The World Emperor System

The World Emperor System
Membunuh Tuan Muda Sekte Lembah Tengkorak



Jangan lupa berikan like sebagai penyemangat author serta komentar untuk saling berinteraksi 😊😊😊...


Selamat membaca...


***


Di saat enam orang masih saling berdiskusi di kediaman miliknya, Raka justru telah berada di sebuah kota yang berada di bawah kekuasaan Sekte Lembah Tengkorak.


“Kau bisa masuk!...” Kata prajurit penjaga gerbang kota setelah Reinar memberinya sepuluh koin emas sebagai biaya memasuki kota.


Reinar kemudian memasuki kota dan setelah itu dia bisa merasakan aura yang begitu menjijikkan menyelimuti seluruh wilayah kota yang dia kunjungi, lalu tak lama berjalan, dia bertemu dengan dua pemuda yang menggunakan jubah bermotif tengkorak di bagian belakang jubah yang mereka kenakan.


“Lilia, apa yang barusan lewat merupakan salah satu murid Sekte Lembah Tengkorak?...” Tanya Reinar pada Lilia setelah dia penasaran dengan identitas dua pemuda yang baru berpapasan dengannya.


[Mereka Jun Quo dan Jun Dian, putra Patriak Sekte Lembah Tengkorak, atau aku bisa mengatakan jika mereka adalah tuan muda Sekte Lembah Tengkorak, artinya mereka adalah generasi selanjutnya yang akan menjadi petinggi Sekte Lembah Tengkorak...]


Mendengar itu Reinar menunjukkan senyum liciknya, dia melihat jalan lebar yang akan membuatnya dengan mudah memasuki wilayah Sekte Lembah Tengkorak tanpa membuat keributan.


Reinar pergi menyusul dua tuan muda Sekte Lembah Tengkorak secara diam-diam. Dengan skill penciptaannya Reinar bisa merubah dirinya menjadi apapun yang dia inginkan, termasuk yang saat ini tengah dia lakukan.


Dengan berubah menjadi bayang-bayang, Raka terus mengikuti kemanapun dua tuan muda Sekte Lembah Tengkorak pergi.


Tiba di luar gerbang kota Jun Quo dan Jun Dian merasa seperti ada yang mengikuti, tapi mereka tak bisa merasakan keberadaan orang yang tengah mengikuti mereka.


“Jangan terlalu di pikirkan!... Bukannya sudah biasa Ayahanda mengirim beberapa pengawal bayangan untuk mengawasi kita secara diam-diam.. ” Kata Jun Dian yang merupakan kakak dari Jun Mou.


“Tapi kak, kali ini aku merasakan sesuatu yang aneh pada orang yang sedang mengawasi kita!...” Kata Jun Quo yang terus mencari keberadaan orang yang sedang mengawasinya.


“Keanehan apa yang kamu rasakan?...” Tanya Jun Dian sambil melihat Jun Quo yang terlihat berusaha mencari keberadaan orang yang sedang mengawasi mereka.


“Ah sudahlah kak, mungkin ini hanya perasaanku. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan dan segera menemui para gadis yang sudah menunggu kedatangan kita...” Kata Jun Quo yang sudah menyerah mencari keberadaan orang yang sedang mengawasi keberadaan dirinya beserta kakaknya.


Mendengar perkataan adiknya, Jun Dian mengangguk lalu dia segera mengikuti langkah adiknya menuju tempat yang biasa mereka datangi saat mereka ingin mencicipi kenikmatan tubuh seorang wanita.


“Salam kedua tuan muda...” Kata Reinar yang tiba-tiba muncul setelah memastikan jika tak ada satu orangpun yang mengawal kedua putra Patriak Sekte Lentera Dewa.


Jun Quo dan Jun Dian segera mengambil sikap waspada setelah munculnya seorang pemuda yang kedatangannya tak bisa mereka deteksi. “Apa kamu yang sejak tadi terus mengawasi kami?...” Kata Jun Quo sambil mencoba mengukur kekuatan Reinar.


Wajah Jun Quo terlihat buruk saat dia tidak bisa melihat sekuat apa pemuda yang berdiri sejauh lima langkah tepat di depannya. “Kak orang ini lebih kuat dari kita, aku bahkan tidak bisa melihat di tingkat apa kekuatannya saat ini...”


“Aku juga merasakan itu. Auranya bahkan lebih mengerikan dari Ayahanda, dan hanya sedikit lebih lemah dari aura Dewa Agung...” Kata Jun Dian yang semakin waspada pada pemuda di depannya.


“Dewa Agung?... Sepertinya memang ada ahli dari alam immortal yang menjadi bagian dari Sekte Lembah Tengkorak...” Batin Reinar yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.


“Kakak, kita harus menggabungkan seluruh kekuatan kita, dan begitu ada celah, kita secepatnya berlari kearah kota. Setidaknya di kota akan ada beberapa ahli yang bisa membantu kita...” Kata Jun Quo berbisik.


Mendengar rencana melarikan diri dari adiknya, Jun Dian mengangguk dan dia mulai mengeluarkan teknik terkuatnya begitu juga dengan Jun Quo.


“Oh, jadi kalian berencana menggabungkan kekuatan untuk menyerangku dan begitu ada celah kalian akan lari kearah kota?... Kalian memang akan lari, tapi lari ke alam kematian...” Kata Reinar.


Mereka mendengar apa yang dikatakan Reinar, tapi detik berikutnya mereka terpental jauh dan seketika tak sadarkan diri setelah terkena pukulan Reinar.


“Kekuatanku terlalu besar jika berhadapan dengan dua orang di tingkat Dewa Rendah awal, mereka bahkan langsung mati hanya dengan satu kali pukulan...” Kata Reinar melihat tubub Jun Quo dan Jun Dian yang tak lagi bernyawa.


Di Sekte Lembah Tengkorak.


BOOMMM...


Aura yang begiti menakutkan keluar dari tubuh Patriak Jun Quro saat giok jiwa milik kedua putranya hancur menjadi debu yang menandakan jika keduanya telah mati.


“Kalian semua cari jasad kedua Putraku, dan bawa si pelakunya ke hadapanku!... Aku pastikan dia akan mati beserta orang-orang terdekatnya!...” Teriak Jun Quro marah.


Seluruh orang di Sekte Lembah Tengkorak berterbangan ke berbagai tempat untuk mencari jasad tuan muda Sekte mereka.


Setelah seharian mencari, sepuluh orang murid Sekte menemukan pakaian yang terakhir kali dipakai tuan muda Jun Quo dan Jun Dian. Selain itu mereka juga membawa dua botol abu yang terlihat seperti abu yang berasal dari tulang yang terbakar.


Patriak Jun Quro yang belum lama ini bertemu dengan kedua putranya, dia mengiyakan jika pakaian itu memang milik kedua putranya, dan dari aura tipis yang tersisa, Patriak Jun Quro hanya bisa meratapi kedua anaknya yang telah menjadi abu.


Tak lama bersedih, Patriak Jun Quro bangkit dengan kedua bola mata yang sebelumnya berwarna hitam, kini sepenuhnya telah berwarna merah darah.


Aura yang keluar dari tubuh Patriak Jun Quro berkali-kali lebih kuat dari aura yang tadi dia keluarkan. Patriak Jun Quro masihlah di tingkat Dewa Langit puncak, tapi auranya mendekati ahli di tingkat Jenderal Dewa awal.


“Cari pembunuh kedua putraku ke seluruh daratan Benua Zhongjian!...” Teriak Patriak Jun Quro lalu dia pergi ke halaman belakang kediamannya untuk mengubur dua botol abu putranya.


Sementara itu ratusan ribu murid Sekte Lembah Tengkorak mulai pergi secara berkelompok untuk mencari pembunuh kedua tuan muda Sekte mereka.


Di saat Sekte Lembah Tengkorak sedang kebingungan mencari pelaku pembunuhan tuan muda Sekte mereka, si pelaku justru sedang bersenang-senang dengan kedua istrinya.


Reinar kewalahan menghadapi hukuman dari kedua istrinya, tapi pada akhirnya dia keluar sebagai pemenang setelah kedua istrinya menyerah dan akhirnya mereka berdua tertidur pulas membiarkan Reinar melihat tubuh polos mereka.


“Aku tidak bisa membayangkan jika mereka ada sepuluh, mungkin aku perlu membagi tubuhku menjadi dua...” Kata Reinar lalu dia keluar dari kamarnya setelah memakai pakaian dan menyelimuti tubuh istrinya, tak lupa Reinar membuat satu tubuh bayangan untuk menjaga kedua istrinya yang tengah tertidur.


Menikmati suasana malam hari di Kekaisaran Ling, Reinar teringat akan kehidupan semasa di bumi. Dia telah banyak kehilangan saat masih berada di bumi. Teman, rekan kerja, sudah tak terhitung berapa kali dia kehilangan.


Tapi saat dia berada di dunia barunya yang belum lama ini dia tempati, dia seolah menemukan orang-orang yang telah meninggalkan nya.


Dari kesemua istrinya, dia merasa jika sudah begitu lama mengenal mereka, bahkan sebelum dia pergi ke dunia yang membuatnya mengenal arti keluarga dan rasa cinta.


“Apa aku bisa kembali ke bumi?... Setidaknya aku ingin melunasi janji pada anak kecil yang aku titipkan pada temanku...” Gumam Reinar teringat gadis kecil yang dia selamatkan dari orang-orang yang telah membunuh keluarganya.


“Dia masih kecil dan begitu lucu, tapi justru memiliki cita-cita menjadi istriku...” Reinar menggelengkan kepalanya mengingat tingkah lucu gadis kecil yang mungkin akan menangisi kematiannya.


“Kalian sudah di takdir kan, dan tak ada yang bisa merubah takdir diantara kalian...” Suara yang begitu halus terdengar bagai bisikan di telinga Reinar.


Reinar melihat ke sekelilingnya mencari keberadaan orang yang baru berbisik padanya, namun dia tak menemukan siapa-siapa, bahkan Lilia juga tak merasakan keberadaan orang lain selain tuannya.


“Hah, mungkin aku hanya berhalusinasi atau salah dengar...” Kata Reinar lalu dia berjalan untuk kembali ke kediamannya.


Tanpa Reinar sadari ada sosok wanita berambut biru yang diam-diam mengawasinya dari balik awan. “Cepatlah kuat dan pergi ke alam immortal. Takdir besar mu akan dimulai di tempat itu...” Kata sosok wanita berambut biru sebelum dia menghilang menjadi butiran cahaya.


***


Bersambung...