
Beberapa jam telah berlalu.
Di kota Glory.
Reinar dan rombongannya kini telah berada di penginapan yang pernah Reinar sewa, tapi bukan penginapan Black Rose.
Saat Reinar sedang menikmati makan siang bersama tiga wanita pengikutnya, beberapa pemuda masuk ke restoran penginapan tempat Reinar menginap dan membuat keributan.
Mereka mengambil tempat duduk dan mulai mengganggu pelayanan yang sedang bekerja. “Pelayan, ambilkan anggur terbaik dan temani kami minum!.” Kata salah satu pemuda menarik lengan salah satu pelayan yang lewat di dekatnya.
“Maaf tuan, restoran kami tidak menyediakan anggur.” Sambil mencoba melepaskan tangan yang tengah mencengkeram erat lengannya.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kamu saja yang menemani kami bersenang-senang?. Tentu kami akan memuaskan mu.” Kata pemuda yang lain, tapi dia segera menatap ke rombongan Reinar saat melihat tiga wanita cantik yang bersama Reinar.
Pemuda itu bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju kearah Reinar.
“Nona nona cantik, daripada kalian bersama pemuda lemah ini, lebih baik kalian ikut denganku, lihatlah aku dan teman-temanku akan membuat kalian merasakan apa itu nikmat dunia.” Kata pemuda yang dengan tak tahu malu mengganggu makan siang Reinar dan rombongannya.
“Kau sudah tamat.” Batin Reinar melihat tiga wanita di dekatnya mulai menunjukkan ekspresi wajah yang sangat mengerikan.
Dua pemuda yang lainnya ikut mendekat begitu melihat keindahan dari tiga wanita yang sedang digoda temannya.
“Nona lihatlah, tubuh kami bahkan lebih besar dari bocah kecil ini, tentunya kami juga punya sesuatu yang lebih besar darinya, dan kami ada bertiga.” Kata pemuda yang terus menggoda tiga wanita yang tak seharusnya dia ganggu.
“Kalian terlalu berani, aku saja tak akan berani mengganggu salah satu dari mereka, tapi kalian terang-terangan mengganggu mereka bertiga. Ucapkan selamat tinggal pada masa depan kalian.” Kata Reinar dalam hati sambil terus menikmati makan siangnya tanpa mempedulikan tiga pemuda yang mengganggu acara makan siangnya.
“Apa kalian sudah selesai?.” Tanya Freya yang entah sejak kapan sudah mengarahkan pedangnya ke leher pemuda yang pertama kali datang.
“Lebih baik nona turunkan pedang yang nona pegang, dan aku akan berikan pedang sesungguhnya yang akan membuat nona terpuaskan.” Goda si pemuda yang tak sadar jika nyawanya sudah di ujung pedang Freya.
“Enyah lah....” Teriak Freya mengayunkan pedangnya dan menyarungkan nya kembali, tapi anehnya leher pemuda itu tak mengalami luka.
Si pemuda tersenyum melihat Freya menyarungkan kembali pedangnya. “Sudah aku duga, kamu tak akan tega melukai pria tam....
“Aarrghhhh....” Teriak tiga pemuda bersamaan saat ************ mereka terasa sakit, dan semua bisa melihat darah keluar dari arah ************ ketiga pemuda itu.
Reinar merasa ngilu melihat kejadian di dekatnya, dan refleks dia menutup area selangkangannya dengan salah satu tangannya.
Banyak pemuda lainnya melakukan hal yang sama seperti yang Reinar lakukan, dan mereka menatap tiga wanita di dekat Reinar dengan tatapan penuh kengerian.
“Habislah masa depan mereka.” Kata pemuda lainnya yang ada di restoran.
“Mereka bertiga memang cantik, aku juga sempat tergoda dan ingin menggoda mereka, tapi aku beruntung tak jadi melakukan itu.” Kata salah satu pria dewasa yang segera pergi meninggalkan restoran.
Tiga pemuda yang baru saja di kebiri tanpa menyisakan apapun di ************ mereka, tiba-tiba pingsan karena kehabisan darah. Bukannya di tolong, mereka bertiga justru di lemparkan keluar restoran oleh pemilik restoran yang menjadi satu dengan penginapan.
“Jangan membahas lagi yang barusan jika tuan tak ingin bernasib sama dengan mereka.” Kata Freya yang kembali melanjutkan makan siangnya.
Reinar hanya tersenyum canggung dan menyudahi makannya karena tiba-tiba nafsu makannya menghilang begitu saja.
***
Istana Kekaisaran Gloria.
Lapangan eksekusi.
Sebelum matahari terbenam, sebuah peristiwa memilukan akan segera terjadi di Kekaisaran Gloria, dan kabar ini sudah tersebar di kalangan masyarakat, bahkan sudah tersebar sampai ke Kekaisaran lainnya.
Rencana pemberontakan Putra Mahkota beserta beberapa pejabat Kekaisaran telah menjadi topik hangat di kalangan penduduk ibukota.
“Keluarkan mereka semua dari penjara, dan persiapkan upacara berkabung untuk mereka. Bagaimanapun juga diantara mereka ada orang yang pernah berjasa bagi Kekaisaran ini.” Kata Kaisar Octavius.
Ratusan prajurit Kekaisaran serta beberapa Jenderal yang tak terlibat pemberontakan, mereka mengawal ratusan orang yang terlibat rencana pemberontakan, dan diantara mereka ada sosok Putra Mahkota yang merasa putus asa. Hanya karena ingin segera menjabat sebagai Kaisar, dia sudah membuat rencana pemberontakan yang akhirnya gagal, dan dia harus menanggung hukum yang akan dia terima.
Seratus orang pertama mulai di bariskan dan para algojo sudah siap melakukan tugas mereka.
Ribuan penduduk kota menjadi saksi eksekusi mati terbesar yang di lakukan Kekaisaran Gloria, dan mereka juga akan ikut berkabung untuk menghormati mereka yang pernah berjasa pada Kekaisaran.
Reinar dan tiga wanita yang selalu mengikutinya juga ikut menyaksikan eksekusi mati yang di lakukan Kekaisaran Gloria pada orang-orang yang akan melakukan pemberontakan.
Pangeran Lucius yang melihat sosok Reinar diantara kerumunan penduduk Kekaisaran Gloria, dia ingin memanggil sosok yang telah banyak berjasa padanya, tapi sayangnya eksekusi untuk para pemberontak sudah lebih dulu di mulai, membuat Pangeran Lucius tak sempat menghampiri Reinar.
Eksekusi berlangsung degan cepat, bahkan seorang Putra Mahkota tak di izinkan mengucapkan kata-kata terakhirnya.
“Tidak ada yang penduduk biasa atau sang penguasa, di mata hukum yang salah tetap salah dan dia akan menerima hukuman sesuai dengan kesalahannya.” Kata Kaisar Octavius begitu seluruh pemberontak telah selesai di eksekusi.
Seluruh penduduk kota menundukkan kepalanya saat ratusan mayat di masukkan ke dalam peti jenasah, termasuk keluarga Kekaisaran juga berduka karena telah kehilangan salah satu keluarga mereka.
“Hukum memang harus di tegakkan, siapa yang salah wajib mendapatkan hukuman.” Kata Reinar yang hanya bisa di dengar tiga wanita di dekatnya.
“Kalau tidak ingin berbuat salah dan di salahkan, mereka cukup hidup sendiri, atau mereka bisa membuat dunia mereka sendiri.” Kata Freya,yang mendapat persetujuan dua wanita lainnya.
Reinar tersenyum mendengar yang Freya katakan, selain itu hari ini dia juga merasa puas melihat ketegasan seorang Kaisar, walaupun menyangkut keluarganya sendiri.
***
Reinar dan rombongannya telah kembali ke penginapan. Tak lama setelah Reinar dan kelompoknya sampai, rombongan Pangeran Lucius dan putri Shania mendatangi penginapan tempat Reinar dan kelompoknya menginap.
“Ada apa sampai Pangeran dan putri mengunjungi penginapan sederhana ini?.” Tanya Reinar yang kebetulan melihat kedatangan Pangeran dan putri Kekaisaran.
“Tuan Reinar, aku kira tuan sudah meninggalkan kota ini setelah hari itu.” Kata Pangeran Lucius, sedangkan putri Shania lebih tertarik dengan tiga wanita di belakang Reinar.
“Sebenarnya aku sudah beberapa hari yang lalu meninggalkan kota ini, dan hari ini aku sengaja mengunjungi kota ini untuk melihat eksekusi para orang yang akan melakukan pemberontakan pada Kekaisaran.” Kata Reinar yang kemudian mengajak pangeran dan putri Sania duduk di salah satu kursi restoran penginapan.
Freya, Helena, dan Rhea yang akan kembali ke kamar, memutuskan tetap mengikuti Reinar karena mereka curiga pada gadis cantik yang sering curi-curi pandang ke arah Reinar.
Setelah mengambil tempat duduk masing-masing, putri Shania memantapkan diri untuk bertanya soal tiga wanita yang terlihat mengikuti kemanapun Reinar pergi. “Tuan Reinar, kalau boleh aku tahu, siapa mereka bertiga?.” Putri Shania menunjuk kearah Freya, dan dua wanita lainnya.
“Oh mereka itu re....”
“Kami kekasih tuan Reinar....” Kata tiga wanita secara bersamaan membuat Reinar tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Reinar terdiam mendengar apa yang dikatakan tiga wanita di dekatnya, tapi dalam diamnya dia berteriak dalam hati. “Kapan kita menjadi kekasih?.”
***
***Bersambung...***