatkannya karena usahanya yang tidak pernah berhenti.
Jika dibandingkan dengan yang lainnya, Shen San adalah orang yang paling terlambat membangkitkan bakatnya. Walaupun begitu, dia tetap berusaha sekuat tenaga untuk menjadi kuat.
Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, jika gagal maka harus berusaha lebih keras. Itulah motto yang selalu di terapkan dalam hati dan pikirannya.
Chu Feng adalah orang yang sama sepertinya, jadi Aldi sebagai pewaris jiwanya mengapresiasi keteguhan Shen San yang sangat mengerikan.
Bahkan Dewa Keteguhan, Heracles akan terkagum melihat usaha yang dilakukan Shen San selama ini. Tidak ada hari tanpa tangannya terluka, itulah usaha yang telah dia lakukan.
Bahkan setelah menjadi Immortal, Shen San masih berlatih hingga tangannya terluka. Entah itu memukul batu, atau apapun yang bisa menguatkan pukulannya.
Bahkan yang terakhir dia bisa menghancurkan bahan khusus yang dibuat Shen Er dan Shen Qui menggunakan Berlian Ungu. Tidak ada yang menyangka seorang manusia bisa menghancurkannya dengan tangan kosong.
Shen San seperti seorang robot yang tidak takut mati, dipikirannya hanya menjadi kuat dan melebihi harapan semua orang.
Adven yang menerima pukulannya merasa sedikit kesakitan. Entah kenapa dia merasa bahwa Shen San adalah lawan yang pantas untuk mengeluarkan kekuatan terbaiknya.
Setelah melepaskan Segel pertama, Adven melepaskan Segel terakhir yang mengekang kekuatannya. Tubuhnya mengecil menjadi monster berukuran 3 meter. Namun kecepatannya setara dengan kecepatan cahaya.
Jelas semua pasukan Seven Soul tidak ada yang bisa mengimbanginya. Bahkan Kim bersaudara dan Shen Wu tidak akan bisa mengimbanginya.
Sekarang akan terjadi pertempuran antara pengguna ruang pengguna kecepatan cahaya yang sesungguhnya. Dalam sekejap mata, Adven menghilang dan meninju perut Shen San yang mempersiapkan serangan selanjutnya.
Setelah terlempar beberapa meter, Shen San menghilang dan muncul di depan Adven dengan kekuatan ruangnya.
"Pukulan Ketiga : Kecepatan!" katanya menyebutkan nama keterampilannya.
"Argh, kamu adalah lawan yang merepotkan," kata Advan menggeram. Setiap kali dia berhasil memukul Shen San, musuhnya selalu muncul tepat di mukanya dan menggunakan teknik pukulannya yang sangat menyakitkan.
Advan yang bangga akan kekuatan tubuhnya semakin kewalahan dengan kekuatan ruang milik Shen San. Tidak ada anggota Seven Soul yang mengira bahwa Shen San sangat kuat, bahkan bisa mengimbangi kekuatan monster seperti Advan.
"Ternyata bos tidak pernah salah dalam memilih bakat. Sebenarnya aku sedikit kecewa dengan penampilan Shen San pada awalnya, tetapi sekarang lihatlah," kata Mahesa berbicara dengan pedang ditangan kirinya.
Mahesa adalah orang yang tidak pernah menempatkan Shen San dalam situasi sulit karena kekuatannya hanya mengandalkan pukulan. Sedangkan semua musuhnya menggunakan senjata yang dapat membahayakan tubuh.
Tidak hanya ketahanan tubuhnya yang tidak terlalu bagus, Shen San bahkan melukai tubuhnya setiap hari. Berbeda dengan Shie yang memiliki bakat alami untuk menghalau serangan dengan tubuh naga miliknya.
Bermodalkan keterampilan ruang, Shen San berhasil membuktikan kepada semua orang bahwa dirinya bukan manusia lemah. Adven dihajar samapi mengeluarkan kucuran darah di tubuhnya.
"Manusia hina, kamu sudah membuatku marah. Aku akan membunuhmu sekarang!" kata Adven merasa kesal karena pukulannya tidak pernah bisa melukai lawannya.
Shen San berhenti menyerang dan berkata, "Bukankah pertarungan seperti ini yang kamu inginkan. Kenapa harus membunuhku, biarkan aku menjadikanmu samsak tinju."
Dengan lantang Shen San mengatakan hal tersebut, Adven bertambah kesal karena lawannya sangat meremehkan kekuatannya. Aura kematian mulai muncul disekitar tubuhnya, tanpa diduga Shen San tetap menyerangnya.
Energi kematian mulai diserap Shen San dengan menggunakan pukulannya yang tidak berhenti sejak pertandingan dimulai. Dia terus memukul Adven seperti samsak tinju yang tidak bisa dihancurkan.
"Sialan, aku akan membunuhmu," kata Adven melirik Mahesa yang sedang bersantai memandang pertarungan. Dia tidak bisa mengalahkan Shen San dengan kekuatannya, sehingga memutuskan untuk mencari mangsa lainnya.
Mahesa yang merasakan ancaman langsung mengangkat pedang dan tombaknya untuk menghalau serangan. Tanpa di duga, Shen San muncul di depannya dan menghentikan serangan Adven dengan satu tangannya.
"Samsak tinju tidak akan bergerak. Jangan terlalu bergerak atau aku akan membunuhmu," kata Shen San tanpa menunjukkan ekspresi berlebih.
Adven hanya bisa menutupi seluruh kepalanya dari gempuran pukulan Shen San. Sampai akhirnya dia memutuskan menggunakan ketrampilan terlarangnya.
"Ledakan Pengorbanan!" kata Adven menyebutkan nama ketrampilannya. Seketika sebuah asap muncul dari semua lubang tubuhnya. Asap itu bisa membatasi pergerakan musuh supaya tidak bergerak.
Walaupun hanya beberapa detik, waktu itu sudah cukup untuk Adven menggunakan ketrampilan pamungkasnya.
"Teknik ledakan : C0!" kata Adven membuat dirinya meledak dengan kekuatan penuh. Bahkan Shen San akan menghilang dari alam semesta jika terkena ledakannya.
Sayangnya Shen Er sebagai ahli simbol tidak ada di medan pernah, besar kemungkinan semua orang akan mati bersama Adven yang meledakkan dirinya sendiri.
Tiba-tiba sebuah simbol berwarna biru membatalkan teknik Adven. "Apa yang terjadi, kenapa bisa gagal," kata Adven kebingungan dengan kejadian.
Seorang pria dengan pakaian berwarna biru terbang di atas medan pertempuran. Pria itu tidak lain adalah Aldi yang telah sempurna menguasai warisan Sang Pencipta. Jadi dia dengan mudah membatalkan serangan bunuh diri Adven.
"Sepertinya keadaan semakin kacau. Axel, sampai kapan kamu hanya menonton pertarungan?" tanya Aldi memandang jauh kearah Axel yang menonton pertarungan sari bola khusus.
"Menarik, kamu telah berhasil menguasai warisan Sang Pencipta. Mari kita lihat siapa yang akan menang aku dengan warisan Sang Peramal, atau kamu dengan warisan Sang Pencipta."
Dengan penuh semangat Axel mengatakannya. Namun dia tidka pernah mengira bahwa Moras, Moris, dan Mosas juga menerima warisan Sang Peramal. Bisa dibilang Aldi juga menerima sebagian warisan Sang Peramal yang sesungguhnya.
Melihat Adven yang sudah terluka parah, Aldi menggunakan simbol untuk membatasi pergerakan Adven. "Sekarang kalian serang jangan membiarkannya hidup, bocah itu tidak akan pernah bisa lolos dari pengaruh simbol," kata Aldi memandang Adven dengan tatapan dingin.
Shen San adalah orang pertama yang menyerang dengan kekuatan penuh. Namun tidak ada sedikitpun tindakan pencegahan yang dilakukan Adven.
"Sial, aku tidak bisa bergerak. Apa yang kamu lakukan padaku!" teriak Adven merasa kesal karena dipukuli Shen San seperti samsak tinju.
Tidak sampai disitu, semua orang yang merasa serangannya tidak bisa menembus kulit Adven langsung menyerang dengan kekuatan penuh. Hal itu dilakukan untuk melepas stres pada otot dan pikiran mereka yang mulai goyah lawannya terlalu kuat.
"Bocah, kamu berhasil membuatku terkesan. Kamu berhasil menguasai warisan Sang Pencipta dalam waktu singkat, jadi kapan kita mulai?" kata Axel dengan senyum jahat.
Tepat setelah Axel menyelesaikan perkataannya, tinju Aldi langsung mendarat tepat di muka musuhnya. "Jangan banyak bicara atau kamu akan menyesalinya," kata Aldi tanpa merubah ekspresinya.
Sebenarnya dia sedang menahan amarah karena pasukan Axel adalah penyebab kematian Leo. Jika mereka tidak menggunakan simbol untuk membatasi komunikasi, pasti Leo masih berada disisinya.
Sekarang Leo sudah menghilang dari alam semesta tidak mungkin untuk menghidupkannya kembali. Aldi hanya bisa membalas pengabdiannya dengan membalas Axel yang menjadi otak kematiannya.