The World Emperor System

The World Emperor System
Belum Saatnya Untuk Berpesta



Satu hari berlalu begitu saja.


Di ibukota Kekaisaran Utara.


Tak ada hari berkabung ataupun upacara pemakaman khusus untuk Kaisar dan seluruh penghuni istana Kekaisaran Utara. Ratusan mayat termasuk mayat sang Kaisar beserta Permaisurinya di bakar di halaman istana Kekaisaran dengan cara di tumpuk diatas kayu bakar.


Reinar sebenarnya ingin pemakaman yang sedikit lebih layak, tapi penduduk ibukota Kekaisaran tak mengizinkan pemakaman yang layak untuk orang-orang yang membuat hidup mereka sengsara. Reinar juga baru tahu dari cerita penduduk kota tentang betapa bejatnya Permaisuri Kekaisaran, sudah ratusan pemuda di culik untuk memuaskan nafsu sang Permaisuri, dan sebagian besar dari pemuda yang di culik mati dengan cara tragis saat Permaisuri sudah bosan dengannya.


“Apa semua ini layak untuk dirasakan oleh raga yang tak bernyawa lagi?.” Tanya Reinar tak tega melihat tumpukan mayat yang dibakar bersamaan diatas tumpukan bara api.


“Tentu itu pantas, biarpun hanya raga, tapi raga itu sudah di kenali sebagai sumber penderitaan, dan hukuman ini setimpal untuknya.” Kata Bella yang ada di samping Reinar.


Bella tentu masih ingat bagaimana Ayah dan Ibundanya yang dibunuh secara kejam oleh Kaisar Utara, dia juga masih ingat bagaimana Kaisar Utara memperk*sa Ibundanya di depan Ayahnya yang tengah sekarat. Karena itu, dialah pelempar batu terakhir yang membuat Kaisar Utara mati dengan setengah anggota tubuh hancur berkeping-keping.


Tak hanya itu, bahkan Bella juga yang membunuh Permaisuri Kekaisaran Utara dengan menggunakan belati kembarnya.


Reinar yang berada di sisi Bella hanya mendengar apa yang di katakan oleh salah satu wanitanya dengan tenang. Andai saja Bella melakukan tindakannya tanpa alasan, Reinar pasti menghentikan kekejaman Bella, tapi Reinar tahu jika apa yang dilakukan Bella semata untuk membalas kematian orangtuanya, dan tentu Reinar tak menghentikan kekejaman Bella.


“Maaf, aku tidak bisa menghibur mu saat kamu kehilangan mereka.” Kata Reinar sambil mendekap tubuh Bella masuk kedalam pelukannya.


“Dengan bersamamu, itu sudah lebih dari cukup untuk menghibur ku, dan dengan selalu berada di sisimu, aku selalu merasakan kebahagiaan.” Kata Bella sambil membalas pelukan hangat Reinar.


Tujuh wanita lainnya merasa iri, tapi setelah mereka tahu siapa Bella, dan masa lalu seperti apa yang dia alami, saat ini mereka membiarkan Bella mendapatkan perhatian lebih dari Reinar.


Tapi ada juga orang yang tak suka melihat kedekatan Reinar dan Bella, orang itu tak lain adalah walikota kota Eregion yang diam-diam sudah lama menaruh hati pada Bella.


“Maaf Yang Mulia, tak sepantasnya seorang Kaisar memeluk wanita yang bukan pasangannya di depan ribuan penduduk ibukota.” Kata walikota yang menunjukkan wajah ketidaksukaannya pada sosok Reinar, walaupun dia tahu jika Reinar bukanlah sosok yang bisa dia singgung.


“Kalau begitu, di mana tempat yang bisa aku gunakan secara bebas untuk memeluk wanitaku?.” Tanya Reinar yang tahu jika pria yang menegurnya tidak menyukai keberadaannya.


Mendengar perkataan Reinar, walikota sedikit terpancing emosinya, dan dia menatap sengit kearah Reinar yang juga tengah menatap tajam kearahnya.


“Carilah yang lain, dan jangan coba-coba untuk bersaing denganku kalau kamu tidak ingin merasakan kekalahan sebelum memulainya.” Kata Reinar dengan acuh.


Reinar memang berkata dengan acuh, tapi si walikota dapat merasakan tekanan aneh dari setiap kata yang keluar dari mulut Reinar, dan tekanan aneh itu membuat nyali walikota menciut.


“Yang Mulia memang calon pendamping terbaik untuk Putri Bella, aku Virgo mengaku kalah untuk mendapatkan apa yang mustahil aku dapatkan.” Kata Virgo, sosok walikota yang memilih mundur daripada bersaing dengan Reinar.


“Virgo, aku hargai perasaan mu, tapi perasaanku hanya untuk lelaku yang ada di sampingku, dan selamanya akan tetap seperti itu.” Ungkap Bella memperjelas perasaannya yang hanya dia berikan untuk Reinar.


Sebenarnya Virgo belum sepenuhnya ikhlas melepas wanita yang selama ini dia cintai, tapi saat melihat senyum Bella saat berada di sisi Reinar, mau tak mau Virgo harus melupakan perasaannya pada Bella, dan dia berjanji tak akan mengusik hubungan baik Reinar dan Bella.


Para wanita menatap kagum pada ketegasan Reinar yang tak akan melepaskan wanitanya, tapi tak sedikit wanita yang mengagumi Virgo akan kebesaran hatinya menerima keputusan wanita yang dia cintai.


Reinar ingin mengatakan sesuatu pada Virgo, tapi Freya datang dan meminta Reinar dan Bella untuk pergi menjauhi Virgo.


“Pergilah dari sini dan cobalah untuk menenangkan dirimu!.” Kata Freya.


“Yang Mulia benar, aku memang butuh waktu untuk menenangkan diri.” Balas Virgo sambil memberi hormat pada Freya dan setelahnya dia pergi meninggalkan panggung yang kini hanya ditempati Reinar dan delapan wanitanya.


Freya mengangguk lalu berjalan ke sisi Reinar. “Suamiku, apa kita tidak mengadakan pesta kemenangan?.” Tanya Freya yang sudah memeluk lengan kiri Reinar, sedangkan tangan kanan Reinar masih memeluk pinggang ramping Bella.


Reinar menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Freya. “Belum saatnya untuk berpesta, apa kau lupa masih ada Kekaisaran Selatan yang harus kita bereskan, selain itu aku juga ingin memberi sedikit hadiah untuk Kekaisaran Dark Demones.” Ungkap Reinar sambil tersenyum.


“Apa kita akan bertemu lagi dengan orang-orang menjijikkan seperti mereka?.” Tanya Shania yang tiba-tiba muncul dengan mata menatap jijik tumpukan orang Kekaisaran Utara yang tengah berada di dalam bara api.


“Kekaisaran itu adalah Kekaisaran yang lebih menjijikkan dari Kekaisaran ini.” Balas Reinar yang tahu akan seberapa menjijikan nya Kekaisaran Selatan setelah dia menerima laporan dari assasin bawahan Serena.


Saat Shania mulai emosi, sebuah tangan mengelus lembut punggungnya dan membuatnya kembali tenang. “Mati kita bersama-sama menghapus mereka dari dunia ini.” Ungkap Rhea yang masih mengelus punggung Shania.


Shania tersenyum melihat sosok Rhea yang merupakan sosok dibalik pesatnya peningkatan kekuatannya.


Melihat semua wanitanya berbaris di kanan dan kirinya, Reinar senang melihat mereka yang begitu akrab dan saling memberi dukungan satu sama lain.


“Yang Mulia....” Kata Argust yang muncul di belakang Reinar.


Reinar melihat kearah Argust dan menunggu laporan yang akan disampaikan Argust padanya.


“Yang Mulia, seluruh pasukan sudah siap. Kapan saja di minta, mereka siap pergi menuju Kekaisaran selatan dan menghancurkannya.” Kata Argust memberi laporan.


Reinar tersenyum. “Persiapkan mereka, dan besok pagi kita akan berangkat dengan kekuatan penuh.” Ungkap Reinar.


“Para Jenderal dan prajurit Kekaisaran ku juga telah siap bergerak." Kata Vexia.


“Istanaku juga sudah siap mengikuti pergerakan kalian semua.” Timpal Luna.


“Ratusan ribu elf yang setia dengan Kekaisaran lama juga sudah siap di posisi.” Kata Marco yang baru datang bersama Nina.


Reinar sejenak terdiam karena dia merasa masih ada yang kurang.


“Pasukan assasin siap membunuh musuh tanpa meninggalkan jejak.” Kata Serena yang kedatangannya mengejutkan banyak orang.


Reinar menganggukkan kepalanya melihat pasukan besar yang sudah bersiap untuk meluluhlantakkan Kekaisaran Selatan.


Tapi Reinar tak mau jumawa dan menyombongkan kekuatan pasukan besarnya. Dia tetap akan menyusun strategi perang terbaik, dan menempatkan orang-orang nya sesuai dengan kemampuan mereka.


***


Kekaisaran Elf wilayah selatan.


Istana Kekaisaran Selatan.


Aula pertemuan hening saat kabar kehancuran Kekaisaran Utara terdengar ke telinga Kaisar Selatan yang merupakan adik kandung dari Kaisar Utara.


Kematian Kaisar Utara dan seluruh penghuni Istana Kekaisaran Utara merupakan pukulan telah bagi Kaisar Selatan yang kehilangan seluruh keluarga yang ada di Kekaisaran Utara.


“Sial... Sial... Sial... Kita benar-benar meremehkan mereka. Andai saja sejak awal aku dan para pelindung Kekaisaran ku turun tangan langsung dan membantu Kekaisaran Utara, mungkin ini semua tak akan terjadi.” Kata Kaisar Selatan.


“Yang Mulia, mata-mata di perbatasan utara melihat pergerakan pasukan besar menuju ke wilayak Kekaisaran ini.” Lapor salah satu assasin penjaga istana Kekaisaran Selatan.


“Mereka datang, mereka benar-benar datang ke Kekaisaran ku. Karena mereka telah datang, wajib bagi kita untuk menyambut kedatangan mereka.” Kata Kaisar penuh ketegasan.


“Jenderal Barat, Jenderal Timur dan Jenderal Utara, bawa 20 Jenderal yang menjadi bawahan kalian, dan kerahkan dua juta prajurit menuju perbatasan.” Kata Kaisar yang kemudian menatap kearah Jenderal Selatan. “Jenderal Selatan dan kalian para pelindung Kekaisaran, kalian akan tinggal di istana dan menjadi pertahanan terakhir Kerajaan ini.” Imbuh sang Kaisar.


Semua orang mengangguk dan pergi untuk menjalankan tugas yang mereka dapat.


“Ini buruk, ini benar-benar buruk. Prajurit Kekaisaran ku memang banyak, tapi aku tidak yakin bisa mengalahkan mereka yang bahkan dengan mudah mengalahkan Kakak ku.” Gumam sang Kaisar yang seolah merasa jika dewa kematian tengah berjalan mendekat ke arahnya.


***


***Bersambung...***