
Aldi menuju pasukan Mang De untuk memperhatikan gerak-geriknya. Dia tidak langsung keluar karena masih di bandara.
"Mang De, sebaiknya kita tidak menaiki pesawat," kata Mang Huang.
Mendengar itu, ekspresi Mang De berubah dan bertanya, "Kenapa?"
"Aku merasa bahwa pesawat yang telah kita naikin ada sebuah trik disitu!" jawab Mang Huang.
Trik yang dimaksud merupakan sebuah skema pembunuhan untuk mereka.
Aldi tersenyum mendengar itu, ia bergumam "Seperti yang diharapkan dari, Mang Huang."
Aldi memang mengendorkan Ban depan pesawat khusus mereka, tapi itu tidak untuk membunuh mereka. Hal itu ia lakukan agar mereka menggunakan transportasi darat.
"Ah ... apa karena Anak Kecil itu?" tanya Mang De.
Ekspresi Mang Huang berubah suran, ia berkata, "Anak itu tidak sederhana!."
"Mang Huang, apa kamu lupa keberadaan ku," kata orang tua yang selalu mengenakan jubah hitam.
Orang itu adalah Mang Han, dia merupakan orang terkuat nomor 2 setelah kepala keluarga Mang. Kekuatannya tingkat Biru Akhir.
"Tentu tidak, Tetua Han," kata Mang Huang dengan ekspresi takut.
Setelah berdiskusi mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakan transportasi darat.
Menggunakan Bus akan memakan waktu 7 minggu perjalanan dari Mojokerto ke Probolinggo. Jalur transportasi darat antar Negara sudah dibangun dengan sangat bagus, walaupun lebih jauh dari Kediri, waktu yang mereka tempuh hampir sama.
Setelah berjalan satu hari penuh, mereka beristirahat disebuah rumah tengah hutan.
Suara teriakan tiba-tiba terdengar di sebuah ruangan.
"Apa yang terjadi?" tanya Mang De ke rekan disebelahnya.
"Rekan kita dibunuh oleh orang tidak dikenal!" jawabnya dengan sedikit ketakutan.
"Siapa yang berani membunuh pasukan ku!" teriak Mang De menghadap langit-langit rumah.
"Lapor, Komandan. Pembunuhan ini memenggal 5 kepala rekan kita" kata seseorang berpakaian rapi, dia berpakaian rapi karena sedang bertugas jaga.
Orang yang berpakaian rapi sebenarnya adalah Aldi yang menyamar.
"Sial!"
"Mang De, apa yang terjadi?" tanya Mang Huang dengan Mang Han disebelahnya.
"Ada Pembunuh yang menghabisi 5 rekan kita, aku tidak mengira dia menyerang langsung didepan mata kita." jawab Mang De.
Mendengar kejadian itu, Mang Han memperhatikan sekitar.
"Bukankah sudah waktunya kau berhenti berakting?" kata Mang Han mengarahkan tatapannya ke Aldi.
Walaupun penyamaran Aldi tidak sempurna orang biasa tidak akan bisa mengetahuinya. Dia menyiapkan penyamaran ini tanpa teknik beladiri, jika orang tersebut sudah sangat berpengalaman akan mudah baginya mengetahui itu.
Semua orang menatap Aldi yang sebelumnya melaporkan kejadian.
"Seperti yang diharapkan dari, Tetua Han."
"Apa alasanmu mengejar kita?" tanya Mang Han dengan ekspresi marah.
Mendengar itu Aldi tidak langsung menjawab malah tersenyum.
"Bukankah sudah kukatakan, Aku akan membalas!."
"Haha, Shen Zero. Bukankah kau terlalu memandang tinggi dirimu?" kata Mang Han dengan tawanya yang menggelegar.
Dibawah tatapan semua pasukan Mang De, dia masih sangat tenang.
"Aku kira kamu salah ten —"
Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, Mang Han menyerangnya dengan teknik pukulan yang sangat kuat.
Aldi hanya mengelak ringan, tanpa ada perubahan senyum di bibirnya.
"Haha, Aku akan menguji seberapa kuat dirimu?" kata Mang Han dengan sombong.
Aldi adalah orang yang tidak peduli dengan martabat dalam pertarungan. Kemenangan adalah tujuan pastinya.
Sebelum menanggapi perkataan Mang Han, Aldi mengarahkan pedangnya ke Mang De.
Pedang itu menusuk Mang De tanpa hambatan, tapi Aldi tidak membunuhnya. Dia hanya menusuk dan melepaskannya dengan lupa serius.
"Baji*gan!" teriak Mang Huang dengan marah.
Aldi dengan Langkah Bayangannya sangat sulit untuk di serang.
"Bocah, sepertinya kau tidak ingin bertarung denganku!" teriak Mang Han dengan marah.
Mendengar itu, Aldi langsung menyerang dengan teknik pedangnya.
Setelah pertarungan singkat, Mang Han mulai melepas auranya.
Mang Han sekarang akan serius menghadapi musuhnya, tapi berbeda dengan Aldi yang masih menyerang orang yang dekat dengannya.
Senjata Mang Han dikeluarkan, itu adalah Buding. Senjata itu menyerupai pisau dapur tapi lebih besar.
Senjata itu melancarkan energi hitam yang pekat.
"Berapa orang yang kau bunuh dengan senjata itu?" tanya Aldi dengan ekspresi datarnya.
Senjata itu tidak hanya melancarkan energi jahat tapi dapat memperkuat penggunanya.
Mang Han berlari kearah Aldi yang lebih cepat dari sebelumnya.
Aldi bukan orang yang mudah diintimidasi.
Teknik Pembelahan Langit.
Siluet ungu pedang Aldi lebih pekat dari biasanya. Ketika kedua senjata bertabrakan, senjata Aldi tidak bergeming sedikitpun. Senjata Aldi hanya bongkahan besi biasa tanpa bahan khusus.
Teknik yang dia gunakan bisa memperkuat senjata yang dia pakai.
Setelah banyak bertukar serangan, Aldi bahkan tidak tergores sedikitpun. Berbanding terbalik dengan Mang Han yang terluka parah.
Mang Han tidak menduga kejadian ini, ia dengan lirih berkata, "Segel Hantu Lepas"
Aura Mang Han berubah menjadi hitam pekat. Hal itu bukan tingkatannya yang berubah tapi senjatanya mulai merasuki tubuh Mang Han.
"Haha, ternyata ada orang bodoh yang melepaskan ku lagi!" kata Mang Han.
"Ah ... jadi hantu, aku kira itu adalah iblis kuat," kata Aldi mencibir.
"Bocah, br*ngsek!"
Aldi sudah menyiapkan formasi segel. Formasi itu sudah dia buat untuk menangkap iblis tapi yang keluar hanya seekor hantu. Hal itu tentu sangat mengecewakan Aldi.
Iblis akan sangat bermanfaat bagi Shen Haise, tapi energi Qi hantu juga tidak bisa dianggap rendah.
Hantu itu mulai dibatasi oleh formasi, dia tidak bisa bergerak.
" Apa yang kau lakukan!" teriak Hantu yang mulai keluar dari tubuh Mang Han.
Aldi ingin mengeluarkan Shen Haise, aura d sekitarnya mulai berubah hitam, bahkan lebih jahat dari Hantu itu.
"Makan malam sudah siap, Nona," kata Aldi melihat Shen Haise berubah bentuk menjadi gadis cantik.
"Haha, lumayan untuk makan malam," jawab Shen Haise dengan senyum lebar.
Shen Haise mulai membuka mulutnya didepan formasi. Hantu itu tidak bisa berbuat banyak, bahkan mengucapkan sepatah katapun tidak bisa.
Melihat kejadian itu pasukan Mang De tidak berbuat apapun. Mereka sangat ketakutan ketika Shen Haise keluar dari tubuh Aldi.
Hantu redup, semua kekuatannya telah diperbaiki. Setelah Shen Haise menyerap Hantu itu dia melompat langsung menuju tingkat Tembaga 9. Dengan tingkat itu dia dapat melawan sebanyak apapun lawannya dibawah tingkat Biru Menengah.
"Ku serahkan semua Semut ini kepadamu!" kata Aldi menunjuk pasukan Mang De.
Tanpa menanggapi perkataan Aldi, Shen Haise mengeluarkan pasukan bayangannya untuk membunuh semua orang yang hadir.
Hanya tersisa Mang Huang yang terluka parah.
"Sangat disayangkan aku tidak bisa membunuhnya dengan kekuatanku sekarang," kata Shen Haise.
Aldi melesat mengarahkan senjatanya ke leher Mang Huang. Seketika kepalanya terputus dari tubuhnya.
"Inilah yang disebut, Memotong masalah sampai ke akarnya," kata Aldi dengan senyum ringan.
Kejadian ini merupakan pembantaian yang hening, karena pasukan Mang De menyewa rumah di tengah hutan.
Semua energi di serap oleh Shen Haise sedangkan sisanya diambil Aldi.
Aldi jelas dapat meningkatkan peringkatnya sekarang.
Pelelangan akan dilaksanakan 13 hari lagi. Aldi tidak meninggalkan rumah itu dia memperpanjang sewanya sampai satu bulan.
Sopir bus yang bingung ketika semua pasukan Mang De hilang, ia beritahu Aldi bahwa pasukan itu sudah tidak ada waktu dia menyewa rumah itu.
Aldi memperkuat tubuhnya sedangkan Shen Haise menstabilkan lompatan kekuatannya.
10 hari telah berlalu, sekarang Aldi siap untuk meningkatkan peringkatnya. Tubuhnya merupakan tingkat maksimal yang dapat di tampung peringkat 5.
Aldi mulai duduk tengah hutan, Tiba-tiba langit mulai mendung.
"Apa yang terjadi?" tanya Shen Haise kebingungan.
Aldi tidak menjawab perkataan itu, ia tetap melanjutkan meditasi. Hujan mulai turun dengan petir menyamnbar.
Petir yang sangat mengerikan menyambar Aldi, sampai batu yang ia duduki hancur seperti debu.
Aldi tidak bergeming ada 5 petir lagi yang akan menyambarnya.
Setelah 20 jam, 6 petir sudah menyambar Aldi. Hujan mulai mereda, ia membuka matanya.
"Peringkat 6, sukses tanpa hambatan."
"Apa itu tadi?" tanya Shen Haise kebingungan.
"Itu adalah harga yang harus aku bayar ketika meningkatkan kekuatanku," jawab Aldi dengan senyum ringan.
Selama 20 jam hujan deras, sebuah desa dekat hutan mengalami kebanjiran walau tidak memakan korban aktifitas bahkan tanaman mereka mati.
Aldi mengelilingi area sekitar hutan untuk memastikan tidak ada yang terdampak akan kebaikannya, harapannya sirna ketika melihat desa itu.
Tidak mau meninggalkan kesan yang buruk Aldi membantu semua penduduk desa serta menyumbang 100 emas untuk mereka kelola.
Padahal kejadian itu disebabkan olehnya, tapi penduduk desa menyebutnya Pahlawan.