
Ribuan murid Sekte Lentera Dewa terus berdatangan mendekati arena pertarungan. Tapi bukannya memberi bantuan mereka justru di bantai oleh empat orang yang sudah menanti kedatangan mereka. Dengan senang hati empat orang itu terus membantai musuh yang berdatangan, pria atau wanita semua akan bernasib buruk saat berada di dekat mereka.
Biarpun tidak ikut dalam pembantaian yang di lakukan kelompoknya, Reinar dan Sally cukup senang melihat lautan darah yang kini menghiasi lapangan luas milik Sekte Lentera Dewa. Tapi mereka merasa belum terpuaskan sebelum melihat sosok Patriak Sekte dan Tetua Agung juga mengalami nasib yang sama dengan murid-murid mereka.
Dengan menggandeng tangan Sally, Reinar mendekati Patriak Sekte Lentera Dewa yang terlihat tak lagi berdaya. Tapi bukan Reinar namanya jika langsung membunuh lawannya tanpa terlebih dahulu menyiksanya. Apa lagi untuk orang-orang yang telah membuat masalah dengan orang terdekatnya, mereka tak akan pernah mendapatkan kematian cepat dalam hidupnya.
Biarpun ingin langsung menyiksa dan membunuh sosok pria menjijikkan di depannya, Reinar menahan keinginannya dan membiarkan Sally melakukan apa yang ingin dia lakukan. Bagaimanapun juga Sally adalah orang yang paling di rugikan atas ikut campur-nya Sekte Lentera Dewa yang membantu Kekaisaran Qing menyerang Kerajaannya, jadi dia juga yang sebenarnya berhak memberi hukuman pada Sekte Lentera Dewa.
“Kau Ratu Kerajaan Dark Elf, apa kau ingin menuntut balas atas perbuatan ku pada Kerajaan mu?.” Kata Patriak Sekte Lentera Dewa melihat Sally berdiri tak jauh darinya.
Sally tersenyum mendengar perkataan Patriak Sekte Lentera Dewa. “Aku tidak ingin menuntut balas atas perbuatan mu, tapi aku ingin membalas kematian saudara-saudara ku yang kau bunuh dengan begitu keji.” Balas Sally dengan sorot mata tajam menatap sosok Patriak Sekte Lentera Dewa yang gemetaran saat melihat sorot mata Sally.
Sally menghilang dari tempatnya dan muncul di dekat Patriak Sekte Lentera Dewa, lalu tanpa banyak berkata dia langsung menghadiahi sebuah bogem mentah kearah wajah pria yang sudah babak belur. Tak berhenti di situ, dengan melapisi tinju menggunakan Qi nya dia menyerang semua titik vital di tubuh Patriak Sekte Lentera Dewa tanpa mempedulikan teriakan yang terus terdengar.
BOOMMM... BOOMMM...
Di sisi lain Reinar tengah bermain dengan Tetua Agung yang kini terlihat bagikan sebuah bola yang di tendang kesana-kemari oleh Reinar dan tiga tubuh bayangannya.
“Aaaaarghh....” Suara raungan kesakitan terdengar dari arah pertarungan Sally dan itu membuat Reinar sedikit melirik ke arah pertarungan mereka. Bibir Reinar melengkung membentuk sebuah senyuman saat melihat Sally mulai mematahkan tulang-tulang yang menyusun tubuh Patriak Sekte Lentera Dewa.
“Darimana dia belajar cara menyiksa seindah itu?.” Batin Reinar bertanya lalu dia kembali melanjutkan permainannya dengan Tetua Agung Sekte Lentera Dewa yang sempat tertunda.
Di sisi lain Ling Feng dan yang lainnya telah membunuh lebih dari separuh murid Sekte Lentera Dewa yang datang mendekati area pertarungan Reinar dan Sally. Murid-murid yang baru datang seketika menciut nyalinya saat melihat tumpukan mayat di bawah kaki mereka yang mulai menggunung. Setidaknya Ling Feng dan yang lainnya telah membunuh lebih dari dua ratus ribu murid Sekte Lentera Dewa, dan itu bukan jumlah yang sedikit.
Dua tetua yang baru kembali juga tertegun melihat ratusan ribu mayat di bawah mereka. Mereka berdua merasa jika ini adalah akhir dari Sekte Lentera Dewa, tapi di kejauhan ada satu tetua yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat apa yang tengah terjadi di Sektenya. Dia dan seribuan muridnya hanya bertahan dan melihat, mereka tak sedikitpun ingin ikut dalam pertempuran.
“Mereka bukan lawan yang bisa di hadapi, apa lagi setelah leluhur Sekte memutuskan tak akan kembali ke Sekte setelah di usir Patriak Sekte.” Batin Tetua ke tujuh, sosok tetua yang selalu tak sejalan dengan keputusan Patriak Sekte Lentera Dewa.
Jauh di atas langit seorang wanita tua tersenyum melihat apa yang di lakukan Reinar dan kelompoknya. “Sangat kuat!... Aku sendiri yakin tak akan mampu menang jika harus bertaruh menghadapinya.” Batin si wanita tua lalu dia mengalihkan perhatiannya ke tempat lain dan tak lama dia menggelengkan kepalanya. “Tetua ke tujuh, cuma dia yang bisa diharapkan.” Lanjutnya lalu kembali dia melihat pertarungan yang tengah terjadi di bawahnya.
BOOMMM... BOOMMM...
Tubuh Tetua Agung Sekte Lentera Dewa tak lagi bisa dikenali setelah dengan sengaja Reinar menghancurkan wajahnya, tapi dia belum mati, bahkan dia belum kehilangan kesadarannya. “Fisik mu cukup kuat, dan aku menyukainya.” Puji Reinar lalu dia menyeret kaki Tetua Agung dan melemparkan tubuhnya ke dekat tubuh Patriak Sekte Lentera Dewa yang kondisinya jauh lebih parah darinya.
BOOOMMMM...
Ledakan keras terdengar saat Sally memukul tubuh dua orang yang sudah menyebabkan banyak kematian pada ras nya. Satu pukulan Sally yang mampu melubangi sebuah gunung membuat hancur kepala Tetua Agung dan seketika membuatnya mati. Untuk Patriak Sekte Lentera Dewa, dia hanya kehilangan sebelah lengannya tapi dia masih hidup walau kondisinya sangat menyedihkan. Anggota tubuhnya tak lagi lengkap, dan terlihat jelas luka di sekujur tubuhnya yang merupakan hasil perbuatan Sally.
Menyingkirkan mayat Tetua Agung, Sally menatap sinis Patriak Sekte Lentera Dewa yang nafasnya sudah terputus-putus. Sally yang belum puas menyiksa, dia meminta pada Reinar untuk menyembuhkan luka-luka pada tubuh Patriak Sekte Lentera Dewa. Begitu kondisi Patriak Sekte Lentera Dewa membaik, Sally kembali menyiksanya dan kali ini dia melakukan dengan lebih kejam.
Tingkat kekuatan Sally memang lebih rendah dari Patriak Sekte Lentera Dewa, tetapi karena mentalnya sudah jatuh membuat Patriak Sekte hanya bisa meraung kesakitan saat Sally terus menerus memberi siksaan padanya. Saat Patriak Sekte Lentera Dewa hampir mencapai batasnya, Sally kembali meminta Reinar menyembuhkan luka Patriak Sekte, dan setelahnya kembali dia menyiksa pria yang begitu menjijikkan baginya.
Reinar menggelengkan kepalanya melihat betapa brutal kelakuan istrinya, lalu dia memilih pergi menemui dua orang yang ingin lari meninggalkan wilayah Sekte Lentera Dewa. “Jangan berharap bisa lari setelah kalian memasuki area pertarungan!.” Kata Reinar yang tiba-tiba muncul di belakang dua tetua Sekte Lentera Dewa yang telah selesai menjalankan tugasnya.
Reinar langsung memukul mereka berdua yang melayang di udara, dan hanya dengan satu pukulan tubuh mereka berdua di kirim meluncur menghantam tanah. Satu tetua seketika pingsan setelah tubuhnya menghantam tanah dan membuat kawah seluas empat meter, satu tetua lainnya masih sadar walau dengan keadaan yang tidak baik.
Wushh... Reinar muncul di dekat tetua yang masih sadar lalu dia berkata padanya. “Aku sedang bosan menyiksa orang, jadi bersyukurlah karena aku akan memberi kematian cepat padamu.” Reinar mencengkeram erat leher si tetua Sekte Lentera Dewa, dan hanya dengan satu kali gerakan dia mematahkan leher si tetua Sekte yang ada di cengkeramannya.
Baammm... Reinar melempar tubuh tetua Sekte yang baru dia bunuh, lalu dia beralih ke tetua satunya yang mulai sadar dari pingsannya. “Kau selanjutnya!.” Gumam Reinar.
Saat Reinar tengah bermain-main dengan salah satu tetua Sekte Lentera Dewa, di tempat lain Sally baru mengakhiri kehidupan Patriak Sekte Lentera Dewa setelah dia menguliti hidup-hidup si Patriak Sekte, dan terakhir dia menggorok leher si Patriak Sekte Lentera Dewa. Dengan kondisi tubuh dan kepala terpisah, mustahil bagi Patriak Sekte Lentera Dewa untuk tetap bertahan hidup.
Reinar sejenak melihat kearah Sally yang tengah tersenyum kearahnya. “Dia lebih kejam dari apa yang biasa aku lakukan.” Kata Reinar membalas apa yang Lilia katakan padanya.
Menatap kearah lain, Reinar melihat pertempuran di tempat Ling Feng dan yang lainnya tak lama lagi pasti berakhir. Dia hanya melihat seribuan murid Sekte Lentera Dewa yang saat ini masih bertahan untuk bertarung dengan Ling Feng dan yang lainnya. Di tempat yang sangat tersembunyi Reinar juga melihat keberadaan orang-orang yang tak ingin ikut campur dalam peperangan, dan merekalah segelintir orang yang akan diberikan kesempatan oleh Reinar untuk melanjutkan keberadaan Sekte Lentera Dewa di daratan Benua Zhongjian.
Terakhir Reinar menatap tetua Sekte Lentera Dewa yang ada di depannya. “Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini, dan jadilah orang yang lebih baik saat kamu nanti kembali terlahir, itupun jika kamu akan kembali terlahir.” Kata Reinar sebelum memotong-motong tubuh tetua Sekte Lentera Dewa dengan Qi yang dia padatkan di tiap ujung jarinya.
Tanpa rasa belas kasihan, Reinar menginjak tubuh tetua Sekte Lentera Dewa yang tengah dalam keadaan sekarat. Sebagai penutup, Reinar membakar tubuh dua tetua Sekte Lentera Dewa yang baru dia bunuh, dan merubah tubuh mereka menjadi abu.
Dengan mempertahankan sikap santainya Reinar kembali muncul di dekat Sally dan lagi dia memeluk pinggang istrinya itu. “Semuanya sudah berakhir, dan mereka telah mendapat balasan akan apa yang telah mereka perbuat.” Kata Reinar lalu dia mencium kening Sally dengan penuh kelembutan.
Sally tersenyum. “Apa dengan begini mereka akan tersenyum di alam kematian?.” Kata Sally mengingat penduduk Kerajaannya yang menjadi korban kekejaman dan kebiadaban Kekaisaran Qing dan Sekte Lentera Dewa.
Reinar mengelus kepala Sally, lalu dia berkata padanya. “Percayalah, apa yang kamu lakukan sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka bahagia, dan sekarang saatnya mengejar kebahagiaanmu sendiri. Apa kamu tidak ingin segera mengandung seperti yang lainnya?.”
Wajah Sally seketika memerah begitu mendengar apa yang di katakan Reinar padanya. “A... Aku menginginkannya, tapi apa kita akan melakukan itu lagi?.”
Reinar tiba-tiba menggendong Sally ala tuan putri. “Mari membersihkan diri terlebih dahulu....” Kata Reinar lalu dia membawa Sally kembali ke penginapan.
“Apa mereka tidak bisa menunggu sampai ini benar-benar berakhir?.” Tanya Ling Feng yang baru selesai membunuh murid Sekte Lentera Dewa yang terus menyerangnya. Di tempat lain tiga wanita yang bersamanya juga telah selesai dengan lawan mereka, dan kini mereka melesat pergi meninggalkan wilayah Sekte Lentera Dewa.
“Kalian yang masih tersisa, bersihkan kekacauan di tempat ini dan bangun kembali Sekte Lentera Dewa menjadi sekte yang lebih baik. Hei nenek tua, kau juga harus ikut andil membangun kembali Sekte ini.” Kata Ling Feng pada tetua ketujuh yang tengah bersembunyi, dan dia juga berkata pada wanita tua yang masih bersembunyi di langit.
Dua orang yang diajak bicara oleh Ling Feng benar-benar tidak menyangka jika tempat persembunyian mereka di ketahui, dan kini mereka semakin yakin dengan pilihan mereka yang tak ikut menyerang orang-orang yang menghancurkan Sekte Lentera Dewa. “Bukan hanya si pemuda, pri itu juga mengerikan.” Batin wanita tua atau bisa di katakan dia adalah leluhur terakhir yang di miliki Sekte Lentera Dewa di daratan Benua Zhongjian.
Setelah kepergian orang-orang yang menyerang Sektenya, tetua ketujuh memimpin seribuan muridnya untuk membereskan kekacauan yang terjadi, dan tetua ketujuh hari itu juga menetapkan Sekte Lentera Dewa tertutup untuk umum.
Wusshh... Wanita tua muncul di dekat tetua ketujuh. “Salam leluhur....” Tetua ketujuh membungkukkan tubuhnya melihat wanita tua yang baru muncul.
Tak lama setelah kedatangan leluhur Sekte Lentera Dewa, puluhan ribu orang yang merupakan murid dari leluhur Sekte datang. “Bantu mereka membereskan kekacauan di tempat ini!...” Kata leluhur Sekte Lentera Dewa.
“Baik Guru!...”
“Tetua ketujuh bangkitlah!....” Kata leluhur Sekte. “Sekarang kamu akan menggantikan posisi Patriak Sekte. Pilih beberapa orang kepercayaan mu untuk menjadi tetua Sekte, dan untuk sementara waktu aku akan menjabat sebagai Tetua Agung.” Kata leluhur Sekte Lentera Dewa lalu dia menghilang begitu saja.
“Beruntung Sekte ini masih memiliki orang seperti leluhur Sekte....” Kata tetua ketujuh yang kini telah menjadi Patriak baru Sekte Lentera Dewa.
***
Kamar Reinar.
“Apa tubuh mu memang seindah ini?...” Kata Reinar membelai tubuh polos Sally.
Sally tersipu mendengar pujian Reinar. “Suamiku, apa kamu tidak ingin segera melakukannya?.”
Reinar tersenyum melihat wajah malu-malu Sally, lalu perlahan dia mencium bibir ranum istrinya itu. “Bibir yang manis....” Kata Reinar lalu dia mulai menindih tubuh Sally.
***
Bersambung...