The World Emperor System

The World Emperor System
Berburu Murid Sekte Lembah Tengkorak



Jangan lupa berikan like sebagai penyemangat author serta komentar untuk saling berinteraksi 😊😊😊...


Selamat membaca...


***


“Aku akan kembali ke wilayah Sekte Lembah Tengkorak...” Kata Reinar yang kebingungan mengisi waktu luangnya di saat kedua istrinya lebih suka bermalas-malasan di dalam kamar.


Setelah membuat gerbang teleportasi, sosok Reinar tak lagi terlihat di istana Kekaisaran Ling karena saat ini dia sudah berada di gang sepi di wilayah kota Tengkorak Hitam, sebuah kota besar yang dikelola oleh Sekte Lembah Tengkorak.


Merasa penampilannya terlalu mencolok, Reinar mengganti pakaian yang dia pakai dengan pakaian kumal yang biasa di pakai penduduk kota kalangan bawah.


Setelah mengganti pakaiannya, Reinar berjalan mengelilingi kota sambil mencuri dengar kabar hangat yang tengah dibicarakan penduduk di kota Tengkorak Hitam.


Dari semua pembicaraan yang dia dengar, semua orang tengah membicarakan tentang kematian misterius yang dialami kedua tuan muda Sekte Lembah Tengkorak.


Kabar lain yang dia dengar adalah kabar tentang Patriak Sekte Lembah Tengkorak yang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari pelaku yang membunuh putranya yang tak lain adalah tuan muda Sektenya, bahkan Patriak Sekte Jun Quro sampai meminta bantuan kultivator lepas untuk membantunya dengan bayaran ribuan koin emas.


Reinar tersenyum mendengar kabar banyaknya orang yang mencari keberadaannya. “Teruslah mencari, dan biarkan aku secara diam-diam menggerogoti kekuatan kalian...” Kata Reinar membatin.


Sebuah pemikiran licik terlintas di pikiran Reinar. Memanfaatkan banyaknya orang Sekte Lembah Tengkorak yang keluar, dia akan mencoba mencari keberadaan mereka yang tengah berkeliaran dengan bantuan Lilia, dan tentu mereka akan dia lenyapkan.


Reinar tidaklah bod*h untuk menyerang Sekte Lembah Tengkorak dengan memanfaatkan berkurangnya pertahanan Sekte yang di tinggalkan banyak penghuninya.


Semakin sedikit penjaga, akan semakin kuat kekuatan yang di miliki si penjaga, dan tentunya akan sulit untuk melawan mereka di saat dia merasakan adanya kekuatan besar di balik Sekte Lembah Tengkorak.


Terus berjalan akhirnya Reinar sampai di gerbang belakang kota Tengkorak Hitam yang dihuni belasan ribuan pengemis dan gelandangan.


Reinar mengabaikan keberadaan mereka dan dia lebih memilih pergi meninggalkan kota untuk mencari sekumpulan orang-orang Sekte Lembah Tengkorak yang mungkin belum pergi terlalu jauh dari kota Tengkorak Hitam.


Hari sudah siang saat Reinar melihat sepuluh orang murid Sekte Lembah Tengkorak yang tengah menikmati makan siang mereka.


Dari sepuluh orang murid Sekte Lembah Tengkorak, ada lima orang sudah mencapai tingkat Abadi Langit puncak serta lima lainnya hanya berada di tingkat Abadi Bumi menengah, dan tentunya mereka bukan lawan sepadan untuk Reinar.


“Menyerap kekuatan mereka sepertinya akan sedikit mempercepat aku naik tingkat, tetapi aku hanya akan menyerap kekuatan, dan untuk aura menjijikkan yang mereka miliki, aki akan membakarnya dengan api putih yang juga merupakan api penyucian...” Kata Reinar begitu lirih sambil melihat sepuluh murid Sekte Lembah Tengkorak yang belum menyadari keberadaan Reinar.


Kesepuluh murid Sekte Lembah Tengkorak hanya fokus pada makanan mereka dan tak mempedulikan area sekitarnya.


Mereka yang begitu lengah baru sadar jika ada orang yang mengincar mereka di detik terakhir sebelum Dewa Kematian mengambil jiwa mereka.


Dengan kekuatannya, Reinar begitu mudah mengalahkan kesepuluh murid Sekte Lembah Tengkorak, bahkan dia sedikit mendapatkan kemajuan setelah menyerap kekuatan mereka.


Terakhir Reinar membakar tubuh yang tak lagi bernyawa dengan api penyucian untuk menyucikan aura yang terlihat begitu menjijikkan.


“Teknik penyerap kekuatan memang sangat curang, hanya dengan empat orang lemah aku sudah bisa sedikit meningkatkan kekuatan ku. Aku tidak bisa membayangkan sekuat apa orang-orang ku jika aku bisa membagi teknik ini dengan mereka...” Kata Reinar sambil melihat tubuh sepuluh murid Sekte Lembah Tengkorak yang kini telah berubah sepenuhnya menjadi abu.


[Tuan, ada lima belas murid Sekte Lembah Tengkorak sekitar 10 kilometer ke arah timur dari tempat ini. Ada lima murid di tingkat Dewa Rendah awal, dan sisanya merupakan murid tingkat Abadi Langit puncak...]


“Lima belas ya?... Sungguh rejeki yang tidak bisa aku ditolak...” Kata Reinar lalu di segera pergi menemui korban berikutnya yang akan dia mangsa.


Dan tak butuh waktu lama kabar menghilangnya puluhan murid Sekte Lembah Tengkorak secara misterius di dalam hutan segera tersebar, dan dengan cepat kabar itu sampai ke telinga Patrik Jun Quro.


Patriak Jun Quro akhirnya menarik kembali murid Sekte di bawah tingkat Dewa Rendah, dan dia membuat kelompok dengan tiap kelompok berisi 20 orang murid.


Seorang murid di tingkat Dewa Rendah puncak di tunjuk sebagai pemimpin, dan sisanya akan menjadi anggota kelompok yang terdiri dari murid tingkat Dewa Rendah menengah dan murid tingkat Dewa Rendah awal.


Tapi apa yang dilakukan Jun Quro justru membuat senang seorang pemburu yang telah menunggu kemunculan rombongan besar murid Sektenya.


“Patriak Sekte Lembah Tengkorak memang sangat pengertian denganku. Dia bahkan memberiku banyak mangsa berharga yang bisa aku buru untuk meningkatkan kekuatan ku...” Kata Reinar sambil tersenyum di tempat persembunyiannya yang tak akan dapat ditemukan oleh kelompok murid Sekte Lembah Tengkorak yang melintas di dekatnya.


Melihat banyaknya murid Sekte Lembah Tengkorak yang berkeliaran di sekitarnya, membuat Reinar bingung menentukan targetnya, tetapi pada akhirnya dia mulai menargetkan kelompok mana saja yang akan dia buru.


Kelompok yang di pimpin oleh salah satu murid elite yang kekuatannya telah mencapai tingkat Dewa Bumi awal menjadi target buruan awal yang telah Reinar pilih.


Kali ini Reinar tidak ingin memburu murid lemah karena itu akan memakan banyak waktu dan juga hanya sedikit manfaat yang bisa dia dapatkan dari murid yang lemah.


Selain mengincar keberadaan murid elite yang kekuatannya telah mencapai tingkat Dewa Bumi awal, Reinar juga akan menculik satu persatu tetua Sekte yang diam-diam mengawasi di sekitar murid mereka.


“Kakak ipar, apa pakaian ini cocok aku gunakan saat menghadiri pesta malam pernikahan kita?... Lihatlah, apa menurut kakak ipar pakaian ini akan membuat suamiku buru-buru mengajak aku pergi ke kamar pengantin?...” Ling Zhe bertanya pada Alice sebuah pakaian yang sedikit terbuka di bagian dadanya.


“Kalau kamu memakai pakaian itu, mungkin suamimu akan segera membawamu ke kamar pengantin sebelum kalian menghadiri pesta...” Kata Alice sambil menggelengkan kepalanya.


“Hehehe... Itu justru yang aku tunggu-tunggu karena aku sudah tidak sabar menikmati malam pertama dengannya. Aku sangat penasaran dengan miliknya...” Kata Ling Zhe lirih sambil menyembunyikan wajahnya di tumpukan pakaian yang menggunung di atas tempat tidurnya.


“Aku pun sama, tapi aku akan mengikuti acara pesta pernikahan seperti layaknya sebuah pesta. Tapi kalau dia memintanya, aku dengan senang hati akan meninggalkan pesta dan pergi melayani keinginannya...” Kata Alice dan akhirnya mereka tertawa bersama.


Tak ada orang lain di kamar mereka karena itu mereka bebas melakukan apapun bahkan mereka membicarakan apa yang tak seharusnya mereka bicarakan.


“Aku ingin segera hamil agar anak-anak ku nantinya bisa menjaga anak-anak tuan...” Kata Alice setelah puas tertawa.


“Keinginan Kakak ipar pasti sama dengan keinginan suamiku, dan itu tidak buruk. Setidaknya anak-anak kita nantinya ada di sisi orang yang tepat...” Kata Ling Zhe yang sempat mengagumi sosok Reinar dan dia pernah ingin menjadi bagian dari hidup Reinar dengan menjadi istrinya.


Tetapi pertemuannya dengan Argust mengubah segalanya, dan apa yang di rasakan Ling Zhe juga dirasakan Alice, dan keberadaan Ling Feng lah yang merubah tujuan Alice.


Hutan di sekitar wilayah kekuasaan Sekte Lembah Tengkorak.


Reinar telah membunuh beberapa tetua dan belasan kelompok murid Sekte Lembah Tengkorak yang memang menjadi incarannya. Senyum di bibirnya mengbang saat dia merasa tak lama lagi akan menerobos ke tingkat yang lebih tinggi.


Tapi seketika Reinar waspada dan dengan cepat mencari tempat persembunyian saat dia merasakan kekuatan yang cukup besar bergerak ke arahnya.


Saat sosok manusia itu muncul dengan posisi melayang di atas tempat persembunyiannya, Reinar dapat melihat dan merasakan aura yang membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.


Sosok manusia dengan wajah sepuh itu hanya diam dan mengamati, tetapi tak lama dia berbalik arah dan melesat pergi ke arah kedatangannya.


“Aura yang sangat menjijikkan, bahkan jauh lebih buruk aura orang itu daripada seluruh tubuhku bermandikan dengan kotoran kuda...” Kata Reinar sambil meludahkan air liurnya.


“Bahkan dengan secuil auranya dia mampu membuat tumbuhan di sekitarnya langsung layu dan mati....” Kata Reinar melihat beberapa tumbuhan di sekitarnya telah mengering.


Dari auranya saja Reinar sudah tahu siapa orang yang telah mengajarkan aura seburuk itu pada orang-orang yang berasal dari Sekte Lembah Tengkorak.


Aura itu tidak berasal dari Benua Zhongjian, ataupun keempat benua lainnya. Aura seperti itu hanya di miliki ras menjijikkan yang ada di pinggiran alan immortal.


“Orang dari alam Imomortal!...” Kata Reinar sambil tersenyum saat dia memiliki kesempatan menguji kekuatannya dengan orang yang berasal dari alam immortal sebelum dia pergi ke sana.


“Lilia, apa kamu bisa mencari keberadaan orang-orang dari alam immortal yang turun ke dunia ini?...” Tanya Reinar.


[Aku menemukan keberadaan empat sosok yang berasal dari alam immortal, tetapi aku hanya tahu lokasi dua dari mereka, dan kebetulan kedua sosok itu berada di wilayah Sekte Lembah Tengkorak. Kekuatan mereka saat ini berada di tingkat Raja Dewa awal, dan tuan bukan lawan sepadan untuk mereka...]


Reinar mengangguk. “Kedus sosok itulah yang harus aku waspadai!...” Kata Reinar yang ingin segera meningkatkan kekuatannya.


Reinar tidak bisa berpuas diri dengan pencapaiannya. Dia ingin jauh lebih kuat karena sadar akan keberadaan lawan yang jauh lebih kuat di dunia tanpa batas yang sangat luas.


“Di atas langit masih ada langit, dan tujuanku adalah berdiri kokoh di tingkat langit tertinggi tanpa ada yang mampu mengusikku kecuali sang pencipta...” Kata Reinar lalu dia kembali melakukan perburuan setelah dia tak merasakan keberadaan orang lain di sekitarnya.


“Dalam dua hari setidaknya aku bisa menerobos ke tingkat Jenderal Dewa puncak!...” Kata Reinar lalu dia segera memakai topeng dan menyerang kelompok murid Sekte Lembah Tengkorak yang sudah dia tandai.


Reinar dengan mudah membunuh seluruh murid Sekte Lembah Tengkorak yang didatanginya tanpa permisi.


Selain membunuh mereka, Reinar juga menyerap kekuatan yang mereka miliki, dan terakhir dia membakar tubuh mereka dengan api penyucian miliknya.


“Sepeluh kelompok dengan kekuatan sama persis dengan mereka akan segera membawaku ke puncak tingkat Jenderal Dewa, dan mungkin dengan menyerap ratusan ribu kekuatan murid Sekte Lembah Tengkorak, dalam waktu singkat aku pasti menerobos ke tingkat Raja Dewa...” Kata Reinar yang sementara waktu terpaksa mengakhiri perburuannya karena hari sudah sore dan artinya dia harus segera kembali ke istana Kekaisaran Ling.


Reinar tidak kembali dengan tangan kosong, dia membawa buah tangan yang pastinya akan disukai oleh kedua istrinya.


“Setidaknya mereka akan menyukai dengan apa yang aku bawa untuk mereka...” Kata Reinar dengan sekantung permen susu yang dia beli dari toko sistem.


***


Bersambung...


Maaf hari ini cuma 1 episode. Author dari kemarin repot, jadi tidak sempat nabung sampai dua episode...🙏🙏