
Ibukota Kekaisaran Utara.
Langit di atas ibukota Kekaisaran Utara yang biasanya mendung, siang ini terlihat cerah dengan berhiaskan awan yang cukup indah dipandang mata. Penduduk kota yang melihat keindahan awan di atas ibukota Kekaisaran, mereka seperti merasakan sebuah angin segar yang akan mengakhiri penderitaan yang selama ini dialami penduduk ibukota Kekaisaran Utara.
“Hei kalian semua, apa kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi?. Entah kenapa aku merasa peristiwa besar akan terjadi di kota kita.” Kata salah satu penduduk ibukota Kekaisaran yang tengah menikmati makan siang di sebuah restoran bersama dua orang penduduk ibukota yang lain.
“Aku merasakan firasat baik setelah melihat awan di langit yang begitu putih. Semoga saja penderitaan kita selama ini cepat berakhir, dan ada seseorang yang mampu menurunkan Kaisar kejam itu dari tahtanya.” Ungkap penduduk lainnya.
Alun-alun ibukota Kekaisaran Utara.
“Apa, bagaimana mungkin Kaisar kalian dan para pelindung Kekaisaran kalah dalam peperangan?.” Kata mata-mata yang dikirim oleh Kekaisaran Selatan setelah seorang prajurit yang selamat setelah meninggalkan lokasi istana Kekaisaran Utara.
“Mereka sangat kuat, apalagi seorang pemuda yang bahkan hanya dengan auranya saja mampu membuatku terluka separah ini.” Kata prajurit Kekaisaran Utara yang selama ini membantu mata-mata Kaisar selatan untuk mendapatkan berbagai informasi dari istana Kekaisaran Utara.
“Ini buruk, jika Kekaisaran kalian saja tidak berdaya, aku tidak yakin Kekaisaran Selatan dapat mengalahkan mereka. Aku harus kembali dengan cepat dan memberi laporan pada Yang Mulia Kaisar.” Kata mata-mata Kaisar Selatan dan setelahnya dia pergi meninggalkan alun-alun kota untuk melaporkan informasi yang dia dapat pada Kaisar nya.
“Semoga kau selamat sampai tujuan.” Balas prajurit Kekaisaran yang perlahan berubah wujud menjadi seorang wanita cantik, dan wanita itu ialah Scarla yang tengah menyamar.
“Teknik penyamaran mu ternyata sudah berkembang dan menjadi teknik yang jauh lebih sempurna dari apa yang bisa aku lakukan.” Puji sosok wanita yang muncul dari lebatnya pepohonan yang ada di alun-alun ibukota Kekaisaran Utara.
“Hahahaha.... Dalam penyamaran aku memang ahlinya, tapi untuk bersembunyi dan mencari informasi tentu kamu lebih hebat dariku, benar bukan kan Serena.” Kata Scarla.
Serena hanya tersenyum lalu kedua wanita kakak beradik itu langsung melesat pergi menuju halaman istana Kekaisaran untuk melihat pertunjukan yang akan segera di mulai oleh tuan mereka.
***
Halaman istana Kekaisaran Utara.
Ribuan penduduk ibukota Kekaisaran telah berkumpul di halaman istana Kekaisaran begitu mereka mendengar kabar tentang lengsernya kekuasaan Kaisar Kekaisaran Utara.
Bahkan halaman istana hampir penug oleh penduduk yang terus berdatangan, bisa dikatakan penduduk ibukota Kekaisaran sangat menanti hari dimana Kaisar kejam mereka lengser dari singgasananya, dan hari ini penantian panjang mreka akan berakhir.
Tap... Tap... Tap...
Terlihat Reinar menaiki panggung yang ada di ujung halaman istana Kekaisaran bersama dengan sang Kaisar Kekaisaran Utara yang saat ini sedang diseret Reinar.
Selain sang Kaisar, ada juga sepuluh pria tua pelindung Kekaisaran Utara, serta dua pria tua lainnya yang merupakan pelindung Kekaisaran Dark Demones.
Bughh...
Reinar membanting tubuh sang Kaisar di atas panggung yang terbuat dari batu granit, dan tentu tubuh sang Kaisar terluka setelah menghantam panggung dengan sangat keras.
Sang Kaisar yang sudah terlihat begitu lemah ingin berteriak mengungkapkan rasa sakitnya. Sayangnya Reinar tak membiarkannya berteriak, tanpa mempedulikan kondisi sang Kaisar, Reinar langsung menampar mulut Kaisar yang sudah sedikit terbuka.
Plakk...
Darah segar keluar dari bibir Kaisar yang baru di tampar Reinar dengan sangat pelan, setelah itu Reinar segera mengikat tubuh sang Kaisar di tiang yang biasanya digunakan untuk menghukum penduduk kota yang melanggar aturan Kekaisaran.
Penduduk kota yang dihukum dengan cara tubuh di ikat pada sebuah tiang kayu, kebanyakan dari mereka akan mengalami luka parah setelah di lempari batu oleh prajurit Kekaisaran, tak jarang ada penduduk yang mati saat dihukum ikat karena mereka dijadikan target latihan panah para prajurit Kekaisaran.
“Apa tidak ada yang ingin melampiaskan kekesalan pada orang ini?.” Teriak Reinar sambil menunjuk sosok Kaisar yang telah dia ikat pada sebuah tiang kayu.
Penduduk ibukota yang hadir di halaman istana, mereka tentu mendengar apa yang di teriakkan Reinar.
“Ini kesempatan untuk membalas kematian calon suamiku.” Kata seorang wanita, lalu dia mengambil dua batu seuku genggaman tangan dan melemparkannya kearah wajah sang Kaisar.
Bughh..
Bughh..
Dua batu menghantam wajah sang Kaisar dan membuat darah segar semakin banyak keluar dari wajahnya. Tak hanya dua lemparan batu, melainkan ada batu-batu lainnya yang terus melayang dan menghantam tubuh sang Kaisar.
Tubuh para pelindung Kekaisaran yang juga di ikat pada tiang kayu lainnya, nasib mereka juga tak jauh berbeda dengan sang Kaisar. Bahkan ada seorang penduduk yang datang dengan membawa perlengkapan memanah, dia langsung melesatkan dua anak panah kearah ************ salah satu pria tua pelindung Kekaisaran.
“Aarrgghh...” Pria tua pelindung Kekaisaran Utara meraung kesakitan dan tak lama dia meregang nyawa saat sebuah batu menghantam dan menghancurkan kepalanya.
“Uhhhh, aku terlalu bersemangat.” Kata Freya yang baru saja melempar batu kearah pria tua pemilik wajah menjijikkan.
“Freya, kau itu terlalu cepat memberi kematian untuknya.” Protes Shania yang tengah melemparkan batu kearah pria tua yang tadi menamparnya.
“Hehehe maaf, aku sedikit terlalu keras saat melempar batu.” Kata Freya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Para wanita dan dua keluarga Reinar yang sempat menjauhi istana Kekaisaran, mereka telah kembali ke istana, dan ikut bergabung dengan penduduk ibukota Kekaisaran yang berkerumun di halaman istana Kekaisaran, tapi tentunya mereka lebih dulu memakai jubah untuk menutupi identitas yanf mereka miliki.
“Lihat suami kita, kekejamannya membuatku ingin segera memeluknya.” Kata Vexia yang tubuhnya langsung berkeringat saat dia membayangkan sedang di peluk Reinar.
Mendengar apa yang dikatakan Vexia, para wanita seketika terdiam, dan mereka mulai membayangkan apa yang Vexia bayangkan.
“Apa yang sedang kalian bayangkan?.” Tanya Allea sambil tersenyum melihat para wanita putranya.
Para wanita Reinar hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat mereka mendengar pertanyaan wanita cantik yang akan segera menjadi Ibu mertua mereka.
“Daripada membayangkan yang tidak-tidak, lebih baik kita menikmati kematian mereka semua yang akan terjadi sebentar lagi.” Kata Allea yang mengajak para wanita Reinar melihat kearah panggung tempat hukuman tengah terjadi.
Di atas panggung...
Bughh...
Bughh...
Batu-batu seukuran kepalan tangan terus melayang kearah Kaisar dan sepuluh pria tua pelindung Kekaisaran Utara. Dari sepuluh orang, kini hanya tersisa dua orang pelindung Kekaisaran yang masih hidup dengan kondisi sekarat.
Banyak penduduk ibukota menangis melihat kematian mereka, tapi tangisan itu bukan tangisan kesedihan, melainkan itu adalah tangisan kebahagiaan karena dendam mereka selama ini telah terbalaskan.
“Kalian berdua akan mendapatkan giliran, tapi bukan ditempat ini.” Kata Reinar menatap dua pria tua pelindung Kekaisaran Dark Demones yang wajahnya memucat melihat hukuman yang didapatkan seluruh pemimpin tertinggi Kekaisaran Utara.
Kedua pria tua itu menatap Reinar dengan tatapan mengiba, tapi Reinar hanya tersenyum sinis membalas tatapan mereka.
“Jangan berharap ampunan dariku, apalagi setelah kalian berani menyakiti keluarga ku.” Kata Reinar dengan sorot mata tajam mengarah pada dua pria tua di sampingnya.
“Hehehe, aku merasa kasian dengan nasib kalian.” Kata Serena yang tiba-tiba muncul diatas panggung, tentu ada Scarla di sampingnya.
Reinar tersenyum melihat kedatangan mereka. “Kerja bagus....” Kata Reinar memuji dua bawahannya yang sudah beberapa minggu ini menjadi mata-mata di Kekaisaran Utara.
Serena dan Scarla tersenyum puas setelah mendengar pujian yang di berikan Reinar atas kerja keras mereka selama menjadi mata-mata di Kekaisaran Utara.
“Hehehe, dua gadis imut, aku sangat merindukan kalian.” Kata Helena yang muncul di belakang Serena dan Scarla, dan tak jauh di belakang Helena ada delapan wanita dan seorang pria tua yang berjalan mengikutinya.
“Kaka Helena, kami juga merindukanmu.” Teriak Serena dan Scarla bersamaan.
Disaat Kaisar meregang nyawa dan seluruh penduduk ibukota sedang menangis haru penuh kebahagiaan, di atas panggung justru terjadi reuni para wanita.
“Hahahaha... Lihatlah para wanita itu cucuku, mereka bahkan tak menghiraukan kematian sang Kaisar yang begitu agung.” Kata Kakek Reinar.
“Apa juga yang perlu dihormati dari sang Kaisar yang mati di tangan penduduk Kekaisarannya?. Bahkan upacara kematian tak akan dibuat untuknya.” Kata Reinar.
Kakek Reinar mengangguk, lalu dia melihat penduduk kota yang mulai tersenyum lebar saat melihat sang Kaisar tak lagi memiliki aura kehidupan. Dari tangisan, kini berubah menjadi sorak kegembiraan.
“Sebuah kematian seharusnya membawa kesedihan. Tapi karena yang mati adalah sumber kesedihan dan penderitaan, saat ini mereka layak mendapat kebahagiaan.” Gumam Kakek Reinar melihat kebahagiaan penduduk ibukota Kekaisaran Utara.
***
***Bersambung...***