The World Emperor System

The World Emperor System
Penyesalan Patriak Sekte Lentera Dewa



BOOMMM...


BOOMMM...


Patriak Sekte Lentera Dewa yang berada di atas arena mengedarkan pandangannya kearah sumber ledakan yang mampu mengguncang area yang dipijaknya.


Para petinggi Sekte serta para murid maupun calon murid Sekte juga melihat ke arah yang sama. Dalam waktu yang sama semua mata orang terbuka lebar dengan mulur ternganga melihat kobaran api yang sangat besar membumbung tinggi dari area inti wilayah.


Ribuan orang kemudian mengalihkan seluruh perhatiannya pada Patriak Sekte Lentera Dewa yang tengah mengeluarkan aura kuat dari dalam tubuhnya.


“Siapapun yang melakukannya dia akan mati!.” Teriak Patriak Sekte lalu dia bersiap meninggalkan arena.


Wusshh.... Seorang pemuda dengan menggunakan pakaian berwarna biru kehitaman tiba-tiba muncul di depan Patriak Sekte Lentera Dewa dan membuat langkahnya terhenti. Tak lama seorang wanita yang begitu cantik muncul dan mengambil tempat di sebelah si pemuda.


“Bukannya kau ingin membunuh orang yang menghancurkan kediaman mu?. Lalu kenapa kamu ingin pergi saat pelakunya sudah di depan mata mu?.” Tanya sosok pemuda yang ketampanannya membuat wajah para wanita merona merah karena tak mampu menahan akan pesona yang mereka lihat.


Mata Patriak Sekte Lentera Dewa menatap tajam kearah pemuda di depannya yang tak lain ialah Reinar. “Apa kau tahu anak muda, kata-kata yang kamu katakan bisa membuat malaikat maut mengambil nyawamu tanpa kamu ketahui.” Kata Patriak Sekte.


Reinar tersenyum mendengar itu. “Apa kamu pikir aku ini anak kecil yang bisa kamu takut-takuti dengan hal seperti itu?. Dari pada banyak bicara omong kosong, lebih baik lakukan apa yang bisa kamu lakukan. Aku lebih menghargai orang kuat daripada orang yang hanya mengandalkan mulutnya untuk membual.”


“Cih, aku akan membunuhmu hanya dengan satu serangan.” Patriak Sekte Lentera Dewa memadatkan Qi di tangan kanannya dan dia membuat sebuah belati dengan Qi miliknya.


Reinar hanya diam di tempatnya menanti apa yang selanjutnya akan di lakukan oleh lawannya.


Patriak Sekte memasang kuda-kuda dan dia bersiap mengerahkan kecepatan puncaknya untuk menyerang Reinar. “Siap atau tidak aku akan tetap menyerang mu, dan aku akan membuat wanita di sisimu membayar apa yang kau lakukan pada kediaman ku.” Katanya dengan ujung mata melirik keberadaan Sally yang membuat gairahnya naik.


Reinar menatap jijik pada sosok Patriak Sekte Lentera Dewa yang tak ada bedanya dengan para pria bajing*n yang selama ini telah dia lenyapkan.


Wusshh... Patriak Sekte Lentera Dewa terbang bagaikan anak panah menuju Reinar. Tak lupa sebuah belati yang terbentuk dari Qi yang di padatkan dia genggam dan akan dia gunakan untuk menyerang Reinar.


Reinar tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kebodohan Patriak Sekte Lentera Dewa yang menyerang tanpa mengukur kekuatan lawannya. “Apa di dunia ini orang kuatnya begitu bod*h?.” Batin Reinar lalu dia mengangkat tangannya dan menangkap belati yang mengarah ke kepalanya.


Swusshh.... Tangan Reinar yang sudah terlapisi Qi dengan mudah menangkap belati Patriak Sekte Lentera Dewa.


Patriak Sekte tak percaya dengan tindakan Reinar, begitu juga dengan orang-orang yang tengah menyaksikan pertarungan mereka. Senjata yang terbuat dari Qi yang di padatkan terkenal sangat tajam dan kuat, dan hanya orang bod*h yang menghentikan senjata itu hanya dengan tangan kosong. Sebuah senjata tingkat legenda bahkan bisa patah saat di gunakan menahan serangan senjata yang terbuat dari Qi, apa lagi menghentikannya dengan tangan, biarpun dilapisi Qi, tangan itu akan tetap patah dan terpotong.


Tapi apa yang mereka lihat saat ini berbeda dari apa kenyataan yang selama ini menjadi kepercayaan mereka. Sebuah senjata yang terbuat dari Qi dapat di tahan hanya dengan tangan berlapis Qi, bahkan dapat di lihat jika ada retakan kecil pada belati yang ada di genggaman Patriak Sekte Lentera Dewa.


Reinar menghela nafasnya lalu menatap Patriak Sekte Lentera Dewa yang mencoba menarik kembali belatinya. “Berusahalah lagi!. Tapi usahakan lebih baik dari yang barusan.” Kata Reinar lalu dia melepaskan belati Patriak Sekte Lentera Dewa, tak hanya melepaskan, tapi Reinar juga membantu Patriak Sekte menjauh darinya dengan mengibaskan tangannya yang dipenuhi energi Qi.


Baammm...


Tubuh Patriak Sekte Lentera Dewa terpental puluhan meter kearah belakang dan terhenti tepat di ujung arena yang mereka gunakan untuk bertarung.


“Sialan!... Dia cukup kuat.” Umpat Patriak Sekte Lentera Dewa lalu bangkit setelah terpental dari posisinya semula.


Patriak Sekte kembali mengalirkan Qi ke kedua tangannya, dan dia membuat 10 pedang yang kini mengitari tubuhnya. Perlahan ujung-ujung pedang Qi buatannya terangkat dan kini semua ujung pedangnya mengarah ke satu sosok yang menjadi lawannya. Patriak Sekte Lentera Dewa menggerakkan tangannya dan dua pedang terbang melesat kearah Reinar dengan kecepatan yang tak terlihat oleh mata.


Wusshh... Wusshh...


Dua pedang Qi berwarna biru melesat mendekati Reinar. Kedua pedang itu setidaknya satu tingkatan diatas senjata tingkat legenda, dan tentunya sangat kuat dan tajam. Banyak dari generasi muda yang menjadi penonton dibuat merinding ketakutan oleh aura pedang Qi milik Patriak Sekte Lentera Dewa, tapi itu tak berlaku pada Reinar yang dengan mudah menangkap dua pedang yang mengarah padanya dan tanpa kesusahan dia menghancurkan keduanya.


“Masih sama, terlalu lemah!...” Kata Reinar sambil tersenyum meremehkan.


Patriak Sekte Lentera Dewa yang melihat senyum pemuda yang menjadi lawannya, dia hanya menggerakkan giginya penuh kekesalan. Patriak Sekte Lentera Dewa lalu menatap para tetua yang tengah melihatnya, termasuk Tetua Agung yang begitu bernafsu ingin menghabisi pemuda yang sudah mengganggu acara besar Sektenya. Setelah melihat mereka, Patriak Sekte Lentera Dewa menganggukkan kepalanya, dan tak lama Tetua Agung dan tetua yang lain melesat ke arena untuk membantunya.


Reinar bertepuk tangan melihat pemandangan yang ada di depannya. “Aku sudah menunggu ini sejak tadi. Daripada satu persatu maju, bukannya lebih enak begini, kalian maju sekalian dan aku bisa melenyapkan kalian sekaligus.” Kata Reinar yang mulai sedikit serius.


Dengan wajah menggelap menatap seorang pengacau yang mengacau Sektenya, para tetua mulai melakukan berbagai serangan kearah Reinar. Tak hanya mereka, Tetua Agung juga melakukan serangan ke arah Reinar, begitu juga dengan Patriak Sekte.


Delapan pedang Patriak Sekte terbang dan mengunci pergerakan Reinar. Ribuan jarum milik Tetua Agung terbang mengelilingi Reinar, dan membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana. Selanjutnya datang serangan dari belasan tetua Sekte Lentera Dewa yang menggunakan seluruh kekuatannya untuk membunuh lawan mereka.


Dengan santainya Reinar mengeluarkan pedangnya, lalu dia membuat belasan tubuh bayangan dan menempatkan mereka di tiap sisi arena dengan memegang pedang yang sama dengan Reinar.


Tak lama muncul puluhan bola api berwarna putih dengan derak listrik di sekelilingnya, bola-bola itu memang hanya seukuran satu genggaman tangan, tapi satu bola bisa menghancurkan area seluas belasan kilometer.


Reinar menatap tiap teknik dan jurus yang mengelilinginya, tak lama dia tersenyum dan menatap Patriak Sekte Lentera Dewa yang saat ini menjadi lawan terkuatnya. “Mari kita adu!... Aku mau lihat, kalian atau aku yang lebih kuat.”


Puluhan bola-bola api dengan derak listrik melesat kearah teknik yang dikeluarkan lawannya. Benturan kekuatan besar terjadi saat teknik Reinar berbenturan dengan teknik petinggi Sekte Lentera Dewa.


BOOMMM... BOOMMM... BOOMMM...


Ledakan menggema ratusan kilometer jauhnya saat dua kekuatan besar saling berbenturan. Tapi karena perbedaan kekuatan, tubuh tetua Sekte Lentera Dewa terpental keluar arena saat terkena dampak teknik Reinar. Patriak Sekte dan Tetua Agung, mereka menjadi sosok yang hanya terdorong mundur beberapa meter efek dari teknik Reinar.


Reinar sendiri masih berdiri kokoh di tempatnya, bahkan dengan santai dia memeluk pinggang Sally yang telah menunjukkan wujud aslinya pada semua orang.


Orang-orang di sekitar arena banyak yang telah pergi menjauhi arena saat semua tetua Sekte Lentera Dewa naik ke atas arena, biarpun sudah menjauh, masih ada dari mereka yang menerima efek dari serangan Reinar. Di sekitar arena pertarungan yang telah kosong terlihat empat orang yang dengan santainya menyaksikan jalannya pertarungan yang bagi mereka cukup membosankan.


Empat orang itu adalah Ling Zhe, Ling Feng, serta dua kakak Reinar, dan mereka hanya menatap malas pertarungan Reinar tanpa ada niat untuk ikut campur.


“Pemuda itu bukan lawan yang bisa kita kalahkan dengan mudah.”


“Patriak coba anda lihat wanita di sampingnya!. Bukannya itu Ratu Kerajaan Dark Elf?. Sepertinya aku tahu alasan pemuda itu menyerang sekte kita.”


Mendengar kata Tetua Agung, Patriak Sekte menatap Sally yang terlihat lebih menggoda dalam wujud dark elf nya. “Kita bisa menikmatinya bersama setelah membunuh pemuda itu.” Kata Patriak Sekte.


Tetua Agung tersenyum. “Aku akan mengerahkan seluruh murid Sekte untuk membunuhnya!.” Balas Tetua Agung yang kemudian meminta beberapa tetua untuk memanggil ratusan ribu murid di tingkat Abadi Bumi dan Langit.


Samar-samar Reinar mendengar apa yang mereka bicarakan, dan saat mereka menjadikan istrinya sebagai topik pembicaraan, dia semakin kesal dan tak akan membiarkan siapapun pergi meninggalkan arena.


“Kakak-kakakku sekalian, dan adik Zhe, bunuh siapa saja dari mereka yang mencoba meninggalkan arena pertarungan, dan bunuh siapapun yang mendekat!.”


“Itu yang sudah aku tunggu dari tadi...” Ling Feng menatap dua orang tetua yang sudah jauh, tapi dia tidak mengejarnya, dia memilih mengejar empat tetua yang masih dekat dengannya.


Dengan tangan kosong Ling Feng menyerang salah satu tetua, begitu juga dengan tiga orang lainnya, mereka juga ikut menyerang menggunakan tangan kosong. Ling Feng, dan dua kakak Reinar hanya butuh satu serangan untuk membunuh lawannya, sedangkan untuk Ling Zhe, dia sedikit lebih lama membunuh tetua yang menjadi lawannya karena mereka kebetulan memiliki basis kultivasi yang sama.


Tetua Agung menggertak-kan giginya melihat empat tetua yang dia beri tugas mati di tangan empat orang yang merupakan bagian dari orang-orang yang menyerang Sektenya. “Sialan!... Sebenarnya ada berapa jumlah orang-orang ini?.” Teriak Tetua Agung penuh kekesalan.


Reinar tertawa keras mendengar teriakkan Tetua Agung Sekte Lentera Dewa. Tak hanya membuat kehebohan, dia benar-benar telah sukses membuat semua orang yang ada di Sekte Lentera Dewa marah padanya.


“Sekte Lentera Dewa di dunia ini hanyalah sebagian kecil kekuatan Sekte Lentera Dewa yang berpusat di dunia atas. Mencari masalah dengan Sekte Lentera Dewa, sama halnya kamu menantang Dewa itu sendiri!...” Kata Patriak Sekte Lentera Dewa.


Reinar tetap santai walau baru mendengar kabar yang cukup menarik untuknya. “Mereka berada di tempat yang jauh lebih bik dan tentunya mereka juga jauh lebih kuat dari kalian, lalu apa yang mereka butuhkan dari kalian?. Matipun mereka tak akan mempedulikan kalian....”


“Kau hanya seorang Dewa rendah, apa kau pikir orang lemah sepertimu pantas bicara dengan ku?.”


Wajah Patriak Sekte Lentera Dewa semakin menggelap. “Kau!... Lebih baik kau mati!...”


“Aku memang akan mati, tapi itu masih lama.” Reinar menghilang dari tempatnya dan muncul tepat di belakang Patriak dan Tetua Agung Sekte Lentera Dewa.


“Kalian mati saja duluan!....” Tangan kanan Reinar memukul wajah Patriak Sekte dan tak lupa dia menendang Tetua Agung Sekte Lentera Dewa yang merupakan adik dari Kaisar Qing Qian.


Mereka berdua terlempar jauh keluar area pertarungan dan baru berhenti setelah menghantam sebuah dinding.


BOOMMM... BOOMMM...


Tubuh mereka terhenti dan membuat runtuh dinding yang baru mereka hantam. “Uhuk... Uhuk...” Patriak Sekte terbatuk dengan mulut penuh dengan cairan darah.


Di sisi lain Tetua Agung masih meringkuk dibawah reruntuhan diding. “Uuuuhh, ini sangat menyakitkan!.” Batin Tetua Agung yang belum mampu untuk bangun.


Patriak Sekte Lentera Dewa menatap kondisi Tetua Agung yang tidak dalam kondisi baik, lalu dia melihat ratusan ribu murid Sektenya yang mendekat ke arena pertarungan. “Entah kenapa aku merasa Sekte ini akan berada di titik terendahnya setelah hari ini berlalu.” Batinnya lalu dia melihat empat orang yang tengah membantai ratusan ribu murid Sektenya.


Patriak Sekte Lentera Dewa menggelengkan kepalanya, dia tak pernah menyangka jika hanya dengan jumlah orang yang dapat di hitung dengan jari mampu menghancurkan Sekte yang sudah ratusan tahun dia besarkan. Mengalihkan pandangannya ke arah Sally dia hanya bisa menyesali apa yang pernah dia lakukan. “Benar yang di katakan tetua ke tujuh, kemenangan dalam perang yang tak ada keadilan hanya akan menghadirkan bencana yang tak mungkin bisa di hentikan.” Batin Patriak Sekte Lentera Dewa lalu dia hanya bisa terdiam melihat murid Sekte yang tengah di bantai oleh orang-orang yang menyerang Sektenya.


***


Bersambung...