
Setelah meninggalkan kelompok bertopeng hitam dan lima wanita yang telah dia selamatkan, Reinar dan Lilia menemukan perkemahan besar pasukan Kekaisaran Shin yang berjarak puluhan kilometer dari tempat dia meninggalkan kelompok bertopeng hitam.
Perkemahan besar yang terdiri dari ratusan tenda, setidaknya perkemahan itu bisa di huni lebih dari lima ribu prajurit.
Reinar menyuruh dua bawahannya untuk melakukan penyelidikan tetang seberapa kuat musuh yang akan dia hadapi. Sementara mereka berdua melakukan penyelidikan, Reinar dan Lilia akan langsung pergi ke tenda paling besar untuk menemui pemimpin pasukan.
Menyingkirkan lebih dulu adalah tujuan Reinar dan Lilia. Tanpa adanya sosok pemimpin yang memimpin mereka, pasukan besar hanya akan terlihat seperti anak ayam yang ditinggal induknya. Mereka hanya akan panik dan tentunya akan sangat mudah untuk memusnahkan mereka.
Setelah melihat-lihat tenda yang berjumlah ratusan, Reinar dan Lilia akhirnya menemukan satu tenda paling besar dan mewah yang berada di tengah-tengah perkemahan.
Dari dalam tenda, aura kekuatan orang terkuat dari seluruh orang yang ada di perkemahan juga dapat di rasakan oleh Reinar dan Lilia.
Di dalam tenda setidaknya ada lima orang yang kekuatannya setara dengan ahli tingkat Dewa Bumi menengah, dan satu orang terkuat yang auranya setara dengan ahli tingkat Dewa Langit awal.
Reinar dan Lilia terlebih dahulu mengamati tenda yang akan mereka masuki. Tenda itu hanya dijaga oleh empat prajurit dengan kekuatan di tingkat Raja Bumi menengah, itu tentunya bukan ancaman bagi mereka berdua.
“Swusshh...” Reinar muncul di depan dua prajurit dan langsung membunuhnya, untuk dua prajurit lainnya mereka mati di tangan Lilia.
Suasana malam dengan pencahayaan yang minim sangat membantu kesuksesan rencana yang telah di susun Reinar. Lilia adalah bagian dari Reinar, tentunya dia tahu semua yang di pikirkan Reinar. Tanpa diberitahu, dia dengan sendirinya sudah tahu apa yang direncanakan oleh Reinar.
“Siapa di luar?...” Teriak seseorang dari dalam tenda.
Meskipun tindakan Reinar dan Lilia sangat cepat dan tak menimbulkan banyak suara, tapi seorang yang kekuatannya setara dengan ahli di tingkat Dewa Langit awal, tentunya dia bisa merasakan perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Menghilangnya empat penjaga tenda dan kemunculan dua sosok asing di luar tendanya, dengan cepat membuat enam orang di dalam tenda bersikap waspada, bagaimanapun juga saat ini mereka tengah berada dalam situasi perang.
Reinar dengan menggandeng tangan Lilia lalu masuk kedalam tenda dan menunjukkan diri mereka pada enam orang yang menatap tajam kearah mereka berdua.
“Apa dengan cara berteriak seperti itu cara kalian menyambut seorang Dewa Kematian?...” Kata Reinar yang kemudian mengajak Lilia duduk di kursi yang masih kosong.
Keenam orang yang berada di dalam tenda tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan Reinar. Selama ini mereka lah yang dijuluki sebagai pasukan Dewa Kematian, lalu tiba-tiba ada yang mengaku sebagai Dewa Kematian di depan mereka, tentu itu sangat lucu bagi mereka.
“Sepertinya kalian tidak bisa menghargai seorang Dewa yang mengunjungi kalian, bagaimana kalau aku sedikit mengurangi jumlah kalian?...” Reinar berkata sambil mengibaskan tangannya.
Tiga bilah angin yang sangat tipis mengarah ke arah tiga orang yang paling dekat dengan tempat yang di duduki Reinar.
“Bugh... Bugh... Bugh...” Tiga kepala jatuh menggelinding bersamaan dengan tiga tubuh yang semula terduduk tiba-tiba terjatuh dengan darah mengalir deras dari luka yang ada di leher mereka.
Tawa ketiga orang yang tersisa seketika menghilang, digantikan rasa terkejut dan ketakutan pada sosok pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai sosok Dewa Kematian.
“Apa kalian bisa tenang dan tidak lagi tertawa seperti orang gila?... Atau kalian ingin menyusul mereka bertiga?...” Kata Reinar dengan santai sambil mengelus rambut panjang Lilia.
Mereka bertiga seketika diam membisu, bahkan pemimpin mereka yang kekuatannya setara dengan ahli di tingkat Dewa Langit awal, dia kini merasa ketakutan dengan sosok yang dengan mudah membunuh ketiga bawahannya hanya dengan kibasan tangan.
Reinar dan Lilia masih diam di tenda pemimpin pasukan Kekaisaran Shin menunggu laporan dua bawahannya, tetapi karena bosan Reinar membunuh dua orang lainnya dan hanya menyisakan si pemimpin yang wajahnya sudah sangat pucat.
“Aku hanya sedang bosan...” Kata Reinar acuh sambil menatap si pemimpin pasukan Kekaisaran Shin yang tubuhnya sudah dibanjiri keringat dingin.
“Swusshh...” Dua sosok muncul dari kekosongan dan langsung berlutut di depan Reinar.
Reinar melihat kearah mereka berdua, lalu secara bergantian mereka berdua mulai melaporkan hasil pengamatan yang mereka lakukan di seluruh sudut perkemahan besar pasukan Kekaisaran Shin
Reinar merasa kecewa dengan kekuatan pasukan Kekaisaran Shin setelah mendengar laporan dari dua bawahannya.
“Kekuatan pasukan mu sangat membuatku kecewa...” Kata Reinar lalu dengan cepat dia membunuh si pemimpin sebelum dia bisa membalas perkataannya.
“Swuusshh... Swusshh... Swusshh...” Sepuluh bawahannya berbaris rapi di depannya siap menerima perintah darinya.
“Bereskan seluruh pasukan di perkemahan ini!... Lakukan dengan cepat dan jangan biarkan ada yang meloloskan diri!...” Kata Reinar tegas memberi perintah kepada seluruh bawahannya.
Reinar dan Lilia lalu pergi menjauhi perkemahan besar yang kini telah berubah menjadi lahan pembantaian yang dilakukan sepuluh orang pada ribuan orang yang sebagian besar tengah menikmati tidur malamnya.
Dari kejauhan Reinar melihat bara api dan kepulan asap membubung tinggi dari tempat perkemahan besar pasukan Kekaisaran Shin bersamaan dengan keheningan hutan yang sebelumnya begitu berisik dengan suara jeritan dan teriakan.
“Jangan salahkan aku yang kejam pada kalian yang juga selalu bersikap kejam bahkan pada orang yang tidak menyinggung kalian...” Kata Reinar setelah dia menyerap ingatan dari pemimpin pasukan Kekaisaran Shin sebelum pergi meninggalkan tendangan.
Reinar melihat sepuluh bawahannya yang telah kembali dengan pakaian yang selalu terlihat bersih walau mereka baru saja membunuh ribuan orang.
“Kembalilah!...” Perintah Reinar dan mereka bersepuluh segera kembali masuk ke bayangannya
Melihat malam yang semakin larut, Reinar mengajak Lilia pergi ke kota terdekat untuk mencari sebuah penginapan.
Sebenarnya Reinar bisa bermalam di artefak miliknya, tetapi Lilia menolaknya dan dia ingin menginap di penginapan yang ada di sebuah kota, dan karena itu akhirnya Reinar memutuskan untuk mencari sebuah kota terdekat dari posisinya saat ini.
Dengan cepat Reinar menemukan sebuah kota berkat bantuan Lilia. Mereka berdua langsung masuk ke kota yang berada di bawah pengawasan Kekaisaran Shin.
Tak melewati pintu gerbang, Reinar dan Lilia dengan mudah memasuki kota setelah terbang dan mendarat di tempat yang jauh dari keramaian.
Reinar membawa Lilia mencari penginapan yang ada di pinggiran kota, dia tidak ingin menuju ke tengah kota karena di sana pasti banyak berkeliaran prajurit Kekaisaran Shin yang akan mengganggu waktu istirahatnya.
“Tring...”
Lonceng pintu penginapan yang Reinar masuki berbunyi dan tak lama seorang wanita paruh baya muncul menyambut kedatangan Reinar dan Lilia.
Wanita paruh baya itu dengan sopan menyambut kedatangan Reinar, dan dia bahkan mengantarkan Reinar dan Lilia ke kamar terbaik di penginapannya setelah Reinar memberinya satu koin emas.
“Wanita itu melakukan penyamaran dengan sangat baik, tetapi sayangnya dia tidak bisa menyembunyikan aura nya dari pandangan kedua mata ku...” Kata Reinar yang sejak awal sudah tahu kalau wanita paruh baya penjaga penginapan adalah bagian dari prajurit Kekaisaran Shin yang tengah menyamar.
Di tempat yang tersembunyi belasan prajurit Kekaisaran Shin bersembunyi sambil mengamati kamar yang ditempati oleh dua orang yang mereka lihat baru memasuki penginapan yang dikelola oleh pemimpin mereka.
“Wanita yang bersamanya sangatlah cantik, kita akan terpuaskan kalau bisa mendapatkannya...” Kata prajurit pria mewakili enam prajurit pria lainnya.
“Yang pria milik kami!... Awas saja kalau kalian berani melukainya!...” Kata prajurit wanita mewakili rekannya sesama prajurit wanita yang mengabdi pada Kekaisaran Shin.
Seorang wanita muncul dan memukul kepala dua orang yang terlalu berisi. Wanita yang baru muncul adalah pemimpin mereka, dan dia juga yang baru menyamar sebagai wanita paruh baya pelayan penginapan.
“Kalian terlalu berisik!...” Kata wanita itu dengan suara yang hanya bisa di dengar pasukan yang menjadi bawahannya.
Pasukan yang menjadi bawahannya tak ada yang membalas. Mereka hanya diam sambil menunggu perintah yang akan diberikan wanita yang merupakan pemimpin mereka.
“Seperti biasa, kalian prajurit pria duluan maju dan menebar serbuk perangsang agar mereka menghirupnya, dan setelahnya para wanita akan memasuk mengambil hak mereka. Setelah para wanita mengambil hak mereka, wanita yang ada di dalam sepenuhnya menjadi milik kalian...” Kata si wanita memberi perintah.
Mereka semua mengangguk dan ingin segera bergerak, tetapi belum juga mulai melakukan pergerakan sebuah suara membuat mereka semua terdiam mematung di tempatnya.
“Aku sudah baik memberikan satu koin emas untuk bermalam di penginapan bobrokmu, tetapi kamu justru berniat buruk padaku, dan satu lagi, jangan terlalu berisik karena ada yang sudah tertidur...” Kata Reinar yang muncul tepat di hadapan orang-orang yang berniat buruk padanya dan Lilia.
Setelah terdiam cukup lama, wanita yang merupakan sosok pemimpin akhirnya bisa membuka suara. “Ka..kau, siapa kau sebenarnya, dan apa yang kau inginkan?...”
“Orang-orang memanggilku dengan sebutan Dewa Kematian, dan tujuanku adalah membunuh para pria yang bersama kalian...” Kata Reinar santai.
Para wanita merasa lega karena mereka bukan orang yang menjadi target pemuda misterius yang auranya membuat tubuh mereka menggigil ketakutan.
“Sebelumnya aku ingin mencicipi tubuh kalian...” Reinar melirik prajurit wanita yang rata-rata memiliki tubuh yang sedikit berotot. “Tetapi kalian sudah rusak, dan lebih baik aku juga melenyapkan kalian!...” Kata Reinar sambil menyeringai lebar melihat mangsa yang ada di depannya.
***
Bersambung...