
Jangan lupa biasakan like sebelum baca, dan tinggalkan komentar setelah selesai membaca.
satu saja like dan komentar kalian, itu adalah penyemangat tambahan untuk author.
***
***
Sepuluh hari setelah peperangan di perbatasan Kekaisaran Ling.
Istana Kekaisaran Han.
Setelah mendekam di penjara Kekaisaran selama beberapa waktu, hari ini tiba waktunya Han Liong menerima hukumannya. Dia tak sendirian, ada beberapa menteri Kekaisaran yang juga mendapatkan hukuman yang sama dengannya.
Pagi hari di istana Kekaisaran Han.
Lima leluhur keluarga Han sebagai orang terkuat di Kekaisaran Han telah hadir di panggung khusus yang di sediakan untuk mereka.
Kehadiran mereka adalah untuk menjadi saksi hukuman yang diberikan pada Han Liong beserta para menteri yang selalu mendukung seluruh kebijakannya.
Terlihat pria bertubuh kekar dengan pedang besar di genggaman tangannya bersiap di altar yang biasa digunakan untuk menghukum pesakitan yang merugikan Kekaisaran.
“Tuan, semua bisa di mulai.” Kata seorang prajurit memberi laporan pada leluhur tertua. “Kaisar Han Liong dan para menteri yang bersalah telah siap untuk menerima hukuman mereka.” Sambungnya.
“Semoga hukuman ini menjadi hal baik Kekaisaran ini.” Batin leluhur tua.
Leluhur tuan mengangguk, dan dia menyuruh si prajurit untuk segera melakukan hukuman eksekusi pada mereka yang harus di eksekusi.
Di altar tempat eksekusi hukuman mati, leluhur tua melihat Han Liong yang merupakan cicitnya. Matanya memerah merasakan kesedihan melihat nasib malang putra cucunya, tapi hukuman padanya harus tetap di lakukan untuk menyelamatkan Kekaisarannya.
Han Liong melihat ke arah leluhur tua. Dia mengangguk dan tersenyum setelah sadar semua kesalahannya, dan hukuman yang dia terima adalah untuk menebus semua kesalahannya. “Kehilangan satu nyawa jauh lebih baik dari kehilangan jutaan nyawa.” Batin Han Liong.
Kepala Han Liong menoleh dan melihat para menterinya yang akan bernasib sama dengan, dan mereka terlihat pasrah dengan hukuman yang akan mereka terima. “Maafkan aku!.” Kata terakhir Han Liong sebelum dia menghembuskan nafas terakhir, setelah dia menjadi orang pertama yang di eksekusi seorang pria yang ditunjuk leluhur tua sebagai algojo.
Begitu seorang tabib istana memastikan kematian Han Liong, tubuh sang Kaisar itu di masukkan kedalam peti, dan setelah itu eksekusi dilanjutkan dengan para menteri yang mendapatkan hukuman sesuai kesalahan mereka. Delapan menteri langsung mendapat hukuman mati, dan dua lainnya mendapat hukuman cambuk sebanyak 100 kali, lalu mereka akan menikmati kehidupan di dalam penjara selama sisa hidupnya.
“Kalian yang masih menghuni istana ini, belajarlah dari kesalahan mereka.” Kata leluhur tua sebelum dia pergi, tapi ada satu leluhur keluarga Han yang masih berada di tempatnya, karena dialah yang akan menjadi Kaisar baru Kekaisaran Han.
Han Jixi, pria tua yang terlihat masih gagah di usia yang hampir mencapai 1.000 tahun, mulai sekarang dia akan mengemban tugas berat memimpin Kekaisaran Han, dan dia juga harus segera membersihkan Kekaisarannya dari borok yang selama ini memperlemah kekuatan serta perekonomian Kekaisaran.
“Ini tidak akan mudah.” Batin Han Jixi yang juga harus memperbaiki hubungannya dengan Kekaisaran Ling.
***
Kekaisaran Ling.
Istana Kekaisaran Ling.
Reinar, Ling Feng dan Ling Zhe telah berhasil meningkatkan kekuatan mereka selama beberapa hari ini, dan hari ini mereka bersiap meninggalkan Kekaisaran Ling. Untuk beberapa hari kedelapan Reinar akan kembali ke Benua Nebula karena memang sudah waktunya dia kembali sebelum melanjutkan perjalanannya di Benua Zhongjian.
“Aku sudah tidak sabar bertemu dengan kakak Yue, dan aku akan menunjukkan padanya kalau aku bukan wanita lemah lagi.” Kata Ling Zhe yang sangat antusias saat Reinar mengajaknya pergi ke Benua Nebula.
“Kalau begitu bersiaplah, siang ini kita akan pergi setelah pamit kepada Kaisar Ling Mou.” Kata Reinar. “Kalian juga jangan lupa untuk pamit pada kakek buyut, aku sendiri sudah berpamitan dengannya.” Lanjut Reinar.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan Reinar, dan Reinar memilih berdiam diri di kamarnya sambil menyerap energi Qi bumi dan langit yang sebentar lagi tak akan bisa dia rasakan selama berada di Benua Nebula.
Siang hari di halaman Kekaisaran Ling.
Wusshh... Reinar dan yang lainnya sampai di hutan yang ada di wilayah selatan Benua Nebula, dan itu sangat jauh dari Kekaisaran Naga.
“Adik ipar, kenapa kita berada di tempat ini?. Bukannya tempat ini terlalu jauh dari istana Kekaisaran Naga?.” Tanya Ling Feng.
Wajah Reinar kelihatan kebingungan. “Aku menggunakan titik keberadaan Ling Yue sebagai titik tujuan teleportasi ku, dan anehnya aku merasakan sisa aura Ling Yue di tempat ini.” Kata Reinar.
“Ini aneh, tempat ini sangatlah jauh dari Kekaisaran Naga, tapi aku juga merasakan sisa aura nona Freya di tempat ini.” Balas Ling Feng yang membuat Reinar mengerutkan keningnya.
Tiba-tiba Reinar tersenyum. “Ada seseorang dengan aura aneh diantara mereka. Sepertinya ada yang ingin bermain-main denganku.” Gumam Reinar lalu dia mengajak Ling Feng dan Ling Zhe mencari jalan keluar dari hutan tempat mereka muncul setelah berteleportasi dari Benua Zhongjian.
Tak lama berjalan, Reinar dan dua orang yang bersamanya telah keluar dari hutan, dan mereka melihat jalan besar dengan banyak orang yang melaluinya.
Reinar, mengajak Ling Feng dan Ling Zhe mengikuti arah yang di tuju banyak orang, karena di arah itu dia bisa merasakan jejak aura Ling Yue, dan samar Reinar juga merasakan aura Freya serta Kakeknya.
Terus berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah kota dan setelah membayar 30 koin emas, mereka di izinkan memasuki kota dengan aura keemasan yang menyelimuti seluruh kota.
Reinar tersenyum karena merasakan aura kedua istrinya tak terlaku jauh darinya, tapi aura kematian sedikit merembes keluar dari tubuhnya saat dia merasakan aura kehidupan Kakeknya melemah. “Mereka akan menyesali apa pun yang telah mereka lakukan.” Batin Reinar lalu dia menggunakan teknik teleportasi menuju suatu tempat, tentu ada Ling Feng dan Ling Zhe yang menemaninya.
***
Kerajaan Dewa, sebuah Kerajaan yang menempati sebuah pulau yang berada di selatan Benua Nebula.
Pulau Dewa, pulau yang berjarak ribuan kilometer dari dataran Benua Nebula, tapi pulau itu tetap bagian dari Benua Nebula karena berda di dinding pembatas yang sama dengan daratan utama Benua Nebula.
Pulau dewa di huni oleh ras manusia setengah dewa. Di pulau dewa hanya ada satu kota, dan di kota itulah berdiri Kerajaan Dewa, satu-satunya Kerajaan yang ada di pulau dewa.
Di istana Kerajaan Dewa.
Seorang pria duduk di singgasana Kerajaannya, dan tak jauh di depannya ada dua wanita yang menatapnya dengan mata memerah, menandakan jika mereka tengah menahan amarahnya.
“Pertemuan sudah berakhir, tapi kamu justru menjebak kami dengan permainan licik mu.” Teriak Freya yang menjadi wakil Kekaisaran Naga dalam pertemuan antar Kekaisaran dan Kerajaan yang diadakan di Kerajaan Dewa.
Selain Freya, ada Ling Yue serta Kakek Richard Alfonsius yang menemaninya, tapi saat mereka ingin kembali ke Kekaisaran Naga setelah pertemuan berakhir, mereka justru tertahan di Kerajaan Dewa setelah Raja Malmoe meracuni Kakek Richard, dan hanya dia yang tahu penawarnya.
“Kalian adalah dua ras unggul di daratan Benua Nebula. Apa menurut kalian aku akan melewatkan kesempatan untuk memiliki kalian?.” Tanya Raja Malmoe bangkit dari tempat duduknya.
Freya dan Ling Yue menatap jijik pria tak tahu malu yang wajahnya lebih mirip dengan pantat ayam. “Cih, aku pasti sudah membunuhmu dan menghancurkan Kerajaan kecil ini kalau kamu tidak meracuni kakek.” Kata Freya.
“Hahahaha....” Raja Malmoe tertawa keras. “Kalian tinggal menjadi istriku. Dengan begitu, nyawa kakek tua tak bergua itu akan selamat, dan aku pasti akan membuat kalian bahagia dengan menjadi istri dan Permaisuri di Kerajaanku.” Sambungnya lalu dia berjalan mendekati Freya.
“Teruslah bermimpi.” Kata Ling Yue singkat.
Raja Malmoe tersenyum. “Kamu berkata mimpi, tapi bagiku mimpi itu akan jadi kenyataan. Setelah kalian menjadi milikku, kalin akan melihat kakek tua itu sembuh, dan aku akan menendangnya keluar dari pulau ini setelah dia sembuh.” Kata Raja Malmoe mencoba menyentuh rambut Ling Yue.
Ujung jari-jari Raja Malmoe berhasil menyentuh rambut Ling Yue, tapi tiba-tiba dia merasakan niat membunuh yang kuat saat sebuah lubang aneh muncul di dekat singgasananya.
“Bagus, kau berani menyentuhnya, artinya kau tahu konsekuensinya.” Kata sosok yang muncul dari lubang yang ada di dekat singgasana milik Raja Malmoe, dan tanpa rasa takut sosok itu duduk di singgasana dengan santainya.
Freya dan Ling Yue tersenyum melihat sosok yang mereka kenal, dan tentu mereka sangat merindukan sosok yang mereka lihat. “Kau telah dikunjungi dewa kematian.” Ungkap Freya lalu dia menunjukkan senyum sinis nya pada Raja Malmoe.
***
Bersambung.