
Menjelang malam Reinar dan Lilia tiba di kota Danau Biru berasa dua pria yang mengawal mereka. Tak ingin terburu-buru pergi ke tempat yang menjadi tujuan utamanya Reinar memilih mengajak Lilia bermalam di kota Danau Biru, dan baru keesokan harinya mereka akan pergi ketempat yang diperkirakan ada salah satu dari dua warisan Kaisar Naga yang belum dia dapatkan.
Dengan menggandeng tangan Lilia, Reinar menunjukkan ketenangannya saat memasuki kawasan kota Danau Biru disaat banyak mata pria menatap keindahan tubub Lilia.
Reinar tahu apa yang mereka pikirkan, dan dia juga yakin akan banyak orang bod*h yang akan menghambat perjalanannya.
“Kalian berdua tidak bisa melangkah lebih jauh sebelum membayar pajak keamanan selama berada di kota Danau Biru...” Kata pria bertubuh gempal dengan warna kulit sedikit gelap.
Pria itu bertelanjang dada dan membuat semua orang bisa melihat tubuh besarnya yang berotot. Dengan tinggi lebih dari dua meter, Reinar harus mendongak saat berhadapan dengannya.
“Kau terlalu tinggi!...” Kata Reinar, dan seketika tinggi pria itu setara dengan tinggi badan yang dimiliki Reinar.
“Aargh...” Pria yang menghadang Reinar tiba-tiba terjatuh dan mengeram sambil menahan rasa sakit saat dia merasakan sakit di kedua kakinya yang telah terpotong sampai sebatas lutut.
Pria lainnya mengurungkan niat mereka untuk mendekati Reinar dan Lilia setelah melihat apa yang menimpa salah satu pria yang mengganggu perjalanan mereka, tetapi tak semua pria mengurungkan niatnya.
Seorang pemuda dengan pakaian mewah muncul bersama belasan prajurit kota yang mengawalnya. Pemuda itu menatap Lilia penuh dengan minat ingin memilikinya.
“Bawa wanita itu dan singkirkan siapa saja yang mencoba menghalang-halangi kalian!...” Kata si pemuda dengan angkuhnya.
“Baik tuan...” Kata belasan prajurit kota membalas perkataan tuannya.
Reinar menggelengkan kepalanya melihat begitu angkuhnya seorang pemuda yang tidak bisa melihat sekuat apa orang yang akan dia sungguh. “Harus ku akui kalau wanita di samping ku mungkin adalah salah satu wanita tercantik di dunia ini, tapi aku benar-benar tidak menyangka jika pria di dunia ini banyak yang tidak laku sehingga ingin mengambil milik orang lain...” Kata Reinar mencibir semua pria yang sejak tadi sangat ingin menarik Lilia menuju ke atas ranjang mereka.
“Hanya pemuda lemah yang tidak bisa melindungi wanitanya tapi berkata seolah dirinya paling benar. Ingat baik-baik, di dunia ini yang kuat lah yang berkuasa, pemuda lemah sepertimu lebih baik mati dan aku bisa menjamin masa depan wanita itu akan lebih baik saat bersama ku...” Balas pemuda angkuh sambil membalikkan badannya.
“Dari banyaknya pengalaman yang aku miliki, orang sombong yang bod*h akan lebih cepat mati daripada orang lemah..." Kata Reinar sambil menunjukkan sikap tenangnya.
“Cih, terlalu banyak bicara!... Kalian cepat bunuh pemuda itu karena aku ingin wanitanya segera menjadi milikku!...” Kata si pemuda memberi perintah tanpa melihat kondisi orang-orang yang dia beri perintah.
Seketika suasana hening. Semua orang mulutnya terkunci rapat namun kedua mata mereka terbuka dengan sempurna saat melihat kejadian yang baru terjadi di depan kedua mata mereka.
Si pemuda yang begitu angkuh merasa aneh dengan keheningan yang terjadi. “Apa kalian tuli?... Cepat bereskan pemuda i...tu!...” Kata-kata terakhir pemuda itu terdengar lirih saat dia baru membalikkan badan dan melihat seluruh prajurit yang dia bawa telah mati.
“Ka..kau berani membunuh prajurit kota Danau Biru?...” Teriak si pemuda angkuh namun dia sesekali mengambil langkah mundur untuk menjauhi Reinar dan Lilia.
“Tuan, apa kami perlu membunuhnya?...” Tanya salah satu bawahan Reinar.
“Selesaikan dengan cepat dan bersihkan kekacauan di tempat ini!...” Kata Reinar memberi perintah dan tak sedikitpun dia menganggap keberadaan pria yang baru saja menghilang dari tempatnya.
Kedua bawahan Reinar sudah menghilang dari tempatnya, dan tanpa bertanya dia sudah tau apa yang tengah mereka kerjakan. “Lebih baik aku mencari penginapan untuk bermalam...” Kata Reinar membatin lalu dia melanjutkan perjalanannya dengan Lilia yang berjalan sejajar dengannya.
Sambil mencari penginapan untuk mereka bermalam, Reinar dapat mendengarkan orang-orang yang terus membicarakan kejadian yang baru saja terjadi di dekat gerbang kota Danau Biru.
Setelah berada tepat di tengah kota, akhirnya Reinar menemukan penginapan mewah yang membuatnya tertarik. Reinar berhenti di depan penginapan itu lalu dia menggandeng tangan Lilia dan membawanya masuk ke dalam penginapan.
Menemui pelayan yang melayani tamu penginapan, tanpa basa-basi Reinar langsung memesan kamar terbaik dan memberikan 10 koin emas untuk biaya sewa kamar selama satu malam.
Setelah mendapatkan tempat untuk bermalam Reinar langsung membawa Lilia masuk kedalam kamar, dan dia tak sedikitpun mempedulikan banyaknya pria tamu penginapan yang dari tatapan matanya seolah mereka mampu menelanjangi pakaian yang dipakai Lilia.
Baru juga Reinar ingin merebahkan diri di samping Lilia, terdengar suara ketukan dari pintu yang baru dia tutup.
“Tuan dan nona yang ada di dalam, apa kalian ada waktu untuk berpesta dengan kami?... Pihak penginapan tengah mengadakan pesta, dan seluruh penyewa kamar diperbolehkan mengikuti pesta yang dilakukan pemilik penginapan...” Kata seseorang yang berada di balik pintu kamar Reinar.
Reinar tahu pemilik suara itu adalah seorang pria yang sudah cukup berumur, dan dia tahu jika orang diluar mengajaknya karena mereka ingin mengambil Lilia dari sisinya.
“Lupakan saja kami!... Pesta seperti apapun tak akan memancing minat kami...” Kata Reinar tegas, lalu dia memasang sebuah pelindung di pintunya yang akan membuat ahli dibawah Dewa Langit terluka parah saat menyentuh pintu kamarnya.
“Kamu terlalu sombong anak muda!... Karena menolak kebaikan, jangan harap kami akan berperilaku baik lagi padamu!...” Pria di luar mencoba mendobrak pintu kamar yang di tempati Reinar.
BOOMM...
“Jangan mengganggu ketenangan ku kalau kalian tidak ingin bernasib sama dengan orang bod*h yang barusan ingin menghancurkan pintu kamar ku...” Kata Reinar dari dalan kamar.
Orang-orang di luar segera membubarkan diri. Tak ada satupun orang yang berani mendekati kamar Reinar. Seorang ahli tingkat Dewa Bumi menengah saja dibuat sekarat hanya dalam satu kali serangan, apa lagi mereka yang hanya ahli tingkat Dewa Rendah dan Abadi Langit, hanya kematian lah yang menanti mereka kalau masih berani mengganggu ketenangan Reinar.
“Orang seperti mereka tak akan pernah hilang dari dunia ini...” Kata Reinar sambil merebahkan tubuhnya di samping Lilia.
“Orang seperti mreka tak akan pernah hilang sampai kapanpun dari dunia ini kecuali tuan memusnahkan semua makhluk hidup yang ada di dunia ini...” Balas Lilia dengan mata terpejam.
Di kediaman Walikota kota Danau Biru.
Walikota Danau biru tengah melakukan pertemuan dengan seluruh sosok penting yang ada di kotanya.
Pertemuan mereka kali ini untuk membahas rencana melihat kekuatan aneh yang ada di lembah yang tak jauh dari kota Danau Biru.
“Apa benar tuan Walikota ingin pergi ke lembah itu?...”
“Benar, aku akan membawa beberapa orang kuat untuk memasuki lembah itu...”
“Tuan, tempat itu sangat misterius dan berbahaya, walau begitu saya tetap penasaran tentang alasan tuan ingin pergi ke tempat itu?...”
“Aku merasa di tempat itu ada harta berharga yang bisa menaikkan kekuatan kita, karena itu aku ingin mengajak kalian pergi bersama ku...”
“Sebenarnya bukan hanya tuan, kami selama ini juga merasakan hal yang sama...”
“Kalau begitu, apa kalian semua setuju ikut bersama ku pergi memastikan apa yang sebenarnya di tempat itu?...”
“Kami setuju...” Balas seluruh orang yang berada di ruangan Walikota.
“Baiklah, malam ini juga kalian bersiap!... Besok pagi-pagi sekali kita akan berangkat...”
Seluruh orang mengangguk setuju dan satu persatu orang-orang mulai pergi meninggalkan kediaman Walikota kota Danau Biru.
Di sebuah kamar penginapan.
Reinar dan Lilia sudah bersiap untuk pergi menuju lokasi yang menjadi tujuan utama mereka.
Baru juga beberapa melangkahkan kaki keluar kamar, lima ahli tingkat bumi puncak sudah menghambat perjalanan mereka.
“Enyah lah...” Kata Reinar bersamaan dengan musnahnya lima ahli yang mengganggu perjalanannya.
Kelima ahli berubah menjadi abu hanya dalah satu kali kedipan mata. Melihat kejadian yang begitu mengerikan, orang-orang semakin menjaga jarak dengan Reinar dan Lilia. Semua orang kini semakin yakin akan mati kalau mereka berani mengganggu dua orang yang melintas di depan mereka.
Reinar dan Lilia keluar dari penginapan dan langsung menuju pintu gerbang untuk meninggalkan kota Danau Biru. Dengan tenang Reinar menggandeng tangan Lilia pergi meninggalkan kota Danau Biru.
“Hutan ini terdapat cukup banyak aura manusia, aku merasa ada yang memiliki tujuan yang sama dengan kita, tapi sayangnya mereka bukanlah lawan yang bisa menyulitkan kita...” Kata Reinar yang terus melangkah bersama Lilia.
Reinar dan Lilia terus melangkah bersama. Daripada terlihat sebagai sepasang kekasih, mereka justru terlihat layaknya sepasang adik dan kakak.
“Tuan, sepertinya mereka sudah memasuki lembah!... Apa mungkin mereka sudah menemukannya?...”
Mendengar itu Reinar menggelengkan kepalanya.
“Apa tuan yakin?... Setidaknya jumlah mereka cukup banyak dan ada dua orang ahli tingkat Dewa Langit awal diantara mereka...”
Kali ini Reinar menganggukkan kepalanya. “Mereka tidak akan menemukan apa-apa selain kemalangan...” Kata Reinar.
***
Bersambung...