The World Emperor System

The World Emperor System
Serangan Sekte Lembah Tengkorak



Berkat teknik penyerap yang di ciptakan sendiri olehnya, dalam dua hari Reinar telah menyerap habis aura kematian yang tersimpan di kristal kematian.


Energi dalam dantian Reinar mengamuk yang menandakan dia akan menerobos ke tingkat yang lebih tinggi.


BOOMM...


Aura kuat menyebar ratusan kilometer dari tempat Reinar saat dia berhasil menerobos ketingkat Raja Dewa awal, tetapi energi dalam dantian Reinar masih penuh dan terus mengamuk.


BOOMM...


Sekali lagi energi kuat menyebar, kali ini area seluas lima ratus kilometer dari tempat Reinar dapat merasakan energi kuat dari tubuh Reinar saat dia menerobos ke tingkat Raja Dewa menengah.


Setelah dua kali mengalami terobosan, energi di dalam dantian Reinar mulai setabil, dan energi besar yang menyebar ratusan kilometer telah terserap kembali ke dalam tubuh Reinar.


Reinar tidak perlu meningkatkan pondasi tubuhnya, karena pondasi tubuhnya sudah berada di puncak, atau bisa dikatakan tubuh Reinar seribu kali lebih kuat dari kultivator yang setingkat dengannya.


Setelah dua hari menutup mata perlahan Reinar membuka matanya, dan kini dia merasa tubuhnya terasa jauh lebih ringan tapi dia dapat merasakan kekuatannya yang jauh lebih besar dari sebelumnya.


“Mereka sepertinya sudah bersiap untuk berperang!...” Kata Reinar merasakan keberadaan jutaan orang seribu kilometer dari tempat yang sekarang dia tempati.


“Swusshh...” Reinar muncul di dekat 10 bawahan yang berjaga di sekitarnya.


“Ikut dengan ku!...” Kata Reinar.


“Baik tuan...”


Dengan kecepatan penuhnya Reinar pergi ke wilayah khusus yang dijadikan tempat peperangan Organisasi Lembah Kematian yang akan menghadapi kekuatan penuh Sekte Lembah Tengkorak.


Reinar dan ke-sepuluh bawahannya muncul di bukit yang tak jauh dari padang rumput yang sebentat lagi akan merubah menjadi tempat pertumpahan darah.


“Carilah tempat yang nyaman untuk kalia, karena kita akan melihat pertunjukan yang cukup menarik...” Kata Reinar yang telah duduk di sebuah dahan pohon yang cukup besar dan membuat nyaman untuk di duduki.


Sepuluh sosok bawahan Reinar dengan cepat menyebar dan menempati tempat yang membuat mereka nyaman, tetapi mereka tak ada yang pergi terlalu jauh dari tempat Reinar.


“Sepuluh ahli tingkat Raja Dewa awal, kekuatan mereka benar-benar meningkat saat kekuatanku meningkatkan...” Kata Reinar membatin saat melihat tingkat kekuatan ke-sepuluh bawahannya.


Di padang rumput luas tempat peperangan yang akan segera di mulai.


Patriak Sekte Jun Quro dan ratusan tetua Sekte Lembah Tengkorak tengah menyiapkan dua juta murid Sektenya untuk melakukan pemusnahan total pada Organisasi Lembah Kematian.


Sementara itu di sisi Organisasi Lembah Kematian, Cao Peng sebagai pemimpin tertinggi dari Organisasi Lembah Kematian juga telah menyiapkan kekuatan yang tak kalah besar dari kekuatan Sekte Lembah Tengkorak.


“Musnahkan Organisasi Lembah Kematian!... Tunjukkan pada mereka kekuatan sesungguhnya dari Sekte Lembah Tengkorak...” Kata Patriak Jun Quro memberi motivasi untuk memancing semangat juang seluruh murid Sektenya yang ikut berperang.


Dua juta murid Sekte Lembah Tengkorak langsung berteriak membakar semangat di tubuh mereka. Aura yang begitu gelap keluar dari tubuh seluruh murid Sekte Lembah Tengkorak, keluarnya aura itu menandakan mereka telah siap berperang.


“Serang dan habisi semua musuh!...” Teriak Patriak Jun Quro lalu dia melesat kedepan memimpin Sektenya menggempur Organisasi Lembah Kematian.


Di sisi lain Cao Peng segera menarik pedang miliknya dan dia arahkan ujung pedangnya ke arah Patriak Jun Quro yang memimpin pasukan Sekte Lembah Tengkorak. “Serang dan buat mereka menyesal karena berani berurusan dengan Organisasi Lembah Kematian!...” Teriak Cao Peng dan dia memimpin seluruh anggotanya untuk menyambut kedatangan Patriak Jun Quro beserta pasukannya.


Teknik jarak jauh mulai dilemparkan oleh kedua kubu di saat jarak mereka semakin mendekat.


BOOMM... BOOMM... BOOMM...


Ledakan besar yang membuat tanah bergetar terdengar saat ribuan energi yang sama besarnya saling berbenturan dan seketika membuat mencekam medan peperangan.


Pedang, tombak, dan tinju tangan kosong mulai beradu saat benturan besar terjadi diantara kedua kubu.


Pedang sudah di ayunkan, tombak sudah di hujamkan, dan darah mulai mengalir mengganti warna hijaunya rumput dengan warna merah darah yang masih mendidih.


Kedua kubu tak ada yang ingin mengalah, seribu atau bahkan sejuta nyawa akan mereka korbankan demi kemenangan yang menjadi tujuan mereka berperang.


Dari tempatnya Reinar dapat melihat peperangan yang berimbang dari jumlah dan kekuatan, tetapi yang jadi fokus Reinar bukanlah peperangan.


Setiap menit berlalu kedua belah kubu semakin banyak kehilangan anggota mereka, tetapi mereka terus bertempur seolah kematian rekan mereka bukan akhir dari segalanya.


Patriak Jun Quro dan Ketua Cao Peng saling berhadapan dan saling menunjukkan keahlian mereka. Tombak melawan pedang, mereka berdua terus bertarung tanpa mempedulikan luka yang telah mereka terima.


Biarpun tingkat kekuatan mereka sama, terlihat jika kekuatan fisik Patriak Jun Quro jauh lebih bagus dari kualitas tubuh Ketua Cao Peng. Seiring waktu berlalu Patriak Jun Quro pasti akan menang, kecuali ada keajaiban yang menghampiri Ketua Cao Peng.


“Ternyata perang ini jauh lebih besar dari yang aku bayangkan...” Kata Reinar lalu dia tersenyum saat melihat pergerakan dari dua ahli tingkat Raja Dewa puncak yang di miliki masing-masing kubu.


“Ini yang aku tunggu, pertarungan antar Raja Dewa puncak...” Kata Reinar dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.


Reinar kemudian bergerak mendekati tempat yang akan dijadikan tempat pertarungan antar ahli di tingkat Raja Dewa. Butuh beberapa detik untuk sampai ke tempat pertarungan mereka, tetapi baru juga sampai, Reinar sudah disuguhi pemandangan pertarungan yang dahsyat antar dua ahli tingkat Raja Dewa.


“Mungkin ini hari keberuntungan ku dapat menyaksikan pertarungan mereka...” Kata Reinar lalu dia menyuruh sepuluh bawahannya yang ikut kemanapun dia pergi untuk menyebar dan mencegah adanya sosok yang kabur diantara dua orang yang tengah bertarung.


Pertarungan di tempat Patriak Jun Quro dan Ketua Cao Peng telah sampai di klimaksnya dengan Patriak Jun Quro yang berhasil menusuk jantung Ketua Cao Peng.


Tetapi saat Patriak Jun Quro mengira Ketua Cao Peng telah mati, dia melihat Ketua Cao Peng bangkit namun dalam wujud yang berbeda. Kulit tubuh milik Ketua Cao Peng sepenuhnya telah menghitam, dan kini dia memiliki sepasang tanduk besar di kepalanya.


“Ternyata kamu bisa melakukan perubahan wujud, tapi jangan kira hanya kamu yang bisa melakukannya...” Kata Patriak Jun Quro lalu wujudnya segera berubah dan kini wujudnya tak jauh beda dengan wujud Ketua Cao Peng.


Pertarungan mereka kembali terjadi, namun kini kekuatan mereka jauh lebih besar dari sebelumnya.


Reinar yang tengah melihat pertarungan dua ahli tingkat Raja Dewa merasa kekuatan besar di tempat lain yang juga tengah bertarung. “Hahaha... Dua orang itu juga lumayan, tapi aku lebih tertarik dengan mereka...” Kata Reinar lalu dia mengirim satu tubuh bayangan untuk melihat pertarungan Patriak Jun Quro dan Ketua Cao Peng.


Kedua mata Reinar kembali fokus melihat pertarungan dua pria berjubah hitam dengan aura yang menurutnya sangat menjijikkan. “Kalau aku tidak tertarik dengan pertarungan mereka, mungkin sejak tadi aku sudah membunuh mereka...” Gumam Reinar sambil menikmati cemilan kue kering yang dia beli dari toko sistem.


Sepuluh bawahan Reinar tak membutuhkan makanan karena mereka hanya memakan energi Qi. Jadi selama ada energi Qi, mereka akan tetap hidup walau tubuhnya sudah hancur. Bisa dikatakan mereka adalah makhluk abadi selama ada energi Qi di sekitar mereka.


Pertarungan di depan Reinar semakin menarik saat keduanya mulai menggunakan teknik terkuat yang mereka miliki untuk saling melukai lawan.


BOOMM... BOOMM...


Ledakan besar terus terjadi saat mereka terus menerus mengadu teknik yang sama kuatnya. Seperti tak memiliki rasa lelah, mereka terus beradu teknik walau hasilnya masih sama.


“Aura ahli tingkat Raja Dewa dari kubu Sekte Lembah Tengkorak terlihat lebih setabil. Dia akan menang, tapi aku ingin melihat seperti apa cara dia menang...” Gumam Reinar menikmati pertarungan yang terus berlanjut.


Waktu terus berjalan dan kini peperangan memasuki tahap akhir dengan kubu Organisasi Lembah Kematian yang dapat dipastikan akan mengalami kekalahan.


Biarpun menang, Sekte Lembah Tengkorak akan mengalami kerugian karena banyaknya murid yang mati dalam peperangan. Dari dua juta, kini hanya tersisa dua ratus ribuan murid Sekte Lembah Tengkorak yang masih hidup atau sedang terluka.


Kemenangan yang sangat menyakitkan. Dapat dikatakan jika kini kekuatan Sekte Lembah Tengkorak hanya menyamai Sekte menengah, bahkan jumlah murid mereka lebih sedikit dari jumlah murid Sekte menengah.


Pertempuran di tempat Patriak Jun Quro dan Ketua Cao Peng juga telah selesai dengan kemenangan Patriak Jun Quro yang telah membuat hancur tubuh Ketua Cao Peng.


Biarpun menang kultivasi Patriak Jun Quro harus mengalami kemunduran setelah dia menggunakan teknik terlarang. Kini dia hanyalah seorang kultivator tingkat Dewa Rendah awal, dan itu membuat dia menjadi Patriak Sekte terlemah yang ada di daratan Benua Zhongjian.


Reinar yang tahu peperangan yang telah berakhir mengirim sepuluh bawahannya untuk membereskan sisa-sisa kekuatan Sekte Lembah Tengkorak, sedangkan dia sendiri akan menyingkirkan dua orang yang kini berada di ambang kematian. “Sebentar lagi kalian akan menjadi sumber dari kekuatan ku...” Gumam Reinar pelan sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.


Setelah lama menunggu kini saatnya memanen apa yang dia tunggu. Dengan banyaknya korban jiwa dalam perang besar antara Organisasi Lembah Kematian melawan Sekte Lembah Tengkorak, Reinar tak lagi bisa membayangkan secepat apa perkembangan kekuatannya setelah dia menyerap kekuatan yang tersisa dari mayat yang berserakan membuat genangan darah.


“Baiklah, saatnya panen besar!...” Teriak Reinar lalu dia melompat dan menyerang dua orang berjubah hitam yang dalam keadaan terluka parah.


BOOMMM...


***


Jangan lupa berikan like sebagai penyemangat author serta komentar untuk saling berinteraksi 😊😊😊...


***


Bersambung...