The World Emperor System

The World Emperor System
Wanita Misterius



Perjalanan dari Kekaisaran Naga menuju istana Kekaisaran elf Utara memerlukan waktu tiga minggu jika hanya menggunakan kuda, dan pertemuan sendiri akan di lakukan dalam waktu satu bulan lagi.


Reinar bisa saja sampai ke Istana Kekaisaran elf utara hanya dalam waktu beberapa detik, tapi itu akan mengurangi keseruan sebuah perjalanan, karena itu Reinar memilih melakukan perjalanan santai dan menikmati apapun yang nantinya dia lewati.


Mereka bertiga mulai meninggalkan wilayah hutan kematian yang secara khusus kini menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Naga, dan di hutan itulah ibukota Kekaisaran Naga berada


Reinar sangat menikmati perjalanannya, apalagi dia akan menuju tempat yang sebenarnya tidak mengizinkan keberadaan manusia di tempat itu, tapi karena ini adalah sebuah pertemuan khusus, jadi manusia diizinkan masuk ke wilayah itu.


Kaisar Kekaisaran Gloria sebenarnya akan ikut pergi bersama Reinar, tapi karena mengalami sakit ringan akibat kecapean, sang Kaisar meminta Reinar untuk sekalian mewakili Kekaisaran Gloria. Sedangkan Putra Mahkota Kekaisaran Gloria, dia sejak awal tidak bisa pergi mewakili Kekaisarannya karena dia sedang mengawasi pembangunan beberapa kota di Kekaisaran Gloria.


Sebelum sampai di Istana Kekaisaran elf utara, Reinar dan dua wanitanya akan melewati 5 kota besar yang berada di jalur perjalanan mereka.


Lima kota besar yang harus mereka lewati adalah tiga kota besar milik Kekaisaran Demones, dan dua kota besar milik Kekaisaran ras elf wilayah utara.


***


Tiga hari berlalu begitu saja, dan kini mereka bertiga telah sampai di kota besar pertama yang berada di perbatasan wilayah Kekaisaran Demones dengan wilayah kekuasaan Kekaisaran Naga.


“Sungguh kota besar di perbatasan yang sangat ramai.” Kata Reinar begitu dia dan dua wanitanya memasuki kota Border, atau dapat diartikan sebagai kota perbatasan.


Berbeda dengan kota besar di perbatasan yang biasanya akan terlihat tak di perhatikan, kota Border justru terlihat layaknya sebuah kota perbatasan yang menyatu dengan ibukota Kekaisaran.


“Kota ini cukup nyaman untuk di tinggali, tak ada salahnya kita istirahat di kota ini selama satu atau dua hari.” Kata Reinar.


Kedua wanita yang bersama Reinar senang dengan keputusan yang diambil oleh Reinar. Setelah tiga hari tidur di atas pohon dan tak membuat nyaman, hari ini mereka setidaknya bisa istirahat di tempat yang lebih layak.


Reinar berjalan mengelilingi kota bersama dengan dua wanita, dan itu pemandangan yang sangat wajar bagi ras manusia setengah iblis yang biasanya memiliki istri lebih dari satu.


Sambil berkeliling kota, Reinar juga mencari penginapan untuk menginap sekaligus dia juga mencari restoran untuk membeli makanan pengisi perut yang sudah keroncongan.


“Akhirnya aku menemukannya, dan aku cukup beruntung penginapan ini juga terdapat sebuah restoran.” Kata Reinar.


Reinar dan dua wanitanya memasuki sebuah penginapan tiga lantai yang menyatu dengan restoran. Lantai pertama adalah tempat resepsionis sekaligus juga sebagai restoran, sedangkan lantai dua dan tiga di sana ada puluhan kamar penginapan yang disewakan.


Banyak pasangan mata yang melihat kearah Reinar dan dua wanitanya, tapi karena tak ingin mendapatkan masalah, Reinar sedikit membocorkan auranya dan seketika membuat orang-orang memalingkan wajah mereka, dan tak lagi melihat kearah Reinar.


“Auranya saja sudah membuatku merinding, aku tak bisa membayangkan jika aku mengusiknya.” Bisik pelanggan restoran pada temannya.


“Dua wanita yang bersama pemuda itu sepertinya juga bukan wanita sembarangan. Sorot tajam mata mereka seperti tatapan mata seseorang yang telah begitu banyak membunuh selama hidup mereka.” Balas temannya dengan cara berbisnis.


Reinar yang mendengar suara bisikan orang-orang di sekitarnya, dia hanya tersenyum dan memilih terus berjalan menghampiri seorang resepsionis untuk memesan sebuah kamar.


“Nona....” Panggil Reinar pada seorang resepsionis wanita.


“Ya tuan, selamat datang di penginapan kami.” Balas wanita resepsionis ramah.


“Apa di tempat ini ada kamar luas untuk kami bertiga?.” Tanya Reinar.


“Kebetulan masih tersisa satu kamar istimewa yang ada di lantai tiga, apa tuan ingin menyewa kamar itu?.” Balas wanita resepsionis.


“Aku akan menyewa kamar itu untuk dua malam, dan antarkan tiga porsi makanan terbaik di restoran kalian ke kamar ku.” Kata Reinar.


“Baiklah, tuan cukup membayar 250 koin emas untuk biaya sewa selama dua malam, dan itu sudah termasuk biaya makanan terbaik di restoran kami.” Ungkap wanita resepsionis.


Reinar lalu menyerahkan sebuah kantong berisi 300 koin emas pada wanita resepsionis. “Ambil lebihnya untukmu.” Kata Reinar.


Wanita resepsionis tersenyum senang. “Terimakasih tuan, dan tuan bisa mengikuti saya.” Katanya.


Reinar mengajak Freya dan Rhea pergi mengikuti resepsionis wanita yang berjalan di depannya, namun sebelum menaiki tangga tiba-tiba Freya dan Rhea meraih tangan Reinar dan menggenggamnya.


“Para wanita kuat mendampingi pemuda yang sama kuatnya, benar-benar pasangan yang serasi.” Ungkap seorang wanita yang sejak awal sering mencuri pandang kearah Reinar, dan wanita itulah yang membuat Freya dan Rhea tiba-tiba meraih tangan Reinar.


“Apa kamu tertarik dengan pemuda itu, adikku?.” Tanya si pria yang ternyata kakak dari wanita yang ada di sampingnya.


“Dia sudah memiliki dua orang kekasih, mana mungkin aku bisa bersamanya sekalipun aku tertarik dengannya.” Kata si wanita.


Kakak wanita itu tertawa mendengar apa yang dikatakan adiknya. “Peraturan itu hanya berlaku pada orang tua kolot yang tinggal di istana, sedangkan kita sudah keluar dari tempat membosankan itu. Kalau kau tertarik pada pemuda itu, aku tentu akan mendukungmu.” Ungkap si kakak yang membuat wajah adiknya bersemu merah.


“Kakak, aku akan membunuhmu jika terus membahas itu.” Kata si wanita yang kemudian kembali melanjutkan makannya, sedangkan kakaknya hanya bisa diam sambil tersenyum melihat adiknya mulai tertarik dengan lawan jenisnya.


“Pemuda itu sangat cocok untuk jadi adik ipar ku.” Batin si pria yang kembali melanjutkan makannya.


Suasana restoran yang tenang tiba-tiba menjadi gaduh saat seorang pemuda memasuki penginapan dan duduk di salah satu kursi restoran bersama lima orang pengikutnya.


“Pelayan, siapkan makanan terbaik kalian untukku secepatnya. Kalau kalian terlalu lama, aku pastikan tempat ini akan runtuh dalam satu tarikan nafas.” Kata seorang pemuda sombong dengan suara kerasnya.


Semua orang dapat mendengar suara pemuda itu termasuk Reinar yang sudah berada di lantai tiga, tapi belum memasuki kamarnya.


Reinar yang penasaran dengan sumber suara yang dia dengar menyuruh Freya dan Rhea untuk pergi ke kamar terlebih dahulu, sedangkan dia akan melihat apa yang tengah terjadi di lantai dasar.


Hanya butuh satu kedipan mata Reinar telah kembali ke lantai dasar dan berdiri di salah satu sudut ruangan tanpa ada yang menyadari kehadirannya.


Dari tempatnya Reinar dapat melihat seorang pemuda arogan dan sombong tengah melakukan tindakan yang kurang sopan pada pelayan restoran yang mengantarkan makanannya.


“Tuan, jangan keterlaluan.” Kata si pelayan menepis tangan pemuda yang terus menggerayanginya.


“Tidak ada yang bisa membantahku di kota milik Ayahku, siapapun yang membantah dia hanya mencari kematian.” Kata si pemuda begitu angkuh.


Orang-orang kota Border tahu siapa pemuda itu, pemuda itu tak lain adalah putra satu-satunya walikota, dan dia terkenal angkuh, sombong, dan semuanya sendiri. Apa pun yang dia inginkan harus dia dapatkan, walaupun itu melanggar hukum yang ada.


“Aku tidak peduli siapa kau, tapi kalau kau bertindak buruk pada seorang wanita, aku tak akan membiarkanmu hidup dengan tenang.” Kata tegas wanita yang tadi sering mencuri pandang kearah Reinar.


Reinar tersenyum mendengar apa yang dikatakan seorang wanita dengan tudung kepala yang menyembunyikan sebagian wajahnya, tapi tidak bisa menyembunyikan aura kecantikannya.


Pemuda itu melihat kearah wanita yang membentaknya dan tersenyum. “Kalau begitu, bagaimana jika kau menggantikannya dan melayaniku di kamar yang ada di atas. Aku jamin kamu akan terpuaskan dengan juniorku.” pemuda itu menjilat bibirnya melihat dada membusung si wanita yang terlihat begitu kencang dan menggoda.


Kakak si wanita hanya menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata menjijikkan si pemuda yang berani berurusan dengan adiknya. “Hanya serangga tak berguna berani menyinggung adikku yang bahkan ditakuti seluruh Kaisar yang menduduki wilayah ras elf.” Batin kakak si wanita.


Reinar hanya diam dan menunggu reaksi si wanita yang membuatnya terkejut saat dia melihat statusnya. “Dia ras elf berusia 200 tahun, bahkan dia setara dengan Freya dan Rhea.” Gumam lirih Reinar


BOOMMM...


Sebuah pukulan membuat tubuh putra walikota terlempar sampai keluar penginapan.


Semua orang yang melihat itu segera terdiam dan melihat seorang wanita yang berdiri di tempat yang sebelumnya di duduki putra walikota.


Lima orang pengikut putra walikota segera berlari keluar untuk melihat kondisi pemuda yang seharusnya mereka lindungi.


“Hanya seonggok sampah berani berkata menjijikkan di hadapanku, matipun tidak akan ada yang menangisinya.” Kata si wanita yang tentunya dapat di dengar semua orang.


Saat si wanita berjalan kembali ke tempatnya untuk kembali melanjutkan acara makan siangnya, tanpa sengaja dia melohat seorang pemuda di pojok ruangan yang tengah tersenyum ke arahnya.


Dada wanita itu berdebar hanya dengan melohat senyum si pemuda yang kemudian menghilang hanya dalam satu kedipan mata. “Apa aku benar-benar menyukainya.” Batin si wanita memegang dadanya yang masih berdebar.


Di sisi lain Reinar merasakan sedikit getaran di tubuhnya saat melihat wajah si wanita walau hanya sekilas. “Hah, aku hanya salah lihat atau dia memang wanita misterius yang dulu pernah muncul di mimpiku?.” Tanya Reinar membatin.


***


***Lanjut gak?...***