
Kekaisaran Han.
Kaisar Han Liong yang mendengar kabar dari salah satu tetua di keluarga Han yang sedang berada di kota Gunung Batu tentang keberadaan beberapa orang kuat di tempat itu, dia segera mengirim beberapa orang untuk membawa orang-orang itu ke istananya.
Saat ini Kaisar Han Liong sangat membutuhkan orang-orang kuat untuk menjadi pilar Kekaisarannya demi mempercepat keinginannya untuk menaklukkan Kekaisaran Ling.
Bahkan demi tujuan pribadinya itu, dia rela bekerjasama dengan salah satu sekte aliran hitam, dan sudah tak terhitung berapa nyawa wanita yang telah dia persembahkan pada sekte yang saat ini telah menjadi bagian dari Kekaisarannya.
“Bawa padaku wanita yang bersama mereka. Jika wanita itu kuat, dia akan sangat pantas menjadi persembahan untuk Patriak Sekte Gagak Merah.” Kata Han Liong pada orang-orang yang dia suruh membawa Reinar dan yang lainnya ke Kekaisarannya.
“Baik Yang Mulia, hamba akan membawa wanita itu ke hadapan anda.” Kata si pemimpin lalu dia membawa orang-orangnya pergi ke kota Gunung Batu.
“Sebelum aku serahkan pada bajing*n tua itu, untuk semalam wanita itu akan menghangatkan ranjang ku, itu juga kalau dia layak.” Gumam Han Liong lalu dia tertawa terbahak-bahak.
***
Kota Gunung Batu.
Pagi yang cerah menyambut Reinar yang baru keluar dari kamarnya. Di depan kamarnya Ling Feng dan Ling Zhe sudah menunggunya sejak beberapa saat yang lalu.
“Kakak ipar dan adik ipar, mari kita jalan-jalan di kota ini, sekalian kita mencari makan untuk mengisi perut.” Kata Reinar.
“Baik.” Jawab Ling Feng dan Ling Zhe yang selalu bersemangat saat mendengar kata jalan-jalan.
Setelah keluar penginapan yang penuh godaan wanita berpakaian setengah terbuka, mereka bertiga menyusuri jalanan kota Gunung Batu dan sesekali mereka membeli jajanan yang dijual di pinggir jalan.
“Ternyata ada lalat pengganggu yang ikut perjalanan kita.” Gumam Ling Feng.
Reinar dan Ling Zhe mengangguk, lalu mereka tiba-tiba menghilang dan membuat lima orang yang tengah mengawasi mereka kebingungan.
“Sial, kemana perginya mereka?.” Tanya sang pemimpin.
“Ketua, kami tidak merasakan jejak aura mereka." Kata salah satu bawahannya.
“Berpencar dan cari mereka!.” Kata sang pemimpin.
Belum sempat mereka berpencar, aura yang kuat menekan mereka dari arah belakang, dan ketika mereka menolehkan kepala, mereka hanya bisa terdiam terpaku di tempat saat melihat apa yang ada di depan matanya.
“Kenapa repot-repot mencari, sedangkan kami ada di sini.” Kata Reinar duduk santai di atap sebuah rumah berdekatan dengan lima orang suruhan Kaisar Han Liong.
“Ka... Kalian, bagaimana bisa kalian bisa mengetahui keberadaan kami?.” Tanya si pemimpin.
Reinar tersenyum lalu dia menatap tajam si pemimpin. “Jangankan mengetahui keberadaan kalian, membunuh kalian pun kami mampu kalau kalian tidak segera mengatakan apa tujuan kalian diam-diam mengikuti kami bertiga?.” Tanya Reinar tanpa merubah arah tatapan matanya.
Si pemimpin merasakan hal buruk akan menimpanya kalau dia tak segera menjawab pertanyaan Reinar. “Tu... Tuan dan nona, kami hanya orang yang diutus Kaisar Han Liong untuk membawa tuan-tuan dan nona ke istana Kekaisaran.”
“Kami tidak ada urusan dengan Kaisar kalian, dan kami menolak datang ke istananya. Dia saja menyuruh kalian membawa kami, bukan mengundang kami. Memangnya kami tahanan yang harus dibawa penjaga kemanapun kami pergi?. Pergilah dan katakan pada Kaisar kalian untuk mendatangi kami jika dia ada perlu dengan kami.” Kata Reinar lalu dia dan dua orang yang bersamanya menghilang tanpa meninggalkan jejak aura.
“Fiuhh...” Si pemimpin merasa lega setelah kepergian Reinar. “Memaksa mereka bertiga hanya akan membuat kita mati konyol, lebih baik kita kembali ke istana dan melaporkan semuanya pada Yang Mulia Kaisar.” Ujar si pemimpin lalu mereka berlima pergi meninggalkan kota Gunung Batu.
***
Jalanan kota Gunung Batu.
Reinar dan dua orang yang bersamanya melanjutkan perjalanannya dan tak lama berjalan mereka menemukan sebuah restoran yang cukup mewah dan mereka memutuskan untuk memasukinya.
“Selamat datang dan silahkan duduk tuan-tuan dan nona.” Kata seorang pelayan yang menyambut kedatangan Reinar dan yang lainnya dengan sopan.
Reinar, Ling Feng dan Ling Zhe lalu duduk dan memesan beberapa makanan dan minuman yang mereka inginkan.
Di sudut ruangan sosok pria tua tersenyum melihat kedatangan kelompok Reinar. “Sungguh kebetulan yang tak terduga.” Kata pria tua bernama Han Muji, salah satu tetua keluarga Han yang kebetulan tengah singgah dan bermain-main di kota Gunung Batu.
Han Muji bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah meja yang ditempati Reinar. “Anak muda, apa yang tua ini boleh bergabung bersama kalian?.” Tanya Han Muji.
“Silahkan, kebetulan masih ada satu tempat yang kosong.” Kata Reinar dengan senyuman, tapi di balik senyumannya, dia ingin sekali menendang pria tua yang baru datang karena dia tahu sejak tadi pria tua ini terus-menerus menatap penuh minat kearah Ling Zhe.
“Apa tuan sudah memesan makanan?.” Tanya Ling Feng yang juga merasakan hal yang sama dengan Reinar.
“Sangat menjijikkan.” Batin Ling Zhe yang ingin sekali melemparkan sumpit ke mata Han Muji.
“Pak tua Mu, aku Bai Rei, dan mereka teman seperjalanan ku Bai Feng dan Bai Zhe.” Kata Reinar menyamarkan identitasnya karena dia tahu hubungan buruk Kekaisaran Ling dan Kekaisaran Han dari cerita Ling Zhe.
“Keluarga Bai?. Kenapa nama keluarga kalian sangat asing di telinga ku?.” Tanya Han Muji pura-pura memasang wajah curiga pada kelompok Reinar.
Reinar hanya tersenyum dan belum menjawab karena masih ada pelayan yang mengantarkan pesanan makanan mereka.
Setelah pelayan pergi, Reinar menatap Han Muji yang tatapan matanya sering tertuju kearah Ling Zhe. “Pak tua Mu, bukannya tidak sopan terus-menerus menatap seorang gadis saat sedang makan?. Di keluarga kami, orang asing bahkan harus dihukum mati saat menatap wanita dari keluarga kami lebih dari lima kali kedipan mata, dan anda sudah sejak tadi melihat kearah saudari Bai Zhe.” Kata Reinar tegas.
“Ah itu maaf, pria tua ini hanya merasa jika wajah nona Bai Zhe sangat mirip dengan wajah mendiang istriku di masa mudanya.” Kata Han Muji gelagapan.
Mendengar apa yang Han Muji katakan, ingin sekali Ling Zhe mematahkan leher pria tua itu dan menendangnya menuju alam kematian.
“Apa anda bercanda?.” Teriak Ling Feng tiba-tiba.
Para tamu restoran seketika melihat kearah meja yang ditempati Reinar saat mendengar suara teriakan Ling Feng.
“Anak muda, siapa yang sedang bercanda?. Aku memang mengatakan yang sebenarnya, wajah nona Bai Zhe memang sangat mirip dengan wajah istriku, dan aku curiga dia adalah reinkarnasinya.” Kata Han Muji menunjukkan wajah memelas seolah dia sedang tertindas.
Reinar menggelengkan kepalanya. “Kalaupun dia reinkarnasi istrimu, apa yang ingin kamu lakukan?.” Tanya Reinar sambil meletakkan sendok makanan yang baru dia pegang.
Han Muji tersenyum lebar mendengar pertanyaan Reinar. “Tentu aku akan membawanya dan menikahinya kembali karena aku sangat mencintai istriku, biarpun dia hanyalah reinkarnasinya.”
“Huekkk....” Ling Zhe memuntahkan makanan yang belum sempat dia telan.
Semua temu kini menatap Han Muji, tapi tetap mereka dipenuhi rasa jijik pada pria tua yang sangat tidak tahu malu.
“Pria tua ini apa sudah bosan hidup.” Batin Reinar melihat wajah Ling Zhe yang siap meledak bersama dengan amarahnya.
Merasa diatas angin, Han Muji bangkit dari duduknya dan mendekati Ling Zhe lalu dia berlutut di sisi kursi yang di tempati Ling Zhe. “Nona Zhe, apa kau ingin kembali bersanding dengan ku, pria yang dulu sangat kamu cintai?.” Han Muji mengeluarkan cincin indah dari cincin penyimpanannya. “Ingatan masa lalumu pasti masih tersegel, tapi setelah menikah aku pasti akan membuka ingatanmu dengan bantuan seluruh saudaraku.” Lanjut Han Muji.
Ling Zhe tersenyum, tapi tak lama ekspresi wajahnya berubah lalu sebuah tinju melayang ke wajah Han Muji dan membuatnya terpental.
BOOMMM...
Tubuh Han Muji membentur dinding Restoran dan membuatnya berlubang.
“Lebih baik selamanya ingatanku tersegel daripada aki mengingat tentang pria menjijikkan seperti dirimu.” Teriak Ling Zhe yang disambut anggukan kepala seluruh pelanggan restoran.
“Kau berani memukulku?.” Teriak Han Muji bangkit dari reruntuhan dan menunjukkan jatidirinya yang merupakan bajing*n tua yang sering mencari kesenangan dengan para wanita muda.
“Orang tua jelek, aku akan membunuhmu!.” Teriak Ling Zhe.
Wusshh...
Ling Zhe melesat kearah Han Muji dengan kecepatan tinggi.
BOOMMM...
BOOMMM...
Seperti bola, tubuh Han Muji terus di tendang dan terlempar. Sesekali Ling Zhe menggunakan tinjunya untuk merontokkan tulang-tulang tua Han Muji.
Wajah Han Muji tak lagi bisa di kenali, dan seluruh tubuhnya sudah membiru setelah Ling Zhe menghajarnya tanpa belas kasih.
Reinar dan Ling Feng hanya bisa mengasihani nasib Han Muji, tapi mereka menilai wajar apa yang mereka lihat. Kalau Ling Zhe digantikan Reinar, pria tua itu sudah dipastikan mati dengan tubuh hancur tercerai berai.
“Untung bukan adik ipar yang memukulnya.” Batin Ling Feng melihat tangan Reinar gatal ingin memukuli Han Muji.
***
Bersambung...