
Aldi selalu menganggap bahwa berbuat baik kepada mereka yang tidak bersalah adalah salah satu cara untuk meningkatkan karma baik.
Sedangkan Kira adalah pembunuh yang tidak memandang targetnya. Selama ada uang, pekerjaan akan selesai dengan cepat.
"Markas organisasi pembunuh di Negara Jakarta sudah kosong, sebaiknya aku segera meningkatkan kekuatan untuk membuka gerbang Dunia Buatan."
Aldi kembali ke rumah untuk melihat perkembangan bisnisnya di tangan Saputra si manajer perusahan.
Setelah beroperasi cukup lama, perusahan yang dipimpin Saputra merubah nama menjadi Salju Putih.
Saputra dan tim yang menentukan nama tersebut, Aldi hanya menyetujui permohonan mereka.
Berita tentang hancurnya markas organisasi pembunuh di Negara Jakarta menjadi topik hangat para pebisnis besar.
Mereka mengira bahwa Militer Negara Jakarta sudah mengambil tindakan dengan menyingkirkan organisasi pembunuh.
Jadi mereka yang pernah bersentuhan dengan organisasi pembunuh segera menyingkirkan barang bukti.
Negara Jakarta dipimpin oleh pria bernama Suwiryo. Pemimpin negara disebut sebagai presiden, dia adalah presiden yang menjabat selama 20 tahun.
Namun belum ada yang bisa menggantikannya. Menurut rumor Suwiryo memiliki pengawal yang sangat kuat melindunginya dan keluarga.
Makanya tidak ada pebisnis maupun orang yang berani menggeser posisinya dari kursi presiden.
Suwiryo juga memegang kekuasaan tertinggi dari militer Negara Jakarta. Jadi satu perintahnya dapat menghancurkan kota menjadi debu.
Alasan Suwiryo tidak menyingkirkan organisasi pembunuh adalah pelindung mereka yang sangat kuat.
"Siapa yang berani membunuh anggota mereka?" tanya Suwiryo kepada seorang pria kekar disebelahnya.
"Menurut saksi mata, ada seseorang pria muda dengan pedang pendek di punggungnya menuju markas mereka."
Dia menjelaskan detail kejadian yang dapat ditemukan. Walaupun teknologi di Negara Jakarta sangat canggih.
Ingatan Aldi tentang teknologi tidak dapat di saingi, sehingga dia dapat menemukan celah untuk menyusup tanpa diketahui kamera pengintai.
Namun mata manusia tidak mudah untuk di tipu. Sehingga jejaknya tentang mengunjungi markas organisasi pembunuh masih terlacak.
Sebagai bentuk pencegahan Aldi sudah merubah wajahnya dengan manipulasi energi. Jadi para manusia yang melihatnya tidak akan memberikan informasi yang benar.
"Cepat cari pria itu. Dia sudah membuat masalah besar dengan memprovokasi organisasi pembunuh."
Suwiryo tahu keberadaan mengerikan yang mendukung organisasi pembunuh. Makanya dia tidak menyingkirkannya walaupun mempunyai kekuatan yang lebih tinggi dibanding organisasi pembunuh Negara Jakarta.
"Tim pencari sudah mencari keseluruhan tempat, tetapi tidak menemukan hasil. Pria itu seperti menghilang di telan bumi."
"Ulangi pencarian, aku tidak mau tau. Pria itu harus ditemukan, setidaknya detail informasi tentangnya!" kata Suwiryo tegas.
Militer Negara Jakarta dikerahkan untuk mencari Aldi. Para pebisnis yang mulai ketakutan hanya bisa tersenyum pahit.
Bukan keberadaan Aldi yang ditemukan Suwiryo, melainkan keburukan para pebisnis di Negara yang membuatnya miris.
Ada ratusan kasus yang telah dikirimkan kepadanya. Seiring berjalannya waktu, para pebisnis tahu bahwa tujuan sebenarnya Suwiryo bukan untuk menangkap pebisnis.
Melainkan menangkap pria misterius yang menyerang markas organisasi pembunuh.
Setelah satu minggu berlalu, 20 pembunuh bertopeng merah dan 3 pembunuh bertopeng biru sampai di Negara Jakarta.
Mereka mengunjungi markas besar organisasi pembunuh di Negara Jakarta. Namun tidak ada sedikitpun tanda kehidupan.
"Apa yang terjadi, dimana Kira?" tanya salah satu pria bertopeng biru.
Akhirnya semua orang berpencar mencari informasi tentang kebenaran markas organisasi pembunuh. Mereka menemukan bahwa seorang pria telah berhasil menyingkirkan semua anggota organisasi pembunuh.
"Sial, seberapa kuat pria yang bisa membunuh ketua Mo dengan satu kali pukulan!"
Pria yang memberikan informasi tersebut adalah pembunuh Kira yang sesungguhnya, Dono.
Sayangnya para anggota tingkat tinggi memiliki sebuah simbol yang dapat mengirim pesan kepada markas pusat sebelum kematiannya.
Pria yang memberikan informasi langsung dipenggal karena membunuh Kira.
Pria berpakaian biru muda datang mendatangi rombongan pembunuh yang datang. Dia adalah Aldi yang telah merubah wajahnya sesuai pria yang dimaksud Negara Jakarta.
"Kalian tidak perlu bertanya, aku Shen Zero pria yang kalian cari. Aku datang kesini untuk menagih hutang Kira tentang uang 10 juta rupiah!" kata Aldi dengan nada santai.
Salah seorang pria bertopeng biru mengeratkan giginya karena marah.
"Sungguh berani berani kau datang kemari, aku Rosy tidak akan pernah membiarkanmu keluar dengan nyawamu!"
Aldi menggelengkan kepala. "Aku tidak berniat mencari masalah dengan kalian. Namun jika ingin memberi perhitungan silahkan maju," kata Aldi mengambil pedang dari punggungnya.
20 pria bertopeng merah maju dengan penuh tekad untuk membunuh. Setelah mereka berlari maju, semua orang jatuh tidka bernyawa secara bertahap.
"Aku hanya membela diri, jadi jangan salahkan aku tentang kejadian ini!" kata Aldi sepeti anak polos yang tidak mengetahui apa yang terjadi.
"Sial, pria ini jauh lebih kuat dari yang aku kira," pikir Rosy.
Dua pria bertopeng biru berlari kearah Aldi dengan pisau beracun.
Suara tabrakan logam terdengar beberapa kali, para anggota pembunuh tidak dapat melukai musuhnya karena pergerakan tangan Aldi sangat cepat.
"Sampai berapa lama kau akan bertahan!" kata salah satu pria bertopeng biru.
"Tidak aku hanya ingin melihat seberapa lemah kekuatan yang sedang kalian banggakan!" ejek Aldi sambil menangkis serangan musuhnya dengan kecepatan tangannya.
Aldi dengan santai menggerakkan tangan dan pedangnya dengan santai. Namun dua pembunuh sedang berusaha keras menyerang dengan pisau mereka.
Berita tentang pertarungan Aldi dan para petinggi organisasi pembunuh telah sampai ke telinga Suwiryo.
"Segera bentuk pasukan untuk menuangkan pria itu, jangan sampai dia membuat maslaah lebih banyak!" kata Suwiryo memberikan perintah kepada pasukan militer.
500 prajurit dilengkapi peralatan lengkap berangkat menuju tempat kejadian. Mereka tidak tahu seberapa mengerikan Aldi jika merasa terganggu.
Bahkan Negara Jakarta akan runtuh jika Seven Soul sudah menginjakkan kakinya di Galaxy Andromeda.
Aldi yang sedang bermain dengan kedua pembunuh bertopeng biru merasakan kehadiran 500 prajurit Negara Jakarta yang menggunakan pesawat.
Rosy tersenyum, karena dia tahu bahwa Suwiryo tidak akan mengorbankan rakyatnya untuk melawan organisasi pembunuh.
Satu hal yang harus dia lakukan adalah menangkap Aldi atau membunuhnya di tempat supaya organisasi pembunuh tidak membuat masalah yang lebih besar.
500 prajurit bersenjata lengkap turun dari pesawat menggunakan parasut. Mereka belum mencapai tingkat Langit, jadi belum bisa terbang di udara.
Pemimpin pasukan mengarahkan pistolnya kepada Aldi dan kedua pembunuh. "Berhenti, angkat tangan!"
Tidak ada satu orangpun dari mereka yang mengangkat tangan. Aldi hanya menghentikan serangan pedangnya, tetapi melempar jarum kecil kearah leher kedua pembunuh.
Ketika jarum mengenai kulit, tidak akan ada rasa sakit. Jadi kedua pembunuh tidak menyadari tindakannya.
Pemimpin Pasukan Negara Jakarta mengerutkan kening ketika melihat semua orang tidak mengangkat tangannya.
Dia mengingat bahwa Presiden telah memperingatkan untuk tidak memprovokasi siapin orang yang mereka temui, kecuali pria yang memprovokasi organisasi pembunuh.
Dengan sedikit trik, Aldi mengendalikan tubuh kedua pembunuh untuk menghancurkan pasukan negara Jakarta.
Kedua pembunuh menyerang 500 prajurit yang mendatangi mereka dengan pisau biasa. Mereka mengayunkan pisaunya ke arah tangan.
Dalam sekejap, tinggal pemimpin pasukan negara Jakarta yang masih berdiri. Sedangkan yang lainnya telah jatuh pingsan.
Rosy yang tidak menduga bahwa kedua rekannya akan menyerang juga kebingungan.
Salah satu seorang pria bertopeng biru bisa mengeluarkan perkataan yang mengejutkan.
"Rosy, cepat bunuh aku. Bocah gila itu sudah mengendalikan kami!" kata pria bertopeng biru.
Kemudian dia langsung menyerang Rosy dengan sekuat tenaga. Pertarungan mereka bertiga terlihat sangat mengesankan.
"Bukankah pertarungan mereka sangat indah?" tanya Aldi menghampiri pemimpin pasukan Negara Jakarta.
"Memang sangat mengesankan, tetapi akan terdapat banyak korban jika para petinggi mereka datang mengunjungi Presiden," kata pemimpin pasukan.
"Tenanglah, serahkan para pembunuh padaku. Jika mereka berani membuat keributan, aku Shen Zero akan bermain dengannya!"
Perkataan tegas Aldi membuat pemimpin pasukan Negara Jakarta hanya tersenyum pahit.
"Namaku, Bagas. Aku seorang jendral negara Jakarta, jika memiliki waktu luang datanglah berkunjung."
Bagas mempunyai pandangan tersendiri terhadap Aldi, dia merasa bahwa Aldi bukan orang jahat atau membahayakan negara.
Jadi Bagas memutuskan untuk melepaskan Aldi. Walaupun kenyataannya dia sebenarnya tidka dapat menangkap Aldi.
Pertarungan dua pembunuh melawan Rosy akhirnya selesai dengan kemenangan Rosy. Walaupun dia sudah terluka parah, energinya masih cukup untuk melarikan diri.
Dengan kecepatan tinggi Rosy kabur dari tempat kejadian untuk menyembuhkan diri dan mengirim pesan kepada markas pusat di Kerajaan Lampung.
Suwiryo yang mendengar laporan Bagas sangat kecewa dengan tindakannya.
"Sudah aku bilang, organisasi pembunuh mempunyai dukungan yang tidak bisa kita provokasi!"
"Maaf, Presiden. Pria yang menyebut dirinya Shen Zero bukan seseorang yang mudah ditangkap atau dikalahkan."
Untungnya ketika salah satu pria bertopeng biru mengatakan bahwa dirinya sedang dikendalikan tidak terdengar oleh Bagas.
Jadi Bagas membelanya di depan pemimpin Negara, Suwiryo.