The World Emperor System

The World Emperor System
Kematian Ratu Wei Luan



Seluruh tubuh Ratu Wei Luan bergetar saat merasakan tekanan kekuatan Reinar yang diarahkan kepadanya. Dengan kepercayaan diri yang telah runtuh setelah menghilangnya roh sang Kakek, Ratu Wei Luan terlihat pasrah dengan apa yang akan segera menimpanya.


“Apa ini akan menjadi akhir dari hidup ku?... Tidak, aku tidak ingin berakhir di tempat seperti ini!...” Ratu Wei Luan mengeluarkan sebutir pil berwarna ungu, dan langsung menelannya.


“Kalau aku harus mati, setidaknya aku akan membawa pemuda itu mati bersamaku!...” Warna kulit Ratu Wei Luan perlahan berubah menjadi ungu, bersama dengan kekuatannya yang telah meningkat ke tahap puncak tingkat Dewa Immortal.


“Dengan ini aku akan mengakhiri semuanya!... Kau dan seluruh orang di Kerajaan mu akan musnah bersama dengan kematian ku!...” Ratu Wei Luan mengeluarkan asap berwarna hitam dari tubuhnya, dan asap itu perlahan menyebar ke segala penjuru medan perang.


“Asap racun yang sangat berbahaya!...” Kata Reinar dalam hati saat melihat beberapa prajurit mati setelah menghirup asap yang keluar dari tubuh Ratu Wei Luan.


“Kalian semua lebih baik pergi dari tempat ini kalau kalian tidak ingin mati!...” Teriak Reinar meneriaki seluruh prajurit Kekaisaran Dewa Langit.


Untuk prajuritnya sendiri, mereka semuanya telah mundur dan berada di jarak yang aman, dan saat ini Reinar hanya ditemani oleh kesepuluh bawahannya yang senantiasa berada di dekatnya.


Bola api berwarna hitam terbentuk di atas tempat berdirinya Ratu Wei Luan. Suhu di sekitar terbentuknya bola api hitam semakin meninggi saat ukuran bola api itu semakin membesar. Di saat ribuan prajurit Kekaisaran Dewa Langit mencoba menjauhi asap yang keluar dari tubuh Ratu Wei Luan, kini mereka juga harus bertahan dari hawa panas bola api berwarna hitam yang ukurannya semakin membesar.


Ukuran bola api berwarna hitam yang berada di atas tempat berdirinya Ratu Wei Luan terus membesar, bahkan kini besarnya bola api itu telah menutupi seluruh langit di atas medan peperangan. Namun ukuran bola api itu tak membuat Reinar dan sepuluh bawahannya pergi meninggalkan medan peperangan.


Reinar dan kesepuluh bawahannya tetap berdiri tegak di tempatnya, tanpa gentar mereka menatap bola api berwarna hitam yang ukurannya masih terus membesar. Reinar sendiri hanya menatap malas bola api berwarna hitam yang ada di atasnya, bukannya dia meremehkan kekuatan dari bola api berwarna hitam yang ada di atasnya, tetapi memang kekuatan bola api itu tidak berpengaruh terhadapnya.


Reinar hanya tersenyum lalu dia mengangkat keatas salah satu tangannya, dan sebuah bola api berwarna putih seukuran kepalan tangan muncul di atas tangannya yang terangkat keatas. Dengan satu tarikan nafas panjang, bola api di atas tangan Reinar melayang dan masuk kedalam inti bola api berwarna hitam yang telah berhenti membesar.


Detik selanjutnya, semua orang dapat melihat lenyapnya bola api berwarna hitam yang sebelumnya telah membuat mereka semua sangat ketakutan karena ukurannya.


Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, Reinar menatap Ratu Wei Luan yang menunjukkan ekspresi wajah ketidakpercayaannya saat melihat apa yang baru saja terjadi. “Bola api berukuran raksasa dengan elemen api hitam yang kamu miliki itu memang sangat mengerikan, tapi bagi pemilik elemen api terkuat, apa yang baru saja kamu tunjukkan hanyalah sebuah lelucon. Tetapi kalau kamu tetap ingin mengadu elemen api yang kita miliki, dengan senang hati aku akan menunjukkan seberapa jauh perbedaan kekuatan kita!...” Kata Reinar dengan lima bola api berwarna putih seukuran kelereng berputar-putar di atas telapak tangannya.


Reinar melambaikan tangannya, dan bola api berwarna putih yang semula berada di atas tangannya, kini kelima bola api itu tengah berputar mengelilingi tubuh Ratu Wei Luan. Ratu Wei Luan tahu sekuat apa kekuatan elemen api berwarna putih, dan tentu elemen api itu bukan elemen yang bisa dilawan dengan elemen api miliknya. Dia hanya akan mati konyol kalau tetap memaksakan diri untuk melawan, tetapi dia pada akhirnya juga akan tetap mati sekalipun hanya diam tak melawan.


Dirinya saat ini berada di posisi serba salah, melawan mati, berdiam diri juga akan tetap membuatnya mati. Namun dia tidak ingin mati sia-sia tanpa perlawanan. Pada akhirnya Ratu Wei Luan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan elemen api hitamnya, dan dia bersiap melawan Reinar si pemilik elemen api terkuat.


“Aku akan membawamu pergi ke alam kematian bersamaku!...” Teriaknya lalu dia menghancurkan bola api berwarna putih yang melayang di sekitarnya dengan mengorbankan salah satu tangannya.


Sosok Ratu Wei Luan yang telah kehilangan sebelah tangannya terus melesat ke arah Reinar, lalu dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyerang Reinar. Serangannya seharusnya mampu menghancurkan tubuh kultivator yang tingkat kekuatannya setara dengannya, namun serangannya hanya mengenai udara kosong saat Reinar terus menghindarinya.


Semua serangan Ratu Wei Luan dapat dengan mudah di hindari Reinar. Dengan hanya mengandalkan sebelah tangannya, Ratu Wei Luan tidak bisa mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya. Wajah cantik Ratu Wei Luan kini tak lagi terlihat, yang terlihat hanya wajah berwarna ungu dengan ekspresi geram yang terlihat sangat mengerikan. Namun tetap saja, tubuh Ratu Wei Luan masih cukup menggoda bagi beberapa prajurit Kekaisarannya.


Tapi prajurit Kekaisaran Dewa Langit yang sangat mengagumi tubub Ratu mereka segera merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuh mereka saat mereka semua merasakan kekuatan di tubuh mereka perlahan menghilang.


Bukan hanya kehilangan kekuatan, tapi satu persatu prajurit Kekaisaran Dewa Langit mulai terjatuh dan tak lama tubuh mereka mengeluarkan asap berwarna hitam. Tak ada kandungan racun dalam asap yang keluar dari dalam tubuh para prajurit, tetapi begitu asap itu menghilang, semua orang dapat melihat kalau tubuh prajurit yang sebelumnya mengeluarkan asap, kini tubuh prajurit itu hanya tinggal kerangkanya.


“Kalian semua adalah sumber kekuatanku. Berkorban lah demi kejayaan Ratu dan Kekaisaran kalian!...” Ujar Ratu Wei Luan dengan mengeluarkan aura yang jauh lebih kuat dari aura yang sebelumnya dia keluarkan.


Tekanan aura kekuatan Ratu Wei Luan berhasil membuat tertekan seluruh orang yang ada di medan peperangan, termasuk kesepuluh bawahan Reinar, namun tekanan aura itu tak mampu menekan kekuatan Reinar yang telah mengeluarkan aura Kaisar Naga nya. “Aku akan membunuh mu!...” Teriak Ratu Wei Luan.


Tanah bergetar dan pohon-pohon bertumbangan saat aura yang sangat kuat keluar dari dalam tubuh Ratu Wei Luan. Merasakan aura kekuatan Ratu Wei Luan, bukannya takut, Reinar justru tersenyum lebar karena akhirnya dia bertemu dengan lawan yang bisa membuatnya bertarung dengan bersungguh-sungguh, dan kali ini dia tidak akan menggunakan teknik pengendali waktu, karena dia yakin bisa mengalahkan Ratu Wei Luan tanpa teknik itu.


Dengan kekuatan fisiknya, Reinar akan menyambut datangnya serangan dari Ratu Wei Luan yang mengarah padanya. Fisiknya jauh lebih kuat dari tingkat kultivasinya, karena itu dia yakin dapat menahan serangan Ratu Wei Luan hanya dengan kekuatan fisiknya.


“Sial, bagaimana mungkin kau masih bisa menahan serangan ku, sedangkan aku sudah jauh lebih kuat dari mu?...” Teriak Ratu Wei Luan saat seluruh serangannya dapat ditahan oleh Reinar yang hanya menggunakan kekuatan fisiknya.


Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat, tapi nyatanya seluruh serangannya dapat ditahan oleh Reinar dengan sangat mudah. Sekalipun kekuatannya telah meningkat, tetapi dia tidak melihat kalau kekuatannya tak sedikitpun berpengaruh terhadap musuhnya.


Reinar tersenyum saat mendengar teriakkan Ratu Wei Luan. “Kekuatanmu memang berada di atas ku, tetapi kamu jangan terlalu berharap bisa mengalahkan ku dengan kekuatan yang kamu miliki. Setidaknya butuh ratusan tahun lagi untuk membuatmu bisa memberikan luka gores di tubuh ku!...” Ujar Reinar dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


Reinar melompat mundur menghindari serangan Ratu Wei Luan, lalu dengan kecepatan yang tak terlihat oleh mata dia telah muncul di depan Ratu Wei Luan dan langsung menyerangnya. Tendangan dan pukulan terus Reinar lesatkan ke arah tubuh Ratu Wei Luan, tetapi serangannya masih berhasil di hindari oleh sang Ratu.


Mereka berdua terlihat seperti dua buah cahaya yang tengah saling menyerang dan bertahan. Satu dua pukulan Reinar berhasil mengenai tubuh sekeras baja milik Ratu Wei Luan, namun pukulan itu tak memberikan dampak pada sang Ratu yang masih terlihat baik-baik saja.


Ratu Wei Luan yang menerima dua pukulan telak dari Reinar, sebenarnya dia merasakan sakit walau tubuhnya saat ini sangatlah keras. Tetapi karena tidak ingin terlihat lemah, Ratu Wei Luan menahan rasa sakitnya dan dia memilih terus melakukan serangan ke arah Reinar, serta sesekali menghindari serangan Reinar yang mengarah ke titik vital di tubuhnya.


“Yang Mulia Ratu, kau memang kuat!... Setidaknya kau adalah orang terkuat yang pernah menjadi lawan ku, tetapi sayangnya kamu juga masih terlalu lemah untuk membuatku menggunakan seluruh kekuatan yang aku miliki...” Ujar Reinar mencibir Ratu Wei Luan yang menjadi lawannya.


“Kau terlalu sombong untuk orang yang sebentar lagi akan menjadi mayat!... Begitu aku membunuhmu, aku akan menggunakan tubuhmu untuk memperpanjang umurku, dan dengan tubuhmu juga aku akan membunuh seluruh keluargamu!...” Kata Ratu Wei Luan yang kembali terkena pukulan Reinar yang tepat mengenai perutnya.


Tubuh Ratu Wei Luan terdorong mundur beberapa langkah setelah terkena pukulan Reinar, namun dia masih terlihat biasa-biasa saja walau baru terkena pukulan yang dapat menghancurkan tubuh seorang kultivator tingkat Dewa Immortal tahap menengah.


Reinar tersenyum saat melihat Ratu Wei Luan yang terlihat baik-baik saja, walau dia tahu kalau keadaannya tak sebaik apa yang terlihat. “Karena kamu begitu ingin membunuhku, kini aku tak sungkan lagi untuk melakukan hal yang sama, dan sekalian aku tunjukkan kepada mu seberapa jauh perbedaan kekuatan kita...”


BOOMM...


Aura kuat seorang Kaisar Naga Penguasa keluar dari tubuh Reinar, bersatu dengan aura kekuatan seorang Dewa Immortal yang seketika membuat Ratu Wei Luan jatuh berlutut di tempatnya.


“Aku akan melakukannya dengan cepat, dan tenang saja, kau tak akan merasakan kesakitan yang berlebih!...” Kata Reinar.


SWUSSHH... BOOMM...


Tubuh Ratu Wei Luan berubah menjadi kabut darah saat pukulan Reinar menghantam tubuhnya. Tak ada suara teriakan atau penderitaan sebelum kematian. Seperti apa yang di katakan Reinar sebelumnya, Ratu Wei Luan mati dengan sangat cepat dan tak merasakan sakit.


°°°


Jangan lupa like dan komentarnya setelah selesai membaca, terimakasih...