
Aldi melatih Arifin bertujuan untuk membangun Seven Soul di Galaxy Andromeda. Karena Negara Jakarta tidak dalam kondisi yang kondusif, akhirnya Aldi dan Saputra memutuskan untuk membangun bisnis di Kerajaan Padang.
Organisasi pembunuh di Kerajaan Padang tidak berkuasa seperti Negara Jakarta, karena Raja Saladin merupakan orang yang sangat cerdas.
Dia berhasil mengusir organisasi VOC serta membangkitkan perekonomian kerajaan dalam waktu singkat.
Semua itu berkat para pembudidaya yang berdiri dibelakangnya. Setidaknya ada 10 orang yang mempunyai kekuatan setara tingkat Kelahiran.
Aldi juga merasakan beberapa pembudidaya beladiri yang lebih kuat sedang bersembunyi.
"Kerajaan ini memang sangat misterius, tetapi aku harus segera membangun Seven Soul di Galaxy Andromeda."
Setelah berjalan keberbagai tempat di wilayah Pelabuhan, Aldi menemukan sebuah ide bisnis yang cukup menarik.
Dia ingin mendirikan sebuah rumah makan di berbagai tempat dekat dengan pelabuhan dan bandara.
Saputra dan 10 petinggi perusahan yang baru sampai langsung mengeksekusi ide bisnis yang di sarankan Aldi.
Setelah berkembang, Aldi juga menyarankan untuk membangun rumah penginapan dengan rumah makan dibawahnya.
Target pemasaran mereka adalah rakyat kalangan menengah. Sedangkan untuk kalangan atas, Aldi sudah menyiapkan ide bisnis yang belum bisa diuraikan.
Karena dia masih membutuhkan informasi tentang keadaan sekitar dan kemampuan beli rakyat kerjaan Padang.
"Arifin, ayo ikut denganku. Kita akan menuju tempat yang sangat menarik," kata Aldi menepuk pundak Arifin.
Mereka menuju kesebuah pesisir pantai Air Manis. Aldi mendapatkan informasi bahwa di sana ada pertarungan bawah tanah.
Arifin membutuhkan pengalaman nyata untuk menjadi lebih kuat. Sehingga pertumbuhannya semakin baik.
Setelah sampai di pesisir pantai, Aldi menuju ke sebuah ruangan dengan 2 orang penjaga berpakaian hitam.
"Aku ingin makan daging," kata Aldi.
"Baiklah, ikuti aku!" kata salah satu pria berpakaian hitam yang menjaga pintu.
Setelah beberapa saat berjalan, ada sebuah lift menuju bawah tanah.
"Silahkan masuk, Tuan." Pria berpakaian hitam membungkukkan badan untuk memberi hormat kepada Aldi dan Arifin.
Dia adalah seorang pembudidaya yang sangat sensitif dengan kekuatan orang disekitarnya. Pria itu merasa bahwa Arifin memiliki kekuatan yang sangat hebat di umurnya sekarang.
Sedangkan pria berpakaian biru, dia merasa bahwa kekuatannya sangat mengerikan. Bahkan dia merasa ketakutan ketika berjalan di depannya.
Aldi melirik pria berpakaian hitam dengan senyum tipis. "Pria yang menarik, aku berharap ada pertemuan lainnya," kata Aldi.
Suara sorakan penonton terdengar sangat keras. Aldi dan Arifin terbiasa dengan suara bising, sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dengan cepat.
"Arifin, aku ingin kamu menguji kekuatan dengan bergabung dengan pertarungan." Aldi menepuk pundak Arifin yang sudah cukup berisi.
Hanya butuh beberapa hari untuknya menjadi seorang pembudidaya yang sangat baik. Kondisi tubuhnya juga sudah diperbaiki Aldi dengan sempurna.
Dengan wajah penuh percaya diri. Arifin menjawab, "Baik, Bos!"
Segera setelah itu, Arifin menuju ruang administrasi untuk mengisi data serta menunggu pertandingan untuknya.
Aldi yang sedang mencari tempat duduk menemukan sesuatu yang sangat menarik, yaitu sebuah batu alam yang tertanam di setiap sudut arena pertempuran.
Ketika Aldi melihat batu alam, seorang pria berambut putih menyapanya. "Sepertinya kamu memiliki mata yang bagus," katanya dengan nada sopan.
Pria berambut putih itu adalah Saiful, salah satu orang terkaya di Kerajaan Padang yang mempunyai puluhan tambang.
Aldi meliriknya dengan senyum terpancar di wajahnya. "Kamu terlalu memuji, Tuan."
Saiful menepuk bangku sebelahnya yang kosong untuk di duduk Aldi. Orang yang melihat Aldi merasa sangat iri dengan kesempatan yang diberikan.
Namun Aldi merasa bahwa tindakan tersebut bukan sesuatu yang istimewa. Jika Lee Yoon sudah datang, pasti akan ada perubahan orang terkaya.
"Apa pendapatmu tentang batu di sekeliling Arena pertandingan?" tanya Saiful dengan senyum.
"Batu itu memiliki energi yang misterius. Jika manusia memiliki batu tersebut, maka kesehatannya akan terjamin."
Aldi memberikan sebuah penjelasan singkat, dia tidak ingin mengatakan kegunaan Batu alam yang sesungguhnya.
Saiful tersenyum manis melihat Aldi menjelaskan kegunaan batu alam. Sayangnya, dia adalah seorang pembudidaya tubuh.
Jadi Aldi tidak dapat melihat auranya karena sedikit berbeda dari manusia pada umumnya. Namun jika Aldi menggunakan sedikit konsentrasi dia akan melihat kekuatan Saiful.
Mereka berbincang panjang lebar tentang arena pertarungan yang selalu diselenggarakan setiap hari.
Istana Kerajaan Padang melarang adanya pertandingan bawah tanah seperti ini. Namun kekuatan para pebisnis bisa merubah aturan.
Sampai akhirnya pertandingan Arifin melawan seorang pria berbadan gemuk dimulai. Aldi menggunakan mata dunia untuk melihat kekuatan musuhnya.
Tanpa sadar, Aldi juga melihat Saiful ternyata adalah pembudidaya beladiri tubuh.
"Sepertinya, Arifin hanya memiliki sedikit kesempatan untuk menang," pikir Aldi melihat lawan Arifin yang merupakan seorang pembudidaya tubuh.
Walaupun Arifin tidak memiliki kesempatan untuk menang, dia sangat menghormati Aldi. Setiap perkataan Aldi akan menjadi perintah hidup dan mati untuknya.
Suara gong menandakan pertandingan dimulai. Arifin dengan cepat menyerang bagian perut pria gendut.
Namun pukulannya tidak memberikan dampak yang signifikan kepada lawannya.
"Bocah, sebaiknya kamu segera menyerah atau masuk rumah sakit selama sebulan!" kata pria gendut nada mencibir.
Tanpa memperdulikan perkataan pria gendut, Arifin memutar tumitnya untuk menggunakan tendangan khas Taekwondo.
Namun kakinya cukup panjang untuk mengenai lawannya.
Pria gendut yang melihat tendangan Arifin mulai merasa gelisah. Tendangan tersebut dapat membunuh pria gendut jika berhasil mengenainya.
Sekarang dia tidak mau meremehkan Arifin. Segera dia merubah posisinya seperti seorang Sumo yang ingin menerjang lawannya.
Kedua tangannya menempel di tanah. Setelah Arifin berada di jarak serangnya, kedua kakinya mendorong tubuhnya yang besar menerjang tubuh kecil Arifin.
Karena kecepatan Arifin masih terbatas, dia tidak dapat menghindari terkaman pria gendut. Jalan satu-satunya yang dapat dia lakukan adalah menggunakan serangan bawah.
Namun kakinya yang masih belum berlatih lama tidak dapat menumbangkan pria gendut. Akhirnya tubuh kecilnya di banting pria gendut hingga mengeluarkan suara retakan tulang.
Ketika mau terjatuh, Arifin masih sempat menggunakan pendaratan darurat dengan mengorbankan tangan kirinya.
Sehingga tangan kirinya patah, sedangkan tubuh lainnya masih sehat.
"Pukulan kura-kura hitam!" kata Arifin menggunakan teknik karate.
Pukulannya mengarah ke perut pria gendut hingga bergetar hebat. Namun tidak dapat menumbangkannya.
Arifin yang telah kehabisan tenaga jatuh ketanah dengan senyum di bibirnya.
Wasit mengumumkan kemenangan pria gendut. Suara sorakan penonton bergema hingga seluruh arena pertarungan bergetar.
Hanya ada dua orang yang tersenyum melihat penampilan Arifin, mereka adalah Aldi dan Saiful.
"Pria yang menarik," kata Saiful memancarkan energinya.
Aldi meliriknya dengan tatapan tajam. "Jangan pernah mengganggunya!" kata Aldi dengan suara pelan.
Ketika kedua mata Aldi dan Saiful bertatapan arena pertarungan bergetar cukup hebat. Bahkan ada orang yang menganggap bahwa kejadian itu adalah gempa bumi.
Namun beberapa orang yang mengetahui kejadian sebenarnya menatap Aldi dengan aneh. Mereka tidak menyangka ada seseorang yang berani melawan Saiful secara langsung.
"Apa mungkin dia adalah kenalan?" tanya Saiful dengan senyum manis di bibirnya.
"Bisa dibilang dia adalah murid yang aku latih!" kata Aldi sambil membalas senyum.
Kejadian itu akan selalu di ingat oleh semua pembudidaya yang hadir dalam arena pertandingan. Mereka tidak akan membuat masalah untuk Aldi dan Arifin.
Setelah Aldi dan Arifin meninggalkan arena pertarungan. Saiful langsung memberikan perintah untuk menghancurkan semua orang yang berhubungan dengan Aldi.
Dia tidak mengetahui bahwa tindakannya telah membangunkan singa yang sedang tidur di siang hari.
Saputra dan tim perusahan sudah mengembangkan perusahan dengan tenang, tetapi karena perbuatan Saiful pengerjaan restoran terkendala.
"Sepertinya aku harus sedikit memperingatkan bocah itu," kata Aldi sambil menatap laporan yang dituliskan Saiful.
Keuangan Aldi semakin menipis, dia tidak dapat menunda pekerjaan terlalu lama. Akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi Saiful.
Pedang di punggungnya menandakan Aldi siap bertarung dengan siapapun yang menghalangi jalannya.
Setelah sampai di depan gerbang rumah Saiful, 5 penjaga berpakaian hitam langsung menyerang Aldi tanpa bertanya.
Aldi sengaja memperlihatkan dirinya untuk membuat hati Saiful tidak nyaman. Penyiksaan yang terbaik tanpa membunuh adalah menekan psikologis lawannya dengan tindakan yang brutal.
Bukan tanpa alasan, Aldi telah melihat bahwa Saiful merupakan seorang pria yang takut kematian. Buktinya dia membawa 5 batu alam di tubuhnya.
Rumor yang beredar tentang batu alam membuatnya selalu membawanya. Ketika menggunakan mata dunia, Aldi telah melihat 3 batu alam yang telah berevolusi menjadi batu asal.
Sembari berkunjung kerumahnya, Aldi berencana untuk meminta batu tersebut dengan cara baik-baik.
Jika tidak bisa, maka pedangnya akan berbicara supaya Saiful memberikan batu tersebut.