The World Emperor System

The World Emperor System
Makan Bersama



Kota Arkana.


Mendengar tawa dua wanita cantik yang berjalan di belakangnya saat dia berkata akan membawa mereka pergi ke salah satu restoran di kota Arkana, mendengar itu membuat Reinar ikut tersenyum sambil terus berjalan.


Baru saja Reinar dan dua wanita yang bersamanya memasuki sebuah restoran, datang empat pemuda yang membuat Reinar tersenyum sinis saat melihatnya, karena dia tahu siapa keempat pemuda itu.


Keempat pemuda itu mendekati Reinar, dan menatap penuh nafsu dua wanita di sisi Reinar.


“Kalian berdua ikut dengan kami dan kita akan bersenang-senang." Kata salah satu pemuda mencoba meraih lengan Luna, tapi dengan mudah Luna menghindarinya.


“Apa kalian tidak ada kerjaan selain membuat onar dan mengganggu orang lain?.” Tanya Reinar dengan santai, lalu dia mengajak Luna dan Vexia duduk di kursi kosong yang ada di restoran.


Merasa di acuhkan dan tak dianggap keberadaannya oleh dua wanita cantik yang mereka inginkan, serta adanya seorang pemuda yang merendahkan diri mereka.


Keempat pemuda itu kembali mendekati tempat Reinar dengan emosi yang kian memuncak.


“Kalian berani tidak menuruti keinginan kami!.” Bentak pemuda yang lain.


“Kau dua wanita sialan, ikut dengan kami kalau kalian masih ingin hidup. Berikan kami pelayan yang memuaskan, selain nyawa kalian yang akan kami ampuni, mungkin kalian juga akan mendapatkan banyak uang dari kami.” Kata pemuda bertubuh gempal dengan lemak yang menumpuk di perutnya.


“Dan untuk kau.” Salah satu dari mereka menunjuk kearah Reinar. “Karena kami akan bersenang-senang dengan para wanita cantik ini, kamu cukup bersujud dan mencium kaki kami kalau kamu ingin tetap hidup.”


“Sifat orangtua dan anak memang tak akan jauh berbeda.” Kata Reinar menatap mereka berempat bergantian. “Kalau kalian ingin bernasib sama dengan orangtua kalian, dengan senang hati aku akan melakukannya.” Lanjut Reinar.


Tak lama, keempat pemuda yang dipandang Reinar menjerit kesakitan saat kehilangan aset penerus keturunan mereka, serta mereka semua juga telah kehilangan indera penglihatan, dan mereka tak akan bisa menikmati lagi keindahan para wanita yang sering mereka paksa untuk memuaskan nafsu bejat yang mereka miliki.


“Aku sudah kehilangan nafsu makanku, apa kalian masih mau melanjutkan makan di tempat ini?.” Tanya Reinar pada Luna dan Vexia.


“Lebih baik kita pergi dari tempat ini, aku benar-benar jijik dengan mereka.” Kata Luna menunjuk empat pemuda yang jatuh meringkuk diatas lantaai restoran dengan darah yang mengalir dari kedua mata dan area ************ mereka.


“Kalau kalian mau, aku bisa memasak masakan enak untuk kita.” Balas Vexia.


Tentu Luna senang mendengar Vexia ingin memasak untuk mereka. Dia tahu masakan Vexia sangat enak, dan dia selalu ingin memakan makanan yang di masak sendiri oleh Vexia.


Reinar yang tak tahu akan seperti apa masakan Vexia, dia hanya mengikuti apa yang mereka berdua ingin lakukan.


“Bukannya mereka berdua yang ingin ikut aku jalan-jalan, tapi kenapa kini justru aku yang mengikuti mereka?.” Kata Reinar membatin.


“Bagaimana kalau kita kembali ke istana dan meminjam dapur yang ada di sana untuk memasak?.” Kata Luna yang sudah tak sabar menikmati betapa nikmatnya makanan yang di masak Vexia.


Reinar menghela nafas dan kembali dia ikut apa yang diinginkan para wanita. Bukannya tak ingin membantah, tapi dia sendiri merasa tak ada gunanya membantah keinginan wanita yang tak membuatnya rugi.


Sementara itu Vexia menahan senyumnya melihat Reinar terpaksa mengikuti keinginan Luna.


Tak lama setelah ketiganya berjalan, mereka akhirnya sampai di istana kota Arkana, dan langsung pergi ke dapur istana untu meminjam dapur dan membiarkan Vexia memasak.


Para pelayan dan koki istana hanya bisa mengizinkan Reinar dan dua wanita yang bersamanya menggunakan dapur untuk sementara waktu.


Karena penasaran dengan masakan yang akan Vexia masak, Reinar ikut masuk ke dapur dan melihat Vexia mengolah bahan makanan dengan bantuan Luna.


Entah apa yang akan dikatakan bawahan mereka saat melihat Ratu mereka bekerjasama memasak makanan untuk diri mereka sendiri, dan tentunya untuk pria yang sudah di tetapkan sebagai pemilik masa depan mereka.


Beberapa waktu kemudian.


“Tolong kamu cicipi, aku takut sedikit keasinan.” Kata Vexia menyodorkan sendok berisi makanan ke dekat mulut Luna.


Luna dengan senang hati mencicipinya. Begitu sesuap makanan masuk ke mulutnya, dan dia kunyah, Luna tersenyum menatap Vexia yang ada di depannya.


Reinar yang penasaran dengan rasa masakan Vexia, dia berjalan mendekat dan mencoba mencicipi makanan buatan Vexia, tapi dengan cepat Vexia menghalanginya.


“Tunggu di tempat makan yang ada di taman itu.” Vexia menunjuk tempat makan istana kota Arkana yang berada di sebuah taman tak jauh dari dapur. “Tunggu di sana, aku dan Luna akan menyiapkan makanan ini dan membawanya ke tempat itu.” Lanjut Vexia.


Wajah Reinar memelas seolah mengatakan satu sendok saja, tapi sekali lagi dia di usir dan akhirnya dia pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Vexia.


Dari kejauhan Reinar bisa mendengar Vexia dan Luna yang tengah tertawa cekikikan setelah kepergiannya.


Tak lama setelah Reinar duduk di tempat makan. Vexia, Luna, dan beberapa pelayan datang membawa makanan yang telah Vexia masak.


Dari kejauhan ada seorang wanita yang tersenyum bahagia melihat dua wanita yang tengah melayani Reinar. “Karena dia penerus Ayahnya, maka wajar jika banyak wanita berada di sisinya.” Kata wanita itu yang tak lain ialah Allea, Ibunda Reinar.


Ibunda Reinar tak ikut acara makan Reinar dan dua wanita yang bersamanya, dia memilih melanjutkan perjalanan dan mempersiapkan apa saja yang akan dia bawa ke kota baru yang akan dia tempati bersama Ayah dan putranya.


“Sekarang kamu bisa memakannya.” Kata Vexia mempersilahkan Reinar memakan makanan yang dia masak sendiri, tentu dengan sedikit bantuan Luna.


Tanpa sungkan Reinar mengambil beberapa makanan dan mulai memakannya. Satu suapan tak cukup, dua suapan masih juga belum cukup, sampai akhirnya Reinar menghabiskan semua makanan yang ada di piringnya.


Vexia tersenyum melihat Reinar menyukai masakannya, sedangkan Luna, dia masih belum selesai memakan makanan yang Vexia masak, bahkan dia makan seperti tak punya rasa kenyang.


“Kau tidak ikut makan?.” Tanya Reinar melihat Vexia belum menyentuh makanannya.


“Aku ingin memakannya, tapi melihat dia makan tiba-tiba aku menjadi kenyang.” Kata Vexia tersenyum sambil menunjuk Luna yang masih melanjutkan makannya.


“Hah, apa dia tidak punya rasa kenyang, atau dia tidak takut gemuk?.” Kata Reinar melihat nafsu makan Luna yang melebihi nafsu makan Helena.


Reinar terus melihat Luna yang tengah menikmati makanannya. Melihat cara Luna makan, Reinar merasa perutnya semakin kenyang dan dia menggelengkan kepalanya. “Nafsu makan wanita memang sesuatu yang aneh.” Gumam Reinar.


Setelah Luna menghabiskan makanannya, dan juga Vexia yang akhirnya menghabiskan makanannya. Reinar melihat Argust berjalan mendekatinya, dan ada lima pemimpin pelindung kota Arkana berjalan mengikuti Argust.


Dari wajah santai yang Argust tunjukkan padanya, Reinar yakin kedatangan mereka bukan karena suatu hal yang merepotkan, tapi Reinar tetap penasaran dengan apa yang akan Argust laporkan padanya.


“Tuan, para keluarga petinggi Kekaisaran Arkana yang telah mati mereka datang ke istana dan menuntut keadilan. Bahkan dari mereka ada yang mulai membuat onar di kawasan istana maupun di kawasan kota.” Kata Argust melaporkan apa yang perlu dia laporkan.


“Keadilan apa yang mereka tuntut?. Bukannya dengan aku membiarkan mereka tetap hidup itu juga sudah sebuah keadilan?.” Kata Reinar tak habis pikir akan isi pikiran keluarga orang-orang yang telah dia singkirkan.


“Selain meminta keadilan, mereka juga meminta kita membebaskan Kaisar Denis beserta Putra Mahkota, dan mereka meminta tuan untuk diadili atas tuduhan pemberontakan.” Kata Argust melanjutkan laporannya.


Reinar tersenyum mendengar laporan yang di sampaikan Argust. “Aku memang pemberontak, tapi aku sudah memenangkan pemberontakan yang aku lakukan, dan dengan begitu akulah pemilik kota dan istana ini. Katakan saja seperti itu, dan kalau mereka masih memaksakan keinginan yang sangat mengada-ada, biarkan mereka bertemu dengan keluarga mereka yang sudah aku singkirkan dari dunia ini.”


Argust mengangguk dan kemudian pergi bersama lima orang yang sedang mengikutinya, karena mereka ingin belajar menjadi seorang pemimpin layaknya Argust yang merupakan pemimpin utama seluruh prajurit yang Reinar miliki.


“Bukannya dengan membunuh mereka semua akan cepat selesai.” Kata Luna yang mendengar semua yang Reinar bahas bersama Argust.


“Bukannya kamu harus menyelesaikan semua masalah sampai ke akar-akarnya.” Imbuh Vexia.


Reinar hanya tersenyum dan membalas perkataan dua wanita di dekatnya. “Aku ingin memberikan mereka satu kesempatan, tapi sedikit saja mereka melakukan kesalahan, aku akan pastikan mereka semua tak akan lagi ada di dunia ini.” Kata Reinar tersenyum lebar.


***


***Bersambung...***


Jangan lupa kasih like dan komentarnya walau hanya satu kata 😊😊😊...


Terimakasih....