The World Emperor System

The World Emperor System
Rencana Balas Dendam



Aula pertemuan kota Border.


“Yang Mulia, apa sekarang kamu bisa menjelaskan bagaimana bisa kamu mengenal putri Bella?.” Tanya Vexia.


“Aku pernah bermimpi bersamanya saat masih berada di dunia lamaku. Itu bukan hanya mimpi, tapi aku dan putri Bella pernah melakukan hubungan layaknya sepasang suami istri dalam mimpi itu, dan itu tak hanya sekali.” Kata Reinar menjelaskan semuanya tanpa ada yang dia tutup-tutupi.


Freya, Rhea dan Vexia terdiam mendengar penjelasan Reinar, namun tiba-tiba suara Bella membuat mereka tersenyum karena mereka sudah tahu tentang semua yang akan menjadi pasangan Reinar dari Allea, ibunda Reinar.


“Dia bahkan sudah berjanji akan menikahi ku.” Kata Bella yang membuat bibir Reinar berkedut, tapi itu justru terlihat lucu bagi tiga wanita lainnya.


“Tuanku, sepertinya kau harus menepati janji itu.” Kata Rhea.


Reinar mengangguk pasrah. Setelah tahu mimpi yang dia alami dengan Bella adalah sebuah skill dan merupakan sebuah kenyataan, Reinar tahu jika dia harus menepati janjinya.


“Hehehehe, mari kita sambut saudari baru kita.” Kata Vexia menuangkan anggur di semua gelas yang ada di atas meja.


“Dengan begini kita sudah lengkap.” Ujar Freya yang di angguki Rhea.


Keempat wanita itu lalu melalui malam mereka dengan bersenda gurau sambil menikmati berbagai hidangan dan minum minuman yang telah di siapkan pihak kota Border.


Sedangkan Reinar, dia lebih memilih menyingkir dan menemani kakak Bella yang tengah berada di taman yang tak jauh dari aula pertemuan kota Border.


“Aku sangat tidak menyangka jika Yang Mulia adalah sosok pemuda yang selama ini di cari adikku.” Kata Marco, kakak dari Bella.


“Aku sampai detik ini sebenarnya masih belum percaya jika wanita di mimpiku benar adanya, bahkan saat ini aku berada di tempat yang sama dengannya.” Ungkap Reinar sambil memberikan gelas berisi minuman anggur pada Marco.


Suasana sedikit menjadi hening saat Marco menerima gelas berisi minuman anggur dari Reinar


“Itulah kelebihan skill yang di miliki adikku. Dengan skill itu dia bisa pergi ke mimpi seseorang, dan jika ingin, dia bisa dengan mudah membunuh orang yang mimpinya dia masuki.” Kata Marco meminum anggur pemberian Reinar.


Reinar sesaat tersenyum. “Sungguh skill yang mengerikan, dan aku beruntung dia tidak membunuh ku saat dia memasuki mimpiku.” Kata Reinar.


“Mana mungkin adikku membunuh pria yang begitu dia cintai.” Ungkap Marco tersenyum lebar.


Reinar menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Marko ungkapkan.


“Aku sudah memiliki tujuh calon istri, apa kamu tidak apa-apa menyerahkan adikmu padaku?.” Tanya Reinar setelah sesaat terdiam.


Marko tersenyum dan memandang Reinar. “Aku bahkan sudah merestui hubungan kalian sejak pertama kali aku melihat mu.”


“Kalau seperti itu aku hanya perlu menepati janjiku dan membuatnya bahagia. Selain itu secepatnya aku pasti menemui orangtua kalian untuk meminta restu dari mereka.” Kata Reinar duduk dengan tenang di kursi bersebelahan dengan pria yang akan menjadi kakak iparnya.


“Yang Mulia tidak perlu menemui orangtua kami karena seratus tahun yang lalu orangtua kami tewas dalam pertempuran melawan dua kekuatan besar ras elf yang mengkhianati nya.” Kata Marco pelan dengan dendam yang masih dia rasakan saat mengingat kematian orangtuanya.


Reinar mengangguk, dan dia bisa merasakan betapa besar dendam yang harus ditanggung kakak iparnya selama ini.


Tubuh Marco bergetar merasakan aura yang Reinar keluarkan, dan kini dia tahu sekuat apa Reinar hanya dengan sedikit merasakan aura yang Reinar keluarkan. “Bahkan aura dua Kaisar itu tak akan bisa melebihi aura yang di keluarkan nya.” Batin Marco sambil menggelengkan kepalanya.


“Dengan bantuan mu aku yakin bisa menuntut balas akan kematian mereka.” Kata Marco. “Setelah kematian mereka, aku yakin ras elf dan ras yang lainnya akan bisa hidup berdampingan dalam damai seperti dulu.” Imbuh Marco sambil tersenyum.


“Aku tidak tahu kehidupan apa yang dulu pernah ada di benua ini, tapi jika itu baik untuk semua orang, aku akan sangat senang jika kehidupan seperti itu kembali tercipta di benua ini.” Ungkap Reinar.


“Bisa aku pastikan jika kehidupan di masa lalu itu adalah kehidupan yang diimpikan banyak ras di masa ini. Kehidupan tanpa peperangan, dan tak ada wilayah yang terbagi-bagi, artinya semua ras bebas memilih tinggal di wilayah manapun.” Kata Marco yang sedikit menyimpan ingatan kehidupan semua ras di masa lalu.


“Aku jadi penasaran dengan kehidupan masa lalu yang ada di ingatanmu.” Kata Reinar penasaran.


Reinar menciptakan empat bola api berwarna putih dan melemparkannya ke empat penjuru taman, dan seketika taman yang gelap menjadi terang.


Mata Marco terbuka lebar melihat tipe elemen api Reinar. “Apakah dia seorang yang berasal dari ras Dewa?.” Tanya Marco membatin. “Sepertinya masih banyak rahasia yang belum aku ketahui tentang dirimu.” Kata Marco tersenyum.


“Aku memang memiliki rahasia, bahkan banyak rahasia yang masih aku sembunyikan dari siapapun.” Kata Reinar. “Aku adalah satu-satunya ras Imortal di dunia ini, dan aku punya Lilia, sebuah sistem yang selalu memberi bantuan padaku.” Kata Reinar tentunya di dalam hati.


“Sepertinya mereka telah selesai, lebih baik kamu segera menemui mereka.” Kata Marco yang kemudian menghilang dari tempatnya.


“Kakak ipar ku memang cepat, tapi aku jauh lebih cepat darinya, dan aku masih dengan jelas melihat gerakannya.” Gumam lirih Reinar.


Marco adalah seorang elf dengan elemen angin yanh berfokus pada kecepatan dan kelincahan. Marco memang tidak kuat secara fisik, tapi dia selalu unggul dalam kecepatan dan kelincahan.


Empat wanita yang sejak beberapa saat yang lalu mendengar pembicaraan dua pria yang begitu serius mereka hanya bisa diam dan menunggu mereka selesai.


“Tak salah menjadikannya pemilik hatiku. Dia menepati janjinya, dan dia juga telah meminta restu pada kakakku. Bahkan aku tak menyangka dia akan mau membantu membalaskan dendam pada mereka yang telah merenggut nyawa orangtuaku.” Batin Bella.


Tiba-tiba Reinar muncul di belakang mereka berempat dan membuat mereka semua terkejut.


Dengan menunjukkan senyum canggung, keempat wanita bersama menatap Reinar.


“Apa yang kalian lakukan di tempat ini?.” Tanya Reinar pura-pura baru menyadari keberadaan mereka.


“Ah itu, kami sedang mencari angin segar.” Balas Vexia.


“Ehm iya, kami sedang butuh angin segar.” Timpal Freya, sedangkan dua wanita lainnya hanya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Vexia dan Freya.


“Malam ini cukup dingin, mungkin ada diantara kalian yang ingin menemaniku malam ini?.” Kata Reinar yang langsung menghilang dan muncul di kamar yang khusus disiapkan untuknya.


Keempat wanita saling memandang. Tak lama mereka tersenyum, dan selanjutnya mereka berempat menghilang dalam waktu bersamaan.


***


***Bersambung....***