
Setelah penyerangan tempo hari, Aldi sudah memasang simbol pengurangan di markas Beruang Hitam.
Karena tidak ada penghuninya, Aldi bebas menggunakan simbol apapun di tempat tersebut.
Dia merasa bahwa simbol biasa tidak akan berpengaruh banyak kepada pembudidaya tingkat Immortal, jadi di samping simbol pengurangan ada simbol racun mematikan.
"Sepertinya keluarga Nur belum menyerah," kata Aldi melihat keatas. Dia melihat ada Nur Andik dan segerombolan orang dengan kekuatan yang mengerikan.
Nur Andik yang melihat Aldi meminum teh dengan santai setelah melirik pasukan, mengerutkan kening.
"Apa kamu anggota Seven Soul?" tanya Nur Andik dengan nada tinggi.
"Iya," jawab Aldi singkat tanpa menyembunyikan sedikitpun kekhawatiran melawan pasukan Immortal Jingga.
Walaupun Aldi masih setara Immortal Kuning, dia mempunyai kepercayaan tinggi terhadap teknik berlarinya.
Jika sesuatu tidak diinginkan terjadi, Aldi tinggal kabur tanpa jejak dihadapan mereka semua.
"Dimana semua anggota lainnya?" kata Nur Andik dengan nada kasar.
"Sungguh tidak sopan, bertanya kepada seseorang tanpa memperkenalkan diri!" kata Aldi sambil menggelengkan kepala.
Nur Andik yang mudah marah setelah pasukannya selalu dikalahkan Seven Soul, langsung menyerang kearah Aldi.
Namun Aldi dapat memblokirnya dengan satu jari kelingkingnya. Bukan tanpa alasan, simbol racun di wilayah Beruang Hitam sudah mempengaruhi mereka.
Energi yang dikeluarkan Nur Andik telah terganggu karena racun masuk kedalam tubuhnya tanpa di rasakan olehnya.
Tidak hanya dia, tapi seluruh pasukannya sudah masuk kedalam simbol racun yang mematikan. Namun Aldi masih sangat tenang, tubuh Tahta Raja tidak akan mudah terkena racun.
Setelah serangan pertama gagal, Nur Andik menyerang membabi buta. Namun hasilnya tetap sama, Aldi memblokir semua serangannya dengan jari kelingking.
Semakin sering menggunakan energi, maka racun dalam tubuhnya akan semakin kuat. Sayangnya Nur Andik bukan orang yang cerdas, dia tidak memeriksa tubuhnya setelah terjadi keanehan.
"Nur Andik, mundur. Kita sudah diracuni!" salah satu prajurit membentak Nur Andik karena terlalu berlebihan.
Nur Andik langsung mundur dan memeriksa keadaan tubuhnya. Dalam sekejap dia bisa membebaskan seluruh racun pada tubuhnya.
Semua pasukan juga sudah membebaskan racun pada tubuhnya.
Aldi tersenyum melihat lawannya cukup cerdas dengan menekan racun dalam tubuhnya. Mereka tidak tahu tindakan itu malah akan menjadi bumerang bagi mereka setelah beberapa menit.
"Seperti yang diharapkan dari kekuatan elit keluarga Nur. Mengesankan!" kata Aldi sambil bertepuk tangan dan berdiri dari kursinya.
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Nur Andik dengan tatapan tajam.
"Aku hanya pejalan kaki yang kebetulan berada disini, kemudian kalian serang tanpa mengetahui salahku!" kata Aldi tidak mau memberikan namanya.
Bukan tanpa Alasan, jika Aldi memberikan namanya ada kemungkinan Hantu Tua telah menyebarkan nama Shen Zero kepada seluruh Dunia Maha Tinggi.
Karena dia adalah salah satu kaki tangan dari langit dan neraka. Hantu Tua tidak suka dunia tempat tinggalnya kacau karena keberadaannya.
"Sial, bocah ingusan!" kata Nur Andik dengan nada tinggi.
Dia menyerang dengan kekuatan Immortal Jingga, serangannya mengenai Aldi hingga terpental puluhan meter.
Aldi tersenyum tipis setelah diserang Nur Andik, dia dapat melatih tubuh Tahta Raja setelah sekian lama tidak digunakan dengan benar.
Nur Andik mengerutkan kening, dia sudah memukulnya dengan benar. Namun musuhnya masih berdiri dengan senyum di bibirnya.
Dengan gaya menantang, Aldi menggunakan teknik Baguazhang kebanggaannya. Dia menggerakkan telapak tangannya mengisyaratkan untuk menyuruh musuhnya maju dengan semua kekuatannya.
Karena sudah tidak ingin bermain dengan Aldi, Nur Andik mengeluarkan pedang peninggalan Leluhurnya.
Pedang itu dapat membunuh Iblis dan Dewa dengan sangat efektif. Hampir sama dengan pedang peninggalan Adam, tetapi lebih kuat dan besar.
"Teknik Pedang Seribu Bayangan!" teriak Nur Andik menggunakan salah satu teknik terbaik keluarga Nur.
Aldi menggunakan mata dunia untuk melihat setiap gerakan energi Nur Andik. Kemudian dia melebarkan kedua tangannya, serta memutarnya membentuk sebuah lingkaran besar.
"Baguazhang Pembelokan Absolut!" kata Aldi sambil menerima serangan Nur Andik.
Ketika bayangan Pedang Nur Andik menyentuh area serang Aldi, semua bayangan berbelok kebawa menghantam tanah atau keatas terbang ke langit.
Seiring berjalannya waktu pedang semakin banyak, pergerakan tangan Aldi juga semakin cepat. Sampai akhirnya semua pedang bayangan berhasil di blokir dengan sempurna.
"Sungguh melelahkan menangkisnya. Serangan itu membuatku sangat ketakutan," kata Aldi memprovokasi Nur Andik dengan senyum tipis.
Nur Andik yang terpancing menggunakan kekuatan khusus keluarga Nur. Dia menggunakan kekuatan binatang buas didalam tubuhnya.
Seluruh tubuhnya berubah menjadi putih, matanya berubah menjadi biru muda, dan gigi taringnya memanjang.
Petir mengerikan berwarna biru membungkus tubuhnya. Ia dapat menyerang musuhnya secara otomatis ketika mendekat.
Aldi tersenyum, dia menggunakan mata dunia dengan benar. Sehingga dia bisa melihat kemampuan sebenarnya dari binatang buas di tubuh keluarga Nur.
"Hai, kitty apa kamu tidak ingin keluar menunjukkan kekuatanmu?" tanya Aldi kepada serigala yang duduk manis menatap api unggun sambil meminum teh.
Kekuatannya sebenarnya sudah di serap oleh teknik prinsip jiwa, tetapi Aldi berubah pikiran dan menciptakannya kembali dalam bentuk serigala.
"Majikan yang tidak tahu diri. Aku adalah binatang mitos, tetapi kamu perlakuan seperti anak rumahan," kata Kitty kepada Aldi yang mengunjungi alam bawah sadarnya.
Kitty adalah seorang serigala petir berekor sembilan. Setiap keluarga Nur memiliki binatang buas didalam tubuhnya.
Setiap binatang buas memiliki sebuah simbol yang menandakan kekuatannya. Simbol ya berjumlah antara 1-7 jika semakin banyak, maka akan semakin kuat.
Sedangkan Kitty mempunyai 9 simbol, dia merupakan kelainan yang sesungguhnya. Makanya Aldi memanggilnya Kitty.
"Sangat karang melihat kamu mengeluh. Bagaimana kalau kamu mengeong untuk menghiburku?" tanya Aldi dengan nada bercanda.
"Bodoh, aku seekor serigala mana bisa aku mengeong!" kata Kitty membentak Aldi.
"Tidak seru. Jadi kamu mau menunjukkan kekuatanmu atau tidak?" tanya Aldi sekali lagi.
"Tidak!" jawab Kitty memalingkan wajahnya.
Aldi keluar dari alam bawah sadar dan menggunakan teknik manipulasi untuk meniru kekuatan Nur Andik. Namun menggunakan Karakteristik Kitty.
"Majikan Gila, kenapa bertanya kepadaku kalau kau bisa menggunakan teknik milikku!" kata Kitty dengan nada keras.
"Aku merasa tidak berguna," lanjutnya dengan suara lirih.
Tampilan Aldi sama seperti Nur Andik, tetapi petir yang mengelilinginya berwana ungu gelap.
Nur Andik dan pasukan keluarga Nur kebingungan melihat kejadian didepan mata mereka.
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya Nur Andik dengan tatapan serius.
"Bukankah kalian sangat ingin membunuhku ketika masih bayi?" kata Aldi dengan terapan tajam terhadap Nur Andik yang menyegel kekuatan ayahnya dan berakhir dihina oleh pria misterius.
"Anak Nur Andi?" kata salah seorang prajurit keluarga Nur.
"Cerdas, aku adalah anaknya!" kata Aldi tidak menyembunyikan kebenaran.
Nur Andik yang mempunyai dendam kepada Nur Andi segera menyerang tanpa memberikan Aldi istirahat.
Pasukan keluarga Nur juga menyerang bersama, mereka tidak ingin Aldi hidup. Jika berita tentang anak Nur Andi masih hidup, keluarga Nur akan di caci maki.
Aldi seorang diri menghadapi pembudidaya Immortal Jingga kewalahan. Dia memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.
Dia mengangkat salah satu tangannya. Menandakan sudah waktunya bantuan memperlihatkan dirinya.
20 juta pasukan Immortal Putih yang bersembunyi di sekitar wilayah Beruang Hitam menunjukkan dirinya.
"Waktunya serangan balik. Serang!" teriak Aldi menunjuk pasukan keluarga Nur.
Walaupun seorang Immortal Jingga, mereka sudah terkena racun tidak terlihat. Jadi kekuatan mereka tidak bisa digunakan dengan benar.
Menghadapi 20 juta prajurit dengan 10 ribu orang akan sangat melelahkan. Namun mereka masih mencoba menggunakan seluruh kekuatannya untuk melarikan diri.
"Percuma, kalian tidak akan bisa keluar dari wilayah Beruang Hitam." Aldi melihat sambil menyilangkan kedua tangannya.
Seiring berjalannya waktu, pasukan keluarga Nur tinggal 20 orang. Sedangkan pasukan Seven Soul tidak berkurang sedikitpun.
Aldi menggunakan teknik yang sama setiap kali perang. Ketika anggota inti sekarat, mereka akan di lempar ke Dunia Buatan setelah sembuh akan kembali ke medan perang dengan bantuan Aldi.
"Sial, bukankah kita satu keluarga. Mengapa kamu menyerang kami dengan sangat ganas?" tanya Nur Andik.
Dia tidak bisa melawan pasukan Gila seperti Seven Soul. Sehingga mencoba peruntungan dengan melakukan diskusi.
Aldi tidak menjawab, dia menunjuk kearah pasukan keluarga Nur yang tersisa." Serang!"
20 juta orang menyerbu 20 orang. Adegan itu hanyalah sebuah pembantaian yang mengerikan. Namun jika tidak seperti itu Seven Soul akan kalah.
"Sial!" teriak Nur Andik dengan keras.
Tidak ada pengamat perang yang melihat perang antara pasukan elit keluarga Nur dan Seven Soul.
Seluruh pasukan Seven Soul menyerap kekuatan jiwa setiap prajurit keluarga Nur dengan lahap. Walaupun energi asal sangat baik, tetapi energi jiwa juga nikmat.
"Hantu Tua, sampai kapan kamu bersembunyi?" tanya Aldi.
"Sungguh aku tidak bisa bersembunyi di sekitarmu!" kata Hantu Tua keluar dari persembunyiannya.
"Seperti yang kamu lihat, aku tidak pernah membuat masalah dengan mereka. Namun keluarga Nur mengirim pasukan untuk membunuhku, bukankah sewajarnya membela diri?" tanya Aldi.
Hantu Tua hanya menggelengkan kepala, dia sudah memperingatkan keluarga Nur untuk tidak memprovokasi manusia gila seperti Aldi.