
Alasan kenapa Sang Penguasa Segalanya tidak bisa memutar waktu karena Aldi sudah berhasil menguasai ruang. Sehingga setiap kejadian yang berhubungan dengannya tidak akan mudah untuk di manipulasi.
Sang Penguasa Segalanya adalah mahluk misterius yang tidak mempunyai jenis kelamin. Bisa dibilang dia adalah entitas yang sudah ada sebelum alam membentuk dirinya sendiri.
Buku yang selalu dipegang adalah titipan dari entitas yang lebih kuat darinya, banyak manusia menyebutnya sebagai God. Entitas tertinggi itu tidak bisa dilihat atau dihancurkan, bahkan Sang Penguasa Segalanya tidak pernah melihatnya.
Buku Awal Mula Alam Semesta sudah ada sebelum dirinya tercipta. Kemudian dengan kehendaknya, tiga mahluk kuat diciptakan. Mereka adalah Sang Pencipta, Sang Peramal, dan Sang Penguasa Segalanya.
Karena perkelahian Sang Pencipta dan Sang Peramal, banyak mahluk aneh tercipta. Warisan mereka berdua membuat banyak manusia serakah mengejarnya.
Singkat cerita warisan Sang Pencipta lebih lemah dari Sang Peramal karena manusia sudah memecahnya menjadi serpihan-serpihan kecil.
Seorang bernama Zuma berhasil mengumpulkan sebagian besar warisan sebenarnya dari Sang Pencipta. Sebagian lagi masih dipegang Nara, sang pewaris resmi.
Zuma adalah entitas yang seharusnya tidak ada di alam semesta, keberadaannya adalah kesalahan penciptaan. Leluhur Zuma tercipta dari serpihan batu Celah Dimensi, makanya Zuma bisa menggunakan kekuatan terbaiknya ketika berada di Celah Dimensi.
Setelah berkumpulnya warisan Sang Pencipta yang sebenarnya di dalam tubuh Aldi, kekuatannya akan melonjak dan menggetarkan seluruh alam semesta.
Pewaris Sang Pencipta akan lahir dan menggetarkan seluruh alam semesta. Namun untuk mencapai prestasi itu, Aldi harus berfokus dalam latihannya.
Waktu yang dibutuhkan tidak sebentar, dalam gua hukuman Aldi mengurung dirinya untuk memahami sepenuhnya Sang Pencipta.
Axel yang kehilangan jejak Aldi mengerutkan kening, dia menganggap pertarungannya dengan Nara berakhir dengan kematian keduanya. Dia adalah pewaris Sang Peramal yang tidak lengkap, tetapi mempunyai ingatan yang lebih banyak dari yang lainnya.
Pewaris lainnya tidak lain adalah tiga bersaudara Moris, Moras, dan Mosas. Hanya Moras yang masih terlihat di alam semesta, sedangkan Moris sudah menghilang karena bunuh diri.
Sedangkan Mosas memberikan warisannya kepada Zuma yang telah mati karena Sang Penguasa Segalanya menyingkirkannya dengan teknik waktu abadi. Keberadaan Zuma sangat merepotkan, karena Sang Penguasa Segalanya merasa bosan dia menyingkirkannya.
Keberadaan Aldi menjadi tantangan tersendiri untuk Sang Penguasa Segalanya, jadi dia membiarkannya menjadi sangat kuat dan akan menyingkirkan segalanya dengan mudah.
Waktu berlalu sangat cepat, tidak ada yang tahu berapa lama alam semesta sudah terlewat. Pasukan Axel yang sudah mencari di setiap sudut Celah Dimensi tidak menemukan keberadaan pasukan Seven Soul.
"Sialan, kemana sebenarnya para bocah itu menghilang. Tidak aku sangka kemampuan bersembunyi miliknya sangat hebat," kata Axel menggerutu.
Wajahnya yang tidak sedap dipandang mengundang pertanyaan Hemas yang memikirkan sebuah cara. "Tuan, kenapa kita tidak menghancurkan Dunia Utama untuk melihat sikap mereka?" katanya memberikan tanggapan.
Dunia Utama adalah salah satu entitas yang ada dibawah lindungan Seven Soul. Jika mereka semua menyerangnya, maka Seven Soul akan membuat pergerakan.
"Ide bagus, hancurkan Dunia Utama. Aku ingin melihat berapa lama mereka bisa bersembunyi!" kata Axel yang sudah mulai tidak sabar.
Pasukan Sang Peramal mulai bergerak untuk menghancurkan Dunia Utama. Dengan perlengkapan serba hitam, mereka berjalan seperti semut yang sedang mencari makan.
Karena melihat pergerakan pasukan Sang Pencipta, Mahesa yang memimpin semua pasukan Seven Soul memberikan perintah untuk melindungi Dunia Utama. Zelda akan memimpin pasukan yang akan menghadapi pasukan Axel, dia membawa 100 miliar orang dan 500 miliar mahluk celah dimensi.
Moras yang bisa meningkatkan jumlah mahluk celah dimensi langsung menggunakan tekniknya. Dia memproduksi mahluk aneh hingga jumlahnya triliunan. Tidak ada yang tahu bagaimana Moras menciptakannya, tetapi yang pasti tekniknya berhasil.
Pertarungan pasukan Axel dan Zelda pecah. Mereka bertarung dengan semua kemampuannya, bahkan Zelda menggunakan teknik pembalikan Jiwa untuk menghadang Hemas yang jendral Panca.
"Gerbang Kematian," kata Zelda menyebutkan nama kemampuan terakhirnya. Dia berasal dari Dunia Utama, apapun yang terjadi Zelda tidak akan membuatkan pasukan musuh menghancurkan kampung halamannya.
Lima ribu pasukan lainnya menggunakan kemampuan yang sama, mereka menggunakan gerbang kematian untuk melawan triliunan pasukan musuh.
Hemas yang merasa senang bisa melawan orang kuat seperti Zelda tidak membiarkan kesempatan terbuang sia-sia. Dia membuka segel kekuatannya, sehingga tubuhnya berubah menjadi monster yang mempunyai tinggi 7 meter.
Tidak ada yang bisa mengalahkannya di pasukan Seven Soul dan orang yang membela Dunia Utama. Namun Zelda dan lima ribu pasukannya tidak gentar sedikitpun.
Dengan pengorbanannya, setidaknya Seven Soul memiliki waktu untuk mengirim bantuan.
Zelda tersenyum manis dan berkata, "Tidak ada penyesalan dalam hidup. Harga mati untuk tanah air, darah mengalir untuk negara. Jiwa dan raga menjadi satu, Serang!" katanya menyebutkan perkataan yang sering dia katakan ketika peperangan di Dunia Utama.
Lima ribu pasukan yang mendengarnya ikut tersenyum dan langsung menyerang dengan teriakan penuh semangat.
"Serang!"
Ayunan pedang, ledakan terjadi dimana-mana. Semua pasukan yang dipimpin Zelda gugur satu persatu meninggalkan dirinya dan Hemas yang terluka parah.
Hembusan nafas yang tidak teratur, darah yang bercucuran di sekujur tubuhnya. Zelda masih tersenyum, "Sepertinya ini akan menjadi kekalahan, tetapi lihatlah semua pasukan mu sudah gugur."
Tidak ada satupun pasukan Hemas yang tersisa, tetapi pasukan Seven Soul sudah datang dan mengepung Hemas dan Zelda.
Adven yang menonton dari tadi tidak bisa tinggal diam, dia menyelamatkan Hemas dan menghilang dari pandangan semua orang.
Matanya tertutup, jantung ya berhenti berdetak dan tubuhnya mulai berubah menjadi transparan. Semua energi kehidupannya sudah terkuras habis, tidak mungkin untuk menyelamatkannya.
Mahesa yang datang terlambat tidak pernah mengira bahwa Hemas memiliki kekuatan untuk membunuh Zelda dan pasukannya. Dia kali ini salah menebak kekuatan musuh, dengan penuh penyesalan Mahesa menundukkan kepala dan berkata, "Terima kasih."
Bukannya permintaan maaf yang terakhir di dengar Zelda, melainkan ucapan terima kasih dari Jendral tertinggi pasukan Seven Soul.
Dengan senyuman manis, Tubuh Zelda menghilang dari alam semesta. Tidak ada yang mencela atau mencibirnya, dia berhasil melindungi Dunia Utama dengan kekuatannya.
Awalnya Mahesa sangat terpukul karena kematian salah satu rekannya dari Dunia Utama. Namun setelah tepukan dari Shen Yi, Mahesa berhasil menenangkan dirinya.
"Jangan bertindak gegabah, Bos masih melakukan pelatihan khusus. Aku yakin tidak lama lagi kita akan membalaskan kematiannya," kata Shen Yi memberikan nasehat.
Dia mengetahui hubungan yang baik antara Zelda dan Mahesa, tetapi nasib memisahkan keduanya. Shen Yi hanya bisa memberikan nasehat ringan kepada Mahesa yang sangat terpukul. Dia belum pernah kehilangan pasukan sebanyak ini.
Setelah melihat pergerakan pasukan Sang Peramal mengincar Dunia Utama, Mahesa memerintahkan beberapa orang untuk melindunginya.
Tanpa diduga serangan susulan dilancarkan dengan Adven sebagai pemimpin. Jelas pertarungan kali ini akan lebih menyusahkan karena kekuatan Adven lebih kuat dari Hemas.
Mahesa memimpin sendiri pasukannya, dia membawa banyak nama terkenal seperti Pak Jimin, Grock, Purnomo, dan beberapa pasukan Shadow Blade.
"Apa kamu yakin menyerang Dunia Utama setelah melihat rekanmu sekarat tempo hari?" tanya Mahesa mengandung sedikit nada ancaman. Dia sebenarnya tidak ingin bertarung dengan Adven, melainkan dengan Hemas yang terluka parah.
Namun sebagai pemimpin Mahesa harus bertanggung jawab.
Adven tidak menanggapi apapun. Dia masih memasang wajah datar dan memainkan pisau kecilnya.
Setelah menyadari bahwa Mahesa tidak bergerak, Adven langsung melemparkan pisaunya ke arah muha Mahesa. Tanpa diduga, Mahesa tidak menghindar. Dia menghentikan pisau dengan auranya.
"Baiklah, sebaiknya kamu tidak menyesalinya!" kata Mahesa mengeluarkan dua pedang yang dia ambil dari Zelda.
Sebenarnya Mahesa dan Zelda memiliki hubungan yang cukup spesial. Mereka berdua berjanji akan hidup tenang di Dunia Utama setelah peperangan dengan Axel berakhir.
Namun takdir mengatakan lain, mereka harus berpisah karena kematian Zelda yang membela Dunia Utama.
Kedua pedangnya di gabung kan menjadi satu di tangan kiri, sedangkan Mahesa mengeluarkan lagi sebuah tombak di tangan kanannya.
"Ayo bertarung bersama, Zelda," katanya lirih.
Pertarungan Antara Mahesa dan Adven terjadi sangat indah, serangan pedang Mahesa diimbangi dengan ayunan pisau yang sangat tepat.
Celah dimensi terguncang melihat pertarungan mereka berdua. Walaupun Mahesa mendapatkan luka setiap kali mengayunkan pedang dan tombak, dia tidka menyerah sedikitpun.
Adven yang sedikit lengah mendapatkan serangan telah dari Grock menggunakan pukulan terkuatnya. "Sejak kapan pemimpin bertarung sendirian?" tanyanya melirik Mahesa yang sedikit kehilangan arah.
"Terima kasih," kata Mahesa sambil tersenyum.
Tubuh Adven yang terbang langsung disambut oleh serangan gabungan Kim Hoon dan Kim William. Mereka berdua menggunakan jutaan sayatan untuk memberikan luka kepada Adven.
Namun siapa sangka, Adven masih tidak merubah ekspresinya. Dia tambak seperti kebal terhadap serangan Kim bersaudara.
"Dua nyamuk yang sangat merepotkan," kata Adven mengayunkan dua tangannya untuk menangkap pisau Kim Hoon dan Kim William.
Dengan tatapan yang mengerikan, Adven langsung menyerang mereka berdua menggunakan aura kematian. Namun Kim bersaudara adalah orang yang bisa menyerap energi kematian dengan sangat baik.
Menyadari hal tersebut, Adven melepaskan energinya dan melempar Kim bersaudara. Jika melanjutkannya energinya akan diserap habis.
"Menarik, aku ingin melawan pasukan terkuat Seven Soul. Ayo majulah semuanya!" teriak Adven sambil tersenyum. Akhirnya dia merubah ekspresinya setelah sekian lama.
Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, Pak Jimin langsung menentang kepalanya dengan kekuatan penuh. Raul dan Bernat menggunakan serangan cakar bersama untuk melukainya.
Sayangnya semuanya masih belum cukup membuat Adven bertarung dengan serius. Dia masih tampak sehat dengan tubuh yang penuh luka.
"Apa hanya ini kekuatan kalian. Ayo, serang aku dengan kemampuan terbaik!" kata Adven dengan nada sombong.
"Baiklah, mari kita coba menggunakan serangan yang sedikit mematikan!" seroang wanita dengan pakaian yang tampak seperti robot muncul, dia adalah Shen Qui.
Dengan nuklir super raksasa, dia mencoba melukai Adven yang belum tumbang dengan serangan gabungan pasukan Seven Soul.